Diperbarui pada Februari 2026 dari artikel asli yang diterbitkan pada 31 Oktober 2013
Dua belas tahun lalu, saya menulis tentang stres dari sudut pandang seorang dokter yang baru menemukan pola menarik di klinik: banyak pasien sadar mereka sedang stres, tapi tidak tahu betapa seriusnya ancaman itu terhadap tubuh mereka. Kini, dengan ribuan penelitian baru yang terbit dalam satu dekade terakhir, gambarannya jauh lebih lengkap — dan lebih mengkhawatirkan.
Artikel ini adalah pembaruan menyeluruh. Bukan sekadar menambahkan kalimat baru, tapi menceritakan ulang kisah yang sama dengan pemahaman ilmu kedokteran terkini.
Stres Adalah Fitur, Bukan Bug
Sebelum kita berbicara tentang bahaya, ada baiknya memahami mengapa stres ada. Tubuh manusia memiliki sistem respons darurat yang disebut fight-or-flight response — respons lawan atau lari. Saat otak mendeteksi ancaman, sistem saraf simpatik aktif dalam hitungan detik: jantung berdetak lebih cepat, napas lebih cepat dan dalam, aliran darah dialihkan ke otot, dan hormon stres seperti adrenalin (epinefrin) serta kortisol melonjak ke dalam aliran darah.
Dalam konteks evolusi, sistem ini menyelamatkan nyawa. Saat berhadapan dengan predator atau bahaya fisik, respons inilah yang membuat nenek moyang kita bisa berlari atau melawan. Di era modern, respons yang sama muncul ketika kita terjebak macet, mendengar kabar buruk, atau menghadapi tenggat pekerjaan.
Masalahnya bukan pada respons stres itu sendiri. Masalahnya adalah ketika respons ini tidak pernah dimatikan.
Saat Sistem Darurat Tidak Pernah Istirahat
Dalam situasi stres akut yang singkat, tubuh bisa pulih dengan cepat. Kortisol naik, ancaman berlalu, kortisol turun. Namun dalam stres kronis — stres yang berlangsung berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun — tubuh terjebak dalam keadaan siaga tinggi yang terus-menerus.
Para ilmuwan menggunakan konsep allostatic load untuk menggambarkan “beban kumulatif” yang ditanggung tubuh akibat aktivasi respons stres yang berulang dan berkepanjangan. Semakin besar beban ini, semakin besar kerusakan yang terjadi pada berbagai sistem organ.
Secara sederhana: bayangkan sebuah mesin yang dirancang untuk berlari cepat dalam jangka pendek, tapi dipaksa berlari penuh selama bertahun-tahun tanpa henti. Keausan yang terjadi bukan lagi akibat satu insiden, melainkan akumulasi dari kerusakan kecil yang tidak pernah sempat diperbaiki.
Jantung dan Pembuluh Darah: Sasaran Pertama
Sistem kardiovaskular adalah salah satu yang paling rentan terhadap stres kronis. Tinjauan komprehensif yang diterbitkan dalam jurnal Circulation Research pada 2025 menjelaskan bagaimana sumbu saraf-kardiovaskular (neurocardiac axis) terganggu oleh aktivasi simpatik yang berlebihan. Dalam kondisi normal, sistem saraf simpatik dan parasimpatik bekerja dalam keseimbangan. Stres kronis menggeser keseimbangan ini secara permanen ke arah dominasi simpatik — jantung berdetak lebih keras, pembuluh darah lebih tegang, dan tekanan darah cenderung meningkat (Ziegler et al., 2025).
Lebih jauh lagi, stres psikososial telah diidentifikasi sebagai faktor risiko independen untuk perkembangan aterosklerosis — penumpukan plak di dinding pembuluh darah. Sebuah tinjauan yang diterbitkan dalam Cardiology in Review (2025) menyatakan bahwa stres psikososial, bersama faktor risiko tradisional seperti hipertensi dan dislipidemia, secara bermakna memengaruhi progresi plak subklinis (Ahmad et al., 2025). Tinjauan lain yang diterbitkan dalam Annals of Vascular Surgery (2025) menunjukkan bahwa pada penyakit jantung koroner, kadar high-sensitivity C-reactive protein — penanda peradangan sistemik — berkorelasi kuat dengan stres psikologis (Scalise et al., 2025).
Tidak berhenti di situ. Studi yang dipublikasikan dalam Medicina (2025) menemukan bahwa stres psikososial termasuk dalam faktor risiko yang semakin diakui untuk kejadian serangan jantung pada usia muda — sebuah fenomena yang kini semakin sering dijumpai (Cojocaru et al., 2025).
Artinya, stres bukan hanya “membuat jantung berdebar lebih kencang.” Stres secara aktif merusak pembuluh darah dari dalam, mempercepat proses yang pada akhirnya bisa berujung pada serangan jantung atau stroke.
Sistem Kekebalan: Pedang Bermata Dua
Respons stres juga memiliki dampak kompleks pada sistem imun. Secara akut, kortisol sebenarnya memiliki efek antiinflamasi — itulah mengapa obat berbasis kortikosteroid digunakan untuk menekan reaksi peradangan berlebihan. Namun dalam jangka panjang, paparan kortisol yang terus-menerus justru melemahkan imunitas tubuh secara keseluruhan.
Penelitian terbaru menekankan peran neuroimmune axis — jalur komunikasi antara otak dan sistem imun yang melibatkan sumsum tulang belakang, limpa, dan organ lain — dalam menghubungkan stres dengan kerentanan terhadap penyakit. Melalui jalur ini, stres kronis dapat mengubah komposisi dan fungsi sel-sel imun, menggeser respons inflamasi ke arah yang merusak jaringan (Ziegler et al., 2025).
Dalam praktik klinis, kita mengenal efek ini: orang yang sangat kelelahan atau berada di bawah tekanan berat cenderung lebih mudah terkena infeksi. Sistem imun mereka, yang seharusnya menjadi tembok pertahanan, sedang dikompromi oleh stres yang berkelanjutan.
Hubungan antara stres dan kanker lebih kompleks dan masih terus diteliti. Yang sudah jelas adalah stres kronis menciptakan kondisi peradangan sistemik yang persisten, dan peradangan kronis diketahui berkontribusi pada lingkungan yang lebih kondusif bagi perkembangan sel-sel abnormal. Meski bukan berarti stres langsung “menyebabkan” kanker, namun dampaknya terhadap mekanisme pengawasan imun tubuh terhadap sel-sel abnormal adalah nyata.
Otak Pun Tidak Luput
Stres meninggalkan jejak fisik di otak. Hippocampus — bagian otak yang kritis untuk memori dan pembelajaran — sangat sensitif terhadap kortisol. Paparan kortisol yang tinggi dan berkepanjangan dapat menghambat pembentukan neuron baru (neurogenesis) dan bahkan menyusutkan volume hippocampus.
Inilah alasan ilmiah di balik fenomena yang banyak orang alami: saat menghadapi tekanan besar seperti ujian atau situasi kerja yang penuh tekanan, kemampuan mengingat dan belajar justru menurun. Otak secara harfiah sedang dalam kondisi yang tidak optimal untuk fungsi kognitif tingkat tinggi.
Stres juga sangat mengganggu kualitas tidur, dan keduanya saling memperparah. Insomnia yang dipicu stres bukan sekadar membuat kita lelah keesokan harinya. Penelitian yang diterbitkan dalam GeroScience (2025) menemukan bahwa insomnia mempercepat epigenetic clock — jam biologis yang mengukur penuaan sel — dan berkontribusi pada pemendekan telomer (Rivero-Segura et al., 2025). Sedangkan meta-analisis besar yang mencakup lebih dari 400.000 peserta, diterbitkan dalam Sleep Medicine Reviews (2025), menemukan bahwa kualitas tidur yang buruk secara signifikan berkaitan dengan pemendekan telomer yang lebih cepat (Fostitsch et al., 2025).
Penuaan di Tingkat DNA: Kisah Telomer
Di dalam setiap sel tubuh kita, terdapat kromosom yang membawa materi genetik. Di ujung setiap kromosom terdapat struktur pelindung yang disebut telomer — analogi yang paling tepat adalah “tutup plastik” di ujung tali sepatu yang mencegah tali terurai. Setiap kali sel membelah, telomer memendek sedikit. Ketika telomer menjadi terlalu pendek, sel tidak bisa lagi membelah dengan baik dan memasuki kondisi yang disebut senescence (penuaan sel).
Stres kronis mempercepat proses ini. Tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Biopsychosocial Science and Medicine (2025) menemukan bahwa stresor sosial kronis — termasuk diskriminasi — secara konsisten berkaitan dengan percepatan pemendekan telomer dan perubahan profil ekspresi gen yang mencerminkan peradangan dan penuaan imunologis dini (Cuevas et al., 2025).
Ini menjelaskan, secara biologis, mengapa orang yang hidup di bawah tekanan kronis sering terlihat menua lebih cepat dari usianya. Ini bukan sekadar ungkapan kiasan — ada proses nyata di tingkat DNA yang mendukung pengamatan ini.
Beban Ganda: Stres di Tempat Kerja
Di Indonesia, dengan budaya kerja yang masih menempatkan ketekunan tanpa batas sebagai nilai tertinggi, tekanan pekerjaan adalah salah satu sumber stres kronis yang paling umum. Karoshi — kematian karena kerja berlebihan, istilah yang berasal dari Jepang — bukan sekadar fenomena budaya. Ini adalah konsekuensi medis nyata dari stres kerja yang tidak dikelola.
Berbagai penelitian telah menghubungkan jam kerja berlebihan, ketidakamanan pekerjaan, dan kurangnya kendali atas pekerjaan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, depresi, dan kematian dini. Kombinasi beban kerja tinggi dengan dukungan sosial yang rendah — yang sayangnya umum di banyak lingkungan kerja — menciptakan kondisi ideal bagi akumulasi allostatic load yang berbahaya.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Tidak ada satu jawaban tunggal, dan artikel ini bukan tempat untuk membahas manajemen stres secara komprehensif. Namun beberapa prinsip dasar dari ilmu pengetahuan terkini layak disebutkan.
Pertama, mengenali stres adalah langkah awal yang penting, tapi tidak cukup. Pengenalan harus diikuti dengan tindakan konkret untuk memutus siklus aktivasi stres yang berkelanjutan — entah melalui perubahan situasi, perubahan cara kita merespons situasi, atau keduanya.
Kedua, tidur bukan kemewahan. Dari data yang ada, tidur yang berkualitas adalah salah satu “obat” paling ampuh melawan dampak biologis stres. Melindungi waktu tidur sama pentingnya dengan melindungi waktu makan.
Ketiga, hubungan sosial yang bermakna terbukti secara ilmiah sebagai buffer — penyangga — terhadap dampak stres. Dukungan sosial bukan sekadar membuat kita merasa lebih baik secara emosional; ada mekanisme biologis nyata di baliknya yang melindungi sistem imun dan kardiovaskular.
Keempat, aktivitas fisik rutin adalah intervensi yang paling banyak didukung bukti ilmiah untuk mengurangi dampak stres kronis. Bahkan jalan kaki 30 menit setiap hari memiliki dampak yang terukur pada kadar kortisol, fungsi imun, dan kesehatan kardiovaskular.
Dan terakhir: jika stres yang Anda alami sudah terasa di luar kemampuan kendali, mencari bantuan profesional — dokter, psikolog, atau psikiater — bukan tanda kelemahan. Ini adalah respons yang tepat terhadap kondisi medis yang nyata.
Penutup
Stres bukan sekadar urusan perasaan. Ia adalah proses biologis yang meninggalkan jejaknya di jantung, pembuluh darah, otak, sistem imun, bahkan di tingkat DNA kita. Dua belas tahun lalu, saya menulis artikel ini dengan pengetahuan yang ada. Kini, ilmu pengetahuan telah mengkonfirmasi dan memperdalam setiap poin yang ada, sambil menambahkan lapisan kompleksitas baru.
Kita tidak bisa menghilangkan stres dari kehidupan modern. Tapi kita bisa — dan harus — belajar mengelolanya sebelum ia yang mengelola kita.
Referensi
Ahmad, R., Frishman, W. H., & Aronow, W. S. (2025). Determinants of progression and regression of subclinical atherosclerosis: A temporal perspective. Cardiology in Review. https://doi.org/10.1097/CRD.0000000000001053
Cojocaru, P. A., Tieranu, M. L., Piorescu, M. T. L., Buciu, I. C., Belu, A. M., Cureraru, S. I., Tieranu, E. N., Moise, G. C., & Istratoaie, O. (2025). Myocardial infarction in young adults: Revisiting risk factors and atherothrombotic pathways. Medicina (Kaunas), 61(9). https://doi.org/10.3390/medicina61091615
Cuevas, A. G., Kranz, E., Rodrigues, M., Binns, A., Martin, G., Herz, N., Crump, A. A., Bather, J. R., & Cole, S. W. (2025). Perceived discrimination and immunological aging: A systematic review of cellular and molecular markers. Biopsychosocial Science and Medicine, 88(2), 137–155. https://doi.org/10.1097/PSY.0000000000001452
Fostitsch, A. J., Schwarzer, G., Buchgeister, M., Surbeck, W., Lahmann, C., Spiegelhalder, K., Frase, L., & Spieler, D. (2025). The association between sleep quality and telomere attrition: A systematic review and meta-analysis comprising 400,212 participants. Sleep Medicine Reviews, 80, 102073. https://doi.org/10.1016/j.smrv.2025.102073
Rivero-Segura, N. A., Rodriguez Cuartas, J. D., Garcia-delaTorre, P., Sanchez-Garcia, S., Ramirez-Aldana, R., & Gomez-Verjan, J. C. (2025). Insomnia accelerates the epigenetic clocks in older adults. GeroScience, 47(6), 6777–6788. https://doi.org/10.1007/s11357-025-01608-7
Scalise, E., Costa, D., Gallelli, G., Ielapi, N., Turchino, D., Accarino, G., Faga, T., Michael, A., Bracale, U. M., Andreucci, M., & Serra, R. (2025). Biomarkers and social determinants in atherosclerotic arterial diseases: A scoping review. Annals of Vascular Surgery, 113, 41–63. https://doi.org/10.1016/j.avsg.2024.12.076
Ziegler, K. A., Engelhardt, S., Carnevale, D., McAlpine, C. S., Guzik, T. J., Dimmeler, S., & Swirski, F. K. (2025). Neural mechanisms in cardiovascular health and disease. Circulation Research, 136(11), 1233–1261. https://doi.org/10.1161/CIRCRESAHA.125.325580

Tinggalkan komentar