A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebagai penulis blog, spam atau pesan sampah tentu menjengkal, namun mencegah spam dengan teknologi captcha malah bisa membuat jengkel pembaca blog yang ingin meninggalkan komentar. Sebelum diambil alih Google, reCaptcha adalah teknologi captcha yang paling saya gemari, namun setelah menggunakan Disqus, saya sudah lama sekali tidak melirik reCaptcha.

Ternyata reCaptcha di bawah Google sudah menghasilkan teknologi penangkal spam yang lebih “asik”, baik bagi penulis, pembaca, maupun teknologi mobile reader seperti smartphone. Teknologi ini menjadikan ramah recaptcha sistem antispam yang ramah bagi semuan. Anda mungkin pernah berpikir, betapa sulitnya meninggalkan komentar pada blog yang menggunakan captcha ketika berselancar dengan ponsel? Inilah yang hendak dijawab oleh teknologi baru “noCaptcha reCaptcha“.

noCaptcha reCaptcha
Cuplikan salah satu fitur noCaptcha reCaptcha dari Google.

Pada awalnya, pengguna hanya perlu melakukan klik pada kotak dengan keterangan “I’m not a robot“, menyatakan bahwa pengirim komentar bukanlah robot yang gemar memborbardir formulir komentar dengan spam. Lalu, jika ada indikasi meragukan, maka barulah reCaptha keluar dan memperlihatkan tantangannya, jika tidak, maka klik itu sendiri sudah cukup.

Saya sendiri mempergunakan fitur ini untuk bagian pelanggan blog, sehingga yang mendaftar bukanlah mesin, tapi memang manusia.

Yang perlu menjadi catatan adalah, captcha ditujukan utamanya untuk membedakan antara mesin dan manusia. Sebuah tantangan yang diharapkan hanya bisa dilengkapi oleh manusia.

Pengguna blog wordpress bisa mendapatkan sejumlah plugin untuk ini di halaman koleksi plugin. Tinggal memasang dan mendaftar di website recaptcha yang berada di bawah domain Google.

 

Artikel Baru Terbit

  • What the Elder Leaves Unsaid
    What does a wise elder truly leave the young? Not rules, but roots. Drawing from Wulangreh, Kalatidha, Confucius, Laozi, Rumi, the Dhammapada, and Marcus Aurelius, this essay follows a bronze-caster and his apprentice toward one quiet truth: the deepest teaching asks to be forgotten, so the student can call it their own.
  • The Empu’s Three Counsels
    A Javanese keris-smith teaches his apprentice that mind, heart, and instinct are not rivals for a single throne but three voices folded into one blade through practice. Drawing on Stoicism, Sufism, Taoism, the Gita, and Javanese rasa, this essay argues the true answer is formation, not choice — a self patient enough to let all three disagree until they forge something stronger together.
  • SADARI: Periksa Payudara Sendiri, Apa Kata Bukti Ilmiah Terbaru?
    SADARI membantu perempuan mengenali kondisi normal payudaranya sendiri, meski uji klinis besar menunjukkan metode ini tak terbukti menurunkan angka kematian akibat kanker payudara. Di Indonesia, dengan akses mamografi yang masih terbatas, SADARI tetap bernilai sebagai langkah kewaspadaan awal—asalkan selalu diikuti pemeriksaan klinis profesional saat ditemukan kelainan, bukan sebagai pengganti skrining medis sesungguhnya.
  • The TAME Trial: Bisakah Obat Diabetes Lawas Memperpanjang Usia Manusia?
    Metformin, obat diabetes murah berusia puluhan tahun, tengah diuji lewat TAME trial untuk mengetahui apakah ia bisa memperlambat penuaan biologis dan menunda penyakit terkait usia. Bukti dari hewan menjanjikan, tetapi bukti manusia masih observasional. Pakar sepakat: terlalu dini merekomendasikan metformin untuk anti-penuaan pada orang sehat; gaya hidup sehat tetap strategi utama.
  • Benarkah Generasi Sebelum Baby Boomer Lebih Sehat dan Aktif di Usia Tua? Membedah Klaim yang Sering Beredar
    Klaim bahwa generasi sebelum baby boomer lebih sehat dan aktif hingga lansia sebagian besar adalah mitos akibat survivorship bias — kita hanya mengenang yang bertahan. Namun, riset gerontologi terbaru dan data SKI 2023 menunjukkan kekhawatiran nyata: usia harapan hidup Indonesia meningkat, tetapi beban penyakit tidak menular turut melebar, sehingga tahun hidup tambahan tidak selalu berarti tahun yang sehat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca