A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayangkan seseorang di depan Anda tiba-tiba bicara tidak jelas, satu sisi wajahnya tampak turun, dan lengannya tidak mampu terangkat. Apa yang harus Anda lakukan? Apakah menusuk jari tangannya dengan jarum? Memberinya minum air hangat? Atau segera menghubungi layanan darurat?

Bagi banyak orang Indonesia, momen seperti ini bisa berakhir dengan keputusan yang justru memperburuk kondisi penderita karena ketidaktahuan. Padahal, stroke adalah keadaan darurat medis yang paling bergantung pada kecepatan dan ketepatan respons awal sebelum tim medis tiba.

Artikel ini membahas secara tuntas apa yang perlu dilakukan, dan yang tidak boleh dilakukan, saat seseorang mengalami gejala stroke, berdasarkan pengetahuan ilmiah terkini.

Mengapa Stroke Layak Mendapat Perhatian Serius

Stroke adalah kondisi gangguan aliran darah ke otak, baik akibat penyumbatan pembuluh darah (stroke iskemik) maupun pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Dalam kedua kasus, sel-sel otak mulai mati karena tidak mendapat pasokan oksigen dan glukosa yang cukup.

Di tingkat global, stroke menempati posisi sebagai penyebab kematian kedua terbanyak di dunia setelah penyakit jantung. Berdasarkan Global Burden of Disease Study 2021 yang dipublikasikan di The Lancet, stroke menyebabkan 160,4 juta disability-adjusted life years (DALY) secara global pada tahun 2021, menjadikannya salah satu penyakit paling membebani umat manusia (GBD 2021 Collaborators, 2024).

Di Indonesia, situasinya tidak kalah mengkhawatirkan. Menurut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Stroke juga merupakan salah satu penyakit katastropik dengan pembiayaan tertinggi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker, yaitu mencapai Rp5,2 triliun pada 2023 (Kemenkes RI, 2024).

Kajian epidemiologi stroke di Asia yang diterbitkan pada 2025 menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan angka kematian akibat stroke yang tinggi di kawasan Asia Tenggara (Venketasubramanian, 2025). Stroke iskemik merupakan subtipe yang paling banyak terjadi, diikuti perdarahan intracerebral dan perdarahan subarachnoid. Data Riskesdas 2018 menunjukkan stroke iskemik mencakup sekitar 80–85% dari seluruh kasus stroke di Indonesia.

Ironisnya, 90% penyakit stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dislipidemia, gangguan jantung, kurangnya aktivitas fisik, diet yang tidak sehat, stres, serta konsumsi alkohol (Kemenkes RI, 2024). Sayangnya, ketika stroke sudah terjadi, penanganan pra-rumah sakit yang tepat menjadi kunci penentu apakah seseorang bisa selamat tanpa kecacatan berat.

Dua Jenis Stroke dan Mengapa Bedanya Penting

Sebelum membahas pertolongan pertama, penting untuk memahami bahwa stroke terbagi dalam dua kategori besar yang memerlukan penanganan medis yang berbeda.

Stroke Iskemik terjadi ketika pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otak tersumbat oleh gumpalan darah (trombus atau embolus). Ini adalah jenis yang paling umum. Pada stroke iskemik, ada kemungkinan pemulihan jaringan otak yang belum mati namun mengalami kekurangan pasokan darah (zona yang disebut ischaemic penumbra), sehingga waktu penanganan sangat menentukan.

Stroke Hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah dan menyebabkan perdarahan di dalam atau di sekitar jaringan otak. Meskipun lebih jarang, stroke hemoragik cenderung lebih mematikan. Prinsip penanganan awalnya berbeda secara fundamental dengan stroke iskemik.

Selain dua jenis utama tersebut, terdapat pula Transient Ischemic Attack (TIA) atau yang sering disebut “stroke mini”. TIA terjadi ketika suplai darah ke otak terganggu sementara, dengan gejala yang biasanya mereda dalam hitungan menit hingga jam tanpa meninggalkan kerusakan permanen. Namun jangan salah, TIA adalah tanda peringatan keras bahwa stroke besar bisa terjadi dalam waktu dekat dan harus segera ditangani secara medis.

Mengenali Gejala Stroke: Metode FAST dan Perkembangannya

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan stroke adalah keterlambatan pengenalan gejala. Berbeda dengan serangan jantung yang biasanya disertai nyeri dada yang dramatis, gejala stroke bisa tampak subtil atau bahkan disalahartikan sebagai kondisi lain.

Metode FAST

Metode yang paling umum dan mudah diingat untuk mengenali stroke adalah akronim FAST:

F – Face (Wajah): Mintalah orang tersebut untuk tersenyum. Apakah satu sisi wajahnya tampak turun atau tidak simetris? Apakah sudut mulutnya miring ke satu sisi?

A – Arms (Lengan): Mintalah orang tersebut untuk mengangkat kedua lengannya ke depan dengan mata tertutup. Apakah salah satu lengan melayang turun atau tidak bisa diangkat sama sekali?

S – Speech (Bicara): Mintalah orang tersebut untuk mengulang kalimat sederhana. Apakah bicaranya cadel, tidak jelas, atau sama sekali tidak bisa berbicara?

T – Time (Waktu): Jika salah satu atau lebih dari tanda di atas terlihat, segera hubungi layanan darurat. Catat waktu kapan gejala pertama kali muncul. Informasi ini sangat penting bagi tim medis.

Perkembangan ke BE-FAST

Komunitas medis kini semakin mendorong penggunaan versi yang diperluas, yakni BE-FAST, yang menambahkan dua elemen di depan FAST:

B – Balance (Keseimbangan): Apakah orang tersebut tiba-tiba kehilangan keseimbangan, sempoyongan, atau tidak bisa berdiri tegak?

E – Eyes (Mata): Apakah ia mengeluh penglihatan mendadak kabur, ganda, atau hilang di satu atau kedua mata?

Penambahan komponen B dan E ini penting karena gejala gangguan keseimbangan dan penglihatan sering menjadi tanda stroke yang mengenai pembuluh darah sirkulasi posterior (batang otak dan serebelum), yang seringkali lebih lambat dikenali dibandingkan stroke sirkulasi anterior.

Gejala Tambahan yang Perlu Diwaspadai

Di luar FAST atau BE-FAST, stroke juga bisa ditandai oleh sakit kepala yang sangat hebat dan mendadak tanpa sebab yang jelas (terutama pada stroke hemoragik), mual dan muntah mendadak, serta kebingungan akut atau hilangnya kesadaran. Gejala-gejala ini kerap diabaikan atau dianggap sebagai masalah lain.

Penelitian diagnostik menunjukkan bahwa skala prehospital berbasis gejala, termasuk yang menggunakan parameter tambahan seperti refleks gerak mata (gaze deviation), memiliki akurasi lebih baik dalam mengidentifikasi jenis stroke berat, termasuk large vessel occlusion (LVO) yang memerlukan tindakan mekanikal trombektomi (El Koussa et al., 2022; Baratloo et al., 2023).

“Time Is Brain”: Mengapa Setiap Detik Benar-Benar Berharga

Frasa medis “time is brain” bukan sekadar slogan. Secara biologis, ketika otak kekurangan aliran darah, sekitar 1,9 juta sel saraf mati setiap menitnya. Dalam hitungan jam, kerusakan bisa bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan.

Ini menjadikan stroke berbeda dari hampir semua kedaruratan medis lainnya: kecepatan bukan hanya mempengaruhi prognosis, ia menentukan apakah seseorang akan hidup, pulih sempurna, atau hidup dengan kecacatan seumur hidup.

Terapi Trombolitik: Jendela Waktu yang Sempit

Pada stroke iskemik, terapi utama yang tersedia adalah pemberian obat trombolitik seperti alteplase (tPA) yang dapat menghancurkan bekuan darah. Selama bertahun-tahun, jendela waktu standar pemberian tPA adalah 4,5 jam sejak gejala pertama muncul. Di luar waktu itu, risiko perdarahan intrakranial akibat terapi melebihi manfaatnya pada sebagian besar pasien.

Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan di Folia Neuropathologica (2022) menyimpulkan bahwa penerapan sistem kedaruratan pra-rumah sakit yang terstruktur secara signifikan mengurangi waktu dari pintu ke pemberian terapi trombolitik (door-to-needle time, DNT), menurunkan angka kecacatan, dan menekan angka kematian dibandingkan dengan pendekatan konvensional (Zhu et al., 2022).

Perkembangan Terkini: Jendela Waktu yang Diperluas

Kabar baiknya, ilmu pengetahuan terus berkembang. Ulasan komprehensif yang diterbitkan di The Lancet pada 2024 menggarisbawahi beberapa pembaruan penting dalam tata laksana stroke akut (Hilkens et al., 2024): tenekteplase kini diakui sebagai alternatif yang aman dan efektif menggantikan alteplase untuk trombolitik intravena; dan indikasi endovascular thrombectomy (trombektomi mekanis) kini diperluas hingga 24 jam sejak onset untuk pasien dengan oklusi pembuluh darah besar (large vessel occlusion), termasuk yang dengan inti infark yang lebih besar.

Bahkan, sebuah uji klinis yang diterbitkan di New England Journal of Medicine (2025) menemukan bahwa pemberian alteplase pada stroke iskemik sirkulasi posterior dalam rentang 4,5 hingga 24 jam sejak onset memberikan hasil functional independence yang lebih baik di hari ke-90 dibandingkan terapi standar tanpa trombolitik (Yan et al., 2025).

Artinya, meskipun semakin cepat penanganan selalu lebih baik, kini ada lebih banyak harapan bagi pasien yang tiba di rumah sakit dalam rentang waktu yang lebih panjang. Namun semua ini hanya mungkin jika pasien berhasil tiba di rumah sakit stroke tepat waktu — dan itu dimulai dari pertolongan pertama yang benar di tempat kejadian.

Langkah-Langkah Pertolongan Pertama yang Tepat

1. Tetap Tenang dan Nilai Situasi

Kepanikan menghalangi pengambilan keputusan yang baik. Tarik napas, nilai kondisi korban secara cepat menggunakan metode FAST, dan segera putuskan apakah ini memang darurat stroke.

2. Hubungi Layanan Darurat Segera

Ini adalah langkah paling penting. Di Indonesia, segera hubungi 119 (layanan gawat darurat nasional) atau 112 (nomor darurat terpadu). Beritahukan lokasi dengan jelas, jelaskan gejala yang Anda amati, dan sebutkan kapan gejala mulai muncul. Jangan tunda menelepon dengan alasan “menunggu lihat dulu apakah membaik”. Gejala stroke harus selalu dianggap serius sampai terbukti sebaliknya oleh tenaga medis.

3. Catat Waktu Onset

Begitu Anda menyadari gejala stroke, catat tepat jam berapa gejala pertama kali muncul atau terakhir kali korban tampak normal. Informasi ini adalah salah satu penentu utama apakah korban memenuhi syarat untuk mendapatkan terapi trombolitik di rumah sakit.

4. Posisikan Korban dengan Benar

Jika korban masih sadar, baringkan dengan posisi recovery position (miring ke satu sisi, idealnya ke sisi tubuh yang sehat), dengan kepala dan bahu sedikit lebih tinggi dari tubuh. Posisi ini membantu mencegah tersedak jika korban muntah, sekaligus mengoptimalkan aliran darah ke otak. Longgarkan pakaian yang ketat, kancing baju, ikat pinggang, atau dasi agar korban dapat bernapas dengan lebih leluasa. Jika korban merasa kedinginan, selimuti tubuhnya.

5. Pantau Pernapasan dan Tingkat Kesadaran

Pantau terus kondisi korban sambil menunggu ambulans. Periksa apakah pernapasannya teratur. Perhatikan apakah terjadi perburukan gejala, misalnya penurunan kesadaran yang lebih dalam.

6. Lakukan CPR Jika Diperlukan

Jika korban tidak sadar dan tidak ada tanda-tanda pernapasan, segera lakukan resusitasi kardiopulmoner (RJP atau cardiopulmonary resuscitation/CPR) sambil terus menunggu bantuan datang. Panduan CPR saat ini merekomendasikan 30 kompresi dada dilanjutkan 2 napas buatan untuk orang dewasa yang terlatih, atau hanya kompresi dada saja (hands-only CPR) bagi yang tidak terlatih memberikan bantuan napas.

7. Jangan Tinggalkan Korban

Tetaplah bersama korban, terus pantau kondisinya, dan laporkan setiap perubahan kepada petugas medis ketika mereka tiba. Korban stroke bisa mengalami perburukan mendadak.

Mitos Berbahaya: Apa yang Tidak Boleh Dilakukan

Sayangnya, di masyarakat Indonesia masih banyak beredar kepercayaan yang tidak hanya tidak efektif, tetapi secara aktif membahayakan jiwa penderita stroke. Berikut adalah beberapa mitos yang harus segera diluruskan.

Mitos 1: Menusuk Jari atau Daun Telinga dengan Jarum

Ini adalah salah satu mitos paling berbahaya yang masih tersebar luas, terutama di media sosial. Tidak ada bukti ilmiah apa pun yang mendukung bahwa menusuk jari tangan atau daun telinga dapat membantu pemulihan stroke. Jauh dari membantu, tindakan ini membuang waktu emas yang seharusnya digunakan untuk membawa korban ke rumah sakit. Selain itu, jarum yang tidak steril meningkatkan risiko infeksi.

Mitos 2: Memberikan Aspirin atau Obat Lain

Banyak orang berargumen bahwa aspirin “mengencerkan darah” sehingga baik untuk stroke. Ini keliru dan berpotensi fatal. Aspirin hanya bermanfaat pada stroke iskemik, namun tidak ada cara untuk membedakan stroke iskemik dari hemoragik tanpa pemeriksaan pencitraan otak. Memberikan aspirin pada stroke hemoragik justru dapat memperburuk perdarahan secara dramatis. Jangan berikan aspirin atau obat apa pun tanpa saran medis (Hilkens et al., 2024).

Mitos 3: Memberikan Makan atau Minum

Stroke seringkali mengganggu kemampuan menelan. Memberikan makanan atau minuman, bahkan cairan sekalipun, dapat meningkatkan risiko korban tersedak yang kemudian berujung pada aspirasi ke paru-paru dan komplikasi serius. Tidak ada makanan atau minuman yang perlu atau boleh diberikan sebelum korban dievaluasi oleh tenaga medis.

Mitos 4: Memijat Leher atau Kepala

Memijat area leher pada penderita stroke sangat tidak disarankan. Manipulasi mekanis pada pembuluh darah karotis di leher berpotensi menyebabkan atau memperburuk diseksi pembuluh darah, yang dapat memperparah stroke iskemik.

Mitos 5: Membiarkan Korban Tidur Sampai “Sadarkan Diri”

Pada stroke hemoragik atau stroke dengan gangguan kesadaran, membiarkan korban tidur tanpa penanganan bisa berarti membiarkan perdarahan di otak terus meluas. Penurunan kesadaran bukan tanda pemulihan, melainkan tanda perburukan yang memerlukan respons segera.

Mitos 6: Menunggu Gejala Mereda Sendiri

Ini berlaku khusus untuk TIA. Banyak orang yang mengalami TIA merasa lega ketika gejala mereda dalam beberapa menit dan memutuskan untuk tidak ke rumah sakit. Padahal, meskipun gejala terjadi sementara, penderita TIA tetap berisiko mengalami stroke besar atau kerusakan otak permanen jika penanganannya kurang tepat. Risiko terjadinya stroke besar dalam 90 hari setelah TIA cukup tinggi, dan sebagian besar terjadi dalam 48 jam pertama.

TIA: “Stroke Mini” yang Tidak Boleh Diabaikan

Transient Ischemic Attack (TIA) adalah kondisi yang secara klinis menyerupai stroke namun gejala neurologisnya mereda dalam waktu singkat, umumnya kurang dari 24 jam dan biasanya dalam hitungan menit. Meski demikian, TIA harus diperlakukan setara dengan stroke penuh karena merupakan pertanda risiko tinggi stroke besar yang akan datang.

Penanganan TIA berfokus pada pencegahan sekunder yang agresif: identifikasi dan koreksi faktor risiko vaskular, pemberian antiplatelet (seperti aspirin atau kombinasinya dengan klopidogrel), pengelolaan tekanan darah, serta dalam kasus tertentu, tindakan revaskularisasi seperti carotid endarterectomy. Jika seseorang mengalami episode singkat gejala seperti FAST yang kemudian membaik sendiri, ia tetap harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk evaluasi, bukan ditunggu di rumah.

Apa yang Terjadi di Rumah Sakit: Gambaran Penanganan Medis

Begitu tiba di unit gawat darurat, tim medis akan melakukan penilaian cepat dengan skala NIHSS (National Institutes of Health Stroke Scale), pencitraan otak (CT scan untuk menyingkirkan hemoragik, atau MRI untuk evaluasi lebih detail), serta pemeriksaan penunjang lainnya.

Pada stroke iskemik yang memenuhi syarat, pemberian alteplase atau tenekteplase intravena dapat dilakukan dalam jendela 4,5 jam sejak onset. Untuk pasien dengan oklusi pembuluh darah besar (large vessel occlusion), trombektomi mekanikal dapat dilakukan hingga 24 jam setelah onset pada pasien yang dipilih dengan tepat menggunakan pencitraan perfusi.

Di Indonesia, penanganan stroke di rumah sakit didukung oleh program JKN/BPJS Kesehatan yang menjamin terapi stroke sebagai kondisi katastrofik. Namun keterbatasan akses terhadap rumah sakit dengan fasilitas stroke unit dan trombektomi mekanis masih menjadi tantangan nyata di banyak daerah. Inilah mengapa kecepatan dan ketepatan pertolongan pertama oleh masyarakat menjadi sangat krusial.

Pencegahan: Strategi Terbaik Adalah Jangan Sampai Terkena Stroke

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Berdasarkan pernyataan Kemenkes RI, aktivitas fisik yang dilakukan selama minimal 30 menit dan 5 kali dalam seminggu dapat menurunkan faktor risiko stroke sebesar 25% (Kemenkes RI, 2024).

Faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi mencakup: hipertensi (penyebab risiko utama), diabetes melitus, dislipidemia, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, fibrilasi atrium, dan kurang aktivitas fisik. Pengendalian tekanan darah secara konsisten terbukti paling efektif menurunkan risiko stroke.

Capaian deteksi dini stroke di Indonesia baru mencapai sekitar 11,3% dari target yang ditetapkan pemerintah (Kemenkes RI, 2024). Masyarakat dianjurkan untuk rutin memeriksakan tekanan darah, gula darah, dan profil lipid — minimal setiap enam bulan bagi usia di atas 40 tahun, atau lebih sering jika sudah memiliki faktor risiko. Pemeriksaan ini tersedia di Puskesmas dalam program FKTP/JKN tanpa biaya tambahan bagi peserta aktif BPJS Kesehatan.

Kesimpulan: Ketahui, Kenali, Bertindak

Stroke adalah kedaruratan medis yang berpacu dengan waktu. Semakin cepat korban mendapat pertolongan yang tepat, semakin besar peluang pemulihan yang optimal dan semakin kecil risiko kecacatan permanen.

Tiga hal yang perlu selalu diingat: Pertama, kenali tanda stroke menggunakan metode BE-FAST dan jangan ragu bertindak meski belum yakin. Kedua, segera hubungi layanan darurat (119/112) dan catat waktu onset gejala — ini lebih penting dari tindakan apa pun yang bisa Anda lakukan sendiri. Ketiga, hindari mitos berbahaya seperti tusuk jarum, pemberian aspirin atau minuman, serta pemijatan leher — semua itu membuang waktu emas dan berisiko memperparah kondisi.

Dengan pengetahuan yang benar, Anda bisa menjadi penentu antara kehidupan yang pulih sempurna dan kecacatan permanen bagi orang-orang terkasih di sekitar Anda.


Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi atau pemeriksaan langsung oleh tenaga medis profesional. Jika Anda atau seseorang di sekitar Anda mengalami gejala stroke, segera hubungi layanan darurat.


Referensi

Baratloo, A., Ramezani, M., Rafiemanesh, H., Sharifi, M., & Karimi, S. (2023). A nomogram-based clinical tool for acute ischemic stroke screening in prehospital setting. Current Journal of Neurology, 22(1), 58–62. https://doi.org/10.18502/cjn.v22i1.12618

El Koussa, R., Linder, S., Quayson, A., Banash, S., MacNeal, J. J., Shah, P., Brenner, M., Levine, R., Zaidat, O. O., & Bansal, V. (2022). mG-FAST, a single pre-hospital stroke screen for evaluating large vessel and non-large vessel strokes. Frontiers in Neurology, 13, 912119. https://doi.org/10.3389/fneur.2022.912119

GBD 2021 Diseases and Injuries Collaborators. (2024). Global incidence, prevalence, years lived with disability (YLDs), disability-adjusted life-years (DALYs), and healthy life expectancy (HALE) for 371 diseases and injuries in 204 countries and territories, 1990–2021: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2021. The Lancet, 403(10440), 2133–2161. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)00757-8

Hilkens, N. A., Casolla, B., Leung, T. W., & de Leeuw, F.-E. (2024). Stroke. The Lancet, 403(10446), 2820–2836. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)00642-1

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, Oktober 25). Cegah stroke dengan aktivitas fisik. https://kemkes.go.id/eng/cegah-stroke-dengan-aktivitas-fisik

Venketasubramanian, N. (2025). Stroke epidemiology in Asia. Cerebrovascular Diseases Extra, 15(1), 81–92. https://doi.org/10.1159/000543399

Yan, S., Zhou, Y., Lansberg, M. G., Liebeskind, D. S., Yuan, C., & Lou, M. (2025). Alteplase for posterior circulation ischemic stroke at 4.5 to 24 hours. New England Journal of Medicine, 392(13), 1288–1296. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2413344

Zhu, X., Niu, R., Bai, F., & Zhang, Z. (2022). The application of pre-hospital first aid mode in patients with acute stroke: Meta-analysis. Folia Neuropathologica, 60(3), 284–291. https://doi.org/10.5114/fn.2022.117614

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar