Kanker bukan sekadar penyakit — ia adalah ancaman kesehatan yang kini menyentuh hampir setiap keluarga di Indonesia. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) tahun 2022, Indonesia mencatat lebih dari 408.661 kasus kanker baru dan hampir 242.988 kematian hanya dalam satu tahun (Kemenkes RI, 2024). Kanker menjadi penyebab kematian ketiga terbesar di negeri ini, dan angka kejadiannya berada di angka 136 orang per 100.000 penduduk — menempatkan Indonesia di urutan ke-8 di kawasan Asia Tenggara.
Yang membuat situasi ini semakin memprihatinkan adalah fakta bahwa sebagian besar kasus kanker terdeteksi pada stadium lanjut. Ambil contoh kanker payudara, jenis kanker dengan kasus baru tertinggi pada perempuan Indonesia: diperkirakan 70 persen penderitanya baru datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Pada titik itu, pilihan pengobatan lebih terbatas, lebih berat secara fisik, dan jauh lebih mahal.
Namun ada kabar yang seharusnya mendorong kita untuk bertindak: sebuah proporsi signifikan dari beban kanker ini dapat dicegah. Berbagai studi epidemiologi menunjukkan bahwa antara 30 hingga 50 persen kasus kanker terkait dengan faktor risiko yang dapat dimodifikasi — artinya, ada dalam jangkauan pilihan hidup kita sehari-hari (Tozduman & Ergor, 2025). Artikel ini membahas langkah-langkah konkret yang didukung bukti ilmiah terkini untuk mengurangi risiko kanker, disesuaikan dengan konteks kesehatan Indonesia.
Memahami Kanker sebagai Perjalanan Panjang
Sebelum membahas pencegahan, penting untuk memahami mengapa kanker dapat dicegah. Kanker tidak terjadi dalam semalam. Ia adalah hasil akumulasi perubahan genetik pada sel yang berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Selama perjalanan panjang itu, paparan berulang terhadap faktor-faktor tertentu — rokok, zat karsinogen, peradangan kronis akibat obesitas, infeksi virus tertentu — mempercepat dan memfasilitasi kerusakan DNA yang pada akhirnya memicu pertumbuhan sel kanker.
Pendekatan pencegahan bekerja dengan cara memotong rantai proses ini sedini mungkin. Dengan menghindari paparan faktor risiko, memberi tubuh nutrisi dan aktivitas yang dibutuhkan, serta mendeteksi perubahan abnormal sebelum berkembang menjadi kanker invasif, kita secara aktif mempersempit peluang penyakit ini untuk berkembang.
Studi dari Global Burden of Disease (GBD) 2023, yang diterbitkan di The Lancet, mengidentifikasi merokok, indeks massa tubuh (body mass index/BMI) tinggi, dan paparan polutan partikulat sebagai tiga faktor risiko terdepan yang berkontribusi terhadap kematian akibat penyakit tidak menular secara global, termasuk kanker (GBD 2023 Collaborators, 2025). Ketiga faktor ini bersifat dapat dimodifikasi.
Berhenti Merokok: Langkah Tunggal Berdampak Terbesar
Tidak ada intervensi pencegahan kanker yang memiliki dampak sebesar berhenti merokok. Rokok tidak hanya merusak paru-paru — asapnya mengandung lebih dari 70 zat karsinogen yang merusak hampir setiap organ tubuh dan dikaitkan dengan setidaknya 15 jenis kanker yang berbeda, termasuk kanker paru, laring, mulut, esofagus, kandung kemih, ginjal, pankreas, dan leher rahim.
Sebuah studi kohort prospektif dari Eropa menemukan bahwa merokok merupakan faktor risiko tunggal dengan proporsi kematian tertinggi pada laki-laki (21,0%), jauh melampaui faktor lain seperti obesitas dan konsumsi alkohol (Cirera et al., 2025). Di Indonesia, prevalensi perokok laki-laki dewasa termasuk yang tertinggi di dunia. Angka ini secara langsung berkontribusi pada tingginya kasus kanker paru yang menduduki posisi pertama insiden kanker pada laki-laki di Indonesia (Globocan 2022, via Kemenkes RI).
Yang penting untuk dipahami adalah bahwa manfaat berhenti merokok bersifat progresif. Bahkan setelah berhenti selama satu tahun, risiko penyakit jantung koroner turun separuhnya. Risiko kanker paru mulai menurun signifikan setelah 10 tahun berhenti merokok. Tidak ada kata “terlambat” untuk berhenti — meski tubuh sudah terpapar selama bertahun-tahun, berhenti merokok tetap memberikan keuntungan nyata.
Bagi perokok pasif (second-hand smoker), risiko pun nyata. Paparan asap rokok orang lain meningkatkan risiko kanker paru hingga 20–30 persen pada mereka yang tidak pernah merokok sekalipun. Inilah mengapa kebijakan kawasan bebas rokok bukan sekadar aturan administratif, melainkan intervensi kesehatan masyarakat yang terbukti efektif.
Menjaga Berat Badan: Lebih dari Sekadar Penampilan
Obesitas kini diakui sebagai faktor risiko kanker yang independen dan signifikan. Mekanismenya bersifat multidimensi: jaringan lemak berlebih meningkatkan kadar hormon seks (terutama estrogen), mendorong resistensi insulin, memicu peradangan kronis tingkat rendah (chronic low-grade inflammation), dan mengubah kadar adipokine — semua kondisi ini menciptakan lingkungan molekuler yang kondusif bagi pertumbuhan sel kanker.
Penelitian menunjukkan bahwa obesitas meningkatkan risiko sedikitnya 13 jenis kanker, termasuk kanker payudara pascamenopause, kanker rahim (endometrium), kanker kolorektal, kanker ginjal, kanker pankreas, dan kanker esofagus. Pada perempuan, BMI tinggi bahkan menjadi faktor risiko dengan population attributable fraction terbesar — melampaui faktor lain termasuk konsumsi alkohol (Cirera et al., 2025).
Di Indonesia, tren obesitas meningkat pesat seiring urbanisasi dan perubahan pola makan. Data Riskesdas menunjukkan peningkatan proporsi obesitas pada orang dewasa dari waktu ke waktu. Kemenkes RI sendiri menyebut skrining obesitas sebagai bagian dari deteksi dini kanker, mengingat keterkaitan langsung antara indeks massa tubuh berlebih dengan risiko terhadap belasan jenis kanker melalui efek peradangan kronis dan peningkatan kadar insulin.
Target yang realistis bukan tubuh yang “ideal” secara estetika, melainkan BMI dalam rentang 18,5–24,9 kg/m². Pendekatan yang berkelanjutan mencakup pengaturan pola makan bergizi seimbang dan peningkatan aktivitas fisik secara bertahap — bukan diet ketat yang tidak dapat dipertahankan jangka panjang.
Aktif Bergerak: Tubuh yang Bergerak, Risiko yang Berkurang
Aktivitas fisik bukan hanya instrumen untuk menjaga berat badan. Ia memiliki efek antikanker yang independen melalui berbagai jalur biologis: meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi kadar estrogen dan progesteron pada perempuan, memperkuat sistem imun, mengurangi waktu transit makanan di usus besar (sehingga memperpendek paparan mukosa terhadap zat karsinogenik), serta menurunkan kadar peradangan sistemik.
Bukti terkuat ada untuk kanker payudara, kanker kolorektal, dan kanker endometrium, di mana aktivitas fisik secara konsisten dikaitkan dengan penurunan risiko yang bermakna. Tinjauan sistematis terbaru mempertegas bahwa aktivitas fisik merupakan faktor protektif yang signifikan terhadap risiko kanker payudara (Li et al., 2025).
Rekomendasi global dari WHO yang diadopsi oleh Kemenkes RI menyarankan minimal 150–300 menit aktivitas fisik intensitas sedang, atau 75–150 menit aktivitas intensitas tinggi, setiap minggunya. Yang lebih penting dari total waktu adalah konsistensi: aktivitas yang dilakukan secara teratur sepanjang minggu jauh lebih bermanfaat daripada berolahraga berat hanya satu-dua hari.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari di Indonesia, aktivitas fisik tidak harus berarti pergi ke gym. Berjalan kaki ke pasar, berkebun, bersepeda ke tempat kerja, atau mengikuti senam bersama di lingkungan RT/RW adalah bentuk aktivitas yang secara kumulatif memberikan manfaat bermakna.
Pola Makan Pelindung: Bukan Diet, Tapi Gaya Hidup
Hubungan antara diet dan kanker bersifat kompleks — tidak ada satu makanan yang “menyebabkan” atau “menyembuhkan” kanker. Namun pola makan secara keseluruhan memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap risiko jangka panjang.
Pola makan tinggi sayuran, buah, biji-bijian utuh (whole grains), kacang-kacangan, dan ikan dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai kanker, khususnya kanker kolorektal. Serat makanan mempercepat transit makanan di usus, mengurangi waktu kontak antara karsinogen potensial dengan dinding usus besar. Antioksidan dari buah dan sayuran melindungi DNA sel dari kerusakan oksidatif.
Sebaliknya, konsumsi daging merah berlebih (lebih dari 500 gram per minggu) dan daging olahan (sosis, kornet, daging asap) secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal. Studi epidemiologi juga menemukan bahwa pola makan tinggi lemak jenuh, rendah serat, dan tinggi makanan ultraproses (ultraprocessed food) meningkatkan risiko kanker payudara, endometrium, dan kolorektal (Li et al., 2025; Kim, 2025).
Untuk konteks Indonesia, panduan “Isi Piringku” dari Kemenkes RI menjadi acuan yang praktis dan mudah diikuti: setengah piring diisi sayuran dan buah, seperempat piring karbohidrat kompleks, dan seperempat lagi lauk sumber protein. Mengurangi konsumsi makanan yang digoreng berulang, menghindari makanan gosong atau terpanggang hangus, serta membatasi makanan kemasan tinggi pengawet adalah langkah-langkah konkret yang dapat dimulai hari ini.
Batasi Alkohol: Risiko yang Sering Diremehkan
Meski konsumsi alkohol di Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara Barat akibat faktor budaya dan agama, penting untuk memahami bahwa alkohol adalah karsinogen yang telah terbukti secara ilmiah. Konsumsi alkohol dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker mulut, tenggorokan, esofagus, hati, usus besar, dan payudara.
Mekanisme kerjanya meliputi: alkohol diubah menjadi asetaldehida yang merusak DNA dan protein sel, mengganggu proses perbaikan DNA, meningkatkan kadar estrogen, dan memfasilitasi penetrasi karsinogen lain ke dalam sel mukosa. Tidak ada ambang batas konsumsi alkohol yang “aman” dari sudut pandang risiko kanker.
Vaksinasi: Pencegahan Kanker yang Sering Terlupakan
Beberapa kanker disebabkan oleh infeksi virus yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi. Dua yang paling relevan untuk konteks Indonesia adalah:
Pertama, vaksin Human Papillomavirus (HPV). Infeksi HPV tipe risiko tinggi menjadi penyebab utama kanker leher rahim (serviks), yang merupakan jenis kanker kedua terbanyak pada perempuan Indonesia dengan lebih dari 36.000 kasus baru per tahun. Vaksin HPV, yang kini telah masuk dalam program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) untuk anak perempuan kelas 5 dan 6 SD, terbukti secara sangat efektif mencegah infeksi tipe HPV paling berbahaya. Pemberian vaksin paling efektif sebelum individu terpapar infeksi, yaitu sebelum aktif secara seksual.
Kedua, vaksin Hepatitis B. Infeksi Hepatitis B kronik merupakan faktor risiko utama kanker hati (hepatocellular carcinoma), salah satu jenis kanker dengan angka kematian tertinggi di Indonesia. Vaksin Hepatitis B yang sudah masuk dalam jadwal imunisasi nasional sejak bayi merupakan bentuk pencegahan primer kanker hati yang paling efektif tersedia saat ini.
Bagi orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin Hepatitis B secara lengkap, konsultasi dengan dokter untuk melengkapi vaksinasi adalah langkah yang sangat dianjurkan.
Kurangi Paparan Karsinogen Lingkungan
Tidak semua faktor risiko bersumber dari dalam diri kita. Lingkungan tempat kita tinggal dan bekerja turut berperan. Paparan berkepanjangan terhadap berbagai zat kimia dan fisika berkaitan dengan risiko kanker.
Polusi udara, khususnya partikel halus (PM2.5), kini diidentifikasi oleh GBD 2023 sebagai salah satu dari lima faktor risiko dengan kontribusi terbesar terhadap kematian akibat penyakit tidak menular (GBD 2023 Collaborators, 2025). Di kota-kota besar Indonesia, kualitas udara menjadi perhatian nyata yang tidak dapat diabaikan.
Paparan sinar ultraviolet (UV) berlebihan meningkatkan risiko kanker kulit. Meski kanker kulit relatif lebih jarang dilaporkan di Indonesia dibandingkan negara berkulit putih, paparan UV tetap berperan dalam kerusakan DNA sel kulit dalam jangka panjang. Penggunaan tabir surya (sunscreen) dan pakaian pelindung saat beraktivitas di luar ruangan merupakan tindakan preventif yang mudah dan murah.
Di tempat kerja, berbagai industri menggunakan bahan kimia yang bersifat karsinogenik — asbes, benzen, formaldehida, dan lainnya. Kepatuhan terhadap protokol keselamatan kerja, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan ventilasi tempat kerja yang memadai bukan sekadar aturan administratif, melainkan perlindungan nyata terhadap risiko kanker jangka panjang.
Deteksi Dini: Ketika Pencegahan Harus Menemui Kenyataan
Pencegahan primer (menghindari faktor risiko) adalah strategi terbaik. Namun manusia tidak hidup dalam kondisi ideal — ada paparan yang tidak dapat sepenuhnya dihindari, dan ada faktor genetik yang berperan di luar kendali kita. Di sinilah skrining (screening) atau deteksi dini memasuki peran pentingnya.
Skrining yang efektif mampu mendeteksi kanker pada stadium sangat awal ketika masih sangat dapat diobati, bahkan sebelum gejala muncul. Beberapa program skrining yang relevan di Indonesia meliputi:
Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) dan Pap smear untuk mendeteksi lesi prakanker serviks pada perempuan yang sudah aktif secara seksual. Program ini tersedia di banyak Puskesmas dan dianjurkan secara berkala.
SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) yang dilakukan rutin setiap bulan setelah menstruasi, dilengkapi dengan SADANIS (Pemeriksaan Payudara secara Klinis oleh tenaga kesehatan) sebagai langkah deteksi dini kanker payudara.
Deteksi dini kanker kolorektal bagi individu berusia di atas 50 tahun, khususnya mereka dengan gejala buang air besar berdarah atau riwayat keluarga kanker usus/polip adenomatosa.
Skrining kanker paru pada perokok berat dan mantan perokok berat berusia 50–80 tahun menggunakan CT scan dosis rendah, meskipun fasilitas ini masih terbatas di Indonesia dan belum menjadi program skrining rutin yang luas.
Kelola Stres dan Jaga Kesehatan Mental
Meski hubungan antara stres kronik dan kanker belum sepenuhnya dipahami, bukti yang berkembang menunjukkan bahwa stres psikologis berkepanjangan dapat mengganggu fungsi imun, meningkatkan peradangan sistemik, dan mendorong perilaku tidak sehat (merokok lebih banyak, makan tidak teratur, kurang tidur) yang pada gilirannya meningkatkan risiko kanker.
Mengelola stres bukan kemewahan, melainkan bagian dari strategi kesehatan komprehensif. Tidur yang cukup (7–8 jam per malam), hubungan sosial yang sehat, aktivitas rekreasi, dan jika diperlukan bantuan profesional kesehatan jiwa, semuanya berkontribusi pada keseimbangan biologis yang mendukung pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit termasuk kanker.
Konteks Indonesia: Tantangan dan Peluang
Menerapkan langkah-langkah pencegahan di atas dalam konteks Indonesia memerlukan pemahaman tentang realitas lokal. Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker Kemenkes RI menyebutkan bahwa dua faktor yang paling banyak berkontribusi terhadap peningkatan kasus kanker di Indonesia adalah kurangnya aktivitas fisik dan pola gaya hidup tidak sehat terutama soal makanan (Kompas, 2022).
Tantangan nyata meliputi akses yang tidak merata terhadap fasilitas skrining, khususnya di daerah terpencil; biaya pengobatan yang tinggi (biaya BPJS untuk kanker meningkat hampir 50 persen dari 3,3 triliun rupiah pada 2020 menjadi 5,9 triliun rupiah pada 2023); serta rendahnya kesadaran masyarakat tentang gejala awal kanker dan pentingnya deteksi dini.
Di sisi lain, Indonesia memiliki modal besar dalam pencegahan: budaya masak sendiri dengan bahan segar yang masih kuat di banyak daerah, tradisi aktivitas fisik komunal, dan program imunisasi nasional yang semakin komprehensif. Momentum Transformasi Kesehatan yang dicanangkan Kemenkes RI dengan penguatan layanan primer membuka peluang lebih besar untuk program deteksi dini yang menjangkau lebih banyak masyarakat.
Penutup: Pencegahan adalah Pilihan, Bukan Keberuntungan
Kanker mungkin tidak sepenuhnya dapat dicegah — ada komponen genetik dan stokastik yang berada di luar kendali kita. Namun menyebut kanker sebagai sepenuhnya nasib adalah kesalahan yang berbahaya. Bukti ilmiah terkini secara konsisten menunjukkan bahwa pilihan hidup sehari-hari — apa yang kita makan, seberapa aktif kita bergerak, apakah kita merokok, apakah kita menjaga berat badan — memiliki dampak nyata terhadap probabilitas kita menghadapi penyakit ini.
Setiap rokok yang tidak dihisap, setiap pagi yang diakhiri dengan jalan kaki, setiap porsi sayuran yang ditambahkan ke piring makan, setiap jadwal skrining yang tidak dilewatkan — semua itu adalah investasi nyata dalam kesehatan jangka panjang. Mencegah kanker bukan tentang menjalani hidup dalam ketakutan, melainkan tentang membuat pilihan-pilihan kecil yang bermakna, setiap harinya.
Daftar Referensi
Cirera, L., Huerta, J. M., Moreno-Iribas, C., Jiménez, A., Mokoroa, O., Guevara, M., Andueza, N., Sánchez, M. J., Petrova, D., Luján-Barroso, L., Salmerón, D., & Chirlaque, M. D. (2025). Mortality attributable to modifiable lifestyle factors in the Spanish cohort of the European prospective investigation into cancer and nutrition (EPIC) study. BMC Public Health, 25(1), 4165. https://doi.org/10.1186/s12889-025-25258-8
Farina, S., Sabatelli, A., Boccia, S., & Scambia, G. (2025). Environment, lifestyle, and cancer in women. International Journal of Gynaecology and Obstetrics, 171(Suppl 1), 138–146. https://doi.org/10.1002/ijgo.70156
GBD 2023 Collaborators. (2025). Burden of 375 diseases and injuries, risk-attributable burden of 88 risk factors, and healthy life expectancy in 204 countries and territories, 1990–2023: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2023. The Lancet, 406(10513), 1873–1922. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(25)01637-X
Gorin, S. S., & Hirko, K. (2023). Primary prevention of cancer: A multilevel approach to behavioral risk factor reduction in racially and ethnically minoritized groups. Cancer Journal, 29(6), 354–361. https://doi.org/10.1097/PPO.0000000000000686
International Agency for Research on Cancer (IARC)/WHO. (2022). Global Cancer Observatory: Indonesia fact sheet 2022. https://gco.iarc.who.int/media/globocan/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheet.pdf
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Kerangka kerja pencegahan dan pengendalian kanker. https://kemkes.go.id/id/layanan/kerangka-kerja-pencegahan-dan-pengendalian-kanker
Kim, D. H. (2025). Epidemiology of colonic adenoma and cancer. Clinical Endoscopy. https://doi.org/10.5946/ce.2025.189
Li, X., Zhang, H., Yang, H., Song, Y., Zhang, F., & Wang, A. (2025). Modifiable risk factors for breast cancer: Insights from systematic reviews. Public Health Nursing, 42(2), 1060–1071. https://doi.org/10.1111/phn.13504
Tozduman, B., & Ergor, G. (2025). The fraction of cancer attributable to modifiable risk factors in Turkey in 2018. International Journal of Cancer, 156(11), 2140–2147. https://doi.org/10.1002/ijc.35317
World Health Organization. (2024). Cancer prevention. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer
Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Untuk pemeriksaan dan deteksi dini kanker, silakan berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat.
Update terakhir: Februari 2026

Tinggalkan komentar