A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Linux dalam hal ini openSUSE memudahkan kita dalam menambahkan aksara (alfabet/fonta/huruf) Jawa dan Bali ke dalam sistem, sehingga orang dapat dengan mudah menambahkan aksara tersebut ke dalam aplikasi seperti LibreOffice misalnya. Tentu saja jika aksara nusantara lainnya memiliki repositori yang serupa, juga dapat ditambahkan, namun saya belum melihat sampai jauh ke sana.

Kali ini kita hanya akan membahas cara sederhana menambahkan aksara ini ke dalam distribusi openSUSE. Pertama, tambahkan repositori M17N dan segarkan repositori sebagaimana yang pernah kita bahas dalam tulisan “Menambah Fonta pada openSUSE“. Lalu tambahkan paket berikut melalui terminal:

zypper install noto-sans-javanese noto-sans-balinese

Silakan gunakan hanya salah satu paket jika memerlukan hanya salah satu aksara saja. Kita memang sebaiknya berterima kasih kepada Google, karena sudah menyediakan Noto Sans untuk dipakai secara bebas.

Unicode Aksara Bali
Aksara Bali dan unicode yang ditampilkan ketika menambahkannya sebagai karakter spesial pada LibreOffice 4.3.x di openSUSE.

Saya sudah lama tidak menulis dalam aksara daerah, namun unicode ini menarik karena memiliki fitur swabenah (auto-correction). Ketika saya hendak menulis “openSUSE”, saya tahu bahwa aksara “Na” tidak bisa dimatikan di tengah, dan tampaknya menambahkan “adeg-adeg” yang diikuti aksara “Sa” menjadikan koreksi dengan menghilangkan “adeg-adeg” serta menjadikan “Sa” sebagai “gempelan“. Jadi walau awalnya saya bingung karena tidak menemukan adanya “gantungan” maupun “gempelan“, ternyata semuanya sudah dibuat swabenah.

Sayangnya saya belum menelusuri apakah bisa membuat tata letak papan ketik yang bisa langsung membuat tulisan dalam aksara daerah ini.

P.S: contoh menulis pada gambar di atas tidak dijamin ketepatannya sesuai dengan ejaan yang tepat.

Artikel Baru Terbit

  • Kode yang Tak Bersuara: Mengapa “Code Grey” Belum Menjadi Regulasi Baku di Fasilitas Kesehatan Indonesia?
    Fasilitas kesehatan Indonesia tidak memiliki regulasi baku code grey, meski banyak rumah sakit menerapkannya secara internal. Absennya standar nasional bukan sekadar kelalaian, melainkan hasil pilihan legislatif, fragmentasi kelembagaan, kerangka epistemik yang berat pada hukum-pidana, keterbatasan sumber daya, dan lemahnya budaya pelaporan. Perlindungan sistemik terhadap kekerasan di fasilitas kesehatan memerlukan lebih dari sekadar meminjam istilah asing.
  • Ketika Chatbot Belajar Menghitung: Sudahkah SPSS, R, JASP, dan Jamovi Boleh Pensiun?
    Chatbot kini bisa menjalankan uji-t, membuat grafik, dan menafsirkan nilai p dalam hitungan detik. Namun riset terbaru menunjukkan AI sering “benar karena kebetulan”: kesimpulannya tepat, tetapi jalannya keliru. Apakah SPSS, R, JASP, dan Jamovi sudah boleh pensiun? Ternyata yang berubah bukan aplikasinya, melainkan peran kita, dari operator menjadi penyunting.
  • The Memory of Bronze: Why People Believe in Karma
    In a gong-smithy at Wirun, an apprentice cracks the bronze and learns that metal forgets nothing. Drawing on the Upanishads, the Pali canon, Rumi, Anaximander, Arendt, and the Balinese Sārasamuccaya, this essay asks why humanity keeps believing in karma, and why the wisest believers hold it as a lamp, never a verdict.
  • Paliatif Bukan Tanda Menyerah: Kapan Sebaiknya Tenaga Kesehatan Mulai Menawarkannya?
    Perawatan paliatif sering disalahpahami sebagai layanan menjelang ajal. Padahal pedoman ASCO 2024, WHO, dan Kepmenkes 2180/2023 menekankan identifikasi dini sejak diagnosis penyakit serius. Artikel ini membahas kapan paliatif sebaiknya ditawarkan kepada pasien dan keluarga, alat penapisan seperti SPICT dan Pertanyaan Kejutan, serta penerapannya di layanan kesehatan Indonesia.
  • Ketika Wajah Bayi Menyimpan Rahasia di Kromosom 22
    Sindrom DiGeorge (22q11.2 deletion syndrome) adalah kelainan delesi mikro kromosom tersering pada manusia, memengaruhi jantung, imunitas, kalsium darah, dan perkembangan. Diagnosis sering terlambat karena gejala menyerupai kondisi lain. Di Indonesia, skrining jantung bawaan kritis berpotensi menangkap sebagian kasus, namun konfirmasi genetik masih terbatas aksesnya.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

3 tanggapan

  1. Avatar gadgetboi

    wah, engga perlu install blankON dong yah …

    1. Avatar Cahya

      Saya tidak pernah coba blankon, katanya sudah otomatis terpasang aksara nusantara ya Mas?

      1. Avatar gadgetboi

        begitulah 😀 …

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca