A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebagai penulis blog, spam atau pesan sampah tentu menjengkal, namun mencegah spam dengan teknologi captcha malah bisa membuat jengkel pembaca blog yang ingin meninggalkan komentar. Sebelum diambil alih Google, reCaptcha adalah teknologi captcha yang paling saya gemari, namun setelah menggunakan Disqus, saya sudah lama sekali tidak melirik reCaptcha.

Ternyata reCaptcha di bawah Google sudah menghasilkan teknologi penangkal spam yang lebih “asik”, baik bagi penulis, pembaca, maupun teknologi mobile reader seperti smartphone. Teknologi ini menjadikan ramah recaptcha sistem antispam yang ramah bagi semuan. Anda mungkin pernah berpikir, betapa sulitnya meninggalkan komentar pada blog yang menggunakan captcha ketika berselancar dengan ponsel? Inilah yang hendak dijawab oleh teknologi baru “noCaptcha reCaptcha“.

noCaptcha reCaptcha
Cuplikan salah satu fitur noCaptcha reCaptcha dari Google.

Pada awalnya, pengguna hanya perlu melakukan klik pada kotak dengan keterangan “I’m not a robot“, menyatakan bahwa pengirim komentar bukanlah robot yang gemar memborbardir formulir komentar dengan spam. Lalu, jika ada indikasi meragukan, maka barulah reCaptha keluar dan memperlihatkan tantangannya, jika tidak, maka klik itu sendiri sudah cukup.

Saya sendiri mempergunakan fitur ini untuk bagian pelanggan blog, sehingga yang mendaftar bukanlah mesin, tapi memang manusia.

Yang perlu menjadi catatan adalah, captcha ditujukan utamanya untuk membedakan antara mesin dan manusia. Sebuah tantangan yang diharapkan hanya bisa dilengkapi oleh manusia.

Pengguna blog wordpress bisa mendapatkan sejumlah plugin untuk ini di halaman koleksi plugin. Tinggal memasang dan mendaftar di website recaptcha yang berada di bawah domain Google.

 

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca