A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Setiap hari, meja makan menjadi tempat pertemuan antara makanan dan mulut, antara kenikmatan dan risiko. Keracunan makanan bukan sekadar gangguan perut ringan; ia merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat yang paling merata di seluruh dunia, lintas usia, lintas status sosial, lintas batas negara. Artikel ini menyajikan tinjauan menyeluruh tentang apa yang perlu dipahami tentang keracunan makanan dari sudut pandang ilmu kedokteran berbasis bukti, dengan konteks khusus situasi di Indonesia.


Apa Itu Keracunan Makanan?

Keracunan makanan (foodborne disease atau foodborne illness) adalah kondisi sakit yang timbul akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh agen biologis (bakteri, virus, parasit, kapang) beserta racun yang dihasilkannya, atau oleh bahan kimia berbahaya. Secara klinis, kondisi ini mencakup spektrum yang sangat luas: dari diare ringan yang mereda sendiri dalam satu atau dua hari, hingga gagal organ multipel yang mengancam jiwa.

Foodborne disease berbeda dari food poisoning dalam arti sempit. Istilah food poisoning umumnya merujuk pada keracunan akibat racun (toxin) yang sudah ada di dalam makanan sebelum dikonsumsi, sementara foodborne disease mencakup semua kondisi yang ditularkan melalui jalur makanan, termasuk yang bersifat infeksius. Namun dalam praktik sehari-hari, keduanya sering digunakan secara bergantian.


Beban Global: Angka yang Seharusnya Membangunkan Kita

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan 600 juta orang — hampir 1 dari setiap 10 penduduk bumi — jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, dengan 420.000 kematian setiap tahunnya. Kerugian akibat makanan tidak aman di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah mencapai 110 miliar dolar AS per tahun dalam bentuk hilangnya produktivitas dan biaya pengobatan.

Anak-anak di bawah usia 5 tahun menanggung 40% dari beban keseluruhan penyakit foodborne, dengan 125.000 kematian setiap tahun. Ini bukan sekadar angka statistik; setiap kematian mewakili seorang anak yang seharusnya masih bisa bermain, belajar, dan tumbuh.

WHO telah menerbitkan estimasi beban global penyakit bawaan makanan pertama kalinya pada tahun 2015, di mana 31 agen hazard menyebabkan lebih dari 600 juta kasus dan 420.000 kematian per tahun, menghasilkan 33 juta disability-adjusted life years (DALY) secara global. WHO dijadwalkan merilis pembaruan estimasi ini pada tahun 2025 yang mencakup lebih banyak agen hazard dan data per negara.

Hasil kajian terbaru yang dipresentasikan kepada WHO oleh Colston dkk. (2026) menunjukkan bahwa 14 patogen diare yang dominan secara global bertanggung jawab atas 2,2 miliar kasus diare dan 880.000 kematian pada tahun 2021, dengan beban kasus tertinggi di kawasan Asia Tenggara (Colston et al., 2026, https://doi.org/10.64898/2026.01.26.26344508).


Situasi di Indonesia: Data yang Perlu Dicermati

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2021 tercatat 70 kejadian dengan total 3.130 kasus, sementara pada September 2024 jumlahnya meningkat menjadi 198 kejadian dengan total 7.003 kasus.

Sampai Oktober 2023 saja, Kemenkes mencatat 4.792 kasus keracunan pangan dengan 96 kasus yang memenuhi kriteria KLB. Kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi Jawa Barat dengan 1.679 kasus, diikuti Jawa Tengah 1.082 kasus, dan Jawa Timur 701 kasus.

Data Kemenkes menunjukkan sejak awal tahun hingga Oktober 2025 tercatat 119 kejadian dengan 11.660 kasus keracunan pangan, dengan faktor utama penyebab meliputi pengolahan yang tidak higienis, penyimpanan yang tidak sesuai suhu, serta kegagalan dalam mengidentifikasi pangan yang sudah tidak layak konsumsi.

Data BPOM menyebutkan bahwa kegiatan mengonsumsi makanan secara rutin sehari-hari merupakan penyebab keracunan pangan terbesar, sehingga KLB keracunan pangan umumnya terjadi di lingkup rumah tangga. Selama 2017–2021, tercatat 281 kasus KLB dengan 21.279 orang terpapar, 10.294 orang jatuh sakit, dan 24 orang meninggal akibat keracunan makanan — hampir 44 persen di antaranya berasal dari masakan rumah tangga, sekitar 21 persen dari jasa boga, dan 20,3 persen dari jajanan.

Masakan rumah tangga menjadi sumber KLB yang relatif besar karena sifat gotong royong masyarakat Indonesia yang cukup tinggi — ketika ada hajatan, banyak orang secara suka rela ikut memasak bersama, yang meningkatkan risiko kontaminasi silang.


Penyebab: Siapa Pelakunya?

Agen penyebab keracunan makanan dapat dibagi dalam beberapa kelompok besar.

Bakteri

Bakteri merupakan penyebab tersering dan paling banyak dikaji. Beberapa bakteri yang paling sering terlibat antara lain Salmonella, Campylobacter, dan Escherichia coli enterohemoragi (Enterohaemorrhagic E. coli/EHEC), yang dapat menyebabkan ratusan juta kasus penyakit setiap tahunnya dengan dampak yang terkadang fatal.

Selain itu, Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus menghasilkan toksin yang stabil terhadap panas, sehingga makanan yang sudah dimasak pun bisa tetap berbahaya jika toksin sudah terbentuk sebelumnya. Clostridium perfringens umum mengkontaminasi hidangan daging dan ayam yang disimpan tidak tepat. Vibrio cholerae menyebabkan kolera yang dapat menjadi wabah berskala besar di daerah dengan sanitasi buruk.

Listeria monocytogenes patut diwaspadai meskipun kasusnya relatif lebih jarang, karena infeksinya pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran atau kematian pada bayi baru lahir. Bakteri ini dapat tumbuh bahkan pada suhu lemari pendingin dan sering terdapat pada produk susu yang tidak dipasteurisasi serta berbagai makanan siap saji (ready-to-eat foods).

Virus

Norovirus merupakan penyebab utama gastroenteritis akut akibat virus di seluruh dunia, dan sering menjadi dalang di balik kejadian luar biasa di kapal pesiar, panti asuhan, dan fasilitas perawatan. Hepatitis A juga dapat ditularkan melalui makanan, khususnya kerang-kerangan mentah dan produk sayur-mayur yang tercemar air yang tidak bersih.

Parasit

Parasit seperti Toxoplasma gondii, Cryptosporidium, dan cacing pita (Taenia solium) juga dapat ditularkan melalui makanan. Cryptosporidium menjadi sumber penting diare persisten, terutama pada anak-anak dan individu dengan daya tahan tubuh yang lemah.

Racun Kimiawi

Bahan kimia berbahaya seperti pestisida, logam berat (timbal, merkuri, kadmium), racun alami pada jamur liar, atau biotoxin pada ikan dan kerang laut juga termasuk agen keracunan makanan.

Bongkrekic Acid: Ancaman Khas Asia Tenggara

Satu agen yang perlu mendapat perhatian khusus di Indonesia adalah asam bongkrek (bongkrekic acid). Asam bongkrek adalah toksin mitokondria yang sangat letal, dihasilkan oleh bakteri Burkholderia gladioli pathovar cocovenenans, yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 1895 dari tempe bongkrek — produk fermentasi kelapa asal Indonesia.

Toksin ini telah dikaitkan dengan lebih dari 300 kasus secara global, dengan wabah terbaru dilaporkan di Tiongkok, Indonesia, Mozambik, dan Taiwan. Angka kematian (case fatality rate/CFR) berkisar antara 30% hingga 100%, menjadikannya salah satu keracunan makanan paling mematikan yang diketahui.

Wabah asam bongkrek berkaitan erat dengan makanan fermentasi tradisional seperti tempe bongkrek, mi beras, dan produk jagung. Secara mekanisme, asam bongkrek menghambat secara ireversibel adenine nucleotide translocase pada mitokondria, mengakibatkan disfungsi mitokondria berat dan kegagalan organ multipel. Sayangnya, tidak ada antidot yang diketahui, dan tata laksananya bersifat suportif semata.

Perbandingan lintas negara menunjukkan CFR pada wabah di Indonesia sekitar 14%, sementara di Tiongkok bisa mencapai 39,5% dan di Taiwan mencapai 20%. Mereka yang lebih cepat mencari pertolongan medis memiliki peluang bertahan yang lebih baik.


Manifestasi Klinis: Mengenali Tanda-tanda Keracunan Makanan

Manifestasi klinis keracunan makanan sangat beragam tergantung pada agen penyebab, jumlah yang tertelan, serta kondisi kesehatan penderita. Secara umum, berikut adalah gambaran yang sering dijumpai.

Gejala Gastrointestinal

Gejala saluran cerna mendominasi sebagian besar kasus. Mual dan muntah sering muncul pertama kali, terutama pada keracunan akibat toksin S. aureus dan B. cereus, biasanya dalam 1–6 jam setelah makan. Diare dapat berupa diare cair tanpa darah maupun diare berdarah (disentri) tergantung patogen. Diare berair masif seperti air cucian beras mengarah pada infeksi Vibrio cholerae. Nyeri perut, kram, dan rasa mulas merupakan keluhan yang hampir selalu menyertai.

Demam

Demam menunjukkan adanya respons inflamasi sistemik atau bahwa infeksi telah melampaui batas saluran cerna. Demam tinggi lebih khas pada infeksi Salmonella typhi (tifus), Shigella, atau Listeria.

Tanda Dehidrasi

Dehidrasi menjadi komplikasi yang paling sering dan berbahaya, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan penyakit penyerta. Mulut kering, berkurangnya keringat, dan penurunan produksi urine menandakan dehidrasi ringan. Pusing saat berdiri (ortostatik), detak jantung cepat (takikardia), dan tekanan darah rendah (hipotensi) mengindikasikan kehilangan cairan yang lebih berat yang memerlukan tata laksana segera.

Gejala Ekstra-intestinal

Beberapa patogen dapat menimbulkan gejala di luar saluran cerna. Salmonella typhi dapat menyebabkan bercak kemerahan (rose spot) di perut atas dan pembesaran hati-limpa. Yersinia dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar usus buntu, yang sering menyerupai apendisitis. Campylobacter, Salmonella, dan Shigella dapat memicu artritis reaktif beberapa minggu setelah infeksi akut.

Komplikasi Serius dan Mengancam Jiwa

Sebagian kecil kasus dapat berkembang menjadi komplikasi berat seperti sindrom hemolitik-uremik (HUS) akibat E. coli O157:H7, ensefalopati, sepsis, gagal ginjal akut, atau kegagalan hati — terutama pada keracunan asam bongkrek. Kejang dapat terjadi pada anak-anak dengan demam tinggi maupun pada kasus keracunan neurotoksin.


Penegakan Diagnosis

Evaluasi klinis diarahkan untuk menilai keparahan kondisi, terutama derajat dehidrasi dan tanda-tanda infeksi sistemik atau komplikasi. Riwayat makanan yang dikonsumsi dalam 72 jam terakhir, adanya orang lain yang makan bersama dengan gejala serupa, serta waktu timbulnya gejala sejak makan merupakan informasi kunci yang membantu mempersempit dugaan penyebab.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan darah lengkap (complete blood count) dengan hitung jenis leukosit dapat memberikan petunjuk awal adanya infeksi bakteri atau parasit. Penilaian elektrolit serum, kadar ureum, dan kreatinin diperlukan untuk menilai dehidrasi dan fungsi ginjal, meskipun fasilitas ini tidak selalu tersedia di layanan primer.

Pada kasus diare yang persisten, disertai darah atau lendir, atau pada pasien demam tinggi, pemeriksaan tinja mikroskopik dan kultur bakteri enterik diperlukan untuk mengidentifikasi patogen secara pasti. Kultur darah diindikasikan bila terdapat tanda-tanda sepsis atau demam tinggi yang menetap. Pada pasien dengan riwayat penggunaan antibiotik sebelumnya, pemeriksaan toksik Clostridioides (Clostridium) difficile perlu dipertimbangkan.

Foto polos abdomen diindikasikan pada pasien dengan kembung, nyeri perut berat, atau dugaan obstruksi dan perforasi usus.


Tata Laksana

Rehidrasi: Prioritas Utama

Rehidrasi oral dan parenteral merupakan pilar utama tata laksana keracunan makanan. Sebagian besar kasus ringan hingga sedang dapat ditangani dengan cairan rehidrasi oral (CRO/oralit), termasuk produk seperti larutan oralit WHO yang tersedia luas. Cairan intravena seperti NaCl 0,9% atau Ringer Laktat diindikasikan pada dehidrasi berat, pasien dengan mual-muntah hebat yang tidak dapat minum, atau pasien dengan gangguan kesadaran.

Penelitian terkini menunjukkan bahwa penggunaan larutan rehidrasi oral secara adekuat secara signifikan mengurangi kebutuhan rawat inap dan durasi diare pada gastroenteritis akut. Frekuensi buang air besar dapat berkurang dari rata-rata lebih dari 5 kali menjadi kurang dari 2 kali per hari dalam 7 hari penanganan yang tepat.

Diet

Selama diare akut, konsumsi susu dan produk olahannya sebaiknya dibatasi sementara karena risiko defisiensi sementara enzim laktase yang diperlukan untuk mencerna laktosa. Makanan lunak yang mudah dicerna dan tidak merangsang gerakan usus lebih dianjurkan hingga kondisi membaik.

Obat-obatan Simtomatik

Agen antidiare dapat meringankan gejala pada kasus yang sesuai. Agen antisekretori seperti bismut subsalisilat dapat mengurangi sekresi cairan ke dalam lumen usus. Agen antiperistaltik seperti loperamid dapat memperlambat gerakan usus dan mengurangi frekuensi buang air besar, namun harus dihindari pada diare berdarah atau dicurigai adanya infeksi bakteri invasif karena berisiko memperpanjang waktu kontak kuman dengan mukosa usus.

Antibiotik: Tidak Selalu Dibutuhkan

Penggunaan antibiotik secara empiris tidak dianjurkan untuk semua kasus keracunan makanan. Sebagian besar gastroenteritis akut, termasuk yang disebabkan oleh virus, akan sembuh sendiri dalam beberapa hari. Antibiotik baru dipertimbangkan pada kondisi-kondisi tertentu, seperti diare berat dengan tanda-tanda sistemik, disentri (feses berdarah dengan demam), dugaan infeksi Shigella, infeksi Clostridioides difficile, atau pada pasien imunokompromis. Pilihan antibiotik disesuaikan dengan pola resistansi lokal dan bila memungkinkan berdasarkan hasil kultur.

Kapan Harus ke Rumah Sakit?

Kondisi-kondisi berikut memerlukan evaluasi medis segera atau rawat inap:

  • Tanda-tanda dehidrasi berat (tidak bisa minum, tidak ada buang air kecil dalam 8 jam, mulut sangat kering, lemas berat, kesadaran menurun)
  • Diare berdarah disertai demam tinggi
  • Muntah yang tidak bisa berhenti dan tidak bisa minum sama sekali
  • Usia sangat muda (bayi) atau sangat tua dengan gejala berat
  • Ibu hamil atau pasien dengan daya tahan tubuh rendah
  • Gejala neurologis (kebingungan, kejang, gangguan penglihatan)
  • Gejala yang tidak membaik atau memburuk setelah 72 jam

Siapa yang Paling Rentan?

Tidak semua orang menghadapi risiko yang sama saat terpapar agen penyebab keracunan makanan. Kelompok rentan yang berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi berat meliputi anak-anak, wanita hamil, dan mereka yang berusia lanjut atau memiliki kekebalan tubuh yang lemah. Anak yang selamat dari beberapa penyakit bawaan makanan yang serius dapat mengalami keterlambatan perkembangan fisik dan mental, yang berdampak permanen pada kualitas hidupnya.


Pencegahan: Lima Kunci Keamanan Pangan WHO

Makanan yang tidak aman mengandung bakteri, virus, parasit, atau bahan kimia berbahaya yang menyebabkan lebih dari 200 jenis penyakit, mulai dari diare hingga kanker. Namun penyakit ini sepenuhnya dapat dicegah. WHO telah merangkum prinsip pencegahan keracunan makanan dalam “Lima Kunci Keamanan Pangan” (Five Keys to Safer Food):

1. Jaga Kebersihan (Keep Clean)

Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah menyentuh bahan pangan, setelah dari toilet, setelah batuk atau bersin, dan setelah menyentuh hewan. Bersihkan dan sanitasi semua permukaan dan peralatan masak secara teratur. Lindungi dapur dan makanan dari serangga, tikus, dan hama lainnya.

2. Pisahkan Bahan Makanan Mentah dan Matang (Separate Raw and Cooked)

Pisahkan daging merah, unggas, dan makanan laut mentah dari makanan lain. Gunakan talenan dan peralatan yang berbeda untuk bahan mentah dan matang. Simpan makanan dalam wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi silang.

3. Masak Hingga Matang (Cook Thoroughly)

Masak makanan dengan suhu yang cukup untuk membunuh kuman berbahaya — terutama daging, unggas, telur, dan makanan laut. Pastikan makanan yang dipanaskan kembali dipanaskan hingga benar-benar panas merata. Jangan konsumsi daging dan telur setengah matang.

4. Simpan Makanan pada Suhu Aman (Keep Food at Safe Temperatures)

Bakteri dapat tumbuh pesat antara suhu 5°C hingga 60°C — zona bahaya (danger zone). Jangan biarkan makanan matang berada di suhu ruangan lebih dari 2 jam. Simpan makanan mudah rusak di lemari pendingin sebelum dan setelah dimasak.

5. Gunakan Air dan Bahan Baku yang Aman (Use Safe Water and Raw Materials)

Gunakan air bersih atau air yang sudah diolah. Pilih bahan pangan yang segar dan bersumber terpercaya. Cuci buah dan sayuran dengan air bersih. Jangan konsumsi makanan yang sudah kedaluwarsa atau terlihat, berbau, dan berasa tidak wajar.


Konteks Indonesia: Tantangan Nyata di Lapangan

Peningkatan kasus KLB keracunan pangan di Indonesia bukanlah fenomena yang terlepas dari konteks. Beberapa faktor struktural turut berkontribusi:

Budaya Memasak Bersama dalam Skala Besar. Budaya gotong royong dalam memasak saat hajatan menjadi salah satu faktor risiko yang sulit dihindari — ketika banyak tangan terlibat dalam pengolahan makanan dalam skala besar tanpa pelatihan keamanan pangan, risiko kontaminasi meningkat tajam.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada program MBG yang menyasar anak sekolah sebagai kelompok rentan, sejumlah laporan nasional menunjukkan insiden keracunan pangan terjadi di berbagai daerah. Ini menegaskan bahwa pemeriksaan keamanan dan kelayakan pangan tidak hanya berfungsi sebagai prosedur teknis, melainkan merupakan langkah preventif yang esensial dalam melindungi penerima manfaat.

Lemahnya Pelaporan dan Pengawasan. Tantangan terbesar dalam pelaporan kasus keracunan pangan di Indonesia adalah sulitnya memperoleh data terkait agen penyebab keracunan, di samping variasi pemahaman petugas pelapor yang masih cukup lebar.

Resistansi Antimikroba. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan tidak sesuai indikasi dalam penanganan gastroenteritis berkontribusi pada meningkatnya resistansi antimikroba, yang pada gilirannya menyulitkan penanganan kasus-kasus berat di masa depan.


Penutup

Keracunan makanan adalah masalah nyata yang tidak boleh diremehkan. Di Indonesia, tren kenaikan kasus dari tahun ke tahun seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan — dari pemerintah dan pelaku industri pangan, hingga ibu rumah tangga yang memasak untuk keluarga. Pada sebagian besar kasus, kejadian ini dapat dicegah sepenuhnya dengan penerapan prinsip-prinsip keamanan pangan yang sederhana namun konsisten.

Bagi tenaga kesehatan di lini terdepan, kewaspadaan terhadap tanda-tanda dehidrasi berat, komplikasi sistemik, dan patogen berkarakter khusus seperti asam bongkrek menjadi sangat penting. Bagi masyarakat umum, memahami Lima Kunci Keamanan Pangan WHO dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari adalah bentuk perlindungan paling efektif dan paling terjangkau yang bisa dilakukan.

Makanan seharusnya menjadi sumber kehidupan, bukan sumber penyakit.


Referensi

Akhmetzhanov, A. R., de Padua, B., Wong, C.-S., & Thompson, R. N. (2025). First documented outbreak of Bongkrekic acid food poisoning in Taiwan, March–April 2024. Journal of Infection and Public Health, 19(2), 103056. https://doi.org/10.1016/j.jiph.2025.103056

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2024). Kajian analisis data kasus keracunan obat dan makanan tahun 2023. BPOM RI. https://pusakom.pom.go.id/riset-kajian/detail/analisis-data-kasus-keracunan-obat-dan-makanan-tahun-2023

Colston, J. M., Devleesschauwer, B., Flynn, T., Schiaffino, F., Revathi, A. A., Hossain, N., Chen, Y. T., Meister, D., Bagherian, A., Binggeli, O., Zheng, E., David, N., Walter, E. S., Kirk, M. D., Di Bari, C., Lake, R., Havelaar, A. H., Pires, S. M., Robertson, L. J., … Kosek, M. N. (2026). Updated estimates of the global, regional and national burden, and etiology of diarrheal diseases transmissible via food: A systematic review and meta-analytical modelling study for the World Health Organization. medRxiv. https://doi.org/10.64898/2026.01.26.26344508

GBD 2023 Collaborators. (2025). Burden of 375 diseases and injuries, risk-attributable burden of 88 risk factors, and healthy life expectancy in 204 countries and territories, including 660 subnational locations, 1990–2023: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2023. The Lancet, 406(10513), 1873–1922. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(25)01637-X

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). 4.792 kasus keracunan pangan hingga Oktober 2023. Siaran pers dan data KLB KP. Kemenkes RI.

Maesaroh, M., Widowati, S., & Fanani, M. Z. (2025). Kasus kejadian luar biasa keracunan pangan olahan siap saji. Karimah Tauhid, 4(1), 573–587. https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v4i1.16702

Patel, B. D., Kulkarni, G., Chowdhuri, S., Arya, A., John, K. M., Doshi, A. S. P., Nair, R., & Korukonda, K. (2025). Evaluation of multistrain probiotic formulation in acute gastroenteritis: A real-world observational study (MAESTRO). BMC Nutrition, 11(1), 145. https://doi.org/10.1186/s40795-025-01127-w

Sehgal, R., & Bhusal, C. K. (2025). Bongkrekic acid: A new threat for food safety? Foodborne Pathogens and Disease. https://doi.org/10.1177/15353141251389591

Yang, H., Zhao, L., Duan, M., Li, S., Ruan, J., Wang, B., Bi, Y., & Sun, M. (2026). Bongkrekic acid poisoning associated with Burkholderia gladioli: A systematic review. Foodborne Pathogens and Disease. https://doi.org/10.1177/15353141251413448

World Health Organization. (2024). Food safety [Fact sheet]. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/food-safety

World Health Organization. (2022). WHO global strategy for food safety 2022–2030. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789240041448

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Jika Anda atau orang di sekitar Anda diduga mengalami keracunan makanan, segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Update Maret 2026

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar