Demam adalah salah satu alasan paling umum mengapa orang tua membawa anaknya ke dokter atau instalasi gawat darurat. Hampir setiap anak pernah mengalaminya, dan hampir setiap orang tua pernah cemas karenanya. Namun di balik kecemasan itu, ada banyak kesalahpahaman yang justru membuat penanganan demam menjadi kurang tepat—terlalu agresif di satu sisi, atau terlambat mencari pertolongan di sisi lain.
Artikel ini hadir untuk meluruskan pemahaman tentang demam pada anak berdasarkan bukti ilmiah terkini, sehingga orang tua dapat bertindak dengan lebih tenang dan tepat.
Apa Sebenarnya Demam Itu?
Secara klinis, demam didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas batas normal yang diatur oleh hipotalamus—bagian otak yang berfungsi sebagai “termostat” tubuh. Pada anak-anak, suhu dianggap demam apabila mencapai 38°C atau lebih bila diukur melalui rektum (dubur), 37,8°C atau lebih bila diukur melalui mulut, atau 37,4°C bila diukur di ketiak.
Penting untuk dipahami bahwa demam bukan penyakit, melainkan respons fisiologis tubuh terhadap sesuatu yang dianggap ancaman—paling sering berupa infeksi. Ketika kuman masuk ke dalam tubuh, sistem imun melepaskan zat-zat kimia yang disebut sitokin, termasuk interleukin-1 (IL-1) dan tumor necrosis factor (TNF). Zat-zat ini kemudian memicu hipotalamus untuk “memutar ulang” titik suhu normal ke angka yang lebih tinggi. Pada suhu yang lebih tinggi, sebagian besar bakteri dan virus sulit berkembang biak, sementara sel-sel imun bekerja lebih optimal. Dengan kata lain, demam adalah sekutu tubuh dalam melawan infeksi, bukan musuhnya.
Mengapa Orang Tua Begitu Takut dengan Demam?
Fenomena yang oleh para ahli disebut fever phobia—ketakutan berlebihan terhadap demam—telah terdokumentasi sejak lama dan ternyata masih sangat umum di kalangan orang tua maupun tenaga kesehatan. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Research in Social & Administrative Pharmacy (2024) menemukan bahwa selama lebih dari tiga dekade, perilaku penanganan demam oleh pengasuh tidak banyak berubah: orang tua masih cenderung memberikan obat penurun panas bahkan ketika suhu belum mencapai ambang yang memerlukan pengobatan, atau menggabungkan dua jenis antipiretik tanpa anjuran dokter (Arias et al., 2024).
Ketakutan ini sebagian besar tidak berdasar. Demam di bawah 42°C pada umumnya tidak menyebabkan kerusakan otak. Yang berbahaya bukan demamnya sendiri, melainkan penyakit yang mendasarinya—dan itulah yang perlu diwaspadai.
Apa yang Menyebabkan Demam?
Penyebab demam pada anak sangat beragam. Infeksi—baik oleh virus maupun bakteri—adalah penyebab paling umum. Pada bayi dan anak kecil di negara tropis seperti Indonesia, infeksi dengue, malaria, tifoid, dan infeksi saluran pernapasan atas mendominasi. Selain infeksi, demam juga dapat dipicu oleh imunisasi, paparan panas yang ekstrem (heat stroke), efek samping obat-obatan tertentu, atau kondisi peradangan non-infeksi.
Sebuah ulasan komprehensif yang diterbitkan dalam Indian Journal of Medical Microbiology (2024) menekankan pentingnya pendekatan yang sistematis dalam mengevaluasi demam pada anak, dengan mempertimbangkan konteks epidemiologi lokal—karena spektrum penyebab demam berbeda-beda bergantung pada wilayah geografis dan musim (Jayashree et al., 2024). Dalam konteks Indonesia, demam berdarah dengue (DBD), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan diare infeksi merupakan penyebab demam yang paling sering ditemui pada anak di fasilitas kesehatan primer.
Bagaimana Cara Mengukur Suhu Tubuh Anak?
Sebelum membahas penanganan, penting bagi orang tua untuk mengetahui cara mengukur suhu yang benar. Pemilihan alat dan metode pengukuran memengaruhi akurasi hasil.
Pengukuran rektal (melalui dubur) adalah yang paling akurat, terutama untuk bayi di bawah 3 bulan. Pengukuran aksila (ketiak) paling mudah dilakukan namun paling tidak akurat—hasilnya biasanya 0,5–1°C lebih rendah dari suhu inti tubuh. Termometer digital jauh lebih direkomendasikan dibanding termometer air raksa yang kini sudah ditarik dari peredaran di banyak negara karena risiko keracunan merkuri. Termometer inframerah telinga (tympanic) dan dahi (temporal artery) juga tersedia dan cukup praktis untuk anak yang lebih besar, meski akurasinya dapat dipengaruhi oleh teknik penggunaan.
Satu termometer digital sederhana di rumah adalah investasi kecil yang nilainya sangat besar bagi keselamatan anak.
Mengenali Tanda-tanda yang Perlu Diwaspadai
Tidak semua demam sama. Yang perlu dievaluasi bukan hanya angka pada termometer, tetapi juga kondisi keseluruhan anak dan adanya tanda-tanda bahaya (warning signs).
Perhatikan anak Anda secara menyeluruh: bagaimana aktivitasnya, responsnya terhadap lingkungan, apakah ia masih mau minum, dan bagaimana pola napasnya. Demam tinggi pada anak yang tampak aktif dan masih mau bermain umumnya lebih rendah risikonya dibanding demam sedang pada anak yang tampak lesu, tidak responsif, atau mengalami gangguan pernapasan.
Tanda-tanda yang memerlukan perhatian segera antara lain perubahan warna kulit menjadi pucat, kebiruan (sianosis), atau muncul bintik-bintik merah keunguan (petechiae); tanda-tanda dehidrasi seperti mulut kering, air mata sedikit atau tidak ada saat menangis, dan frekuensi buang air kecil yang menurun drastis; pernapasan yang cepat, berat, atau tidak teratur; anak yang sangat sulit dibangunkan atau tampak kebingungan; serta kaku pada leher.
Kapan Harus Segera ke Dokter atau IGD?
Panduan berikut dapat membantu orang tua mengambil keputusan, meskipun penilaian klinis oleh tenaga kesehatan tidak dapat sepenuhnya digantikan:
Segera ke IGD tanpa menunggu jika:
- Suhu tubuh anak mencapai 40°C atau lebih
- Anak mengalami kejang
- Anak berusia di bawah 3 bulan dengan suhu rektal 38°C atau lebih (ini adalah kondisi gawat darurat)
- Anak tampak sangat sakit, tidak responsif, atau sulit dibangunkan
- Muncul ruam keunguan atau bintik-bintik perdarahan pada kulit
- Anak mengalami kesulitan bernapas yang tidak membaik setelah hidungnya dibersihkan
Hubungi atau kunjungi dokter dalam waktu 24 jam jika:
- Anak berusia 3 bulan hingga 2 tahun dengan demam 39°C atau lebih
- Demam sudah berlangsung lebih dari 2 hari tanpa sebab yang jelas
- Ada keluhan nyeri atau perih saat buang air kecil (kemungkinan infeksi saluran kemih)
Pantau di rumah dan konsultasi bila ada kekhawatiran jika:
- Demam sudah hilang 24 jam namun muncul kembali
- Anak memiliki riwayat kejang demam sebelumnya
- Demam berlangsung lebih dari 3 hari meski anak tampak baik-baik saja
Bagaimana Menangani Demam di Rumah?
Tujuan Utama Pengobatan: Kenyamanan, Bukan Sekadar Angka
Pandangan modern tentang penanganan demam telah bergeser secara signifikan. Panduan terbaru menekankan bahwa tujuan utama pengobatan demam adalah meringankan ketidaknyamanan anak, bukan memaksakan suhu kembali ke angka normal secepat mungkin. Demam ringan yang ditoleransi dengan baik oleh anak tidak selalu memerlukan intervensi farmakologis.
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam British Journal of Clinical Pharmacology (2025) menegaskan bahwa intervensi farmakologis terbukti efektif dan aman untuk mengatasi ketidaknyamanan akibat demam, sementara metode fisik seperti kompres dingin atau mandi air dingin justru dapat meningkatkan ketidaknyamanan meski mampu menurunkan suhu (Corsello et al., 2025).
Obat Penurun Panas (Antipiretik)
Parasetamol (acetaminophen) dan ibuprofen adalah dua pilihan antipiretik yang direkomendasikan untuk anak-anak. Keduanya terbukti aman dan efektif bila diberikan sesuai dosis yang tepat berdasarkan berat badan, bukan usia.
Dosis parasetamol yang umum adalah 10–15 mg per kilogram berat badan, diberikan setiap 4–6 jam. Dosis ibuprofen adalah 5–10 mg per kilogram berat badan, setiap 6–8 jam, dan sebaiknya tidak diberikan pada bayi di bawah 6 bulan serta pada kondisi dehidrasi berat karena risiko gangguan ginjal.
Sebuah meta-analisis jaringan (network meta-analysis) yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics (2024) memberikan temuan menarik: terapi kombinasi atau bergantian antara parasetamol dan ibuprofen tampak lebih efektif dalam menurunkan suhu dibandingkan penggunaan salah satu obat saja dalam 4–6 jam pertama. Namun, penelitian ini juga menegaskan bahwa tidak ada perbedaan bermakna dalam hal efek samping antara terapi tunggal dan kombinasi (De la Cruz-Mena et al., 2024). Meski demikian, penting untuk diingat bahwa penggunaan kombinasi antipiretik sebaiknya dilakukan atas saran dokter, mengingat risiko salah dosis yang lebih tinggi bila dilakukan sembarangan.
Peringatan penting: Jangan pernah memberikan aspirin (acetylsalicylic acid) pada anak di bawah 16 tahun untuk mengatasi demam. Aspirin dikaitkan dengan sindrom Reye, komplikasi serius yang dapat menyebabkan kerusakan hati dan otak.
Cara Non-Obat yang Membantu
Selain obat, beberapa langkah sederhana dapat membantu anak merasa lebih nyaman. Pastikan anak tetap terhidrasi dengan baik—demam meningkatkan penguapan cairan dari tubuh. Tawarkan minuman sedikit demi sedikit namun sering: air, ASI (untuk bayi yang masih menyusu), atau minuman oralit bila ada tanda dehidrasi. Hindari memakaikan pakaian yang terlalu tebal atau membungkus anak dengan selimut berlapis, karena ini justru dapat menjebak panas dan memperburuk demam. Sebaliknya, pakaian tipis dan ruangan yang cukup sejuk (bukan dingin) akan membantu.
Kompres dengan air hangat—bukan air es atau alkohol—dapat diberikan sebagai tambahan jika anak tampak tidak nyaman. Kompres dilakukan di dahi, ketiak, atau lipat paha. Penggunaan alkohol atau air es untuk kompres tidak direkomendasikan karena dapat memicu menggigil dan justru meningkatkan suhu tubuh secara refleks, selain risiko keracunan alkohol melalui kulit pada bayi.
Tentang Kejang Demam: Menakutkan, Namun Umumnya Tidak Berbahaya
Kejang demam terjadi pada sekitar 2–5% anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun. Kejang ini terjadi akibat kenaikan suhu yang cepat, bukan semata-mata karena suhu yang sangat tinggi—sehingga sulit diprediksi dan dicegah hanya dengan memberikan obat penurun panas lebih awal.
Kejang demam sederhana berlangsung kurang dari 15 menit, bersifat umum (seluruh tubuh), dan tidak berulang dalam 24 jam yang sama. Kondisi ini, meski sangat menakutkan bagi orang tua, umumnya tidak menyebabkan kerusakan otak dan tidak berarti anak menderita epilepsi.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam konsensusnya mengenai penatalaksanaan kejang demam menegaskan bahwa pemberian antipiretik pada anak demam bertujuan meningkatkan kenyamanan—dan tidak terbukti mencegah terjadinya kejang demam. Sebuah survei yang diterbitkan dalam European Journal of Pediatrics (2023) menemukan bahwa praktik penanganan kejang demam yang tidak berdasar bukti, seperti pemberian antipiretik agresif pada suhu rendah untuk mencegah kejang, masih banyak dilakukan bahkan oleh dokter anak—sebuah pengingat bahwa edukasi yang benar sangat diperlukan (Kopsidas et al., 2023).
Jika anak mengalami kejang demam, letakkan anak di posisi miring untuk mencegah tersedak, jauhkan dari benda berbahaya, catat berapa lama kejang berlangsung, dan jangan memasukkan apapun ke dalam mulut anak. Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau anak tidak sadar setelah kejang, segera bawa ke IGD.
Catatan Khusus untuk Bayi di Bawah 3 Bulan
Bayi berusia di bawah 3 bulan yang mengalami demam harus selalu dievaluasi oleh tenaga kesehatan, tanpa terkecuali. Pada kelompok usia ini, sistem imun belum matang, tanda-tanda infeksi serius sering kali tidak khas, dan kondisi dapat memburuk dengan sangat cepat. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Western Journal of Emergency Medicine (2022) menekankan perlunya stratifikasi risiko yang cermat pada bayi di bawah 60 hari dengan demam, mengingat risiko infeksi bakteri serius termasuk meningitis, sepsis, dan infeksi saluran kemih cukup bermakna pada kelompok usia ini (Guernsey et al., 2022).
Untuk bayi di bawah 3 bulan, setiap demam harus dianggap serius hingga terbukti sebaliknya oleh dokter.
Kesimpulan
Demam pada anak adalah kondisi yang umum, namun bukan berarti bisa disepelekan atau sebaliknya, membuat orang tua panik berlebihan. Pemahaman yang benar akan membantu orang tua bersikap proporsional: mengetahui kapan cukup memantau di rumah, kapan perlu menggunakan obat, dan kapan harus segera mencari pertolongan medis.
Yang terpenting untuk diingat: perhatikan kondisi keseluruhan anak, bukan sekadar angka pada termometer. Anak yang demam tinggi namun masih aktif dan responsif umumnya tidak dalam kondisi gawat. Sebaliknya, anak dengan demam sedang namun tampak lesu, sulit dibangunkan, atau menunjukkan tanda bahaya, memerlukan evaluasi segera.
Daftar Referensi
Arias, D., So, E., Chen, T. F., & Moles, R. J. (2024). The information seeking behaviors of caregivers in the management of childhood fever – A systematic literature review. Research in Social & Administrative Pharmacy, 20(7), 559–575. https://doi.org/10.1016/j.sapharm.2024.02.015
Corsello, A., Alberti, I., Farhanghi, S., Bonetti, A., Garattini, S., Comotti, A., Marchisio, P., Chiappini, E., & Milani, G. P. (2025). Effectiveness and safety of interventions for fever-associated discomfort in children: A systematic review. British Journal of Clinical Pharmacology, 91(12), 3323–3329. https://doi.org/10.1002/bcp.70203
De la Cruz-Mena, J. E., Veroniki, A. A., Acosta-Reyes, J., Estupiñán-Bohorquez, A., Ibarra, J. A., Pana, M. C., Sierra, J. M., & Florez, I. D. (2024). Short-term dual therapy or mono therapy with acetaminophen and ibuprofen for fever: A network meta-analysis. Pediatrics, 154(4). https://doi.org/10.1542/peds.2023-065390
Green, C., Krafft, H., Guyatt, G., & Martin, D. (2021). Symptomatic fever management in children: A systematic review of national and international guidelines. PLOS ONE, 16(6), e0245815. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0245815
Guernsey, D., Pfeffer, M., Kimpo, J., Vazquez, H., & Zerzan, J. (2022). COVID-19 and serious bacterial infection in febrile infants less than 60 days old. Western Journal of Emergency Medicine, 23(5), 754–759. https://doi.org/10.5811/westjem.2022.6.54863
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2016). Konsensus penatalaksanaan kejang demam. IDAI. https://www.idai.or.id/professional-resources/pedoman-konsensus/konsensus-penatalaksanaan-kejang-demam
Jayashree, M., Parameswaran, N., Nallasamy, K., Chidambaram, A. C., Rajasegar, R., Dhodapkar, R., Chhabra, M., Gupta, N., Kaur, H., Velayudhan, A., Deol, S., Lodha, R., Vasanthapuram, R., Verghese, V. P., & Rose, W. (2024). Approach to fever in children. Indian Journal of Medical Microbiology, 50, 100650. https://doi.org/10.1016/j.ijmmb.2024.100650
Kopsidas, I., Dasoula, F. E., Kourkouni, E., Krepi, A., Mystakelis, H. A., Spyridis, N., & Vartzelis, G. (2023). Management of children with febrile seizures: A Greek nationwide survey. European Journal of Pediatrics, 182(7), 3293–3300. https://doi.org/10.1007/s00431-023-05004-1
Karyanti, M. R. (2020). Tatalaksana demam pada anak. Cermin Dunia Kedokteran, 47(9). https://media.neliti.com/media/publications/401353-tatalaksana-demam-pada-anak-4f9384b9.pdf
Update terakhir: Februari 2026

Tinggalkan komentar