A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bagi penderita diabetes melitus yang membutuhkan terapi insulin, kemampuan menyuntikkan insulin secara mandiri merupakan keterampilan penting yang sangat memengaruhi keberhasilan pengobatan. Namun kenyataannya, tidak sedikit pasien yang enggan atau ragu-ragu memulai terapi ini, bahkan ketika dokter ahli sudah merekomendasikannya. Keengganan ini bukan sekadar ketidakmauan — ia memiliki akar psikologis yang nyata dan perlu dipahami bersama.


Mengapa Banyak Pasien Enggan Menggunakan Insulin?

Penelitian dari Afrika Selatan menemukan bahwa lebih dari separuh (51,9%) pasien diabetes tipe 2 yang belum pernah menggunakan insulin menyatakan keengganan memulai terapi ini. Alasan terkuat adalah kecemasan terhadap suntikan, rasa takut pada jarum, merasa tidak mampu mengelola insulin secara mandiri, serta kekhawatiran akan biaya (Ngassa Piotie et al., 2020). Kondisi ini dalam dunia medis dikenal sebagai psychological insulin resistance — resistensi psikologis terhadap insulin.

menyuntik insulin

Pemahaman bahwa keengganan ini wajar dan dapat diatasi merupakan langkah pertama yang penting. Dengan edukasi yang tepat, terstruktur, dan berulang, pasien dapat menguasai teknik injeksi insulin dengan aman dan percaya diri.


Mengenal Alat Penyuntik Insulin

Saat ini terdapat dua alat utama yang digunakan untuk injeksi insulin mandiri: insulin pen dan siring (syringe).

Insulin Pen

Insulin pen adalah alat suntik yang menyerupai pulpen dengan kartrid insulin di dalamnya. Alat ini lebih mudah digunakan, lebih akurat dalam mengatur dosis, dan lebih nyaman dibawa bepergian. Pen dapat berupa jenis sekali pakai (disposable) atau tipe isi ulang (refillable) yang memerlukan penggantian kartrid. Jarum pen tersedia dalam berbagai panjang — umumnya 4 mm, 5 mm, dan 6 mm — yang dapat dipilih sesuai kebutuhan pasien.

Siring (Jarum Suntik Manual)

Siring digunakan bersama vial insulin. Alat ini masih digunakan terutama jika insulin pen tidak tersedia atau tidak terjangkau secara ekonomi. Teknik penggunaannya sedikit lebih kompleks, namun tetap dapat dikuasai dengan latihan yang cukup.

Pompa Insulin (Insulin Pump)

Pada beberapa kasus tertentu, terutama diabetes tipe 1 dengan kontrol gula yang sulit, pompa insulin (continuous subcutaneous insulin infusion/CSII) dapat direkomendasikan. Alat ini memasukkan insulin secara kontinu melalui selang kecil di bawah kulit. Penggunaannya memerlukan pelatihan khusus dan pengawasan ketat dari tim medis.


Menyimpan Insulin dengan Benar

Sebelum berbicara tentang cara menyuntik, memahami cara menyimpan insulin yang benar sangat penting. Sebuah tinjauan sistematis Cochrane menemukan bahwa insulin manusia yang belum dibuka dapat disimpan pada suhu hingga 37°C selama maksimal dua bulan tanpa penurunan potensi yang bermakna secara klinis. Sementara pada suhu di bawah 25°C, penyimpanan aman hingga enam bulan (Richter et al., 2023). Temuan ini memberikan harapan bagi pasien di daerah tropis dengan akses lemari es yang terbatas.

Berikut panduan penyimpanan insulin secara umum:

  • Insulin yang belum dibuka: simpan di lemari es pada suhu 2–8°C, jauh dari bagian freezer. Jangan sampai beku.
  • Insulin yang sedang digunakan: dapat disimpan pada suhu ruang (di bawah 30°C) selama 28–30 hari, tergantung jenis dan anjuran produsen.
  • Hindari paparan panas langsung seperti dekat jendela, dalam mobil yang terparkir di bawah terik matahari, atau dekat kompor.
  • Jangan dikocok. Insulin NPH atau campuran (premixed) cukup digelindingkan perlahan di antara kedua telapak tangan untuk mencampurnya kembali.
  • Periksa tampilan insulin sebelum digunakan. Insulin rapid-acting seharusnya jernih tidak berwarna; insulin NPH seharusnya keruh merata setelah dikocok perlahan. Buang jika tampak menggumpal, berubah warna, atau ada partikel padat.

Dalam sebuah audit di India, sebanyak 34,87% pasien tidak menyimpan insulin pada suhu yang tepat — sebuah angka yang menunjukkan betapa pentingnya edukasi aspek ini (Baruah et al., 2023).


Persiapan Sebelum Menyuntik

Sebelum melakukan injeksi, pastikan Anda telah memahami hal-hal berikut yang sudah disepakati dengan dokter:

  1. Jenis insulin yang diresepkan dan tampilannya (jernih/keruh)
  2. Dosis dan jadwal penyuntikan
  3. Lokasi penyuntikan yang direkomendasikan
  4. Teknik menyuntik sesuai alat yang digunakan
  5. Cara membuang alat bekas dengan aman

Siapkan pula perlengkapan berikut:

  • Insulin dalam kondisi baik dan belum kedaluwarsa
  • Insulin pen atau siring beserta jarum baru
  • Kapas bersih atau kapas beralkohol (70% isopropil atau etanol)
  • Wadah pembuangan benda tajam (sharps container)

Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum memulai prosedur.


Area Penyuntikan yang Tepat

Insulin disuntikkan ke lapisan lemak di bawah kulit (subkutan), bukan ke otot. Empat area tubuh yang lazim digunakan adalah:

  • Perut (abdomen): area favorit karena penyerapan paling cepat dan konsisten. Pilih area minimal 5 cm dari pusar.
  • Lengan atas bagian luar: penyerapan sedang. Cocok untuk injeksi oleh orang lain.
  • Paha bagian luar: penyerapan lebih lambat; cocok untuk insulin basal malam hari.
  • Bokong bagian atas-luar: penyerapan paling lambat.

Kecepatan penyerapan insulin dipengaruhi oleh lokasi injeksi. Perut menyerap paling cepat, diikuti lengan atas, paha, lalu bokong. Aktivitas fisik di area yang baru disuntik (misalnya berlari setelah injeksi di paha) dapat mempercepat penyerapan insulin secara tidak terduga.


Teknik Menyuntik yang Benar

Menggunakan Insulin Pen

  1. Cuci tangan hingga bersih.
  2. Periksa label insulin — pastikan sesuai resep.
  3. Untuk insulin keruh (NPH/premixed): gelindingkan pen di antara kedua telapak tangan sebanyak 10 kali, lalu balikkan perlahan 10 kali hingga insulin tercampur merata. Jangan dikocok.
  4. Pasang jarum baru pada pen. Lepas tutup luar dan tutup dalam jarum.
  5. Lakukan priming (tes aliran): putar dosis 1–2 unit, tahan pen dengan jarum mengarah ke atas, lalu tekan tombol sampai tetes insulin keluar dari ujung jarum. Ini memastikan tidak ada gelembung udara.
  6. Putar pengatur dosis sesuai dosis yang diresepkan.
  7. Pilih area suntikan dan bersihkan dengan kapas. Biarkan kering sebelum menyuntik.
  8. Cubit kulit secara lembut menggunakan ibu jari dan jari telunjuk jika menggunakan jarum panjang (≥6 mm) atau area dengan lapisan lemak tipis. Untuk jarum 4 mm, cubitan umumnya tidak diperlukan.
  9. Masukkan jarum tegak lurus (90°) pada area yang telah dipilih.
  10. Tekan tombol pen perlahan dan tahan hingga semua dosis masuk — ini membutuhkan waktu beberapa detik.
  11. Setelah seluruh dosis masuk, hitung hingga 10 detik sebelum mencabut jarum. Ini penting agar insulin tidak meluber keluar dari bekas suntikan (bocor dari kulit).
  12. Cabut jarum dalam posisi lurus, kemudian tahan area suntikan dengan jari atau kapas selama 5–10 detik. Jangan dipijat, karena dapat mempercepat penyerapan secara tidak terduga.
  13. Pasang tutup luar jarum, lepaskan dari pen, dan buang ke wadah pembuangan benda tajam.

Menggunakan Siring

  1. Bersihkan tutup vial dengan kapas beralkohol, biarkan mengering.
  2. Tarik udara ke dalam siring sebanyak dosis yang dibutuhkan.
  3. Masukkan jarum ke dalam vial dan dorong udara ke dalam vial (ini memudahkan pengambilan insulin).
  4. Balikkan vial, tarik siring hingga sedikit melebihi dosis yang dibutuhkan.
  5. Ketuk siring dengan jari untuk menaikkan gelembung udara, lalu dorong gelembung keluar.
  6. Pastikan dosis tepat.
  7. Teknik injeksi serupa dengan pen — jarum ditusuk tegak lurus, injeksi dilakukan perlahan, tahan 5 detik sebelum mencabut jarum.

Rotasi Lokasi Suntikan: Kunci yang Sering Diabaikan

Rotasi lokasi suntikan adalah salah satu aspek teknik injeksi yang paling sering diabaikan, namun dampaknya paling besar terhadap keberhasilan terapi.

Sebuah meta-analisis sistematis yang diterbitkan tahun 2025 menemukan bahwa rotasi lokasi suntikan yang tidak benar adalah faktor risiko terkuat untuk terjadinya lipohypertrophy — perubahan jaringan lemak di bawah kulit akibat suntikan berulang di tempat yang sama — dengan rasio risiko (prevalence odds ratio/pOR) sebesar 8,85 (Mader et al., 2025). Faktor risiko terbesar kedua adalah pemakaian ulang jarum (pOR: 3,20), diikuti durasi terapi insulin lebih dari 5 tahun (pOR: 2,62).

Lipohypertrophy bukan sekadar masalah kosmetik. Jaringan yang mengalami perubahan ini menyerap insulin secara tidak menentu dan tidak terprediksi, sehingga kadar gula darah menjadi sulit dikendalikan meski dosis insulin sudah tepat.

Panduan rotasi yang disarankan:

  • Bagi setiap area suntikan menjadi zona-zona kecil (misalnya perut dibagi menjadi kuadran kiri atas, kiri bawah, kanan atas, kanan bawah).
  • Injeksi berikutnya dilakukan minimal 1–2 cm dari bekas suntikan sebelumnya.
  • Setelah menggunakan satu zona selama 1–2 minggu, pindah ke zona berikutnya secara sistematis.
  • Tetap dalam area anatomis yang sama (misalnya selalu perut untuk insulin pagi hari) untuk menjaga konsistensi penyerapan.

Studi di Xi’an, Tiongkok, menemukan bahwa hanya sepertiga pasien yang melakukan rotasi lokasi suntikan dengan benar, sementara hampir separuh (48,2%) mengalami lipohypertrophy (Zhou et al., 2024). Data dari India juga menunjukkan bahwa pasien dengan lipohypertrophy jauh lebih jarang melakukan rotasi suntikan dibandingkan pasien tanpa komplikasi ini (Baruah et al., 2023).


Panjang Jarum: Bukan Satu Ukuran untuk Semua

Pemilihan panjang jarum memengaruhi kedalaman insulin masuk ke jaringan. Jarum yang terlalu panjang berisiko menembus lapisan lemak dan masuk ke otot (injeksi intramuskular), yang mempercepat penyerapan secara tidak terduga dan meningkatkan risiko hipoglikemia. Sebaliknya, jarum terlalu pendek dapat mengakibatkan insulin tidak terinjeksi seluruhnya.

Pedoman saat ini secara umum merekomendasikan:

  • Jarum 4 mm: cocok untuk hampir semua pasien dewasa, termasuk yang gemuk, karena lapisan kulit manusia relatif seragam ketebalannya.
  • Jarum 5 mm: alternatif yang juga aman untuk sebagian besar pasien.
  • Jarum 6 mm atau lebih: digunakan pada kondisi tertentu sesuai pertimbangan dokter, dan biasanya memerlukan teknik cubitan kulit.

Dalam penelitian di Tiongkok, lebih dari separuh pasien (53,3%) masih menggunakan jarum berukuran lebih dari 5 mm, yang tidak lagi direkomendasikan secara rutin (Zhou et al., 2024).


Komplikasi Akibat Teknik yang Salah

Lipohypertrophy (Penggumpalan Lemak)

Ini adalah komplikasi tersering injeksi insulin. Tampak sebagai benjolan atau penebalan jaringan di bawah kulit yang biasanya tidak nyeri. Selain mengganggu penyerapan insulin, suntikan di area ini seringkali tidak terasa sakit sehingga pasien justru cenderung kembali menyuntik di sana — sebuah lingkaran setan yang memperburuk kondisi.

Memar (Bruising)

Memar di sekitar lokasi injeksi sering terjadi akibat tekanan berlebih saat menempelkan pen ke kulit. Sebuah studi nasional di Italia menemukan bahwa memar berkaitan dengan kadar HbA1c yang tinggi dan ketiadaan rotasi suntikan (Gentile et al., 2021). Meski terlihat mengkhawatirkan, memar tidak memengaruhi efektivitas insulin secara langsung, namun bisa menjadi tanda awal menuju lipohypertrophy.

Infeksi di Lokasi Suntikan

Infeksi, meski lebih jarang, dapat terjadi jika teknik aseptis tidak dijaga. Studi di Tiongkok menunjukkan bahwa tidak mendisinfeksi area suntikan sebelum injeksi berkaitan dengan peningkatan risiko infeksi lokal (Zhou et al., 2024).

Injeksi Intramuskular Tidak Sengaja

Injeksi yang terlalu dalam dapat memasuki otot, menyebabkan penyerapan insulin yang terlalu cepat, rasa nyeri, dan potensi hipoglikemia. Ini lebih sering terjadi pada pasien kurus yang menggunakan jarum panjang tanpa cubitan kulit.


Bahaya Memakai Ulang Jarum

Pemakaian ulang jarum suntik insulin — baik untuk pen maupun siring — adalah praktik yang masih sangat umum di berbagai negara, termasuk karena alasan ekonomi. Namun secara ilmiah, praktik ini tidak dianjurkan karena:

  • Ujung jarum yang sudah dipakai menjadi tumpul dan bergerigi secara mikroskopik, menyebabkan injeksi lebih nyeri dan melukai jaringan lebih besar.
  • Jarum bekas bisa meninggalkan fragmen pelapis silikon di bawah kulit.
  • Meningkatkan risiko lipohypertrophy dan infeksi lokal.

Meta-analisis 2025 mengkonfirmasi bahwa pemakaian ulang jarum meningkatkan risiko lipohypertrophy sebesar 3,2 kali lipat (Mader et al., 2025). Analisis ekonomi dari Belgia bahkan menunjukkan bahwa jika 55% pasien menghentikan kebiasaan memakai ulang jarum, penghematan biaya layanan kesehatan dalam 5 tahun bisa mencapai 52,6 juta euro — mencerminkan betapa besar dampak klinis praktik sederhana ini (Theys et al., 2024).


Pentingnya Edukasi Berulang

Penelitian dari Chongqing, Tiongkok, membuktikan bahwa program edukasi terstruktur dari tenaga keperawatan secara signifikan meningkatkan akurasi teknik injeksi insulin mandiri, sekaligus memperbaiki kadar HbA1c dan time in range (waktu gula darah dalam rentang target) pasien diabetes tipe 2 (Peng et al., 2024). Temuan ini menegaskan bahwa edukasi teknik injeksi bukan kegiatan satu kali saat pertama kali memulai insulin — melainkan proses berkelanjutan yang perlu diulang dan dievaluasi secara berkala.

Bila Anda sudah lama menggunakan insulin, ada baiknya meminta dokter atau perawat Anda untuk mengevaluasi kembali teknik injeksi dan kondisi lokasi suntikan Anda. Banyak kesalahan teknik yang tidak disadari berkembang perlahan seiring waktu.


Pembuangan Alat Bekas dengan Aman

Jarum suntik, lancet, dan pen needle bekas termasuk kategori benda tajam (sharps) yang berpotensi menularkan penyakit melalui tusukan tidak sengaja. Panduan pembuangannya:

  • Gunakan wadah khusus benda tajam yang kaku dan tahan tusukan (sharps container). Jika tidak tersedia, botol plastik tebal bekas seperti botol deterjen atau botol air mineral berdinding tebal dapat menjadi alternatif sementara.
  • Jangan memasukkan kembali tutup jarum dengan kedua tangan (recapping) — ini salah satu penyebab terbanyak kecelakaan tertusuk jarum. Teknik satu tangan atau menggunakan penutup pen dapat digunakan.
  • Wadah penuh harus diserahkan ke fasilitas layanan kesehatan terdekat untuk pembuangan yang sesuai, tidak dibuang bersama sampah rumah tangga biasa.

Penutup: Teknik yang Baik, Hasil yang Lebih Baik

Menyuntik insulin adalah keterampilan medis yang dapat dipelajari oleh siapapun. Yang membedakan hasilnya bukanlah seberapa sering seseorang menyuntik, melainkan seberapa benar tekniknya. Rotasi lokasi suntikan yang disiplin, jarum baru untuk setiap kali suntik, penyimpanan insulin yang tepat, dan pemahaman tentang cara injeksi yang benar adalah pilar-pilar yang menentukan apakah insulin yang Anda gunakan benar-benar bekerja optimal untuk tubuh Anda.

Jangan sungkan mendiskusikan setiap kekhawatiran atau pertanyaan dengan dokter atau perawat Anda. Edukasi yang baik adalah hak setiap pasien yang menjalani terapi insulin.


Referensi

Baruah, M. P., Bhuyan, S. B., Kalra, S., & Tiwaskar, M. H. (2023). Diabetes in India’s North East Study: Prevailing insulin usage and insulin injection practices amongst type 2 diabetes mellitus patients. The Journal of the Association of Physicians of India, 71(8), 11–12. https://doi.org/10.59556/japi.71.0323

Gentile, S., Guarino, G., Della Corte, T., Marino, G., Satta, E., Romano, C., Alfrone, C., Lmberti, C., & Strollo, F. (2021). Bruising: A neglected, though patient-relevant complication of insulin injections coming to light from a real-life nationwide survey. Diabetes Therapy, 12(4), 1143–1157. https://doi.org/10.1007/s13300-021-01026-w

Mader, J. K., Fornengo, R., Hassoun, A., Heinemann, L., Kulzer, B., Monica, M., Nguyen, T., Sieber, J., Renard, E., Reznik, Y., Ryś, P., Stożek-Tutro, A., & Wilmot, E. G. (2025). Risk factors for lipohypertrophy in people with insulin-treated diabetes: A systematic meta-analysis. Journal of Diabetes Science and Technology, 19322968251325569. https://doi.org/10.1177/19322968251325569

Ngassa Piotie, P., Wood, P., Webb, E. M., Marcus, T. S., & Rheeder, P. (2020). Willingness of people with type 2 diabetes to start insulin therapy: Evidence from the South African Tshwane Insulin Project (TIP). Diabetes Research and Clinical Practice, 168, 108366. https://doi.org/10.1016/j.diabres.2020.108366

Peng, B., Zhang, Y., Cheng, L., Zhang, Y., Lei, X., Leng, W., Wang, J., Wu, S., Wu, X., & Zheng, Y. (2024). Improving insulin self-injection accuracy in patients with diabetes mellitus through a nursing project. Advances in Clinical and Experimental Medicine, 33(6), 563–572. https://doi.org/10.17219/acem/170224

Richter, B., Bongaerts, B., & Metzendorf, M.-I. (2023). Thermal stability and storage of human insulin. Cochrane Database of Systematic Reviews, 11(11), CD015385. https://doi.org/10.1002/14651858.CD015385.pub2

Theys, K., Vermander, S., Annemans, L., De Block, C., Hermans, M. P., Matthys, I., Nobels, F., Nguyen, T., Preumont, V., Zakrzewska, K., & Vanderdonck, F. (2024). Health-economic modelling of improved behavior in insulin injection technique in Belgium. PharmacoEconomics Open, 9(2), 259–270. https://doi.org/10.1007/s41669-024-00547-x

Zhou, T., Zheng, Y., Li, J., & Zou, X. (2024). Insulin injection technique and related complications in patients with diabetes in a northwest city of China. Journal of Evaluation in Clinical Practice, 31(6), e14226. https://doi.org/10.1111/jep.14226

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar