A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Ketika ada pesan berantai untuk segera mengubah setelah privasi WhatsApp, maka saya tahu bahwa sudah muncul drama yang terlalu berlebihan. Privasi adalah hal yang unik di dunia maya dan jejaring sosial.

Satu-satunya aplikasi perpesanan di dunia yang masih menghargai privasi adalah surat yang Anda tulis sendiri dengan tersandi, dan dikirim secara manual melalui pos. Selain dari itu, sangat sulit menemukan privasi di dunia modern ini, siapa yang sedang mengintip kita?

Hal ini mencuat mungkin karena WhatsApp dulu berjanji saat dibeli oleh Facebook tidak akan mengubah kebijakan privasi mereka. Tapi tampaknya Facebook juga bingung mencari keuntungan dari WhatsApp, karena WhatsApp tidak menampilkan iklan, padahal salah satu pemasukan terbesar Facebook berasal dari iklan.

Pada akhirnya, saya merasa kebijakan privasi baru dari WhatsApp ini menjadi sebuah penyerahan terhadap upaya monetasi yang lebih bijak dari perusahaan induknya: Facebook. Dalam kebijkannya (diakses pada 04/09/2016 09.00) , WhatsApp menulis:

  • Kami bergabung dengan Facebook pada tahun 2014. Sekarang WhatsApp adalah bagian dari keluarga perusahaan Facebook. Kebijakan Privasi kami menjelaskan bagaimana kami bekerja sama untuk meningkatkan layanan dan penawaran kami, seperti memerangi spam antaraplikasi, memberikan saran-saran produk, dan menampilkan penawaran dan iklan yang relevan di Facebook. Tidak ada hal apa pun yang Anda bagikan di WhatsApp, termasuk pesan-pesan, foto-foto, dan informasi akun Anda, akan dibagikan di Facebook atau pun di salah satu aplikasi keluarga kami yang lain yang dapat dilihat oleh orang lain, dan sebaliknya tidak ada hal apa pun yang Anda posting di aplikasi-aplikasi tersebut akan dibagikan di WhatsApp yang dapat dilihat oleh orang lain.
  • Pesan-pesan Anda adalah milik Anda, dan kami tidak dapat membacanya. Kami telah membangun privasi, enkripsi end-to-end, dan fitur keamanan lainnya ke dalam WhatsApp. Kami tidak menyimpan pesan-pesan Anda setelah pesan-pesan tersebut disampaikan. Ketika pesan-pesan terenkripsi secara end-to-end, kami dan pihak ketiga sama sekali tidak dapat membacanya.
  • Tidak ada iklan spanduk pihak ketiga. Kami tetap tidak mengizinkan iklan spanduk pihak ketiga di WhatsApp.

Jika melihat intisari kebijakan di atas, maka jelas WhatsApp berjanji sepertinya tidak akan membagi apapun. Tapi kemudian yang menjadi pertanyaan banyak orang, lalu apa yang dibagi oleh WhatsApp ke Facebook dalam rangka meningkatkan layanan, memerangi spam, dan memberikan saran produk serta penawaran yang relevan di Facebook?

Inilah sumber ketidakjelasan dan kekhwatiran itu, karena pengguna tidak tahu apa yang dia bagikan.

Berbeda dengan Windows 10 misalnya, jelas-jelas mengatakan, apapun yang Anda ketik akan dikirimkan ke Microsoft (singkatnya begitu). Maka saya tahu, jika mengetik username dan password dengan Windows 10, bisa jadi akan dikirim ke Microsoft. Walau mereka tidak menjualnya atau membaginya ke pihak ketiga. Tapi saya jelas akan memilih tidak mengaktifkan fitur ini melalui setelan privasi. Tapi ternyata, tidak banyak juga pengguna Windows 10 yang peduli dengan hal ini kan?

Pengguna Android misalnya, berapa banyak aplikasi yang meminta akses ke kontak Anda, dan Anda berikan begitu saja. Padahal belum tentu kontak Anda, misalnya teman atau kolega Anda mau bahwa data kontaknya dibagi ke pihak ketiga bukan? Berarti kan Anda menyerahkan privasi Anda yang juga menyerahkan data orang lain ke pengembang aplikasi tersebut?

Privasi bukan hanya sekadar isu belaka, namun perlu pemahaman yang mendalam. Ketika kita benar-benar peduli dengan privasi, maka semuanya layak diperlakukan setara. Karena ketika kita menggunakan produk daring/online, entah itu pesan percakapan, video game, jejaring sosial, kita layaknya sedang berhadapan dengan pedagang ‘jack of all trade’; mereka akan berusaha mengorek semua informasi, kesukaan kita, tempat tinggal kita, keluarga kita, sehingga mereka bisa menawarkan dagangan lebih banyak dan lebih sesuai lagi. Bahkan mereka bisa mengorek informasi, siapa saja teman-teman kita yang bisa mereka tawari barang dan jasa mereka. Lah, namanya juga orang berdagang.

Ini kembali ke Anda, berkenan membagi informasi atau tidak. Dalam hal kasus WhatsApp, Anda berbagi informasi atau tidak, Facebook akan tetap menampilkan iklan – karena hidupnya Facebook salah satunya ya memang dari iklan.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca