Kanker adalah salah satu topik kesehatan yang paling banyak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Di era media sosial dan arus informasi yang tidak terbendung, klaim-klaim keliru tentang penyebab kanker menyebar jauh lebih cepat daripada fakta ilmiah yang sebenarnya. Sebuah studi yang diterbitkan tahun 2025 menemukan bahwa kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko kanker yang telah terbukti secara ilmiah masih jauh lebih rendah dibandingkan kepercayaan terhadap “penyebab mitologis” yang tidak memiliki dasar bukti (Yildirim-Kahriman et al., 2025). Yang menarik, penelitian tersebut juga mengungkapkan korelasi negatif yang bermakna: semakin tinggi pemahaman seseorang tentang penyebab kanker yang benar, semakin rendah kepercayaannya terhadap mitos.
Artikel ini hadir untuk meluruskan beberapa mitos yang paling sering beredar, sekaligus menyajikan apa yang sesungguhnya dikatakan ilmu pengetahuan terkini.
Mitos 1: Antiperspiran dan Deodoran Menyebabkan Kanker Payudara
Klaim ini bertahan cukup lama di kalangan masyarakat: bahwa produk antiperspiran atau deodoran — terutama yang mengandung senyawa aluminium dan parabens — dapat meresap melalui kulit ketiak setelah bercukur dan memicu kanker payudara. Argumennya terkesan masuk akal secara intuitif, namun tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
National Cancer Institute di Amerika Serikat secara konsisten menyatakan tidak ada bukti klinis yang meyakinkan yang menghubungkan penggunaan antiperspiran atau deodoran ketiak dengan kanker payudara. Bukti ilmiah hingga saat ini tidak menunjukkan hubungan kausal antara kedua hal tersebut.
Namun, penting untuk dibedakan antara “tidak ada bukti kanker payudara dari deodoran” dengan “semua bahan kimia dalam produk tersebut sepenuhnya aman dalam segala konteks”. Penelitian dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan bahwa bahan-bahan tertentu yang dikenal sebagai endocrine-disrupting chemicals (EDC) atau senyawa pengganggu endokrin — termasuk beberapa jenis bisphenol dan phthalates — memiliki potensi untuk mempengaruhi keseimbangan hormonal dan berkontribusi pada proses karsinogenesis di organ-organ tertentu yang sensitif terhadap hormon (Baş Aksu & Şahin, 2025). Ini adalah area penelitian yang terus berkembang, bukan konfirmasi bahwa deodoran menyebabkan kanker payudara.
Jika Anda tetap merasa khawatir, memilih produk yang bebas dari bahan-bahan tertentu adalah pilihan personal yang sah. Namun kekhawatiran tentang kanker payudara seharusnya lebih difokuskan pada faktor risiko yang telah terbukti: riwayat keluarga, paparan estrogen jangka panjang, obesitas, konsumsi alkohol, dan kurangnya aktivitas fisik.
Mitos 2: Plastik Microwave Melepaskan Racun Penyebab Kanker ke Makanan
Mitos ini memiliki sedikit “biji kebenaran” di dalamnya, yang membuatnya lebih mudah dipercaya. Kenyataannya, tidak semua plastik diciptakan sama. Wadah plastik yang secara resmi berlabel aman untuk microwave (microwave-safe) memang telah melalui pengujian regulasi dan dinyatakan aman untuk pemanasan dengan gelombang mikro.
Masalah yang sesungguhnya bukan pada microwave sebagai alat, melainkan pada jenis plastik yang digunakan. Wadah plastik yang tidak dirancang untuk microwave dapat mengalami pelelehan atau degradasi termal yang berpotensi memindahkan bahan kimia tertentu ke makanan.
Penelitian terbaru tentang microplastics (partikel plastik berukuran sangat kecil) memang menunjukkan gambaran yang lebih mengkhawatirkan. Sebuah systematic review tahun 2025 menemukan bahwa paparan kronis terhadap microplastics dan bahan kimia yang terkait dengannya, termasuk bisphenol A (BPA) dan phthalates, berkaitan secara biologis dengan peningkatan risiko sindrom metabolik dan proses karsinogenesis kolorektal melalui mekanisme inflamasi dan gangguan pada microbiota usus (Albukhari, 2025). Studi ini menekankan bahwa asosiasi ini bersifat biologis yang masuk akal, bukan hubungan kausal klinis yang sudah final.
Pesan praktisnya sederhana: gunakanlah wadah yang memang berlabel aman untuk microwave, hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik sekali pakai atau wadah styrofoam, dan bila memungkinkan, beralih ke wadah kaca atau keramik untuk pemanasan di microwave.
Mitos 3: Gula “Memberi Makan” Sel Kanker dan Mempercepatnya
Ini adalah salah satu mitos yang paling sulit diluruskan karena mengandung elemen ilmiah yang sering disalahartikan. Benar bahwa sel-sel kanker memiliki kebutuhan energi yang tinggi dan cenderung mengonsumsi glukosa dalam jumlah besar. Fenomena ini dikenal sebagai Warburg effect, yang pertama kali diobservasi oleh Otto Warburg pada tahun 1920-an: sel-sel kanker cenderung menggunakan jalur glikolisis aerobik untuk menghasilkan energi bahkan ketika oksigen tersedia, sebuah perilaku metabolik yang berbeda dari sel normal.
Penelitian terbaru terus menggali mekanisme molekuler di balik Warburg effect ini. Sebuah studi tahun 2026 yang diterbitkan di Nature Metabolism mengungkapkan bahwa hexokinase — enzim pertama dalam jalur glikolisis — memainkan peran kunci dalam mendorong glikolisis aerobik pada sel kanker melalui distribusi subselulernya di antara mitokondria dan sitoplasma (Huggler et al., 2026). Studi lain menunjukkan bahwa kinase PAK1 turut mengatur ulang metabolisme glukosa untuk mendukung proliferasi sel kanker (Gopinath et al., 2025).
Namun, semua temuan ini tidak mendukung kesimpulan bahwa “makan gula berarti memberi makan kanker”. Alasannya mendasar: semua sel tubuh Anda — jantung, otak, otot, sel imun — juga bergantung pada glukosa untuk energi. Membatasi asupan gula tidak akan secara selektif “menghilangkan” sumber energi kanker sementara organ lain tetap berfungsi normal. Tubuh memiliki mekanisme homeostasis yang kompleks untuk menjaga kadar glukosa darah dalam rentang tertentu, terlepas dari berapa banyak gula yang Anda makan.
Yang benar adalah: diet tinggi gula dapat berkontribusi pada obesitas, dan obesitas adalah faktor risiko kanker yang telah terbukti secara independen. Bukan karena gula “memberi makan” kanker, melainkan karena kelebihan berat badan menciptakan lingkungan metabolik dan hormonal yang dapat meningkatkan risiko kanker.
Mitos 4: Orang Baik Tidak Terkena Kanker — Kanker adalah Hukuman
Mitos ini berdimensi moral dan kultural yang dalam. Pandangan bahwa penyakit adalah “hukuman” atas perbuatan atau pikiran yang buruk masih ditemukan di berbagai budaya, termasuk sebagian komunitas di Indonesia. Namun dari sudut pandang kedokteran, kanker sama sekali tidak mengenal karakter, moral, atau kebaikan seseorang.
Kanker terjadi karena akumulasi mutasi genetik pada sel, yang dapat dipicu oleh berbagai faktor: paparan karsinogen lingkungan, infeksi virus, kerusakan DNA yang tidak diperbaiki, faktor herediter, dan banyak lagi. Seorang bayi berusia beberapa bulan yang didiagnosis leukemia belum melakukan “kesalahan” apapun. Seorang atlet muda yang tidak pernah merokok tetap bisa terkena kanker paru-paru.
Berbahayanya mitos ini bukan hanya pada kesalahan konseptualnya, tetapi pada dampak psikologis yang ditimbulkan. Pasien kanker sering menanggung beban rasa bersalah dan malu yang tidak semestinya, sementara orang di sekitar mereka mungkin menjauh karena takut atau prasangka. Padahal, dukungan sosial yang kuat adalah komponen penting dalam kualitas hidup dan bahkan hasil klinis pasien kanker.
Mitos 5: Kanker Menular
Kita perlu memisahkan dua pernyataan yang berbeda: kanker itu sendiri tidak menular, tetapi beberapa infeksi virus yang bersifat menular dapat, dalam kondisi tertentu, meningkatkan risiko berkembangnya kanker.
Anda tidak bisa tertular kanker dari berjabat tangan, berpelukan, menggunakan peralatan makan bersama, atau tinggal di rumah yang sama dengan penderita kanker. Tidak ada mekanisme biologis yang memungkinkan sel-sel kanker seseorang berpindah dan tumbuh di tubuh orang lain yang sistem imunnya sehat.
Yang perlu dipahami adalah kontribusi virus tertentu terhadap risiko kanker. Human papillomavirus (HPV) dikaitkan dengan kanker serviks, orofaring, anus, penis, vulva, dan vagina. Virus hepatitis B dan C berkaitan dengan kanker hati. Mitos di seputar vaksin HPV juga masih menjadi tantangan tersendiri: sebuah survei tahun 2025 di antara dokter keluarga menemukan bahwa mitos seperti “vaksin HPV hanya untuk perempuan” atau “vaksin HPV menyebabkan efek samping parah jangka panjang” masih banyak beredar di masyarakat dan menghambat cakupan vaksinasi (Dumitra et al., 2025).
Virus itu sendiri yang menular — bukan kankernya. Dan perlindungan terhadap virus-virus tersebut, melalui vaksinasi, hubungan seksual yang aman, dan tidak berbagi jarum suntik, adalah langkah nyata dalam pencegahan kanker.
Mitos 6: Stres Menyebabkan Kanker
Mitos ini sering beredar dalam bentuk yang lebih halus: “Dia terkena kanker karena terlalu stres” atau “Pikiran positif bisa menyembuhkan kanker.” Stres kronis memang memiliki dampak nyata terhadap kesehatan secara keseluruhan — ia dapat mengganggu sistem imun, meningkatkan inflamasi, dan mempengaruhi perilaku kesehatan secara tidak langsung. Namun tidak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa stres secara langsung menyebabkan kanker.
Penelitian yang mengukur kepercayaan terhadap mitos kanker menunjukkan bahwa stres adalah salah satu “penyebab mitologis” yang paling banyak dipercaya oleh masyarakat umum, padahal tidak termasuk dalam faktor risiko yang telah tervalidasi secara ilmiah (Yildirim-Kahriman et al., 2025). Kepercayaan terhadap mitos ini berbahaya karena dapat menimbulkan rasa bersalah pada pasien kanker — seolah-olah mereka “membiarkan diri mereka terkena kanker” karena tidak mampu mengelola stres.
Mitos 7: Makanan yang Gosong Secara Langsung Menyebabkan Kanker
Ada dasar ilmiah di balik kekhawatiran ini, meskipun gambarannya lebih bernuansa dari sekadar “gosong = kanker.” Ketika makanan yang mengandung pati dipanaskan pada suhu sangat tinggi, misalnya dibakar atau digoreng hingga gosong, dapat terbentuk senyawa kimia bernama acrylamide, sebuah karsinogen potensial. Proses pirolisis pada daging yang dibakar juga dapat menghasilkan senyawa heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH) yang bersifat mutagenik.
Namun, “berpotensi meningkatkan risiko dalam paparan tinggi dan jangka panjang” sangat berbeda dengan “sepotong makanan gosong langsung menyebabkan kanker.” Dosis dan frekuensi paparan sangat menentukan. Memangkas bagian makanan yang gosong, menghindari kebiasaan membakar daging hingga arang, dan tidak menjadikan makanan yang dimasak berlebihan sebagai konsumsi sehari-hari adalah tindakan pencegahan yang rasional tanpa perlu bersikap paranoid.
Mengapa Mitos Ini Penting untuk Diluruskan?
Mitos-mitos seputar kanker bukan sekadar kesalahan informasi yang tidak berbahaya. Ketika seseorang percaya bahwa deodoran menyebabkan kanker, mereka mungkin mengabaikan skrining kanker payudara yang lebih relevan. Ketika seseorang percaya bahwa kanker adalah “takdir” bagi orang yang “kurang baik,” mereka mungkin terlambat mencari pengobatan karena rasa malu. Ketika seseorang percaya bahwa “memotong gula sudah cukup,” mereka mungkin mengabaikan gaya hidup aktif dan pemeriksaan kesehatan berkala.
Literasi kesehatan yang baik bukan soal menghafal nama-nama penyakit, melainkan tentang kemampuan mengevaluasi klaim kesehatan secara kritis. Di Indonesia, tantangan ini semakin nyata dengan tingginya tingkat penggunaan media sosial dan WhatsApp sebagai sumber informasi kesehatan. Membiasakan diri untuk bertanya “dari mana sumber klaim ini?” dan “apakah ada bukti ilmiah yang mendukungnya?” adalah kebiasaan sederhana namun berdampak besar.
Referensi
Albukhari, A. F. (2025). Microplastic exposure and its dual impact on metabolic syndrome and pathways of colorectal carcinogenesis: A systematic review of epidemiological, experimental, and mechanistic evidence. Journal of Toxicology, 2025, 5569113. https://doi.org/10.1155/jt/5569113
Baş Aksu, Ö., & Şahin, M. (2025). Endocrine-disrupting chemicals and thyroid cancer. Turkish Journal of Medical Sciences, 55(7), 1648–1656. https://doi.org/10.55730/1300-0144.6126
Dumitra, G. G., Dogaru, C.-A., Alexiu, S. A., Sănduțu, D., Berbecel, C., Curelea, M., Barbu, C. V., Deleanu, A., Grom, A., Lup, M., Budiu, I., Vesa, M., Proșa, F., Ștefănescu, D., Surugiu, R., Popescu, Ș. O., Lăcătuș, A., Iancu, M. A., & Turcu-Stiolica, A. (2025). HPV vaccine-related myths encountered in Romanian clinical practice: A cross-sectional survey of family doctors. Germs, 15(1), 37–55. https://doi.org/10.18683/germs.2025.1453
Gopinath, P., Swaroop B, S. S., Venkatraman, G., & Rayala, S. K. (2025). Sugars to signals: Emerging roles of PAK1 in re-wiring glucose metabolism in cancers. Expert Opinion on Therapeutic Targets, 29(11–12), 811–821. https://doi.org/10.1080/14728222.2025.2608032
Huggler, K. S., Flickinger, K. M., Forsberg, M. H., Mellado Fritz, C. A., Chang, G. R., McGuire, M. F., Capitini, C. M., & Cantor, J. R. (2026). Hexokinase detachment from mitochondria drives the Warburg effect to support compartmentalized ATP production. Nature Metabolism, 8(1), 215–236. https://doi.org/10.1038/s42255-025-01428-1
Yildirim-Kahriman, S., Yildirim, G., & Kose, S. (2025). Understanding real and mythical cancer risk factors: Insights from a university-based study. PLOS ONE, 20(11), e0336102. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0336102

Tinggalkan Balasan ke Cahya Batalkan balasan