A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan yang diterbitkan pada Februari 2015. Sejumlah informasi terkini dari publikasi ilmiah dan panduan klinis 2022–2026 telah diintegrasikan ke dalam versi ini.


Hampir semua orang pernah mengalaminya: muncul luka kecil di dalam mulut, perih ketika makan atau berbicara, dan hilang sendiri dalam beberapa hari hingga dua minggu. Di Indonesia, kondisi ini lazim disebut “sariawan”, sementara dalam terminologi medis dikenal sebagai stomatitis — peradangan pada mukosa mulut yang dapat melibatkan gusi, lidah, bibir bagian dalam, langit-langit, hingga dinding pipi bagian dalam.

Meskipun terkesan sepele, stomatitis menyimpan kompleksitas yang tidak sedikit. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari luka gigit biasa hingga tanda awal penyakit sistemik yang serius. Pemahaman yang lebih baik tentang kondisi ini membantu kita menanganinya secara tepat — dan yang paling penting, mengenali kapan sariawan yang “biasa” perlu mendapat perhatian medis lebih lanjut.

Apa Sebenarnya Stomatitis?

Istilah stomatitis berasal dari bahasa Yunani stoma (mulut) dan itis (peradangan). Dalam praktik klinis, ia merupakan istilah payung yang mencakup berbagai kondisi peradangan pada mukosa oral, dengan gambaran klinis yang beragam: bisa berupa ulkus (luka terbuka), bercak putih, kemerahan, vesikel (gelembung berisi cairan), atau hanya sensasi terbakar tanpa lesi yang tampak jelas.

Satu catatan penting: artikel ini berfokus pada gambaran umum stomatitis, terutama bentuk yang paling umum, yaitu Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) atau stomatitis aftosa berulang. Dua kondisi spesifik yang sering berhubungan — kandidiasis oral dan ulkus aptosa — telah dibahas secara tersendiri di situs ini dan dapat dibaca sebagai pelengkap artikel ini.

Seberapa Sering Terjadi?

Stomatitis dalam berbagai bentuknya termasuk kondisi yang sangat umum. Bentuk tersering, yaitu RAS, memiliki prevalensi global yang bervariasi antara 5% hingga 25% pada populasi umum, dengan puncak kejadian pada dekade kedua kehidupan. Kondisi ini cenderung diturunkan dalam keluarga dan umumnya membaik seiring bertambahnya usia, meskipun pada sebagian orang dapat terus berulang hingga usia dewasa.

Xerostomia (mulut kering), yang merupakan salah satu faktor risiko penting stomatitis, dilaporkan memiliki prevalensi global sekitar 23% berdasarkan meta-analisis terhadap 26 studi berbasis populasi. Kondisi ini menempatkan seseorang pada risiko lebih tinggi mengalami berbagai gangguan mulut termasuk stomatitis, karies gigi, dan kandidiasis oral.

Di Indonesia, data epidemiologi stomatitis secara keseluruhan masih terbatas. Namun mengingat tingginya prevalensi faktor risikonya — mulai dari kebiasaan merokok, konsumsi makanan pedas/asam, hingga prevalensi defisiensi nutrisi tertentu pada populasi Indonesia — kondisi ini dapat dipastikan sangat umum dijumpai di seluruh fasilitas kesehatan.

Beragam Wajah Stomatitis: Mengenali Jenisnya

Salah satu alasan stomatitis sering membingungkan adalah karena ia bukan satu penyakit tunggal, melainkan sebuah manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan oleh banyak penyebab berbeda. Berikut adalah kelompok-kelompok utamanya:

Stomatitis Aftosa Berulang (RAS)

Ini adalah bentuk stomatitis yang paling sering dijumpai. RAS ditandai dengan ulkus berbentuk bulat atau oval dengan tepi kemerahan yang jelas dan bagian tengah yang dangkal, tertutup lapisan pseudomembran berwarna abu-abu atau kekuningan. Lesi ini terasa nyeri dan dapat muncul kembali dalam interval hari hingga bulan.

RAS dibagi menjadi tiga subtipe berdasarkan ukuran dan perilakunya: minor (diameter < 1 cm, sembuh dalam 7–14 hari, paling umum), major (diameter ≥ 1 cm, lebih dalam, penyembuhan lebih lama dan bisa meninggalkan jaringan parut), dan herpetiform (banyak ulkus kecil sekaligus, menyerupai herpes meski tidak disebabkan virus herpes).

Stomatitis Infeksius

Berbagai patogen dapat menyebabkan peradangan mulut. Virus herpes simpleks tipe 1 (Herpes simplex virus atau HSV-1) merupakan penyebab infeksius tersering, terutama pada anak-anak (herpetic gingivostomatitis primer) dan orang dewasa (cold sore atau herpes labialis). Infeksi jamur, terutama Candida albicans, menyebabkan kandidiasis oral yang telah dibahas secara khusus dalam artikel tersendiri. Infeksi bakteri, termasuk Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG), juga dapat menyebabkan stomatitis yang khas.

Stomatitis Traumatik

Luka akibat gigitan tidak sengaja, gigi yang tajam atau patah, gigi palsu yang tidak pas, atau prosedur gigi adalah penyebab yang mudah diidentifikasi. Lesi biasanya unilateral, sesuai dengan lokasi sumber trauma, dan sembuh saat penyebabnya diatasi.

Stomatitis Terkait Iritan dan Alergi

Pasta gigi (terutama yang mengandung sodium lauryl sulfate/SLS), obat kumur beralkohol, makanan asam atau pedas, kandungan nikel pada aksesori gigi, serta paparan bahan kimia tertentu dapat memicu reaksi iritasi atau hipersensitivitas tipe IV pada mukosa mulut. Nicotinic stomatitis adalah bentuk khas yang ditemukan pada perokok berat, terutama perokok cerutu atau pipa, di mana langit-langit mulut tampak hiperkeratotik dengan bintik-bintik kemerahan kecil.

Stomatitis sebagai Manifestasi Penyakit Sistemik

Sejumlah penyakit sistemik dapat bermanifestasi sebagai lesi di rongga mulut. Penyakit Behçet, celiac disease, penyakit radang usus (inflammatory bowel disease), defisiensi imun, leukemia, hingga infeksi HIV dapat menampilkan stomatitis sebagai salah satu tandanya. Kondisi-kondisi ini penting untuk dikenali karena penanganan stomatitis-nya bergantung pada tata laksana penyakit yang mendasarinya.

Stomatitis Terkait Obat dan Terapi

Sejumlah obat-obatan dapat memicu ulkus mulut sebagai efek samping — mulai dari NSAID, antikonvulsan, hingga obat-obat kemoterapi. Kemoterapi dan radioterapi kepala-leher secara khusus dapat menyebabkan mucositis oral yang parah, sebuah kondisi yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien kanker.

Sindrom PFAPA

Satu kondisi yang perlu disebutkan khusus, terutama pada pasien anak, adalah sindrom PFAPA (Periodic Fever, Aphthous stomatitis, Pharyngitis, and cervical Adenitis). Ini merupakan sindrom autoinlamasi yang ditandai dengan episode demam periodik yang disertai stomatitis, faringitis, dan pembesaran kelenjar getah bening serviks. Kondisi ini termasuk dalam kelompok penyakit autoinlamasi herediter yang kini makin banyak dikenali.

Mengapa Sariawan Bisa Muncul? Memahami Patogenesisnya

Selama bertahun-tahun, penyebab pasti RAS — bentuk stomatitis tersering — belum sepenuhnya dipahami. Namun penelitian terkini semakin memperjelas mekanisme yang mendasarinya.

Predisposisi Genetik dan Kaskade Imun

Pada individu yang secara genetik rentan, paparan terhadap faktor pencetus tertentu akan mengaktifkan kaskade sitokin proinflamasi yang diarahkan ke area spesifik mukosa mulut. Penelitian genomik telah mengidentifikasi polimorfisme pada gen pengkode interleukin, terutama IL-1β (+3954C/T dan -511C/T), yang secara signifikan meningkatkan risiko RAS. Respons imun yang tidak seimbang ini — dengan aktivasi sel T yang berlebihan terhadap antigen mukosa — diyakini sebagai inti dari patogenesis RAS.

Defisiensi Nutrisi: Peran yang Lebih Besar dari Dugaan

Bukti ilmiah terkini semakin memperkuat hubungan antara defisiensi nutrisi dan kejadian RAS. Sebuah meta-analisis komprehensif yang mengevaluasi parameter hematologis menemukan bahwa pasien RAS memiliki risiko lebih tinggi mengalami defisiensi vitamin B12 (risiko 2,93 kali lebih besar), defisiensi feritin (2,50 kali), kadar hemoglobin rendah (2,14 kali), serta defisiensi asam folat dan seng dibandingkan individu sehat. Temuan ini menunjukkan bahwa pengecekan status nutrisi merupakan bagian penting dari evaluasi RAS, terutama pada kasus yang berulang atau refrakter.

Defisiensi besi juga terbukti bermakna: kadar serum besi pada pasien RAS secara konsisten lebih rendah dibanding populasi sehat, baik pada laki-laki maupun perempuan.

Peran Saliva sebagai Pelindung

Rongga mulut yang sehat dilindungi oleh aliran saliva yang kaya akan faktor antimikroba, immunoglobulin, dan komponen pelumas. Ketika aliran ini terganggu — menghasilkan kondisi yang disebut xerostomia — pertahanan mukosa melemah secara signifikan. Xerostomia sendiri dapat disebabkan oleh konsumsi lebih dari tiga obat per hari (risiko meningkat hampir tiga kali lipat), radioterapi kepala-leher, penyakit Sjögren, dan sejumlah kondisi lainnya. Adanya xerostomia meningkatkan risiko kandidiasis oral hingga 11,5%.

Faktor Pencetus Lainnya

Stres psikologis, gangguan tidur, menstruasi (pada perempuan), trauma minor pada mukosa, serta paparan terhadap makanan atau zat tertentu dikenal sebagai faktor pencetus episode RAS pada individu yang sudah memiliki predisposisi. Beberapa studi juga menunjukkan hubungan antara konsumsi makanan mengandung SLS dan peningkatan frekuensi kekambuhan.

Evaluasi Klinis: Apa yang Dilakukan Dokter?

Langkah pertama dan terpenting dalam menangani stomatitis adalah menegakkan diagnosis yang tepat — bukan sekadar mengobati “sariawan” secara simtomatik tanpa mengetahui penyebabnya.

Anamnesis yang Cermat

Dokter akan menggali riwayat lengkap, termasuk: sudah berapa lama lesi muncul, apakah pernah terjadi sebelumnya dan seberapa sering, lokasi lesi, rasa nyeri dan kualitasnya, serta kaitannya dengan makanan, pasta gigi, obat-obatan tertentu, atau faktor pekerjaan. Riwayat penyakit sistemik — terutama yang dapat menyebabkan imunokompromi seperti diabetes, keganasan, atau infeksi HIV — juga sangat relevan.

Pertanyaan tentang gejala lain di luar mulut juga penting: apakah ada diare kronis (kemungkinan celiac disease atau penyakit radang usus), lesi genital (penyakit Behçet atau sifilis), penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, atau demam berulang yang teratur (kemungkinan PFAPA pada anak).

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan menyeluruh meliputi kondisi umum pasien, tanda-tanda vital termasuk suhu, pemeriksaan lengkap rongga mulut (kondisi mukosa, lokasi dan karakteristik lesi, kondisi gigi dan gusi), serta pemeriksaan kulit dan mukosa lain untuk mencari lesi di luar mulut. Jika ditemukan bula kutaneus, tanda Nikolsky wajib diperiksa untuk menyingkirkan kondisi bulosa autoimun seperti pemphigus vulgaris atau bullous pemphigoid.

Beberapa temuan yang memerlukan perhatian segera dan kemungkinan rujukan antara lain: demam, bula kutaneus, inflamasi okular, dan tanda-tanda imunokompromi.

Pemeriksaan Penunjang

Pada stomatitis akut tanpa kecurigaan penyakit sistemik, pemeriksaan tambahan umumnya tidak diperlukan. Namun pada kasus yang berulang, kronis, atau tidak respons terhadap terapi standar, dokter dapat mempertimbangkan: pemeriksaan darah lengkap, kadar serum besi, feritin, vitamin B12, asam folat, dan seng; pemeriksaan untuk celiac disease (antibodi endomisial atau anti-tTG); kultur bakteri/jamur; serta pada kasus terpilih, biopsi untuk menyingkirkan keganasan atau kondisi autoimun.

Penting dicatat bahwa sejumlah pemeriksaan ini belum tersedia luas di semua fasilitas kesehatan di Indonesia, terutama di daerah. Pendekatan klinis yang berbasis riwayat dan pemeriksaan fisik yang baik tetap menjadi tulang punggung diagnosis.

Tata Laksana: Pilihan Terapi Terkini

Tidak ada satu terapi tunggal yang efektif untuk semua kasus stomatitis. Prinsip umum tata laksana tetap berlaku: atasi penyebab yang mendasari, jaga kebersihan mulut, kendalikan gejala, dan cegah kekambuhan.

Terapi Non-Farmakologis

Langkah pertama dan terpenting adalah menghindari faktor pencetus yang dapat diidentifikasi: pasta gigi mengandung SLS, obat kumur beralkohol, makanan asam/pedas/asin, atau bahan yang diketahui memicu reaksi. Diet lunak yang tidak mengiritasi lesi direkomendasikan selama fase akut.

Menjaga kebersihan mulut dengan sikat gigi berbulu halus dan larutan kumur saline (garam fisiologis) membantu mengurangi kolonisasi bakteri dan mencegah infeksi sekunder tanpa mengiritasi lesi. Bagi perokok, penghentian merokok merupakan intervensi penting yang secara tidak langsung memperbaiki kondisi mukosa mulut secara keseluruhan.

Terapi Topikal: Lini Pertama

Kortikosteroid topikal merupakan terapi lini pertama untuk RAS yang direkomendasikan oleh konsensus ilmiah terkini. Tersedia dalam berbagai bentuk sediaan:

Larutan kumur dexamethasone 0,5 mg/5 ml (15 ml, kumur selama 2 menit kemudian dibuang, tidak ditelan) efektif untuk lesi yang luas atau multipel. Krim triamcinolone acetonide 0,1% dalam basis orabase (bahan adhesif khusus mukosa) dapat dioleskan langsung pada lesi satu hingga tiga kali sehari. Kortikosteroid topikal ini efektif mengurangi nyeri dan memperpendek durasi penyembuhan, meskipun bukti untuk pencegahan kekambuhan lebih terbatas.

Hyaluronic acid (asam hialuronat) dalam bentuk gel atau mouthwash telah menunjukkan efektivitas yang baik dengan profil keamanan yang sangat menguntungkan — menjadikannya alternatif yang menarik terutama bagi pasien yang memerlukan terapi jangka panjang atau kontraindikasi kortikosteroid.

Anestesi topikal seperti larutan lidokain 2% atau gel benzokain dapat digunakan untuk mengurangi nyeri akut, terutama sebelum makan, meskipun tidak mempercepat penyembuhan. Campuran sucralfate dengan antasida sebagai lapisan pelindung (coating agent) juga dapat dipertimbangkan.

Terapi Fisik: Low-Level Laser Therapy

Low-level laser therapy (LLLT) atau terapi laser energi rendah telah mendapat dukungan bukti ilmiah yang semakin kuat untuk tata laksana RAS. Berdasarkan umbrella review terbaru yang mengevaluasi 41 tinjauan sistematis, LLLT secara konsisten terbukti mengurangi nyeri dan memperpendek waktu penyembuhan. Meskipun ketersediaannya masih terbatas di banyak fasilitas kesehatan Indonesia, terapi ini merupakan opsi yang sangat menjanjikan tanpa efek samping yang berarti.

Suplemen Nutrisi

Mengingat kuatnya bukti tentang hubungan defisiensi nutrisi dengan RAS, suplementasi vitamin B12, asam folat, dan besi direkomendasikan pada pasien yang terbukti defisien. Bahkan beberapa studi menunjukkan manfaat suplementasi B12 pada pasien RAS meski kadar serumnya dalam batas normal — walaupun bukti untuk hal ini masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Pemberian vitamin B kompleks dan vitamin C tetap rasional sebagai terapi pendukung, terutama pada kasus berulang.

Propolis: Pendekatan Komplementer

Propolis, zat resin yang diproduksi lebah dan telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional, mendapat perhatian ilmiah yang meningkat untuk tata laksana RAS. Sebuah meta-analisis terhadap 10 uji klinis acak terkontrol menemukan bahwa propolis topikal maupun sistemik dapat mempersingkat waktu penyembuhan, mengurangi nyeri, dan menurunkan kemerahan dibandingkan plasebo. Profil keamanannya tampak baik. Namun para peneliti menekankan bahwa kualitas bukti secara keseluruhan masih sangat rendah akibat heterogenitas metodologi, sehingga hasilnya harus diinterpretasikan dengan hati-hati.

Terapi Sistemik: Untuk Kasus Berat atau Refrakter

Kortikosteroid sistemik (misalnya prednisone) dipertimbangkan pada kasus RAS mayor yang parah, khususnya jika lesi sangat nyeri, besar, atau mengganggu asupan nutrisi dan cairan. Namun penggunaannya memerlukan pengawasan ketat dan tidak boleh sembarangan mengingat efek samping jangka panjangnya.

Colchicine dan thalidomide — meskipun menunjukkan manfaat pada RAS berat dan refrakter — penggunaannya dibatasi oleh efek samping yang signifikan dan kualitas bukti yang masih rendah. Kedua obat ini hanya dipertimbangkan oleh dokter spesialis pada kasus yang benar-benar tidak respons terhadap terapi standar. Thalidomide secara khusus memiliki potensi teratogenik yang sangat serius sehingga penggunaannya sangat terbatas.

Untuk stomatitis infeksius, tentu saja terapi spesifik terhadap patogen penyebab yang utama: antivirus (misalnya acyclovir) untuk infeksi herpes, antijamur untuk kandidiasis, dan antibiotik untuk infeksi bakteri. Pemilihan antibiotik perlu bijaksana, mengingat adanya pola resistensi yang bervariasi di Indonesia.

Tata Laksana untuk Stomatitis Terkait Penyakit Sistemik

Prinsip yang sama berlaku: mengatasi penyakit yang mendasari merupakan terapi definitif. Pasien dengan stomatitis sebagai manifestasi dari penyakit Behçet, celiac disease, penyakit radang usus, atau imunokompromi berat memerlukan rujukan ke dokter spesialis yang tepat. Terapi simtomatik lokal tetap diberikan sebagai terapi adjuvan.

Kapan Harus Segera Berkonsultasi ke Dokter?

Meskipun sebagian besar stomatitis bersifat ringan dan sembuh sendiri, ada kondisi yang memerlukan evaluasi medis segera:

Lesi yang tidak sembuh setelah tiga minggu harus dievaluasi untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan (kanker rongga mulut). Lesi yang sangat nyeri hingga mengganggu makan dan minum, terutama pada anak-anak dan lansia, memerlukan penanganan segera untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisi. Lesi yang disertai demam, terutama pada anak dengan pola demam periodik yang teratur, perlu dipertimbangkan kemungkinan sindrom PFAPA. Adanya lesi di tempat lain (kulit, mata, genitalia) bersamaan dengan stomatitis harus segera dievaluasi untuk menyingkirkan kondisi sistemik serius seperti penyakit Behçet, erythema multiforme, atau sindrom Stevens-Johnson. Stomatitis pada individu dengan kondisi imunokompromi (diabetes tidak terkontrol, pasien HIV, pengguna obat imunosupresan, atau sedang menjalani kemoterapi) memerlukan penanganan yang lebih agresif dan pengawasan lebih ketat.

Konteks Indonesia: Tantangan dan Harapan

Penanganan stomatitis di Indonesia menghadapi beberapa tantangan spesifik. Pertama, akses terhadap pemeriksaan laboratorium yang komprehensif — terutama di layanan primer di daerah terpencil — masih terbatas, sehingga evaluasi defisiensi nutrisi dan penyakit sistemik tidak selalu dapat dilakukan secara optimal.

Kedua, sejumlah obat yang direkomendasikan secara internasional, seperti amleksanoks (amlexanox) dan beberapa formulasi hyaluronic acid khusus mukosa oral, ketersediaannya masih sangat terbatas di pasar Indonesia. Praktek klinis perlu menyesuaikan diri dengan obat yang tersedia secara lokal.

Ketiga, pola resistensi antibiotik di Indonesia perlu menjadi pertimbangan dalam pemilihan antibiotik untuk kasus stomatitis infeksius bakterial. Penggunaan antibiotik yang bijaksana, sesuai indikasi yang tepat, merupakan kewajiban etis sekaligus medis.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat Indonesia tentang kesehatan mulut terus meningkat, dan banyak fasilitas kesehatan primer kini semakin baik dalam menangani kasus-kasus stomatitis ringan hingga sedang. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan memungkinkan masyarakat mendapatkan penanganan stomatitis di fasilitas kesehatan tingkat pertama tanpa hambatan finansial yang berarti.

Kesimpulan

Stomatitis mungkin tampak seperti masalah sepele yang setiap orang pernah alami, namun ia menyimpan kompleksitas yang signifikan. Dari perspektif ilmiah terkini, pemahaman kita tentang patogenesisnya — terutama peran kaskade imun, genetika, dan defisiensi nutrisi — telah berkembang pesat. Begitu pula pilihan terapeutik yang kini semakin beragam dan berbasis bukti.

Pesan utama yang perlu diingat adalah: sariawan yang berulang, tidak kunjung sembuh, atau datang bersamaan dengan gejala-gejala lain di luar mulut, tidak boleh diabaikan begitu saja. Ia mungkin merupakan petunjuk penting tentang kondisi kesehatan yang lebih luas yang sedang berlangsung dalam tubuh kita.


Daftar Referensi

Al-Aizari, N. A., Al-Shamiri, H. M., AlShehri, B. K., Alhomood, K. S., Alzahrani, S. R., Abuhasna, W. R., & Al-Maweri, S. A. (2026). Evidence-based recommendations for the treatment of recurrent aphthous stomatitis: Insights from an umbrella review. Journal of Dermatological Treatment, 37(1), 2622245. https://doi.org/10.1080/09546634.2026.2622245

Conejero Del Mazo, R., García Forcén, L., & Navarro Aguilar, M. E. (2023). Recurrent aphthous stomatitis. Medicina Clínica, 161(6), 251–259. https://doi.org/10.1016/j.medcli.2023.05.007

Horvat Aleksijević, L., Prpić, J., Muhvić Urek, M., Pezelj-Ribarić, S., Ivančić-Jokić, N., Peršić Bukmir, R., Aleksijević, M., & Glažar, I. (2022). Oral mucosal lesions in childhood. Dentistry Journal, 10(11), 214. https://doi.org/10.3390/dj10110214

Mousavi, T., Jalali, H., & Moosazadeh, M. (2024). Hematological parameters in patients with recurrent aphthous stomatitis: A systematic review and meta-analysis. BMC Oral Health, 24(1), 339. https://doi.org/10.1186/s12903-024-04072-5

Roberts, T., Kallon, I. I., & Schoonees, A. (2024). Efficacy and safety of propolis for treating recurrent aphthous stomatitis (RAS): A systematic review and meta-analysis. Dentistry Journal, 12(1), 13. https://doi.org/10.3390/dj12010013

Schutt, C., & Siegel, D. M. (2023). Autoinflammatory diseases/periodic fevers. Pediatrics in Review, 44(9), 481–490. https://doi.org/10.1542/pir.2022-005635

Stoopler, E. T., Villa, A., Bindakhil, M., Díaz, D. L. O., & Sollecito, T. P. (2024). Common oral conditions: A review. JAMA, 331(12), 1045–1054. https://doi.org/10.1001/jama.2024.0953

Torabinia, N., Asadi, S., & Tarrahi, M. J. (2024). The relationship between iron and zinc deficiency and aphthous stomatitis: A systematic review and meta-analysis. Advanced Biomedical Research, 13, 31. https://doi.org/10.4103/abr.abr_41_22


Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti konsultasi medis langsung. Jika Anda mengalami keluhan stomatitis yang berulang, berkepanjangan, atau disertai gejala lain, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan Anda.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar