A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pemeriksaan kadar gula darah adalah salah satu prosedur laboratorium yang paling sering dilakukan di fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga unit gawat darurat. Di balik kesederhanaannya, tes ini menyimpan informasi yang sangat penting tentang kondisi metabolisme tubuh seseorang. Dengan terus meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia — dari 10,9% pada Riskesdas 2018 menjadi 11,7% pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 — memahami pemeriksaan ini bukan lagi sekadar urusan tenaga kesehatan. Ini adalah pengetahuan yang perlu dimiliki masyarakat luas.

Artikel ini menjadi panduan menyeluruh tentang berbagai jenis pemeriksaan gula darah: apa tujuannya, bagaimana persiapannya, serta bagaimana membaca artinya — semua berdasarkan panduan klinis terkini, termasuk Konsensus PERKENI 2021 dan American Diabetes Association (ADA) Standards of Care 2025.


Mengapa Pemeriksaan Gula Darah Begitu Penting?

Diabetes melitus adalah beban kesehatan yang nyata bagi Indonesia. Secara global, 589 juta orang hidup dengan diabetes; Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita tertinggi kelima di dunia, sebuah posisi yang tidak menggembirakan. Yang lebih memprihatinkan, sebagian besar penderita diabetes tidak mengetahui kondisinya. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa baru sekitar 25% penderita diabetes di Indonesia yang mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit tersebut.

Situasi ini membuat pemeriksaan gula darah menjadi instrumen deteksi yang sangat vital. Diabetes tipe 2 pada fase awalnya sering tidak bergejala; hanya dengan melakukan pemeriksaan darah, kondisi ini dapat terdeteksi dan ditangani sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih serius.


Glukosa: Bahan Bakar Utama Tubuh

Sebelum membahas jenis-jenis pemeriksaan, penting untuk memahami mengapa kadar glukosa diukur. Glukosa adalah sumber energi utama bagi hampir seluruh sel tubuh dan satu-satunya sumber energi bagi otak dan sistem saraf.

Saat kita makan, karbohidrat dari nasi, roti, buah, dan sumber makanan lainnya dipecah menjadi glukosa di saluran cerna, lalu diserap ke dalam aliran darah. Setelah makan, kadar glukosa darah meningkat, dan pankreas merespons dengan melepaskan insulin — hormon yang berfungsi memindahkan glukosa dari darah ke dalam sel-sel tubuh untuk dijadikan energi, atau ke hati untuk disimpan sebagai glikogen.

Ketika seseorang menderita diabetes, mekanisme ini terganggu. Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak mampu memproduksi insulin yang cukup akibat kerusakan sel-sel penghasil insulin oleh sistem imun tubuh sendiri. Pada diabetes tipe 2 yang jauh lebih umum, sel-sel tubuh mengalami resistensi terhadap insulin, sehingga glukosa menumpuk dalam darah meskipun insulin diproduksi. Penumpukan glukosa jangka panjang inilah yang merusak pembuluh darah, saraf, ginjal, mata, dan jantung.


Jenis-Jenis Pemeriksaan Gula Darah

Tidak ada satu pemeriksaan tunggal yang sempurna untuk semua situasi. Setiap jenis tes memiliki kelebihan, keterbatasan, dan indikasi penggunaannya sendiri.

1. Glukosa Darah Puasa (GDP)

Pemeriksaan glukosa darah puasa (fasting plasma glucose, FPG) dilakukan setelah pasien berpuasa — tidak makan atau minum apa pun selain air putih — minimal 8 jam sebelum pengambilan sampel. Tes ini adalah yang paling umum digunakan untuk skrining dan diagnosis diabetes karena relatif mudah dan terstandarisasi.

Sampel berupa darah vena yang diambil dari pembuluh darah di lengan.

2. Glukosa Darah Sewaktu (GDS)

Pemeriksaan ini dilakukan kapan saja tanpa mempertimbangkan waktu makan terakhir. Sangat berguna dalam kondisi kegawatdaruratan — misalnya pada pasien tidak sadar, kejang, atau hipoglikemia — di mana waktu tidak memungkinkan untuk menunggu periode puasa. Hasilnya harus diinterpretasikan bersama dengan gejala klinis yang ada.

3. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)

Oral Glucose Tolerance Test (OGTT) atau TTGO mengukur kemampuan tubuh dalam memproses glukosa. Prosedurnya: pasien puasa semalam, kemudian diambil sampel darah pertama (saat puasa). Setelah itu pasien diminta minum larutan yang mengandung 75 gram glukosa, dan sampel darah kembali diambil pada menit ke-120 (2 jam setelah minum larutan). Untuk keperluan yang lebih spesifik, sampel tambahan dapat diambil pada jam ke-1 juga.

TTGO direkomendasikan untuk:

  • Penegakan diagnosis pradiabetes dan diabetes ketika hasil GDP borderline atau tidak konsisten
  • Deteksi diabetes gestasional pada ibu hamil (dengan beberapa modifikasi, lihat bagian gestasional di bawah)
  • Pasien dengan faktor risiko tinggi namun GDP normal

Sebagai persiapan TTGO, ADA menganjurkan pasien untuk mengonsumsi makanan dengan kandungan karbohidrat minimal 150 gram per hari selama 3 hari sebelum tes.

4. Hemoglobin Terglikosilasi (HbA1c)

HbA1c (dikenal juga sebagai glycated hemoglobin atau A1c) adalah pemeriksaan yang mengukur persentase hemoglobin dalam sel darah merah yang telah berikatan dengan glukosa. Karena sel darah merah memiliki masa hidup sekitar 120 hari, HbA1c mencerminkan rata-rata paparan glukosa selama rentang hidup eritrosit tersebut, sehingga lebih banyak dipengaruhi oleh kadar glukosa darah dalam beberapa minggu terakhir.

Kelebihan HbA1c:

  • Tidak memerlukan puasa
  • Mencerminkan kontrol glikemik jangka panjang (2–3 bulan)
  • Memiliki variabilitas intra-individu yang lebih rendah dibandingkan pemeriksaan glukosa langsung

Keterbatasan HbA1c:

  • Dapat memberikan hasil tidak akurat pada kondisi tertentu seperti anemia hemolitik, penyakit sel sabit (sickle cell disease), talasemia, atau pada pasien yang menjalani hemodialisis. Pada kondisi seperti penyakit sel sabit, perlu digunakan metode pengujian HbA1c yang tidak dipengaruhi oleh varian hemoglobin.
  • Biaya lebih mahal dan memerlukan alat yang terstandarisasi

Untuk artikel mendalam tentang HbA1c, silakan baca: Pemeriksaan HbA1c pada Penderita Diabetes Melitus.

5. Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM)

Self-Monitoring of Blood Glucose (SMBG) atau PGDM adalah pemeriksaan yang dilakukan sendiri oleh pasien menggunakan glukometer (glucometer) portabel dan strip tes. Alat ini memerlukan setetes darah dari ujung jari yang ditusuk menggunakan lancet kecil.

PGDM memungkinkan pasien diabetes untuk memantau kadar gula darah mereka secara real-time dan menyesuaikan dosis obat, pola makan, serta aktivitas fisik. Panduan PERKENI 2021 menganjurkan PGDM terutama bagi pasien yang menggunakan insulin atau obat pemacu sekresi insulin.

Untuk pembahasan lebih lengkap mengenai PGDM, baca artikel: Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM).

6. Pemantauan Glukosa Berkelanjutan (Continuous Glucose Monitoring, CGM)

CGM merupakan teknologi terkini yang memasang sensor kecil di bawah permukaan kulit (umumnya di perut atau lengan atas) yang mengukur kadar glukosa jaringan secara terus-menerus, biasanya setiap 5–15 menit. Hasilnya ditampilkan secara real-time pada perangkat elektronik atau smartphone.

Ada dua jenis utama CGM yang saat ini tersedia:

  • CGM real-time (real-time CGM, rtCGM): menampilkan data glukosa secara otomatis dan terus-menerus.
  • CGM yang dipindai secara berkala (intermittently scanned CGM, isCGM), seperti FreeStyle Libre: pengguna perlu memindai sensor secara aktif untuk melihat data.

Selama ini CGM terutama digunakan pada diabetes tipe 1. Namun, bukti ilmiah terkini mendukung perluasan penggunaannya. Ulasan di Nature Reviews Endocrinology (2024) menyimpulkan bahwa CGM memiliki nilai klinis yang semakin kuat pada penderita diabetes tipe 2, bahkan pada mereka yang hanya menggunakan insulin basal atau obat non-insulin, dengan potensi meminimalkan hipoglikemia sekaligus memfasilitasi penyesuaian terapi yang lebih efisien.

Sebuah meta-analisis dari 26 uji acak terkontrol yang diterbitkan di Diabetes Care (2024) menemukan bahwa baik CGM maupun isCGM terbukti menurunkan kadar HbA1c pada penderita diabetes tipe 2, dengan isCGM menunjukkan asosiasi yang lebih baik terhadap kepuasan pengguna dibandingkan CGM konvensional.

Penting dicatat bahwa meskipun CGM sangat berguna untuk pemantauan dan manajemen diabetes, hingga saat ini belum terdapat bukti yang cukup untuk mendukung penggunaan CGM sebagai alat skrining atau diagnosis pradiabetes maupun diabetes.

Tes A1C

Kapan Pemeriksaan Gula Darah Diperlukan?

Pemeriksaan dapat dilakukan dalam beberapa skenario:

Skrining pada orang tanpa gejala. Pedoman ADA 2025 merekomendasikan skrining diabetes dan pradiabetes pada semua orang dewasa dengan kelebihan berat badan atau obesitas yang memiliki satu atau lebih faktor risiko, serta pada semua orang dewasa mulai usia 35 tahun meskipun tidak ada faktor risiko, dengan pengulangan setiap 3 tahun jika hasilnya normal.

Faktor risiko yang dimaksud antara lain: riwayat keluarga dengan diabetes, riwayat diabetes gestasional, tekanan darah tinggi (≥130/80 mmHg), dislipidemia, sindrom ovarium polikistik, serta kurang aktivitas fisik.

Pada orang dengan gejala. Gejala khas hiperglikemia meliputi:

  • Sering buang air kecil (poliuria)
  • Sering merasa haus (polidipsia)
  • Sering merasa lapar meski sudah makan (polifagia)
  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
  • Mudah lelah, pandangan kabur, infeksi yang lambat sembuh, atau kesemutan pada kaki dan tangan

Pada kondisi darurat. Pemeriksaan gula darah sewaktu wajib dilakukan pada pasien dengan penurunan kesadaran, kejang, atau kolaps untuk menentukan apakah hipoglikemia atau hiperglikemia berperan sebagai penyebab.

Pemantauan rutin pada penderita diabetes. Frekuensi pemantauan disesuaikan dengan jenis pengobatan, target glikemik, dan kondisi pasien.

Pada ibu hamil. Skrining diabetes gestasional direkomendasikan pada usia kehamilan 24–28 minggu untuk semua wanita hamil yang belum diketahui memiliki diabetes sebelumnya.


Interpretasi Hasil Pemeriksaan

Tabel-tabel berikut merangkum kriteria diagnosis berdasarkan panduan ADA 2025 dan Konsensus PERKENI 2021.

Kriteria Diagnosis untuk Orang Dewasa (Non-Kehamilan)

PemeriksaanNormalPradiabetesDiabetes
Glukosa Darah Puasa (GDP)< 100 mg/dL100–125 mg/dL≥ 126 mg/dL
Glukosa 2 Jam TTGO (75 g glukosa)< 140 mg/dL140–199 mg/dL≥ 200 mg/dL
Glukosa Darah Sewaktu (GDS) + gejala≥ 200 mg/dL
HbA1c< 5,7%5,7%–6,4%≥ 6,5%

Catatan penting:

  • Untuk menegakkan diagnosis diabetes tanpa gejala khas, diperlukan dua hasil abnormal dari dua pemeriksaan berbeda (atau dua kali pemeriksaan yang sama pada waktu berbeda).
  • Jika terdapat gejala khas hiperglikemia, satu hasil pemeriksaan yang memenuhi ambang batas sudah cukup untuk menegakkan diagnosis.
  • Perlu diperhatikan bahwa WHO dan beberapa organisasi diabetes mendefinisikan batas bawah gangguan glukosa puasa (impaired fasting glucose, IFG) pada nilai 110 mg/dL, sementara ADA menggunakan 100 mg/dL. PERKENI mengacu pada standar ADA.
  • Pemeriksaan HbA1c harus dilakukan di laboratorium menggunakan metode yang tersertifikasi oleh National Glycohemoglobin Standardization Program (NGSP).

Tentang Pradiabetes: Bukan Sekadar “Hampir Diabetes”

Pradiabetes bukanlah kondisi yang bisa diabaikan. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan di JAMA (2023) menyimpulkan bahwa pradiabetes berhubungan dengan peningkatan risiko kematian dan kejadian kardiovaskular; sekitar 10% orang dengan pradiabetes berkembang menjadi diabetes setiap tahunnya.

Kabar baiknya, pradiabetes dapat dicegah berkembang menjadi diabetes. Modifikasi gaya hidup intensif — berupa pembatasan kalori, peningkatan aktivitas fisik (setidaknya 150 menit per minggu), serta dukungan motivasi — terbukti menurunkan kejadian diabetes sebesar 6,2 kasus per 100 orang selama 3 tahun.


Kriteria Diagnosis Diabetes Gestasional

Pemeriksaan gula darah pada kehamilan mengikuti protokol khusus karena perubahan fisiologis kehamilan memengaruhi kadar glukosa. Prosedur baku internasional saat ini menggunakan TTGO 75 gram glukosa pada usia kehamilan 24–28 minggu untuk wanita yang belum diketahui memiliki diabetes sebelumnya.

Waktu Pengambilan SampelAmbang Batas Diagnosis
Puasa (sebelum minum larutan glukosa)≥ 92 mg/dL (5,1 mmol/L)
1 jam setelah minum larutan glukosa≥ 180 mg/dL (10,0 mmol/L)
2 jam setelah minum larutan glukosa≥ 153 mg/dL (8,5 mmol/L)

Berbeda dengan diagnosis diabetes pada orang dewasa bukan hamil, pada diabetes gestasional satu nilai yang memenuhi atau melebihi ambang batas di atas sudah cukup untuk menegakkan diagnosis. Kriteria ini ditetapkan oleh International Association of Diabetes in Pregnancy Study Groups (IADPSG) dan telah diadopsi oleh WHO (2013) serta PERKENI.


Kondisi Lain yang Dapat Mempengaruhi Kadar Glukosa

Kadar glukosa darah yang tinggi tidak selalu berarti diabetes. Sejumlah kondisi lain dapat menyebabkan hiperglikemia, antara lain:

  • Stres akut (respons terhadap trauma, infeksi berat, serangan jantung, atau stroke)
  • Penggunaan kortikosteroid atau obat-obatan tertentu
  • Pankreatitis atau kanker pankreas
  • Akromegali dan sindrom Cushing
  • Hipertiroidisme
  • Gangguan ginjal kronis

Sebaliknya, kadar glukosa yang rendah (hipoglikemia, biasanya < 70 mg/dL) dapat terjadi pada:

  • Dosis insulin atau obat diabetes yang berlebihan
  • Puasa atau konsumsi makanan yang terlalu sedikit
  • Olahraga fisik berat yang tidak diimbangi asupan karbohidrat
  • Penyakit hati berat
  • Insulinoma (tumor penghasil insulin)
  • Konsumsi alkohol berlebihan

Hipoglikemia berat dapat mengancam jiwa karena otak tidak memiliki cadangan glukosa sendiri. Gejala awalnya berupa gemetar, keringat dingin, jantung berdebar, dan rasa lapar; jika tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi kebingungan, kejang, bahkan koma.


Ringkasan

Pemeriksaan gula darah adalah alat diagnostik yang kuat namun perlu digunakan dengan tepat. Memilih jenis pemeriksaan yang sesuai, mempersiapkan pasien dengan benar, dan menginterpretasikan hasil dengan mempertimbangkan konteks klinis adalah kunci. Bagi masyarakat umum, pesan utamanya sederhana: jika Anda berusia di atas 35 tahun, atau memiliki faktor risiko diabetes, periksalah kadar gula darah Anda — bahkan jika tidak ada keluhan apapun. Diabetes sering diam-diam merusak sebelum sempat disadari.


Referensi

American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2025). 2. Diagnosis and classification of diabetes: Standards of Care in Diabetes—2025. Diabetes Care, 48(Supplement 1), S27–S49. https://doi.org/10.2337/dc25-S002

American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2026). 2. Diagnosis and classification of diabetes: Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care, 49(Supplement 1), S27–S49. https://doi.org/10.2337/dc26-S002

Ajjan, R. A., Battelino, T., Cos, X., Del Prato, S., Philips, J. C., Meyer, L., Seufert, J., & Seidu, S. (2024). Continuous glucose monitoring for the routine care of type 2 diabetes mellitus. Nature Reviews Endocrinology, 20(7), 426–440. https://doi.org/10.1038/s41574-024-00973-1

Echouffo-Tcheugui, J. B., Perreault, L., Ji, L., & Dagogo-Jack, S. (2023). Diagnosis and management of prediabetes: A review. JAMA, 329(14), 1206–1216. https://doi.org/10.1001/jama.2023.4063

International Diabetes Federation. (2025). IDF Diabetes Atlas, 11th edition. International Diabetes Federation. https://diabetesatlas.org/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Kementerian Kesehatan RI.

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). (2021). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia 2021. PB PERKENI.

Seidu, S., Kunutsor, S. K., Ajjan, R. A., & Choudhary, P. (2024). Efficacy and safety of continuous glucose monitoring and intermittently scanned continuous glucose monitoring in patients with type 2 diabetes: A systematic review and meta-analysis of interventional evidence. Diabetes Care, 47(1), 169–179. https://doi.org/10.2337/dc23-1520

World Health Organization. (2013). Diagnostic criteria and classification of hyperglycaemia first detected in pregnancy. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/WHO-NMH-MND-13.2


Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan yang pertama kali dipublikasikan pada Oktober 2015. Konten telah diperbarui sesuai dengan panduan klinis terkini, termasuk PERKENI 2021, ADA Standards of Care 2025, dan data epidemiologi terbaru.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar