Pembaruan artikel: Februari 2025 | Artikel asli ditulis Juni 2014
Nama “flu singapura” terdengar akrab di telinga banyak orang tua Indonesia. Istilah ini sering muncul ketika anak-anak balita tiba-tiba mengalami demam disertai bintik-bintik atau sariawan yang membuat mereka rewel dan sulit makan. Namun, benarkah penyakit ini berasal dari Singapura? Dan apakah ini memang sejenis flu?
Jawabannya: tidak untuk keduanya. Di dunia medis, penyakit ini dikenal sebagai hand, foot, and mouth disease (HFMD) — atau penyakit tangan, kaki, dan mulut. Ia bukan influenza, tidak berasal dari Singapura secara spesifik, dan meskipun pada umumnya ringan, sebagian kasusnya dapat berkembang menjadi kondisi yang serius hingga mengancam jiwa. Setelah lebih dari satu dekade sejak artikel pertama tentang topik ini ditulis, sudah saatnya kita mengenal HFMD dengan pemahaman yang lebih mutakhir.
Mengapa Disebut “Flu Singapura”?
Tidak ada konsensus ilmiah yang menjelaskan asal-usul istilah “flu singapura” secara pasti. Sebagian teori menyebut bahwa istilah ini populer di Indonesia karena wabah HFMD yang cukup besar pernah dilaporkan dari Singapura dan kemudian menyebar perhatiannya ke wilayah Asia Tenggara. Singapura memang secara aktif melaporkan kasus HFMD melalui sistem pengawasan kesehatannya, sehingga namanya menjadi identik dengan penyakit ini di benak masyarakat Indonesia.
Yang pasti, HFMD bukanlah penyakit khas Singapura. Ia tersebar luas di seluruh kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, Tiongkok, dan Taiwan — serta dilaporkan pula di Eropa dan Amerika Serikat, meski dengan profil virus penyebab yang berbeda.
Penyebab: Lebih dari Sekadar Satu Jenis Virus
HFMD disebabkan oleh sekelompok virus yang dikenal sebagai enterovirus — anggota dari famili Picornaviridae. Berbeda dari pandangan lama yang menempatkan Coxsackievirus A16 (CV-A16) dan Enterovirus A71 (EV-A71) sebagai dua tersangka utama, penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa lansekap virus penyebab HFMD jauh lebih kompleks.
Berdasarkan tinjauan komprehensif yang diterbitkan dalam jurnal Cells pada 2025, enterovirus yang berkaitan dengan HFMD kini mencakup setidaknya lima serotipe utama dengan karakter klinis yang berbeda: EV-A71, CV-A16, Coxsackievirus A6 (CV-A6), Coxsackievirus B3 (CV-B3), dan Enterovirus D68 (EV-D68) (Liu et al., 2025). Masing-masing memiliki reseptor sel inang yang berbeda, mekanisme masuk ke jaringan yang unik, dan potensi komplikasi yang tidak sama.
Pergeseran yang paling signifikan dalam satu dekade terakhir adalah menguatnya peran CV-A6. Serotipe ini kini menjadi penyebab dominan dalam banyak wabah HFMD di berbagai negara, termasuk di wilayah Asia Tenggara. CV-A6 sering menimbulkan gambaran klinis yang atipikal — ruam kulit yang lebih luas, lesi yang menyerupai penyakit kulit lain, serta perubahan pada kuku beberapa minggu setelah infeksi — sehingga lebih mudah terlewat dalam diagnosis (Horváth et al., 2026).
Sementara itu, EV-A71 tetap menjadi virus yang paling ditakuti karena kemampuannya menyebabkan komplikasi neurologis berat pada anak-anak. Studi genomik terkini menunjukkan bahwa EV-A71 terus berevolusi dengan munculnya strain-strain baru — seperti subgenogroup B5 yang memicu wabah besar di Vietnam pada 2023 dan menyebabkan 7 kematian hanya dalam periode Januari hingga Juni, dengan total lebih dari 100.000 kasus sepanjang tahun tersebut (CDC Emerging Infectious Diseases, 2024).
Epidemiologi: Penyakit Endemis Kawasan Asia-Pasifik
HFMD bukan penyakit baru di kawasan ini. Di Tiongkok, data epidemiologi menunjukkan sekitar 2 juta kasus dilaporkan setiap tahunnya — menjadikannya salah satu penyakit menular dengan insiden tertinggi di negara tersebut. Di Vietnam, 50.000–100.000 kasus dicatat setiap tahun dengan pola dua puncak musiman: Maret hingga Mei, dan September hingga Desember (WHO Western Pacific, 2024).
Fenomena menarik muncul pascapandemi COVID-19. Kebijakan karantina dan protokol kesehatan yang ketat selama 2020–2022 secara tidak langsung menekan transmisi HFMD secara dramatis. Namun ketika pembatasan dilonggarkan, kasus HFMD melonjak kembali dengan pola yang bergeser — wabah yang biasanya terjadi pada musim semi kini mengalami perubahan distribusi musiman, dan serotipe yang sebelumnya tidak dominan seperti CV-A6 mengambil alih peran yang dulunya ditempati EV-A71 (Ding et al., 2024).
Studi surveilans air limbah (wastewater-based epidemiology) yang dilakukan di beberapa negara Asia Tenggara antara 2022–2023, termasuk Indonesia, mendeteksi RNA CV-A6 dan EV-A71 pada 25% sampel air limbah yang diuji di wilayah Indonesia — mengindikasikan sirkulasi aktif kedua serotipe ini di komunitas, meskipun data klinis yang terdokumentasi masih terbatas (Shrestha et al., 2023). Hal ini menekankan perlunya peningkatan kapasitas surveilans HFMD di Indonesia yang lebih terstruktur.
Siapa yang Paling Berisiko?
Anak di bawah usia 5 tahun adalah kelompok paling rentan. Dalam kondisi normal, sebagian besar orang dewasa telah memiliki kekebalan dari paparan enterovirus sebelumnya, baik yang bergejala maupun tanpa gejala. Namun, kekebalan yang terbentuk bersifat serotipe-spesifik — artinya, seseorang yang pernah terinfeksi CV-A16 tidak otomatis kebal terhadap CV-A6 atau EV-A71. Inilah mengapa seseorang bisa mengalami HFMD lebih dari sekali sepanjang hidupnya.
Studi seroprevalensi dari Bangladesh yang melibatkan lebih dari 1.200 anak menunjukkan bahwa 67,7% anak usia 0–17 tahun memiliki antibodi penetral terhadap EV-A71, dengan angka lebih tinggi di wilayah perkotaan dibandingkan pedesaan (Ahmed et al., 2025). Pola serupa diperkirakan berlaku di Indonesia, di mana paparan enterovirus sejak dini di lingkungan padat penduduk bisa membangun kekebalan yang lebih cepat — namun juga menunjukkan betapa luasnya sirkulasi virus ini di komunitas.
Ibu hamil tidak termasuk kelompok risiko tinggi untuk penyakit berat, tetapi infeksi enterovirus pada trimester akhir kehamilan dapat ditularkan ke bayi baru lahir. Neonatus yang terinfeksi EV-A71 atau CV-A16 berisiko mengalami penyakit yang lebih berat dibandingkan anak yang lebih tua.
Bagaimana Penularan Terjadi?
HFMD menular melalui kontak langsung dengan sekresi saluran pernapasan (air liur, ingus), cairan dari lesi kulit, atau tinja dari individu yang terinfeksi. Virus juga dapat bertahan di permukaan benda mati selama beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung kondisi lingkungan — ini menjadikan mainan bersama, gagang pintu, dan permukaan meja di tempat penitipan anak sebagai media penularan yang signifikan.
Masa inkubasi berkisar antara 3 hingga 6 hari. Individu yang terinfeksi paling menular pada minggu pertama sakit, tetapi virus dapat terus diekskresikan melalui tinja hingga beberapa minggu setelah gejala reda. Inilah mengapa kebersihan tangan tetap penting bahkan setelah anak tampak sembuh.
Satu hal yang perlu diluruskan: HFMD pada manusia tidak sama dengan foot-and-mouth disease (PMK) pada hewan ternak seperti sapi dan kambing. Keduanya disebabkan oleh virus yang sama sekali berbeda dan tidak saling menularkan antar spesies.
Gejala Klinis: Dari yang Ringan Hingga Mengkhawatirkan
Gambaran klinis HFMD yang khas dimulai dengan demam yang tiba-tiba, biasanya berlangsung 1–2 hari sebelum muncul lesi. Kemudian akan timbul sariawan yang nyeri di dalam mulut (stomatitis aftosa), disertai ruam berupa bintik merah atau lepuhan kecil (vesicle) pada telapak tangan, telapak kaki, bokong, dan kadang selangkangan. Pada bayi yang masih memakai popok, lesi dapat ditemukan di area yang tertutup popok.

Namun, CV-A6 yang kini semakin dominan sering menimbulkan gambaran atipikal yang berbeda dari deskripsi klasik ini: lesi kulit bisa menyebar luas ke seluruh tubuh termasuk wajah dan punggung, berukuran lebih besar, lebih dalam, dan menyerupai penyakit kulit lain seperti varisela atau impetigo. Beberapa minggu setelah infeksi sembuh, dapat muncul perubahan kuku (onychomadesis) — kuku yang terlepas atau mengelupas — yang biasanya pulih sendiri tanpa pengobatan (Horváth et al., 2026).
Perjalanan klinis HFMD berat yang disebabkan EV-A71 diuraikan dalam lima fase oleh tinjauan yang diterbitkan di Cells (Liu et al., 2025). Fase pertama adalah fase eksantema (ruam biasa), fase kedua melibatkan komplikasi neurologis awal, fase ketiga ditandai disfungsi kardiopulmonal, fase keempat adalah pemulihan, dan fase kelima adalah fase pemulihan lengkap atau sekuela. Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi ensefalitis, meningitis aseptik, sindrom Guillain-Barré-like, edema paru neurogenik, dan kegagalan sirkulasi. Komplikasi inilah yang bertanggung jawab atas kematian pada kasus HFMD berat.
Penelitian terbaru mengungkap mekanisme bagaimana EV-A71 menembus sawar otak (blood-brain barrier): virus ini memanfaatkan microvesicle — partikel kecil yang dilepaskan sel — untuk “menumpang” melewati sawar yang seharusnya melindungi otak, sehingga menyebabkan kerusakan jaringan otak yang lebih berat dibandingkan infeksi virus bebas saja (Tian et al., 2025).
Diagnosis dan Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai
HFMD umumnya dapat didiagnosis secara klinis berdasarkan gambaran gejala yang khas. Pemeriksaan laboratorium — termasuk polymerase chain reaction (PCR) untuk mengidentifikasi serotipe virus — diperlukan pada kasus berat atau ketika perlu membedakan HFMD atipikal dari penyakit kulit lain.
Orang tua perlu mengenali tanda-tanda yang mengharuskan anak segera dibawa ke fasilitas kesehatan:
Demam tinggi yang tidak turun setelah lebih dari 3 hari, atau demam yang kambuh setelah sempat reda, perlu mendapat perhatian serius. Anak yang tampak mengantuk berlebihan, kejang, leher kaku, atau mengeluhkan nyeri kepala hebat harus segera dievaluasi untuk kemungkinan komplikasi neurologis. Kesulitan bernapas, bibir atau kuku yang membiru, detak jantung sangat cepat, serta anak yang tampak sangat lemas dan tidak responsif adalah kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera. Selain itu, dehidrasi yang memburuk karena anak menolak minum akibat nyeri mulut adalah komplikasi yang paling umum dan dapat dicegah dengan pengawasan ketat.
Tata Laksana: Masih Suportif, Tapi Ada Harapan Baru
Hingga saat ini, tidak ada antiviral spesifik yang telah mendapat persetujuan penggunaan klinis untuk HFMD pada manusia. Tata laksana yang direkomendasikan tetap bersifat suportif: parasetamol atau ibuprofen untuk meredakan demam dan nyeri, asupan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi, serta istirahat yang adekuat. Berkumur dengan air garam hangat atau larutan antiseptik ringan dapat membantu meredakan nyeri sariawan.
Namun, penelitian terhadap terapi antiviral terus berkembang. Studi in vitro dan pada model hewan menunjukkan bahwa beberapa pendekatan baru menjanjikan hasil yang menarik. Salah satunya adalah penggunaan small interfering RNA (siRNA) yang menargetkan gen-gen spesifik EV-A71 — penelitian dari Korea Selatan menunjukkan reduksi signifikan replikasi virus pada sel yang diobati dengan siRNA yang menargetkan gen VP4, VP3, 2B, dan 3A (Ga et al., 2025). Di sisi lain, studi terhadap voxtalisib — penghambat PI3K/mTOR — menunjukkan kemampuannya menghambat replikasi EV-A71 dengan cara mengganggu mekanisme penghindaran sistem imun yang digunakan virus (Wang et al., 2025). Kedua penelitian ini masih dalam tahap eksperimental dan belum tersedia untuk penggunaan klinis.
Vaksin: Terobosan Besar, dengan Keterbatasan yang Perlu Diketahui
Ini adalah perkembangan paling signifikan dalam satu dekade terakhir yang tidak ada di artikel edisi 2014: vaksin HFMD kini sudah ada.
Tiongkok telah menyetujui dan menggunakan vaksin EV-A71 yang diinaktivasi sejak 2015. Vaksin ini terbukti efektif mencegah HFMD dan herpangina yang disebabkan oleh EV-A71, dengan efektivitas sekitar 90%. Data pemodelan matematika terbaru menunjukkan bahwa perlindungan dari regimen dua dosis vaksin EV-A71 yang diinaktivasi dapat bertahan lebih dari 20 tahun dengan efektivitas di atas 72% (Ma et al., 2026).
Bahkan, uji klinis fase 3 terbaru dari Taiwan dan Vietnam menguji vaksin generasi baru bernama EnVAX-A71 pada lebih dari 4.000 anak. Hasilnya sangat mengesankan: efektivitas vaksin mencapai 99,2% (95% CI: 94,3–99,9) dalam mencegah HFMD yang dikonfirmasi laboratorium, dengan 0 rawat inap di kelompok vaksin dibandingkan 19 rawat inap di kelompok plasebo (Hwang et al., 2026).
Namun, ada satu catatan penting: vaksin yang tersedia saat ini hanya efektif terhadap EV-A71, dan tidak memberikan perlindungan silang (cross-protection) terhadap CV-A16, CV-A6, atau serotipe lain yang juga menyebabkan HFMD. Mengingat pergeseran dominansi ke CV-A6 di banyak wilayah, pengembangan vaksin multivalen yang mencakup beberapa serotipe sekaligus menjadi prioritas penelitian yang mendesak (Hou et al., 2026). Vaksin EV-A71 sendiri belum tersedia di Indonesia hingga saat ini.
Pencegahan: Kunci Utama yang Tetap Relevan
Karena belum ada vaksin yang tersedia di Indonesia untuk penyakit ini, pencegahan melalui perilaku hidup bersih tetap menjadi senjata utama. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik — terutama setelah mengganti popok, sebelum menyiapkan makanan, dan setelah menggunakan toilet — adalah intervensi yang paling terbukti efektif.
Isolasi anak yang sakit dari daycare, PAUD, atau sekolah selama minimal satu minggu pertama sejak gejala muncul sangat dianjurkan untuk memutus rantai penularan di komunitas. Permukaan dan benda yang sering disentuh anak harus dibersihkan dengan disinfektan yang mengandung klorin, karena enterovirus cukup tahan terhadap banyak jenis pembersih biasa.
Orang dewasa, meskipun jarang sakit, dapat menjadi pembawa virus tanpa gejala. Oleh karena itu, kebersihan tangan tidak hanya penting bagi anak-anak, tetapi juga bagi pengasuh dan anggota keluarga yang berinteraksi dengan anak yang sakit.
Penutup: Mengenal untuk Bertindak Tepat
HFMD, atau flu singapura, adalah penyakit yang sebagian besar akan sembuh sendiri dalam 7–10 hari tanpa intervensi medis yang besar. Namun, pemahaman yang baik tentang tanda bahaya, kemampuan mengenali gambaran klinis atipikal akibat serotipe baru seperti CV-A6, dan kewaspadaan terhadap komplikasi neurologi yang bisa muncul dalam hitungan jam — terutama pada infeksi EV-A71 — adalah hal yang bisa membuat perbedaan antara pemulihan penuh dan konsekuensi yang jauh lebih serius.
Di era pascapandemi COVID-19, dengan longgarnya pembatasan sosial dan kembalinya anak-anak ke sekolah dan daycare, risiko wabah HFMD kembali meningkat. Kewaspadaan orang tua, tenaga kesehatan, dan pihak sekolah adalah lini pertahanan yang paling praktis dan efektif yang kita miliki saat ini.
Daftar Referensi
Ahmed, S., Karim, M. M., Phru, C. S., Nahar, K., Sharmeen, A. T., Hossain, M. S., … & Khan, W. A. (2025). Enterovirus 71 seropositivity among children and adolescents in Bangladesh. IJID Regions, 17, 100739. https://doi.org/10.1016/j.ijregi.2025.100739
Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Hand, Foot & Mouth Disease. In CDC Yellow Book 2024. https://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2024/infections-diseases/hand-foot-and-mouth-disease
Ding, Z., Lu, Q., Wu, H., Wu, C., Lin, J., Wang, X., … & Song, Q. (2024). Trend of hand, foot and mouth disease before, during, and after China’s COVID control policies in Zhejiang, China. Frontiers in Public Health, 12, 1472944. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1472944
Ga, Y. J., Go, Y. Y., & Yeh, J.-Y. (2025). Small interfering RNAs targeting VP4, VP3, 2B, or 3A coding regions of Enterovirus A71 inhibit viral replication in vitro. Biomedicines, 13(7), 1760. https://doi.org/10.3390/biomedicines13071760
Horváth, B., Kvárik, T., Boros, Á., Meggyes, M., Reuter, G., & Nyul, Z. (2026). Hand-foot-mouth disease with atypical clinical presentation caused by Coxsackievirus A6. Orvosi Hetilap, 167(4), 156–161. https://doi.org/10.1556/650.2026.33469
Hou, Y., Chen, H., Jiang, Y., Huang, H., Tan, Z., Nehl, E. J., … & Zheng, Z. (2026). Shifting epidemiological patterns and strain replacement of hand, foot, and mouth disease in southern China, 2009–2022: A longitudinal study. PLoS One, 21(1), e0341302. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0341302
Hwang, K.-P., Luong, Q. C., Huang, Y.-C., Lai, C.-C., Le, P. H., Liu, C.-C., … & Huang, L.-M. (2026). A randomised trial of a bioreactor-produced EV-A71 vaccine for endemic control in children. NPJ Vaccines. https://doi.org/10.1038/s41541-026-01396-x
Liu, Y., Maisimu, M., Ge, Z., Xiao, S., & Wang, H. (2025). The pathogenesis and virulence of the major enterovirus pathogens associated with severe clinical manifestations: A comprehensive review. Cells, 14(20). https://doi.org/10.3390/cells14201617
Ma, X., Jin, L., Li, J., Jin, P., Liu, Y., Wen, F., … & Li, J. (2026). Long-term protection of an inactivated enterovirus type 71 vaccine against hand, foot, and mouth diseases in children: a modelling study. Vaccine, 76, 128286. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2026.128286
Shrestha, S., et al. (2023). Detection of enteroviruses related to hand foot and mouth disease in wastewater of Asian communities. Science of the Total Environment. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2023.169406
Tian, X., Liu, B., Li, L., Yuan, M., You, Q., Zhang, R., … & Wu, Z. (2025). Microvesicles carrying EV71 virions cross BBB through endocytic pathway to induce brain injury. Cell Communication and Signaling, 23(1), 183. https://doi.org/10.1186/s12964-025-02195-y
Wang, D., Yang, Q., Zhu, G., Li, Z., Wu, C., Hu, X., … & Zhang, D. (2025). Voxtalisib inhibits enterovirus 71 replication by downregulating host RAN and restoring IFN-STAT signaling. Journal of Advanced Research. https://doi.org/10.1016/j.jare.2025.05.053
World Health Organization Western Pacific Regional Office. (2024). Hand, Foot and Mouth Disease. https://www.who.int/westernpacific/health-topics/hand-foot-and-mouth-disease-(hfmd)
World Health Organization. (2011). A guide to clinical management and public health response for hand, foot and mouth disease (HFMD). https://iris.wpro.who.int/bitstream/handle/10665.1/5521/9789290615255_eng.pdf
Thanh, T. T., et al. (2024). Emerging Enterovirus A71 Subgenogroup B5 causing severe hand, foot, and mouth disease, Vietnam, 2023. Emerging Infectious Diseases, 30(2). https://doi.org/10.3201/eid3002.231024

Tinggalkan komentar