A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Diperbarui dari artikel “Adikuman – CRE” yang diterbitkan 22 Februari 2015


Sepuluh tahun yang lalu, ketika artikel ini pertama kali ditulis, Carbapenem-resistant Enterobacteriaceae (CRE) masih terasa seperti masalah orang lain — sesuatu yang terjadi di Amerika Serikat, jauh dari keseharian klinik dan rumah sakit di Indonesia. Kini, gambaran itu telah berubah drastis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan CRE ke dalam daftar patogen bakteri prioritas kritis (critical priority) dalam pembaruan daftar patogen prioritas global mereka di tahun 2024, bersama dengan bakteri berbahaya lainnya seperti Acinetobacter baumannii resisten karbapenem dan Mycobacterium tuberculosis resistan rifampisin (World Health Organization, 2024). Di Indonesia sendiri, ancaman ini bukan lagi sekadar teori — data surveilans nasional mulai menunjukkan wajah aslinya.

Apa Itu CRE, dan Mengapa Namanya Berubah?

Perlu dicatat bahwa nama ilmiahnya pun telah diperbarui. Secara resmi, organisme ini kini disebut Carbapenem-resistant Enterobacterales (CRE) — bukan lagi Enterobacteriaceae seperti dulu. Perubahan ini mencerminkan revisi taksonomi bakteri, namun singkatannya tetap sama: CRE.

CRE adalah sekelompok bakteri gram negatif dari ordo Enterobacterales — yang mencakup spesies seperti Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli, Enterobacter cloacae, dan lainnya — yang telah mengembangkan kemampuan untuk bertahan menghadapi karbapenem. Karbapenem (seperti meropenem dan imipenem) selama ini dikenal sebagai antibiotik “garis akhir” (last-line antibiotics): pilihan terakhir ketika antibiotik-antibiotik lain gagal mengatasi infeksi. Ketika bakteri mampu melawannya pun, artinya pilihan pengobatan menjadi sangat terbatas — bahkan nyaris tidak ada.

Sebagian besar bakteri dari kelompok ini sebenarnya merupakan penghuni normal saluran cerna manusia yang tidak berbahaya. Masalah muncul ketika mereka memperoleh gen resistensi, lalu menyebar ke luar lingkungan usus atau berpindah ke pasien-pasien yang rentan.

Bagaimana Bakteri Ini Bisa Kebal?

Kemampuan CRE untuk melawan karbapenem berasal dari beberapa mekanisme berbeda, dan memahami perbedaannya penting karena berimplikasi langsung pada pilihan tata laksana (Ma et al., 2022).

Mekanisme utama dan paling penting secara klinis adalah produksi enzim yang disebut karbapenemase — enzim yang secara harfiah memecah dan menonaktifkan molekul karbapenem. Enzim-enzim ini diberi nama sesuai lokasi pertama kali ditemukannya atau strukturnya:

  • KPC (Klebsiella pneumoniae carbapenemase): pertama kali teridentifikasi di Amerika Serikat, kini tersebar global dan merupakan salah satu jenis paling umum di banyak negara.
  • NDM (New Delhi Metallo-beta-lactamase): pertama kali terdeteksi di India, dan kini sangat banyak ditemukan di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
  • OXA-48 dan variannya: banyak ditemukan di Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah.
  • VIM (Verona Integron-Mediated Metallo-β-lactamase) dan IMP (Imipenemase): ditemukan di berbagai belahan dunia, termasuk Asia.

Selain produksi karbapenemase, resistensi juga bisa muncul dari mekanisme lain: perubahan struktur protein membran luar (porin) sehingga karbapenem tidak bisa masuk ke dalam sel bakteri, adanya pompa efluks (efflux pump) yang memompa antibiotik keluar dari sel sebelum sempat bekerja, atau kombinasi dari berbagai mekanisme tersebut. Bakteri yang hanya mengandalkan mekanisme non-karbapenemase cenderung lebih sulit dideteksi karena tidak memiliki gen karbapenemase yang dapat diidentifikasi dengan mudah (Rezzoug et al., 2025).

Aspek yang paling menghawatirkan adalah bahwa gen-gen resistensi ini sering dibawa oleh elemen genetik yang dapat berpindah-pindah — disebut plasmid — yang memungkinkan satu bakteri “berbagi” kemampuan resistensinya kepada bakteri lain dari spesies yang berbeda. Itulah mengapa resistensi ini bisa menyebar begitu cepat, baik di dalam satu rumah sakit maupun antar negara.

Skala Ancaman Global

Situasi global jauh lebih mengkhawatirkan dibanding satu dekade yang lalu. Klebsiella pneumoniae resistan karbapenem dikategorikan sebagai patogen prioritas kritis dalam Daftar Prioritas Patogen Bakteri WHO 2024, mencerminkan besarnya ancaman kesehatan masyarakat dan terbatasnya pilihan pengobatan yang tersedia.

Dalam daftar ini, kategori kritis mencakup Acinetobacter baumannii resistan karbapenem, Enterobacterales resistan karbapenem, dan Enterobacterales resistan sefalosporin generasi ketiga. Fakta bahwa Enterobacterales resistan sefalosporin generasi ketiga kini mendapat kategori tersendiri, terpisah dari CRE, mencerminkan pengakuan WHO bahwa kedua kelompok ini memiliki tantangan dan kebutuhan intervensi yang berbeda — dan keduanya sama-sama kritis.

CRE menyebabkan berbagai sindrom infeksi, termasuk infeksi aliran darah, saluran napas, abdomen, dan saluran kemih. Infeksi-infeksi ini menimbulkan beban yang sangat besar secara global, dengan pilihan tata laksana yang terbatas akibat tingginya resistensi antibiotik.

Di Asia, situasinya mengkhawatirkan. Sebuah studi molekuler epidemiologi berskala besar di Tiongkok menunjukkan bagaimana klon K. pneumoniae resistan karbapenem tertentu berkembang dengan sangat cepat selama satu dekade terakhir, bahkan berevolusi menjadi varian yang lebih virulen dan lebih sulit ditangani (Wang et al., 2024).

Perlu juga dicatat bahwa pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada 2020–2023 turut memperburuk situasi. Penggunaan antibiotik yang meningkat pesat selama pandemi, overload di unit perawatan intensif, serta penurunan kepatuhan protokol pencegahan infeksi di banyak fasilitas kesehatan telah mempercepat penyebaran CRE di berbagai negara (Ma et al., 2022).

Bagaimana dengan Indonesia?

Dulu, artikel ini menyebutkan bahwa kasus CRE masih jarang di Indonesia dan penggunaan karbapenem pun masih terbatas. Kondisi ini telah berubah secara signifikan.

Data resistansi antimikroba di Indonesia didapatkan dari rumah sakit sentinel yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI. Hasil pengukuran Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) tahun 2022 pada 20 rumah sakit sentinel mencapai 68%, dan meningkat menjadi 70,75% pada tahun 2023 di 24 rumah sakit sentinel — angka yang jauh melampaui target penurunan yang ditetapkan. Ini menunjukkan adanya peningkatan resistansi antimikroba pada bakteri Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae di Indonesia.

ESBL memang bukan karbapenemase, tetapi hubungannya erat: bakteri penghasil ESBL yang tidak ditangani secara tepat berisiko besar berkembang menjadi CRE — karena tekanan seleksi dari penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mendorong munculnya mekanisme resistensi yang lebih tinggi. Data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa 22,1 persen penduduk mengonsumsi antibiotik oral dalam setahun terakhir, dan dari angka tersebut, 41 persen di antaranya mendapatkan antibiotik tanpa resep dokter.

Terkait CRE secara spesifik, sebuah protokol tinjauan sistematis dan meta-analisis yang didaftarkan di PROSPERO pada 2025 sedang disusun untuk pertama kalinya merangkum secara komprehensif prevalensi CRE di Indonesia. Protokol ini mencatat bahwa data tentang CRE di Indonesia masih terfragmentasi, dan dibutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang besaran beban penyakit ini di negara kita (Kadariswantiningsih et al., 2025).

Sejak 2024, SINAR (Surveilans Indonesian Network on Antimicrobial Resistance) PAMKI telah bekerja sama dengan Kemenkes RI dalam menyiapkan data surveilans GLASS WHO, dengan data dari 75 rumah sakit yang berkontribusi pada laporan tahun 2023. CRE, bersama ESBL dan MRSA, kini secara eksplisit menjadi salah satu indikator utama yang harus dilaporkan dalam Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di setiap rumah sakit Indonesia sesuai standar akreditasi STARKES 2024.

Sebagai respons terhadap ancaman ini, Kemenkes RI telah menerbitkan Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba Sektor Kesehatan 2025–2029, yang bertujuan menurunkan dan memperlambat munculnya AMR serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat infeksi AMR di Indonesia.

Siapa yang Paling Berisiko?

Tidak banyak yang berubah soal ini: CRE adalah ancaman yang hampir secara eksklusif menyerang pasien di lingkungan layanan kesehatan. Orang sehat di komunitas pada umumnya tidak perlu khawatir terinfeksi CRE.

Kelompok yang paling rentan adalah:

  • Pasien di unit perawatan intensif (ICU), terutama yang menggunakan ventilator mekanik
  • Pasien dengan kateter urin atau infus sentral dalam waktu lama
  • Pasien yang menerima terapi antibiotik jangka panjang, terutama antibiotik spektrum luas
  • Pasien imunosupresi (misalnya: penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi, pasien transplantasi organ, atau penderita HIV/AIDS dengan CD4 rendah)
  • Pasien lanjut usia dengan penyakit kronik
  • Bayi baru lahir di unit perawatan neonatal (NICU)

Pada pasien imunokompromais, termasuk pasien kanker, angka kematian akibat sepsis oleh bakteri resistan karbapenem dapat mencapai 49,5%, dengan risiko yang semakin besar pada pasien yang menjalani perawatan lama, menggunakan ventilator mekanik, menjalani prosedur invasif, atau sebelumnya telah terpapar karbapenem.

Seberapa Mematikan?

Artikel versi 2015 menyebut angka kematian 40–50%. Data terbaru masih konsisten dengan gambaran itu — bahkan bisa lebih tinggi pada varian tertentu atau pada populasi yang lebih rentan. Infeksi aliran darah (bakteremia) akibat CRE tetap menjadi kondisi yang sangat mengancam jiwa, dengan angka mortalitas yang bervariasi bergantung pada jenis karbapenemase, kondisi pasien, dan kecepatan pemberian antibiotik yang tepat (Ren et al., 2026).

Sebuah hal penting yang membedakan CRE dari infeksi bakteri biasa adalah jeda waktu antara infeksi dan pemberian antibiotik yang efektif. Karena CRE sering tidak terdeteksi dengan cepat, pasien sering kali menerima antibiotik yang tidak tepat selama beberapa hari pertama yang kritis. Makin cepat infeksi teridentifikasi dan antibiotik yang tepat diberikan, makin baik prognosisnya.

Pilihan Pengobatan: Apa yang Baru?

Inilah salah satu perubahan terbesar dibandingkan satu dekade yang lalu. Pada 2015, pilihan pengobatan CRE sangat terbatas dan sering hanya mengandalkan antibiotik “tua” seperti kolistin yang memiliki efek samping berat. Kini, sejumlah antibiotik baru telah tersedia dan memberikan harapan, meski masih terbatas aksesnya di banyak negara termasuk Indonesia.

Kombinasi beta-laktam/inhibitor beta-laktamase menjadi tulang punggung pengobatan CRE modern:

  • Ceftazidime-avibactam: sangat efektif melawan KPC dan OXA-48, dan menjadi salah satu pilihan utama saat ini
  • Meropenem-vaborbactam: aktif terutama terhadap KPC
  • Imipenem-relebactam: pilihan lain untuk KPC dan sebagian OXA-48
  • Aztreonam-avibactam: penting khususnya untuk karbapenemase tipe metalo-beta-laktamase (NDM, VIM, IMP) yang tidak bisa diatasi oleh kombiniasi di atas

Antibiotik baru lain bernama cefiderocol juga menunjukkan aktivitas yang luas terhadap berbagai jenis CRE (Rezzoug et al., 2025; Bonnin et al., 2024).

Namun, ada caveat penting: pilihan antibiotik sangat bergantung pada jenis karbapenemase yang dimiliki bakteri tersebut. Sebuah antibiotik yang efektif untuk CRE dengan KPC bisa sama sekali tidak efektif untuk CRE dengan NDM. Inilah mengapa pemeriksaan laboratorium — termasuk identifikasi jenis karbapenemase — sangat krusial. Deteksi cepat menggunakan metode seperti lateral flow immunoassay (LFIA) di tempat tidur pasien terbukti dapat memperbaiki luaran klinis karena memungkinkan pemberian antibiotik yang tepat lebih cepat (Ren et al., 2026).

Sayangnya, sebagian besar antibiotik baru ini belum tersedia atau belum terjangkau di Indonesia, dan ini merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi klinisi di lapangan. Penggunaan kombinasi antibiotik — misalnya karbapenem dosis tinggi dikombinasikan dengan kolistin, fosfomisin, atau tigesiklin — masih menjadi pilihan di banyak fasilitas, meski dengan risiko efek samping yang perlu diperhitungkan.

Pencegahan: Apa yang Bisa Dilakukan?

Prinsip dasarnya tidak banyak berubah, namun kini jauh lebih terstruktur dan sistematis.

Untuk fasilitas kesehatan:

Program PPRA (Pengendalian Resistensi Antimikroba) yang diwajibkan oleh Permenkes No. 8 Tahun 2015 adalah fondasi utama. Program ini mencakup pembentukan tim PPRA, penatagunaan antimikroba (antimicrobial stewardship), pengembangan laboratorium mikrobiologi klinik, dan surveilans pola resistensi antimikroba. Tantangan yang dihadapi antara lain ketersediaan laboratorium yang memadai dan pembiayaan pemeriksaan mikrobiologi dalam paket INA-CBG’s yang sering kali belum optimal.

Pencegahan penyebaran CRE di rumah sakit juga mengandalkan implementasi pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) secara ketat: cuci tangan dengan sabun atau hand rub berbasis alkohol, penggunaan alat pelindung diri (APD) saat menangani pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi terinfeksi atau terkolonisasi CRE, perawatan pasien di ruang isolasi, dan pembersihan serta disinfeksi peralatan medis secara menyeluruh.

Kasus outbreak duodenoskopi yang disebut dalam artikel 2015 — di mana bakteri tersisa di alat medis meski sudah melalui proses disinfeksi — mengingatkan bahwa tidak semua peralatan medis bisa dengan mudah disterilisasi secara sempurna. Protokol dekontaminasi peralatan medis yang ketat, termasuk sterilisasi yang tervalidasi, adalah bagian tak terpisahkan dari pencegahan.

Untuk masyarakat umum:

  • Gunakan antibiotik hanya berdasarkan resep dokter, sesuai dosis dan durasi yang ditentukan
  • Jangan menyimpan antibiotik “sisa” untuk digunakan kembali tanpa konsultasi medis
  • Jangan membeli antibiotik secara bebas tanpa resep — meski hal ini masih sangat umum terjadi di Indonesia
  • Saat berkunjung ke rumah sakit, selalu cuci tangan sebelum masuk, selama, dan setelah keluar dari area rumah sakit
  • Minta tenaga kesehatan yang merawat Anda untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien

Pendekatan “One Health”:

Yang perlu dipahami juga adalah bahwa masalah resistansi antimikroba, termasuk CRE, tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi kesehatan manusia. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di sektor peternakan dan perikanan juga berkontribusi pada perkembangan gen resistensi yang kemudian dapat berpindah ke bakteri patogen pada manusia. Pemerintah Indonesia, bersama FAO, WHO, dan WOAH, telah berupaya mengatasi AMR melalui pendekatan One Health yang mencakup pengendalian penggunaan antimikroba di sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara terintegrasi.

Penutup: Lebih Dekat dari yang Kita Duga

Sepuluh tahun lalu, CRE terasa jauh. Kini, dengan meningkatnya jumlah rumah sakit yang melaporkan bakteri resistan, meningkatnya penggunaan antibiotik di komunitas, dan meluasnya surveilans nasional yang mulai mengungkap data riil, CRE adalah ancaman yang perlu kita hadapi dengan serius dan realistis.

Bagi pasien dan keluarga, pesan utamanya sederhana: gunakan antibiotik secara bijak, patuhi protokol kebersihan tangan di lingkungan rumah sakit, dan jangan ragu menanyakan kepada petugas kesehatan tentang praktik pencegahan infeksi di fasilitas yang Anda kunjungi.

Bagi tenaga kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan, implementasi PPRA yang konsisten, pemeriksaan kultur dan uji kepekaan yang teratur, serta kepatuhan terhadap protokol PPI adalah investasi terpenting dalam menghadapi ancaman ini.

Melawan CRE bukan pekerjaan satu orang atau satu institusi. Ini adalah pekerjaan kita bersama.


Daftar Referensi

Bonnin, R. A., Jeannot, K., Santerre Henriksen, A., Quevedo, J., & Dortet, L. (2024). In vitro activity of cefepime-enmetazobactam on carbapenem-resistant gram negatives. Clinical Microbiology and Infection, 31(2), 240–249. https://doi.org/10.1016/j.cmi.2024.09.031

Kadariswantiningsih, I. N., Empitu, M. A., Idrisov, B., Rampengan, D. D. C. H., & Ramadhan, R. N. (2025). Carbapenem-resistant Enterobacterales (CRE) in Indonesia: protocol for systematic review and meta-analysis. F1000Research, 13, 1244. https://doi.org/10.12688/f1000research.157380.2

Kementerian Kesehatan RI. (2024, September 5). Meredam resistensi antimikroba di rumah sakit. https://kemkes.go.id/id/meredam-resistensi-antimikroba-di-rumah-sakit

Kementerian Kesehatan RI. (2024, September 18). Waspada bakteri kebal antibiotik. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20240918/5246495/waspada-bakteri-kebal-antibiotik/

Kementerian Kesehatan RI. (2024, Agustus 23). Perkuat deteksi resistensi antimikroba. https://kemkes.go.id/id/perkuat-deteksi-resistensi-antimikroba

Ma, J., Song, X., Li, M., Yu, Z., Cheng, W., Yu, Z., Zhang, W., Zhang, Y., Shen, A., Sun, H., & Li, L. (2022). Global spread of carbapenem-resistant Enterobacteriaceae: Epidemiological features, resistance mechanisms, detection and therapy. Microbiological Research, 266, 127249. https://doi.org/10.1016/j.micres.2022.127249

PAMKI. (2024, September 7). Surveilans antimicrobial resistance (AMR). https://pamki.or.id/2024/09/13/surveilans-antimicrobial-resistance-amr-resistensi-antimikroba/

Ren, H., Teng, Y., Xu, Z., Yang, C., Li, J., Wang, J., Huang, J., Zhang, J., Hao, S., Hong, Z., Zhang, Z., & Ren, J. (2026). Enhanced outcomes in bacteremia through rapid phenotype identification of carbapenemase-producing organisms. Surgical Infections. https://doi.org/10.1177/10962964251403441

Rezzoug, I., Ouacel, K., Droit, T., Ronsin, S., Bonnin, R. A., Jousset, A. B., Latour, L., Dortet, L., & Emeraud, C. (2025). Therapeutic challenges in treating ESBL- and/or AmpC-producing non-carbapenemase-producing Enterobacterales: an in vitro evaluation of novel β-lactam/β-lactamase inhibitor combinations and cefiderocol. Journal of Antimicrobial Chemotherapy, 80(12), 3297–3305. https://doi.org/10.1093/jac/dkaf364

Wang, Q., Wang, R., Wang, S., Zhang, A., Duan, Q., Sun, S., Jin, L., Wang, X., Zhang, Y., Wang, C., Kang, H., Zhang, Z., Liao, K., Guo, Y., Jin, L., Liu, Z., Yang, C., & Wang, H. (2024). Expansion and transmission dynamics of high risk carbapenem-resistant Klebsiella pneumoniae subclones in China: An epidemiological, spatial, genomic analysis. Drug Resistance Updates, 74, 101083. https://doi.org/10.1016/j.drup.2024.101083

World Health Organization. (2024). WHO bacterial priority pathogens list, 2024: Bacterial pathogens of public health importance to guide research, development and strategies to prevent and control antimicrobial resistance. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789240093461


Artikel ini disusun untuk keperluan edukasi kesehatan masyarakat dan bukan merupakan nasihat medis individual. Untuk kondisi kesehatan spesifik, konsultasikan dengan tenaga kesehatan Anda.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Rajinah binti Tatih Avatar
    Rajinah binti Tatih

    Assalam…sy mau tanya..suami saya baru saja didiagnosiskan cre 2 hari yang lalu dan sekarang dikuarantinkan…mau tanya kalau cre ini boleh sembuh seperti biasa…tolong dijawab yaa…

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Ibu, saya khawatir bahwa saya tidak memiliki kompetensi untuk menjawab pertanyaan ibu. Karena situasi serta harapan pengobatan terhadap infeksi CRE sangat bergantung pada pasien dan kemampuan fasilitas medis yang merawat pasien. Silakan ibu tetap mengikuti petunjuk dokter atau pihak yang berwenang di sana, dan saya turut berdoa, semoga dapat diberikan kesembuhan.

      Suka

Tinggalkan komentar