Setiap bulan, tanpa disadari, tubuh seorang perempuan menjalani proses luar biasa: sepasang organ sebesar biji kenari yang bersembunyi di dalam panggul bekerja tanpa henti menghasilkan hormon, mematangkan sel telur, dan menjaga keseimbangan tubuh. Organ itu adalah ovarium, atau dalam bahasa Indonesia disebut indung telur. Namun di balik kesederhanaannya, indung telur menyimpan potensi berbagai kondisi patologis, mulai dari kista jinak yang sembuh sendiri hingga tumor ganas yang mengancam jiwa.
Di Indonesia, kanker indung telur (ovarian cancer) menempati posisi mengkhawatirkan dalam statistik kesehatan perempuan. Data dari RSUD Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar menunjukkan bahwa kanker ovarium masuk dalam tiga besar kanker yang paling sering ditemukan pada pasien perempuan, bersama kanker payudara dan kanker serviks. Di tingkat global, angka insidensi kanker ovarium di Indonesia bahkan dilaporkan lebih tinggi dari rata-rata dunia, sekitar 9,8%, dengan angka mortalitas sekitar 4,0% — sebuah angka yang mengingatkan kita bahwa kondisi ini tidak boleh dianggap remeh.
Artikel ini hadir untuk memperbarui pemahaman tentang kista dan tumor indung telur secara menyeluruh: dari anatomi dasar, jenis-jenis kelainan, faktor risiko, cara mendeteksi lebih awal, hingga pilihan pengobatan terkini yang kini jauh berkembang dibandingkan dua belas tahun lalu.
Anatomi dan Fungsi Indung Telur
Ovarium adalah organ kelenjar berpasangan yang terletak di kedua sisi rahim (uterus), terhubung ke rahim melalui ligamen dan ke saluran tuba melalui fimbriae. Pada perempuan usia reproduktif, setiap ovarium berukuran sekitar 3–5 cm. Ovarium memiliki dua fungsi utama yang saling berkaitan: fungsi endokrin, yaitu memproduksi hormon estrogen dan progesteron, serta fungsi eksokrin, yaitu mematangkan dan melepaskan sel telur melalui proses ovulasi.
Setiap siklus menstruasi, folikel-folikel kecil berisi sel telur berkembang di dalam ovarium di bawah pengaruh follicle-stimulating hormone (FSH). Biasanya satu folikel dominan akan terus tumbuh, membentuk struktur berisi cairan yang disebut folikel Graaf. Ketika folikel ini pecah dan melepaskan sel telur — inilah yang disebut ovulasi — sisa folikel berubah menjadi korpus luteum, yang kemudian menghasilkan progesteron. Jika tidak terjadi pembuahan, korpus luteum akan mengalami regresi. Proses inilah yang, saat terganggu, dapat memicu terbentuknya kista.
Apa Itu Kista Indung Telur?
Kista adalah kantung berisi cairan, setengah padat, atau campuran keduanya, yang dapat terbentuk di dalam atau pada permukaan ovarium. Sebagian besar kista ovarium bersifat jinak, tidak bergejala, dan menghilang sendiri dalam beberapa siklus menstruasi — terutama jenis kista fungsional.

Kista Fungsional
Ini adalah jenis kista yang paling umum. Folikel kista terbentuk ketika folikel Graaf gagal pecah saat ovulasi, terus membesar hingga lebih dari 3 cm. Kista korpus luteum terbentuk ketika korpus luteum yang seharusnya mengecil justru terisi cairan atau darah. Kedua jenis ini biasanya menghilang sendiri dalam 1–3 siklus menstruasi tanpa memerlukan pengobatan.
Kista Endometrioma
Endometrioma — sering disebut “kista cokelat” (chocolate cyst) — terbentuk akibat endometriosis, kondisi di mana jaringan endometrium (lapisan dalam rahim) tumbuh di luar rahim, termasuk di dalam ovarium. Darah haid yang terperangkap di dalam kista berubah warna menjadi cokelat tua selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Endometriosis dapat menyebabkan nyeri hebat, terutama saat haid (dismenore), dan berdampak serius pada kesuburan. Pada kasus berat, endometrioma yang terus membesar bahkan dapat menekan saluran kemih dan menyebabkan gangguan berkemih, sebagaimana dilaporkan dalam publikasi terkini dari Kolkata, India.
Kista Dermoid (Teratoma Matur)
Kista dermoid, atau secara klinis disebut mature cystic teratoma, berasal dari sel-sel germ yang memiliki kemampuan berdiferensiasi menjadi berbagai jenis jaringan. Itulah mengapa di dalam kista ini bisa ditemukan rambut, gigi, lemak, tulang rawan, bahkan jaringan kelenjar tiroid. Kista ini umumnya jinak, namun dapat mencapai ukuran besar dan berisiko mengalami torsi (torsion) — terpelintirnya indung telur pada tangkainya — yang merupakan kedaruratan bedah.
Kistadenoma
Kistadenoma berasal dari sel epitel permukaan ovarium. Ada dua subtipe utama: kistadenoma serosum yang berisi cairan encer jernih, dan kistadenoma musinosum yang berisi cairan kental menyerupai lendir dan dapat tumbuh menjadi sangat besar. Kista jenis ini penting diperhatikan karena berpotensi mengalami transformasi menjadi ganas, terutama pada perempuan pasca-menopause.
Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)
Polycystic ovary syndrome (PCOS) sebenarnya bukan kista tunggal, melainkan kondisi hormonal yang menyebabkan banyak folikel kecil (biasanya lebih dari 12 folikel berukuran 2–9 mm di setiap ovarium) gagal berkembang sempurna. PCOS merupakan salah satu gangguan endokrin paling umum pada perempuan usia reproduktif dan sering dikaitkan dengan resistensi insulin, menstruasi tidak teratur, serta risiko infertilitas.
Memahami Tumor Indung Telur
Tidak semua pertumbuhan di ovarium disebut kista. Ketika pertumbuhan itu bersifat padat atau campuran padat-kistik dan berasal dari sel-sel ovarium yang bermultiplikasi secara abnormal, kita menyebutnya tumor. Tumor ovarium diklasifikasikan berdasarkan sel asal dan sifat keganasannya.
Klasifikasi Berdasarkan Sel Asal
Tumor epitelial berasal dari sel-sel epitel yang melapisi permukaan ovarium dan menyumbang sekitar 90% dari seluruh kasus kanker ovarium. Tumor sel germ berasal dari sel yang seharusnya berkembang menjadi sel telur; sebagian besar jinak (teratoma matur), namun ada bentuk ganas seperti disgerminoma dan yolk sac tumor yang lebih sering ditemukan pada perempuan muda. Tumor stroma berasal dari jaringan penyokong ovarium yang menghasilkan hormon; granulosa cell tumor adalah salah satu contohnya dan dapat menyebabkan produksi estrogen berlebihan.
Selain jinak dan ganas, terdapat kategori di antara keduanya: tumor borderline (disebut juga tumor dengan potensi keganasan rendah). Tumor ini memiliki sel yang tampak tidak normal di bawah mikroskop namun belum menginvasi jaringan sekitarnya. Penanganan tumor borderline membutuhkan pendekatan khusus, terutama pada perempuan yang masih ingin mempertahankan kesuburan.
Kanker Ovarium
Kanker ovarium adalah salah satu kanker ginekologi dengan prognosis terburuk, terutama karena sering kali baru terdeteksi pada stadium lanjut. Hal ini terjadi karena ovarium terletak jauh di dalam rongga pelvis, sehingga pertumbuhannya bisa berlangsung lama tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Data dari RS Kanker Dharmais Jakarta menunjukkan bahwa pada pasien kanker ovarium stadium IV, subtipe histopatologi, tingkat residu penyakit setelah operasi, jumlah lini kemoterapi, dan kadar CA-125 semuanya berpengaruh signifikan terhadap angka kelangsungan hidup pasien.
Faktor Risiko: Siapa yang Lebih Rentan?
Memahami faktor risiko membantu kita mengidentifikasi siapa yang perlu lebih waspada dan mendapatkan pemantauan lebih ketat.
Usia adalah salah satu faktor risiko terpenting untuk kanker ovarium. Risiko meningkat tajam setelah menopause, dengan puncaknya pada usia 60–70 tahun. Perempuan yang tidak pernah hamil atau tidak pernah menyusui memiliki risiko lebih tinggi, sementara penggunaan kontrasepsi oral justru dikaitkan dengan penurunan risiko bermakna — kemungkinan karena pil KB menekan ovulasi dan mengurangi paparan trauma sel epitelial berulang. Obesitas, merokok, dan terapi hormon pengganti (hormone replacement therapy/HRT) pasca-menopause juga merupakan faktor risiko yang terdokumentasi.
Faktor genetik memegang peran sangat penting. Mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2 meningkatkan risiko seumur hidup terkena kanker ovarium hingga 40–60% (untuk BRCA1) dan 10–30% (untuk BRCA2) dibandingkan populasi umum yang risikonya sekitar 1,2%. Sebuah studi dari Universitas Diponegoro Semarang menemukan bahwa di antara keluarga dengan riwayat kanker di Indonesia, mutasi patogenik ditemukan pada gen BRCA1, BRCA2, RAD51D, dan beberapa gen lainnya, dengan prevalensi lebih tinggi pada kasus kanker yang timbul sebelum usia 40 tahun. Ini menegaskan pentingnya konseling genetik dan tes mutasi BRCA bagi perempuan dengan riwayat keluarga kanker ovarium, payudara, atau kolorektal.
Gejala: Kenapa Sering Terlambat Dikenali?
Kista ovarium fungsional pada umumnya tidak menimbulkan gejala sama sekali dan sering kali ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan USG rutin atau pemeriksaan fisik. Inilah mengapa kondisi ini kadang disebut sebagai “silent killer” dalam bentuk yang lebih ganas — tidak ada alarm yang jelas sampai penyakit sudah cukup jauh berkembang.
Namun ketika kista atau tumor mulai membesar, menekan organ sekitar, atau mengalami komplikasi, berbagai gejala dapat muncul. Rasa nyeri atau tekanan di perut bagian bawah atau panggul adalah keluhan yang paling sering dilaporkan. Rasa ini bisa konstan atau muncul sesekali, bisa tumpul atau tajam. Perut yang terasa penuh, kembung, atau membesar tanpa sebab jelas juga patut diwaspadai, terutama jika disertai penurunan nafsu makan atau cepat merasa kenyang — karena ini bisa mencerminkan adanya massa yang menekan lambung.
Gangguan berkemih seperti sering buang air kecil atau sebaliknya kesulitan berkemih dapat terjadi akibat penekanan pada kandung kemih. Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia), gangguan pola menstruasi, serta perdarahan di luar siklus normal juga merupakan tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan. Pada kasus torsi atau ruptur kista, nyeri perut yang mendadak dan sangat hebat adalah kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan segera.
Diagnosis: Bagaimana Dokter Menentukan Kondisi Ini?
Proses diagnosis kista dan tumor ovarium melibatkan kombinasi pemeriksaan fisik, pencitraan, dan laboratorium. Tidak ada satu tes tunggal yang cukup untuk menyimpulkan diagnosis secara pasti.
Pemeriksaan Fisik
Dokter, baik dokter umum maupun spesialis kandungan, dapat merasakan adanya massa di daerah panggul melalui pemeriksaan bimanual (dua tangan). Namun pemeriksaan ini memiliki keterbatasan, terutama pada pasien dengan dinding perut tebal, dan tidak dapat membedakan sifat jinak atau ganas.
Ultrasonografi (USG)
USG, khususnya transvaginal ultrasound (TVUS), adalah modalitas pencitraan lini pertama dan paling banyak digunakan. USG dapat menggambarkan ukuran, lokasi, dan karakteristik massa — apakah berisi cairan murni (kemungkinan jinak), berdinding tebal tidak beraturan, atau memiliki bagian padat di dalamnya (lebih mencurigakan ganas). Pemeriksaan dengan Doppler dapat menilai pola aliran darah, karena tumor ganas cenderung memiliki vaskularisasi yang kacau.
CT Scan dan MRI
Computed tomography (CT) berguna untuk menilai penyebaran tumor ke organ sekitar dan kelenjar getah bening. Namun sebuah penelitian multi-institusi yang diterbitkan di jurnal Radiology pada tahun 2026 menemukan bahwa meskipun CT cukup akurat untuk mendeteksi kista sederhana dan kista dermoid, akurasi diagnostiknya untuk jenis lesi lain (seperti endometrioma, kistadenoma, dan lesi ganas tanpa metastasis) jauh lebih rendah — dan 28% lesi ganas tanpa metastasis terlewat dan disalahdiagnosis sebagai jinak. Ini menegaskan bahwa CT tidak boleh menjadi satu-satunya modalitas pencitraan untuk evaluasi massa ovarium.
Magnetic resonance imaging (MRI) menawarkan karakterisasi jaringan yang lebih baik dan direkomendasikan untuk kasus-kasus yang tidak konklusif pada USG, terutama untuk menentukan sifat tumor borderline atau membedakan dermoid dari lesi lainnya.
Penanda Tumor (Tumor Marker)
CA-125 adalah protein yang kadarnya meningkat pada sejumlah pasien dengan kanker ovarium epitelial. Kadar CA-125 berguna terutama untuk memantau respons pengobatan dan mendeteksi kekambuhan, bukan sebagai alat skrining primer karena spesifisitasnya rendah — CA-125 juga bisa meningkat pada endometriosis, mioma, infeksi panggul, bahkan kehamilan.
Untuk tumor sel germ, penanda yang lebih relevan adalah alpha-fetoprotein (AFP), human chorionic gonadotropin (hCG), dan lactate dehydrogenase (LDH). Untuk tumor granulosa cell, inhibin B dan kadar estrogen menjadi penanda yang bermakna.
Laparoskopi dan Biopsi
Pada kasus yang tidak dapat disimpulkan dengan pencitraan, laparoskopi diagnostik memungkinkan visualisasi langsung massa dan pengambilan sampel jaringan (biopsi) untuk pemeriksaan patologi anatomi. Pemeriksaan frozen section (potong beku) saat laparoskopi dapat memberikan hasil histopatologi sementara dalam waktu singkat, membantu ahli bedah mengambil keputusan — apakah cukup dengan pengangkatan kista saja atau perlu dilakukan tindakan lebih luas.
Tata Laksana: Pilihan Pengobatan dari yang Sederhana hingga Kompleks
Pendekatan pengobatan sangat bergantung pada usia pasien, ukuran dan jenis lesi, ada tidaknya gejala, dan status reproduksi.
Observasi Aktif (Watchful Waiting)
Untuk kista fungsional pada perempuan usia reproduktif, terutama yang berukuran kurang dari 5–7 cm, tidak bergejala, dan tampak sederhana pada USG, pendekatan “tunggu dan pantau” adalah pilihan yang tepat. USG diulang setelah 6–12 minggu. Sebagian besar kista fungsional akan menghilang sendiri.
Manajemen Medis
Kontrasepsi oral (pil KB) tidak terbukti mempercepat resolusi kista yang sudah ada, namun dapat mencegah pembentukan kista fungsional baru. Untuk nyeri akibat endometrioma atau kista lainnya, analgesik (obat pereda nyeri) seperti NSAID atau parasetamol dapat membantu. Pada endometriosis, terapi hormonal seperti agonis GnRH, progesteron, atau pil KB dosis rendah dapat digunakan untuk menekan pertumbuhan jaringan endometriosis.
Pembedahan
Intervensi bedah diindikasikan ketika kista tidak menghilang, terus membesar, menimbulkan nyeri hebat, mencurigakan ganas, atau mengalami komplikasi seperti torsi atau ruptur.
Laparoskopi adalah pendekatan pilihan untuk sebagian besar kasus, termasuk pengangkatan kista (kistektomi) dengan mempertahankan jaringan ovarium yang sehat, terutama pada perempuan muda yang ingin mempertahankan kesuburan. Penelitian dari Beijing Chaoyang Hospital menunjukkan bahwa pembedahan laparoskopi dengan insisi minimal pada perempuan hamil pun dapat dilakukan dengan aman pada trimester kedua, dengan hasil ibu dan bayi yang baik.
Namun untuk torsi yang terjadi di trimester ketiga kehamilan, situasinya lebih menantang. Sebuah laporan kasus dari Essex, Inggris, menggambarkan kista dermoid yang mengalami torsi empat kali di usia kehamilan 36 minggu dan baru terdiagnosis saat operasi caesar darurat — mengingatkan kita bahwa gejala nyeri perut berulang pada kehamilan tidak boleh diabaikan meskipun pemeriksaan imaging sebelumnya tidak konklusif.
Laparotomi (pembedahan terbuka dengan sayatan lebih besar) diperlukan untuk massa yang sangat besar atau pada kecurigaan keganasan tinggi. Pada kanker ovarium, prosedur pembedahan bisa mencakup pengangkatan rahim (histerektomi), kedua ovarium dan tuba (salpingo-ooforektomi bilateral), omentum (lapisan lemak yang menutupi usus), serta kelenjar getah bening yang terdampak. Tujuannya adalah debulking — mengangkat sebanyak mungkin massa tumor untuk meningkatkan efektivitas kemoterapi.
Terapi Terkini untuk Kanker Ovarium: Era Presisi Molekuler
Dunia pengobatan kanker ovarium telah berubah secara dramatis dalam satu dekade terakhir, terutama dengan hadirnya terapi bertarget yang bekerja pada mekanisme molekuler spesifik.
Kemoterapi Standar
Kemoterapi berbasis platinum — kombinasi karboplatin dan paklitaksel — tetap menjadi tulang punggung pengobatan kanker ovarium stadium lanjut, baik sebagai terapi neoadjuvan (sebelum operasi) maupun adjuvan (setelah operasi). Data dari RS Kanker Dharmais menunjukkan bahwa pada kanker ovarium stadium IV, kemoterapi neoadjuvan justru memberikan angka kelangsungan hidup yang lebih baik dibandingkan pembedahan primer.
Inhibitor PARP (PARP Inhibitors)
Terobosan terbesar dalam pengobatan kanker ovarium dalam dekade terakhir adalah munculnya PARP inhibitor. Enzim PARP (poly ADP-ribose polymerase) berperan dalam perbaikan kerusakan DNA pada sel. Pada sel kanker dengan mutasi BRCA1/2 atau defek pada jalur homologous recombination (HR), kemampuan perbaikan DNA sudah terganggu. Ketika PARP juga dihambat, sel kanker tidak dapat memperbaiki kerusakan DNA dan akhirnya mati — sebuah konsep yang disebut synthetic lethality.
Tiga PARP inhibitor utama yang kini digunakan sebagai terapi pemeliharaan (maintenance therapy) setelah respons terhadap kemoterapi berbasis platinum adalah olaparib, niraparib, dan rucaparib. Hasil uji klinis PRIMA (niraparib), PAOLA-1 (olaparib + bevacizumab), dan ATHENA-MONO (rucaparib) semuanya menunjukkan manfaat bermakna dalam memperpanjang progression-free survival (PFS) — waktu tanpa perkembangan penyakit. Tinjauan terbaru yang diterbitkan tahun 2025 mengonfirmasi bahwa PARP inhibitor kini telah menjadi standar perawatan dalam terapi pemeliharaan kanker ovarium.
Antibodi-Konjugat Obat (Antibody-Drug Conjugate/ADC)
Mirvetuximab soravtansine adalah ADC pertama yang disetujui untuk kanker ovarium resisten platinum dengan ekspresi folate receptor alpha (FRα) tinggi. Obat ini menggabungkan antibodi yang secara spesifik mengenali FRα pada permukaan sel kanker dengan agen sitotoksik yang langsung membunuh sel tersebut — meminimalkan efek pada sel normal.
Imunoterapi
Dibandingkan kanker ginekologi lain seperti kanker endometrium dan serviks, kanker ovarium menunjukkan respons yang lebih terbatas terhadap checkpoint inhibitor (seperti pembrolizumab atau durvalumab) sebagai monoterapi. Namun penelitian kombinasi sedang terus berlangsung.
Komplikasi yang Perlu Diwaspadai
Kista ovarium yang tidak ditangani atau tidak termonitor dapat mengalami sejumlah komplikasi serius. Torsi ovarium (ovarian torsion) terjadi ketika ovarium yang membesar terpelintir pada tangkainya, memutus aliran darah. Ini adalah kedaruratan bedah yang harus ditangani dalam jam, bukan hari. Ruptur kista dapat menyebabkan perdarahan ke dalam rongga perut, menimbulkan nyeri hebat tiba-tiba. Infeksi kista, meskipun lebih jarang, dapat terjadi terutama setelah tindakan invasif. Pada kasus tumor ganas, risiko terbesar adalah penyebaran (metastasis) ke peritoneum, kelenjar getah bening, dan organ jauh seperti paru-paru.
Kondisi di Indonesia: Tantangan dan Harapan
Di Indonesia, beban kanker ovarium diperburuk oleh beberapa faktor struktural. Keterbatasan akses ke fasilitas pencitraan canggih (terutama MRI) dan dokter spesialis kandungan di daerah terpencil menyebabkan banyak kasus baru terdiagnosis pada stadium lanjut. Rujukan terlambat, kesadaran masyarakat yang masih rendah tentang gejala awal, serta keterbatasan pembiayaan untuk terapi PARP inhibitor (yang belum masuk dalam daftar obat yang ditanggung BPJS Kesehatan secara penuh) menjadi hambatan nyata.
Namun ada harapan. Laporan dari RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tentang penanganan tumor borderline paratubal menegaskan bahwa bahkan dalam kondisi keterbatasan sumber daya, pendekatan berbasis bukti dan operasi preservasi kesuburan masih dapat dilakukan. Selain itu, penelitian genetik lokal seperti yang dilakukan di Universitas Diponegoro Semarang membuka jalan bagi pengembangan program konseling genetik yang dapat mengidentifikasi perempuan berisiko tinggi lebih awal.
Program deteksi dini, edukasi masyarakat tentang gejala ovarian, dan integrasi pemeriksaan USG pelvis dalam layanan kesehatan perempuan tingkat primer adalah langkah-langkah yang perlu diperkuat dalam sistem kesehatan Indonesia ke depan.
Kapan Harus ke Dokter?
Perempuan sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami nyeri panggul atau perut bawah yang tidak biasa, terutama jika berlangsung lebih dari beberapa hari atau disertai demam. Kembung perut yang persisten, gangguan buang air kecil atau buang air besar tanpa sebab jelas, serta perdarahan di luar siklus menstruasi adalah tanda-tanda yang memerlukan evaluasi medis. Nyeri yang sangat hebat secara tiba-tiba di perut adalah tanda kedaruratan dan harus ditangani segera di IGD.
Bagi perempuan dengan riwayat keluarga kanker ovarium, payudara, atau kolorektal — terutama pada kerabat tingkat pertama — konsultasi dengan dokter spesialis dan pertimbangan tes genetik BRCA sangat dianjurkan.
Penutup
Kista dan tumor indung telur adalah spektrum kondisi yang luas: dari yang sepenuhnya jinak dan sementara, hingga yang mengancam jiwa dan membutuhkan penanganan multidisiplin intensif. Pemahaman yang baik tentang kondisi ini — jenis-jenisnya, gejalanya, cara mendeteksinya, dan pilihan pengobatannya — adalah bekal penting bagi setiap perempuan dan tenaga kesehatan yang melayaninya.
Perkembangan terapi yang pesat, terutama dalam bidang terapi bertarget molekuler seperti PARP inhibitor dan antibody-drug conjugate, membawa harapan baru bagi pasien kanker ovarium. Yang dibutuhkan sekarang adalah jembatan yang lebih kuat antara kemajuan ilmu pengetahuan global dengan realitas pelayanan kesehatan di akar rumput Indonesia — agar manfaat penelitian itu benar-benar dapat dirasakan oleh perempuan Indonesia, di mana pun mereka berada.
Daftar Referensi
Barbu, L. A., Cercelaru, L., Șurlin, V., Mogoanță, S. S., Țenea Cojan, T. S., Mărgăritescu, N. D., Țenea Cojan, A. M., Popescu, M., Căluianu, V., Mogoș, G. F. R., & Vasile, L. (2025). Serous papillary adenofibroma cyst of the ovary in a young woman: Case report and literature review. Life (Basel), 15(10), e1601. https://doi.org/10.3390/life15101601
Cantillo, E., Blanc-Durand, F., Leary, A., Slomovitz, B. M., Fuh, K., & Washington, C. (2024). Updates in the use of targeted therapies for gynecologic cancers. American Society of Clinical Oncology Educational Book, 44(3), e438582. https://doi.org/10.1200/EDBK_438582
Emons, J., Gocke, J., Schulmeyer, C., Stübs, F. A., Krückel, A., Amann, N., Beckmann, M. W., Hörner, M., & Pöschke, P. (2025). Update gynecologic malignancies 2025 — expert opinion on systemic therapy for early and advanced gynecological cancers. Geburtshilfe und Frauenheilkunde, 85(7), 736–745. https://doi.org/10.1055/a-2622-0684
Gianina, K., Rachmawati, A., Rahmarjanto, B. P., & Rachmadhini, G. T. (2025). Difficult diagnosis and management of a torsion-associated giant paratubal serous borderline mass: Unraveling a rare gynecologic pathology — a case report. International Journal of Women’s Health, 17, 3949–3954. https://doi.org/10.2147/IJWH.S551375
Guo, Y., Sadowski, E. A., Lan, Z., Kim, N., Liu, X., Maheshwari, E., Nougaret, S., Patel-Lippmann, K. K., Pectasides, M., Roller, L. A., Shen, L., Wahab, S. A., Maturen, K. E., & Shinagare, A. B. (2026). Incidental adnexal lesions: CT diagnosis and interreader agreement. Radiology, 318(2), e243477. https://doi.org/10.1148/radiol.243477
Li, M., Zhang, Z., & Mu, B. (2026). Laparoscopic-assisted abdominal small incision for management of adnexal mass during pregnancy: an academic institution study. BMC Pregnancy and Childbirth, 26(1), 124. https://doi.org/10.1186/s12884-025-08345-x
Lin, H., Wu, C. H., Fu, H. C., & Ou, Y. C. (2024). Evolving treatment paradigms for platinum-resistant ovarian cancer: An update narrative review. Taiwanese Journal of Obstetrics & Gynecology, 63(4), 471–478. https://doi.org/10.1016/j.tjog.2024.05.006
Muniroh, M., Prihharsanti, C. H. N., Limijadi, E. K. S., Prajoko, Y. W., Ichzana, Y., Nabila, Z., Setyawati, P., Sutrisno, R. T., Teguh, E., & Utomo, A. R. H. (2025). Pathogenic variants in affected and unaffected individuals from Indonesian familial cancer: a multigene panel analysis. Scientific Reports, 15(1), 43981. https://doi.org/10.1038/s41598-025-27710-6
Prihantono, Rusli, R., Christeven, R., & Faruk, M. (2023). Cancer incidence and mortality in a tertiary hospital in Indonesia: An 18-year data review. Ethiopian Journal of Health Sciences, 33(3), 515–522. https://doi.org/10.4314/ejhs.v33i3.15
Saleem, R., Sathyendran, P., Askalany, T., & Mo, R. (2025). A rare case of ovarian dermoid torsion in the third trimester: Clinical challenges and surgical management. Cureus, 17(10), e95643. https://doi.org/10.7759/cureus.95643
Tadjoedin, H., Suryana, K. D., Hanafi, W., Kunigara, M. P., & Shiba, A. F. (2025). Survival analysis and death-related factor in stage 4 ovarian cancer from the national cancer hospital in Indonesia. Nigerian Journal of Clinical Practice, 28(8), 904–908. https://doi.org/10.4103/njcp.njcp_815_24
Tantia, A., Barde, K., Pipara, G., Pipara, R., & Khanna, S. (2025). Obstructive uropathy secondary to pelvic endometriosis: A scary story! Journal of Obstetrics and Gynaecology of India, 75(5), 438–441. https://doi.org/10.1007/s13224-025-02134-4
Update terakhir: Februari 2026

Tinggalkan komentar