A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Campak adalah penyakit menular yang seharusnya sudah bisa kita kalahkan. Vaksinnya sudah ada sejak 1960-an, murah, aman, dan efektif. Namun hari ini, pada tahun 2025, campak masih membunuh puluhan ribu anak setiap tahunnya — dan angka kasusnya justru melonjak kembali. Di Indonesia, Kejadian Luar Biasa (KLB) campak terus dilaporkan dari berbagai daerah. Ini bukan kegagalan ilmu pengetahuan. Ini adalah kegagalan kolektif kita dalam memastikan setiap anak terlindungi.


Mengapa Campak Begitu Berbahaya untuk Diremehkan?

Campak bukan sekadar “demam disertai bintik-bintik” yang akan berlalu sendiri. Virus campak (measles virus, famili Paramyxoviridae) merupakan salah satu patogen paling menular yang pernah dikenal manusia, dengan nilai reproduksi dasar (basic reproduction number, R0) antara 12 hingga 18 — artinya, satu orang yang terinfeksi dapat menulari rata-rata 12 hingga 18 orang lain di lingkungan yang rentan.

Yang lebih berbahaya, campak menyerang sistem kekebalan tubuh secara mendalam. Infeksi campak menyebabkan kondisi yang oleh para peneliti disebut immune amnesia — sistem imun “melupakan” kekebalan yang telah dibangun sebelumnya terhadap berbagai patogen lain. Akibatnya, anak yang sembuh dari campak akan jauh lebih rentan terhadap infeksi-infeksi sekunder, yang seringkali justru menjadi penyebab kematian, seperti pneumonia dan diare berat.

Komplikasi campak yang paling ditakuti meliputi pneumonia (infeksi paru), ensefalitis (radang otak), dan — meski sangat jarang — subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), yaitu peradangan otak progresif yang bisa muncul bertahun-tahun setelah infeksi dan hampir selalu berakhir fatal.


Gambaran Global: Kemenangan yang Mulai Terancam

Kabar baiknya: imunisasi campak telah mencegah sekitar 60,3 juta kematian antara tahun 2000 dan 2023. Kematian akibat campak global turun dari sekitar 800.000 per tahun pada tahun 2000 menjadi sekitar 95.000 pada tahun 2024 — penurunan lebih dari 88% dalam seperempat abad. Ini adalah salah satu keberhasilan kesehatan masyarakat terbesar dalam sejarah.

Kabar buruknya: tren itu mulai berbalik.

Pada tahun 2023, diperkirakan terdapat 10,3 juta kasus campak di seluruh dunia — meningkat 20% dari tahun sebelumnya — dan sekitar 107.500 jiwa meninggal dunia, sebagian besar adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun. Sebanyak 57 negara mengalami wabah campak besar atau mengacaukan pada 2023, meningkat hampir 60% dari 36 negara di tahun sebelumnya. Pada 2024, angka kematian sedikit turun menjadi sekitar 95.000, namun total kasus justru mencapai sekitar 11 juta — sekitar 800.000 lebih tinggi dari level sebelum pandemi COVID-19 pada 2019.

Situasi di Eropa sangat mengkhawatirkan. Pada 2024, kawasan Eropa melaporkan 127.350 kasus campak — dua kali lipat dibanding 2023 dan merupakan angka tertinggi sejak 1997.

Mengapa ini terjadi? Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Infectious Diseases menemukan bahwa antara 2010 dan 2019, kasus campak global berfluktuasi dengan lonjakan signifikan pada 2019, sementara cakupan vaksinasi menurun di 59 dari 194 negara. Faktor-faktor seperti stabilitas politik, infrastruktur kesehatan, dan keraguan terhadap vaksin (vaccine hesitancy) secara bermakna berkaitan dengan peningkatan insiden campak (Bidari & Yang, 2024). Pandemi COVID-19 memperparah situasi ini dengan mengganggu layanan imunisasi rutin di seluruh dunia.


Situasi di Indonesia: Masih Jauh dari Eliminasi

Indonesia telah memasukkan vaksin measles-rubella (MR) ke dalam program imunisasi rutin sejak kampanye besar tahun 2017–2018, dengan target eliminasi campak dan rubela yang kemudian direvisi untuk tahun 2023. Namun, target tersebut belum tercapai.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan: Tahun 2022 dilaporkan 64 KLB campak, meningkat menjadi 95 KLB pada 2023, kemudian menurun menjadi 53 KLB pada 2024, namun kembali meningkat pada 2025 dengan 46 KLB tercatat hanya hingga bulan Agustus.

Penyebab utamanya adalah cakupan imunisasi yang belum memadai. Pada 2024, cakupan imunisasi MR dosis pertama (MR1) baru mencapai 92% dan dosis kedua (MR2) hanya 82,3% — masih jauh dari target 95% yang diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Investigasi wabah campak di Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur pada 2023 memberikan pelajaran berharga. Penelitian yang dipublikasikan dalam Western Pacific Surveillance and Response Journal mengungkap bahwa wabah ini disebabkan oleh penurunan cakupan imunisasi, khususnya untuk dosis kedua vaksin MR, yang dipengaruhi oleh dampak pandemi COVID-19, kesalahpahaman terkait kepercayaan agama, dan interval panjang antara dosis pertama dan kedua yang menyebabkan banyak anak tidak mendapat dosis lanjutan (Ua et al., 2025). Pola penularan yang dominan terjadi di antara kontak serumah dan teman bermain dalam satu desa.


Jadwal Imunisasi Campak di Indonesia: Yang Perlu Anda Ketahui

Sejak peluncuran kampanye imunisasi MR nasional pada 2017–2018, vaksin yang digunakan dalam program imunisasi pemerintah adalah vaksin MR (measles-rubella), yang melindungi terhadap dua penyakit sekaligus: campak dan rubela. Vaksin MMR (measles-mumps-rubella) yang juga melindungi dari gondongan tersedia di fasilitas kesehatan swasta.

Imunisasi MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat. Menurut rekomendasi IDAI, dosis booster diberikan saat anak berusia 18 bulan (MR/MMR) dan saat anak memasuki usia 5–7 tahun (MR/MMR).

Untuk anak yang terlambat atau belum mendapat imunisasi, panduan imunisasi kejar (catch-up) berlaku sebagai berikut: bila sampai usia 12 bulan anak belum mendapat vaksin MR, dapat langsung diberikan vaksin MR/MMR dosis pertama, dengan jarak dosis kedua 6 bulan, dan dosis ketiga saat usia 5–7 tahun.

Imunisasi ini dapat diperoleh secara gratis di Puskesmas, Posyandu, dan fasilitas kesehatan pemerintah lainnya. Imunisasi MR gratis ini adalah hak setiap anak Indonesia — manfaatkan sepenuhnya.

Apa Bedanya Vaksin MR dan MMR?

Secara sederhana: vaksin MR melindungi dari campak dan rubela (dua penyakit), sementara vaksin MMR melindungi dari campak, rubela, dan gondongan (tiga penyakit). Saat ini pemerintah memprioritaskan pengendalian campak dan rubela karena bahaya komplikasinya yang berat dan mematikan. Jika anak Anda telah mendapat dua dosis vaksin campak sebelumnya, imunisasi MR tetap dianjurkan untuk mendapatkan kekebalan terhadap rubela, dan vaksin ini aman bagi anak yang telah mendapat dua dosis imunisasi campak sebelumnya.


Herd Immunity: Melindungi Anak yang Tidak Bisa Divaksin

Salah satu konsep terpenting dalam imunisasi adalah herd immunity (kekebalan kelompok). Ketika cukup banyak orang dalam suatu komunitas memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu, penularan terhenti secara alamiah — sehingga mereka yang tidak bisa divaksin pun terlindungi.

Campak membutuhkan ambang herd immunity yang sangat tinggi: sekurang-kurangnya 95% populasi harus mendapat dua dosis vaksin agar penularan dapat dihentikan. Ini karena virus campak sangat menular. Setiap persentase yang kurang dari 95% menciptakan celah yang bisa dieksploitasi virus.

Mereka yang tidak bisa divaksin dan bergantung pada kekebalan kelompok ini antara lain: bayi di bawah usia 9 bulan yang belum waktunya mendapat vaksin, anak dengan kondisi imunodefisiensi (misalnya penderita kanker dalam kemoterapi atau HIV/AIDS), serta ibu hamil yang tidak boleh menerima vaksin virus hidup.

Penelitian pemodelan yang diterbitkan dalam JAMA tahun 2025 menggambarkan risiko nyata dari melemahnya cakupan vaksinasi. Model simulasi memperkirakan bahwa penurunan cakupan vaksinasi MMR sebesar 10% saja akan menghasilkan sekitar 11,1 juta kasus campak selama 25 tahun; sebaliknya, peningkatan cakupan sebesar 5% akan menekan jumlah kasus menjadi hanya sekitar 5.800 kasus dalam periode yang sama (Kiang et al., 2025). Angka ini menunjukkan betapa besarnya dampak setiap keputusan vaksinasi individual terhadap kesehatan komunitas.


Mengapa Cakupan Vaksinasi Menurun? Mengenal Vaccine Hesitancy

Keraguan terhadap vaksin (vaccine hesitancy) bukan fenomena baru, namun semakin menguat di era media sosial. Di Indonesia, ada beberapa faktor yang berkontribusi:

1. Misinformasi tentang keamanan vaksin. Klaim bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme — yang pertama kali disebarkan oleh sebuah penelitian palsu dari Inggris pada 1998 dan telah lama dicabut serta dibantah oleh ratusan penelitian independen — masih beredar di kalangan masyarakat.

2. Keraguan berbasis agama. Di beberapa komunitas, terdapat kekhawatiran tentang kandungan vaksin dari perspektif kehalalan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa bahwa imunisasi diperbolehkan dalam kondisi darurat dan kebutuhan, terlebih saat tidak ada alternatif halal yang tersedia dan tidak divaksinasi justru menimbulkan risiko lebih besar.

3. Gangguan pasca-pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 mengganggu jadwal imunisasi rutin di seluruh dunia. Salah satu tantangan utama pasca-pandemi adalah tingginya jumlah zero-dose children — anak yang belum mendapat imunisasi sama sekali atau belum lengkap, yang mencapai 1,8 juta anak di Indonesia.

4. Hambatan akses dan logistik. Di daerah terpencil, jarak ke fasilitas kesehatan, jadwal posyandu yang tidak menentu, dan keterbatasan stok vaksin masih menjadi hambatan nyata. Penelitian di Aceh menunjukkan bahwa hambatan logistik (jarak, waktu tunggu di klinik) dan faktor sosial termasuk misinformasi sama-sama berkontribusi terhadap rendahnya cakupan vaksinasi anak di komunitas tertentu (Ladhania et al., 2025).


Apakah Vaksin Campak Aman?

Pertanyaan ini sangat wajar. Jawaban singkatnya: ya, sangat aman.

Vaksin MR dan MMR telah digunakan selama lebih dari 60 tahun dan telah melalui pengawasan keamanan yang ketat. Efek samping yang umum terjadi bersifat ringan dan sementara: demam ringan, ruam kemerahan kecil, atau nyeri di lokasi suntikan — semua akan hilang dalam 2–3 hari.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa imunisasi campak tidak menyebabkan autisme. Kandungan timerosal dalam vaksin masih sangat rendah dan jauh di bawah batas aman yang direkomendasikan WHO. Sudah banyak penelitian dari Amerika Serikat dan Eropa, termasuk kajian dari American Academy of Pediatrics, Institute of Medicine, dan CDC, yang menyimpulkan bahwa tidak ada bukti hubungan antara imunisasi MMR dan timbulnya autisme.

Reaksi alergi berat (anafilaksis) terhadap vaksin ini sangat jarang terjadi, dengan estimasi sekitar 1–2 kasus per juta dosis yang diberikan. Karena itulah setiap fasilitas imunisasi diwajibkan memiliki kemampuan penanganan reaksi alergi, dan penerima vaksin diminta untuk tetap berada di fasilitas selama 15–30 menit setelah penyuntikan.


Apa yang Terjadi Jika Anda Menolak Imunisasi Campak?

Ini pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur. Menolak imunisasi campak untuk anak Anda bukan hanya soal keputusan pribadi — ini keputusan yang berdampak pada orang lain.

Ketika seorang anak tidak divaksinasi dan kemudian terinfeksi campak, ia dapat menularkan virus kepada rata-rata 12–18 orang lain. Di antara mereka mungkin ada bayi berusia 6 bulan yang belum cukup umur untuk divaksin, atau anak penderita leukemia yang sedang dalam kemoterapi dan tidak dapat menerima vaksin, atau perempuan hamil yang berisiko melahirkan bayi prematur atau dengan berat lahir rendah akibat campak.

Dengan kata lain: memvaksinasi anak Anda adalah tindakan perlindungan tidak hanya untuk anak Anda sendiri, tetapi juga untuk seluruh komunitas di sekitar Anda.


Langkah Praktis untuk Orang Tua

  1. Cek status imunisasi anak. Periksa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) — pastikan anak telah mendapat MR pada usia 9 bulan dan 18 bulan, serta di kelas 1 SD.
  2. Segera kejar jika terlambat. Imunisasi kejar bisa dilakukan kapan saja di Puskesmas atau posyandu. Tidak ada kata terlambat untuk memulai perlindungan.
  3. Jangan tunda karena hoaks. Jika Anda ragu, bicarakan langsung dengan dokter atau bidan Anda. Jangan mengambil keputusan berdasarkan informasi dari media sosial tanpa konfirmasi dari tenaga kesehatan.
  4. Vaksinasi dewasa pun penting. Orang dewasa yang tidak pernah divaksin atau hanya mendapat satu dosis dianjurkan untuk mendapat vaksin MMR, terutama sebelum perjalanan ke daerah endemis atau bagi tenaga kesehatan.

Kesimpulan

Imunisasi campak adalah salah satu investasi kesehatan terbaik yang bisa Anda berikan kepada anak — dan kepada komunitas Anda. Sejarah membuktikan: vaksin campak mampu mengubah penyakit yang membunuh jutaan jiwa per tahun menjadi penyakit yang hampir bisa dieliminasi. Namun keberhasilan itu tidak bisa dipertahankan tanpa komitmen kolektif.

Setiap anak yang tidak divaksinasi adalah celah bagi virus untuk bertahan dan menyebar. Setiap anak yang divaksinasi adalah benteng yang melindungi tidak hanya dirinya, tetapi juga mereka yang paling rentan di sekitarnya.


Referensi

Bidari, S., & Yang, W. (2024). Global resurgence of measles in the vaccination era and influencing factors. International Journal of Infectious Diseases, 147, 107189. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2024.107189

GBD 2023 Causes of Death Collaborators. (2025). Global burden of 292 causes of death in 204 countries and territories and 660 subnational locations, 1990–2023: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2023. Lancet, 406(10513), 1811–1872. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(25)01917-8

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2023). Jadwal imunisasi anak usia 0–18 tahun: Rekomendasi IDAI tahun 2023. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-anak-idai

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2024). Pedoman imunisasi di Indonesia edisi 7 tahun 2024. https://www.idai.or.id/publications/buku-idai/pedoman-imunisasi-di-indonesia-edisi-7-tahun-2024

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (n.d.). Daftar pertanyaan seputar imunisasi campak/measles dan rubella (MR). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr

Kemenkes RI. (2025). KLB campak meningkat, Kemenkes ingatkan pentingnya imunisasi lengkap. https://kemkes.go.id/id/klb-campak-meningkat-kemenkes-ingatkan-pentingnya-imunisasi-lengkap

Kiang, M. V., Bubar, K. M., Maldonado, Y., Hotez, P. J., & Lo, N. C. (2025). Modeling reemergence of vaccine-eliminated infectious diseases under declining vaccination in the US. JAMA, 333(24), 2176–2187. https://doi.org/10.1001/jama.2025.6495

Ladhania, R., Ichsan, I., Koumpias, A. M., Yufika, A., Indah, R., Liansyah, T. M., Wagner, A. L., & Harapan, H. (2025). Improving uptake of pediatric vaccines through religious conferences and mobile vaccine clinics in Aceh, Indonesia (TABRIE): Study protocol for a stepped wedge cluster randomized controlled trial. Trials, 26(1), 528. https://doi.org/10.1186/s13063-025-09170-5

Minta, A. A., et al. (2024). Progress toward measles elimination — worldwide, 2000–2023. MMWR Morbidity and Mortality Weekly Report, 73(45). https://doi.org/10.15585/mmwr.mm7345a4

Tahir, I. M., Kumar, V., Faisal, H., Gill, A., Kumari, V., Tahir, H. M., & Haque, M. A. (2024). Contagion comeback: Unravelling the measles outbreak across the USA. Frontiers in Public Health, 12, 1491927. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1491927

Ua, K., Hendrati, L. Y., Son, K. L., Sari, S. S. N., & Astutik, E. (2025). Investigation of a measles outbreak in Brondong subdistrict, Lamongan district, Indonesia, 2023. Western Pacific Surveillance and Response Journal, 16(4), 43–49. https://doi.org/10.5365/wpsar.2025.16.1145

World Health Organization. (2024, November 14). Measles cases surge worldwide, infecting 10.3 million people in 2023. https://www.who.int/news/item/14-11-2024-measles-cases-surge-worldwide–infecting-10.3-million-people-in-2023

World Health Organization. (2025). Measles: Fact sheet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/measles


Catatan: Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan yang diterbitkan pada Juni 2016. Data epidemiologi, jadwal imunisasi, dan referensi telah diperbarui sesuai dengan bukti ilmiah terkini per 2025. Untuk klinis penyakit campak secara lebih lengkap, lihat juga: Mengungkap Morbili: Memahami Penyakit Lama yang Masih Mengancam Anak Bangsa.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar