A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pendahuluan
  2. Epidemiologi
    1. Beban Global
    2. Konteks Indonesia
    3. Karakteristik Demografis
  3. Patofisiologi dan Mikrobiologi
    1. Mekanisme Infeksi
    2. Spektrum Mikrobiologi
  4. Faktor Risiko
    1. Faktor Maternal
    2. Faktor Neonatal
    3. Faktor Perawatan Tali Pusat
  5. Manifestasi Klinis dan Klasifikasi
    1. Anamnesis
    2. Pemeriksaan Fisik
    3. Klasifikasi Berdasarkan Keparahan
    4. Tanda Bahaya (Red Flags)
  6. Diagnosis dan Evaluasi
    1. Diagnosis Klinis
    2. Pemeriksaan Penunjang
    3. Diagnosis Banding
      1. 1. Tali Pusat Normal dengan Akumulasi Cairan
      2. 2. Granuloma Umbilikal
      3. 3. Impetigo
      4. 4. Funisitis
      5. 5. Patent Urachus
      6. 6. Patent Omphalomesenteric Duct
      7. 7. Umbilical Polyp
  7. Tata Laksana
    1. A. Prinsip Umum
    2. B. Tata Laksana Berdasarkan Klasifikasi
      1. Grade 1: Funisitis/Infeksi Lokal Ringan
      2. Grade 2: Omfalitis dengan Selulitis Dinding Abdomen
      3. Grade 3: Omfalitis dengan Sepsis Sistemik
      4. Grade 4: Omfalitis dengan Necrotizing Fasciitis
    3. C. Rujukan
  8. Komplikasi
    1. Komplikasi Lokal
    2. Komplikasi Vaskuler
    3. Komplikasi Intra-Abdominal
    4. Komplikasi Sistemik
  9. Pencegahan
    1. A. Pencegahan Primer
      1. 1. Praktik Persalinan yang Aman
      2. 2. Perawatan Tali Pusat: Rekomendasi Berbasis Setting
      3. 3. Edukasi Orang Tua
      4. 4. Imunisasi Tetanus Toksoid
    2. B. Pencegahan Sekunder
    3. C. Pencegahan Tersier
  10. Prognosis
  11. Kesimpulan dan Rekomendasi untuk Praktik Klinis
  12. Referensi Utama

Pendahuluan

Omfalitis adalah infeksi pada puntung tali pusat dan/atau jaringan sekitarnya, terutama terjadi pada periode neonatal. Kondisi ini diklasifikasikan sebagai kedaruratan medis karena potensi progresivitas cepat menjadi infeksi sistemik, sepsis, bahkan kematian, dengan angka mortalitas diperkirakan antara 7-15%.

Tali pusat yang menghubungkan fetus dengan plasenta maternal dipotong segera setelah lahir, meninggalkan puntung umbilikal yang akan mengalami proses nekrosis aseptik dan lepas secara spontan. Proses fisiologis ini melibatkan nekrosis koagulatif, invasi granulosit, infarks, pengeringan, dan aktivitas kolagenase. Namun ketika kolonisasi bakteri normal berkembang menjadi infeksi invasif, kondisi serius yang mengancam jiwa dapat terjadi.

Epidemiologi

Beban Global

Omfalitis jarang terjadi di negara maju dengan insidensi sekitar 1 per 1.000 kelahiran hidup, namun di negara berkembang insidensi dapat mencapai 8-22% dari bayi baru lahir, tergantung faktor risiko.

Beban geografis paling berat ditemukan di wilayah dengan sumber daya terbatas seperti Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan, dimana akses terbatas pada petugas persalinan terlatih dan sanitasi yang buruk berkontribusi pada tingginya angka infeksi neonatal. Di wilayah ini, infeksi bakteri serius termasuk omfalitis mempengaruhi 6-7% bayi baru lahir.

Konteks Indonesia

Indonesia, sebagai negara berkembang dengan disparitas akses layanan kesehatan antara perkotaan dan pedesaan, menghadapi tantangan signifikan dalam pencegahan dan pengelolaan omfalitis. Praktik perawatan tali pusat tradisional yang tidak higienis, persalinan di rumah tanpa asistensi tenaga kesehatan terlatih, dan penggunaan alat tidak steril untuk memotong tali pusat masih ditemukan di beberapa wilayah, terutama daerah terpencil.

Karakteristik Demografis

Usia rata-rata onset omfalitis adalah 5-9 hari pada bayi cukup bulan dan 3-5 hari pada bayi prematur. Terdapat predominansi ringan pada bayi laki-laki, meskipun bukti tidak uniform di seluruh populasi.

Patofisiologi dan Mikrobiologi

Mekanisme Infeksi

Setelah tali pusat dipotong, area umbilikal secara normal dikolonisasi oleh bakteri patogen potensial selama atau segera setelah kelahiran. Bakteri ini menarik leukosit polimorfonuklear ke tali pusat. Sel-sel ini memainkan peran penting dalam proses pemisahan tali pusat yang normal, dan keterlambatan pemisahan dapat terjadi jika terdapat disfungsi sel-sel ini.

Pada hari kedua kehidupan, biasanya muncul sel polimorfonuklear dan bakteri pada umbilikus. Dalam kondisi normal dengan imunitas yang baik dan perawatan higienis, kolonisasi ini tidak berkembang menjadi infeksi. Namun ketika pertahanan host terganggu atau paparan bakteri berlebihan, invasi bakteri ke jaringan lunak periumbilikal dapat terjadi, menyebabkan selulitis superfisial yang dapat berkembang menjadi infeksi sistemik.

Spektrum Mikrobiologi

Tali pusat umumnya dikolonisasi oleh organisme yang berasal dari:

  1. Kanal persalinan (flora vagina maternal)
  2. Tangan petugas kesehatan atau orang yang merawat bayi
  3. Lingkungan dimana bayi dirawat

Patogen Paling Umum:

Jenis organisme yang ditemukan bervariasi tergantung pada setting persalinan dan kualitas perawatan tali pusat. Di setting dengan sumber daya tinggi, organisme gram-positif paling mungkin ditemukan, sedangkan organisme gram-negatif lebih umum di setting dengan sumber daya terbatas.

Organisme Gram-Positif:

  • Staphylococcus aureus (termasuk MRSA)
  • Staphylococcus epidermidis
  • Streptococcus pyogenes (Group A)
  • Streptococcus agalactiae (Group B)

Organisme Gram-Negatif:

  • Escherichia coli
  • Klebsiella pneumoniae
  • Proteus mirabilis
  • Pseudomonas aeruginosa

Organisme Anaerob:

  • Clostridium tetani (tetanus neonatorum—masih ditemukan di daerah dengan cakupan imunisasi tetanus toksoid rendah)
  • Bacteroides spp.
  • Clostridium perfringens

Catatan Penting tentang MRSA: Beberapa studi menunjukkan prevalensi MRSA yang tinggi pada omfalitis neonatal, sehingga riwayat atau catatan munculnya MRSA di lingkungan setempat harus dipertimbangkan dalam pemilihan antibiotik empiris.

Faktor Risiko

Faktor Maternal

  • Korioamnionitis
  • Persalinan lama atau ketuban pecah dini
  • Kolonisasi maternal dengan bakteri patogen (GBS, S. aureus)
  • Status imunisasi tetanus yang tidak adekuat

Faktor Neonatal

  • Prematuritas: Imunitas yang belum matang, termasuk fungsi kulit sebagai barrier
  • Berat lahir rendah
  • Defek imunologi: Leukocyte Adhesion Deficiency (LAD), neutropenia kongenital
  • Kateterisasi vena/arteri umbilikalis: Meningkatkan risiko infeksi nosokomial

Faktor Perawatan Tali Pusat

  • Pemotongan tali pusat dengan instrumen tidak steril
  • Penggunaan substansi tradisional yang terkontaminasi pada puntung tali pusat
  • Higiene yang buruk dalam perawatan
  • Persalinan di luar fasilitas kesehatan tanpa asistensi tenaga terlatih
  • Oklusif dressing atau penutupan yang mencegah pengeringan

Manifestasi Klinis dan Klasifikasi

Anamnesis

Pengasuh bayi umumnya mengeluhkan:

  • Demam atau bayi teraba panas
  • Bayi rewel, menangis lebih sering
  • Penurunan nafsu menyusu atau menolak menyusu
  • Bau tidak sedap dari area tali pusat
  • Kemerahan atau bengkak di sekitar tali pusat
  • Keluaran cairan atau nanah dari puntung tali pusat

Pemeriksaan Fisik

Omfalitis terutama ditandai dengan nyeri tekan, eritema, dan indurasi pada umbilikus dan jaringan sekitarnya. Pada tahap awal, pasien mungkin hanya memiliki selulitis superfisial, tetapi jika tidak diobati, dapat melibatkan seluruh dinding abdomen.

Omfalitis
Sumber: BMJ

Tanda Lokal:

  • Eritema periumbilikal: Kemerahan di sekitar puntung tali pusat
  • Edema/indurasi: Bengkak dan penebalan jaringan
  • Discharge purulent: Keluar nanah atau cairan dengan bau tidak sedap
  • Perdarahan dari puntung tali pusat
  • Puntung yang tampak tidak sehat: Lembab, tidak mengering

Discharge dengan bau busuk harus meningkatkan kecurigaan infeksi anaerob.

Klasifikasi Berdasarkan Keparahan

Omfalitis neonatal dapat dibagi menjadi empat grade menurut tingkat keparahan:

Grade 1 – Funisitis/Discharge Umbilikal:

  • Tali pusat tampak tidak sehat dengan discharge purulen berbau
  • Tanpa eritema periumbilikal yang signifikan
  • Tanpa gejala sistemik

Grade 2 – Omfalitis dengan Selulitis Dinding Abdomen:

  • Eritema periumbilikal dan nyeri tekan
  • Tali pusat tidak sehat dengan discharge
  • Indurasi dapat meluas >1 cm dari tepi umbilikus
  • Belum ada tanda infeksi sistemik

Grade 3 – Omfalitis dengan Sepsis Sistemik:

  • Temuan Grade 2 ditambah tanda infeksi sistemik:
    • Demam (>38°C) atau hipotermia (<36°C)
    • Takikardia
    • Letargi atau somnolen
    • Penurunan perfusi perifer
    • Ikterus
    • Feeding intolerance
    • Apnea atau distress pernapasan

Grade 4 – Omfalitis dengan Necrotizing Fasciitis:

  • Nekrosis umbilikal dengan ekimosis periumbilikal
  • Krepitus atau bula
  • Keterlibatan fasia superfisial dan profunda
  • Tanda sepsis berat dan syok
  • INI ADALAH KEDARURATAN BEDAH

Tanda Bahaya (Red Flags)

  • Progresi eritema yang cepat pada dinding abdomen
  • Gas di jaringan sekitar (krepitus)
  • Perubahan warna kulit menjadi gelap/nekrotik
  • Syok atau kolaps sirkulasi
  • Distensi abdomen (curigai peritonitis atau komplikasi intra-abdominal)

Diagnosis dan Evaluasi

Diagnosis Klinis

Diagnosis omfalitis terutama klinis, berdasarkan temuan fisik eritema periumbilikal, indurasi, dan discharge purulen. Adanya tanda-tanda fisik tersebut sudah cukup untuk menegakkan diagnosis klinis omfalitis.

Pemeriksaan Penunjang

Untuk Semua Kasus Omfalitis:

  1. Darah Lengkap: Evaluasi leukositosis, leukopenia, atau neutropenia
  2. Kultur darah: Sebelum pemberian antibiotik
  3. Kultur discharge purulen: Dari puntung tali pusat
  4. C-Reactive Protein (CRP) dan/atau Procalcitonin: Marker inflamasi

Untuk Kasus dengan Gejala Sistemik (Evaluasi Sepsis Lengkap):

  1. Kultur urin
  2. Foto toraks
  3. Pungsi lumbal dengan kultur cairan serebrospinal
  4. Pemeriksaan koagulasi (PT, aPTT, D-dimer) jika curiga DIC

Pemeriksaan Khusus:

  • Evaluasi Leukocyte Adhesion Deficiency (LAD): Pada anak dengan infeksi berulang dan riwayat omfalitis neonatal, pemeriksaan leukosit adhesion molecules (LFA-1/Mac-1, p150, p95) penting dilakukan. Leukositosis akibat defek marginasi leukosit hampir selalu ada pada LAD

Pencitraan:

  • USG abdomen: Jika curiga komplikasi intra-abdominal (abses, trombosis vena porta)
  • CT scan: Untuk evaluasi necrotizing fasciitis atau komplikasi kompleks
  • Doppler vaskular: Jika curiga trombosis vena umbilikalis atau porta

Diagnosis Banding

1. Tali Pusat Normal dengan Akumulasi Cairan

  • Cairan terkumpul antara puntung tali pusat dan dinding perut
  • Dapat menimbulkan bau tidak sedap
  • TANPA kemerahan atau tanda inflamasi
  • Tata laksana: Cukup dibersihkan dengan alkohol

2. Granuloma Umbilikal

  • Epitelialisasi tertunda pada puntung tali pusat
  • Tampak sebagai granuloma pucat berwarna merah muda keabu-abuan
  • Rembesan cairan serosa (bukan pus)
  • Tidak ada eritema atau tanda infeksi
  • Tata laksana: Kauterisasi dengan perak nitrat stick, dapat diulang jika perlu. Jauhkan popok dari area selama proses penyembuhan

3. Impetigo

  • Lesi vesikobulosa dengan krusta madu
  • Dapat melibatkan area periumbilikal tetapi bukan puntung tali pusat
  • Penyebaran ke area tubuh lain

4. Funisitis

  • Inflamasi intrauterin terbatas pada permukaan tali pusat, sering terkait dengan korioamnionitis maternal, menunjukkan eritema tali pusat saat lahir tetapi tanpa penyebaran postnatal ke jaringan sekitar atau keterlibatan sistemik yang terlihat pada omfalitis

5. Patent Urachus

  • Urakus yang tetap paten dapat menyebabkan drainage urin yang kontinyu dan signifikan dari umbilikus. Drainage terdiri dari urin, bukan pus
  • Pencitraan (USG/sistografi) dapat mengkonfirmasi

6. Patent Omphalomesenteric Duct

  • Drainage terdiri dari sekret intestinal
  • Dapat muncul mukosa intestinal di umbilikus

7. Umbilical Polyp

  • Remnant mukosa intestinal atau urothelial
  • Drainage serosanguinous dan pink
  • Massa polipoid di dasar umbilikus

Tata Laksana

A. Prinsip Umum

  1. Identifikasi dini dan intervensi cepat untuk mencegah progresivitas
  2. Stratifikasi berdasarkan keparahan untuk menentukan setting perawatan
  3. Terapi antimikroba yang adekuat dengan coverage spektrum luas
  4. Monitoring ketat untuk mendeteksi komplikasi
  5. Rujukan tepat waktu untuk kasus kompleks atau tidak respons

B. Tata Laksana Berdasarkan Klasifikasi

Grade 1: Funisitis/Infeksi Lokal Ringan

Setting: Rawat jalan dengan follow-up ketat

Terapi Lokal:

  • Perawatan menggunakan klorheksidin menunjukkan hasil yang baik. Gunakan larutan antiseptik klorheksidin 4% dengan kasa steril untuk menyeka/membersihkan tali pusat beberapa kali sehari. Jika terdapat pus, lakukan hingga pus bersih
  • Alternatif: Alkohol 70% atau povidone-iodine (jika klorheksidin tidak tersedia)
  • Jaga area tetap kering dan bersih
  • Hindari oklusif dressing

Terapi Topikal:

  • Salep antibiotik topikal (mupirocin, bacitracin) dapat dipertimbangkan
  • Aplikasi 2-3 kali sehari setelah pembersihan

Antibiotik Oral (jika ada perluasan minimal <1 cm):

  • Kloksasilin: 50 mg/kg/hari dibagi 4 dosis, atau
  • Sefaleksin: 25-50 mg/kg/hari dibagi 4 dosis, atau
  • Amoksisilin-klavulanat: 30 mg/kg/hari (komponen amoksisilin) dibagi 3 dosis

Durasi: 7-10 hari

Monitoring:

  • Evaluasi setiap 24-48 jam
  • Perburukan atau tidak ada perbaikan dalam 48 jam → rujuk atau eskalasi terapi

Grade 2: Omfalitis dengan Selulitis Dinding Abdomen

Setting: Rawat inap untuk observasi dan terapi parenteral

Terapi Antimikroba Parenteral Empiris:

Antibiotik spektrum luas parenteral diperlukan untuk mengobati omfalitis. Coverage antibiotik harus diarahkan terhadap organisme gram-positif dan gram-negatif.

Regimen Standar:

  • Ampisilin: 100-200 mg/kg/hari IV dibagi setiap 6-8 jam (sesuai usia) DITAMBAH
  • Gentamisin: 4-5 mg/kg/hari IV/IM setiap 24 jam (dosis tunggal harian)

Alternatif:

  • Nafsilin atau Oksasilin: 100-150 mg/kg/hari IV dibagi setiap 6 jam DITAMBAH
  • Gentamisin atau Amikasin

Jika Curiga/Riwayat MRSA di Lingkungan:

  • Vankomisin: 10-15 mg/kg/dosis IV setiap 8-12 jam (sesuai fungsi ginjal) DITAMBAH
  • Gentamisin atau Amikasin

Durasi: 10-14 hari (dapat disesuaikan dengan respon klinis)

Perawatan Lokal: Sama seperti Grade 1

Transisi ke Oral: Antibiotik intravena dapat diganti ke antibiotik enteral setelah kulit membaik secara klinis, umumnya setelah 48-72 jam afebril dan perbaikan eritema.

Monitoring:

  • Tanda vital setiap 4-6 jam
  • Pemeriksaan fisik lokal 2x/hari
  • Evaluasi laboratorium ulang jika memburuk atau tidak respons

Grade 3: Omfalitis dengan Sepsis Sistemik

Setting: NICU atau Unit Perawatan Intensif

Evaluasi Sepsis Lengkap (lihat bagian Pemeriksaan Penunjang)

Terapi Antimikroba: Sama dengan Grade 2, dengan pertimbangan:

  • Durasi minimal 14-21 hari tergantung respon
  • Sesuaikan berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas
  • Jika tidak respons dalam 48-72 jam, pertimbangkan MRSA atau organisme resisten

Terapi Suportif Intensif:

  • Resusitasi cairan sesuai protokol sepsis neonatal
  • Support ventilasi jika diperlukan
  • Inotropik jika syok septik
  • Koreksi gangguan metabolik dan elektrolit
  • Transfusi produk darah jika diperlukan (packed red cells, platelets, FFP)
  • Nutrisi parenteral jika intoleransi enteral

Monitoring Ketat:

  • Pemantauan hemodinamik kontinyu
  • Balance cairan ketat
  • Serial lab: CBC, elektrolit, fungsi ginjal, koagulasi
  • Kultur darah ulang jika demam persisten atau memburuk

Grade 4: Omfalitis dengan Necrotizing Fasciitis

Setting: NICU dengan akses bedah emergensi

INI ADALAH KEDARURATAN BEDAH DAN MEDIS

Konsultasi Bedah SegeraJANGAN TUNDA

Terapi Antimikroba Empiris untuk Infeksi Polimikroba:

  • Piperacillin-Tazobactam: 300 mg/kg/hari (komponen piperacillin) IV dibagi setiap 6-8 jam ATAU
  • Meropenem: 20-40 mg/kg/dosis IV setiap 8 jam DITAMBAH
  • Vankomisin: 10-15 mg/kg/dosis IV setiap 8-12 jam DITAMBAH
  • Klindamisin: 25-40 mg/kg/hari IV dibagi setiap 8 jam (untuk coverage anaerob dan efek anti-toksin)

Intervensi Bedah: Necrotizing fasciitis adalah komplikasi paling serius yang melibatkan infeksi bakteri florid pada kulit, lemak subkutan, dan fasia superfisial dan profunda yang mengkomplikasi 8-16% kasus omfalitis neonatal. Ditandai dengan infeksi yang menyebar cepat dan toksisitas sistemik berat.

  • Debridemen luas dan agresif dari jaringan nekrotik
  • Eksplorasi bedah untuk menilai extent
  • Mungkin memerlukan debridemen berulang
  • Penutupan sekunder atau skin grafting setelah infeksi terkontrol

Support Intensif:

  • Resusitasi cairan agresif
  • Ventilasi mekanik seringkali diperlukan
  • Multiple inotropes untuk syok
  • Monitoring invasif (arterial line, CVP)
  • IVIG dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu
  • Nutrisi parenteral total

Prognosis: Meskipun dengan dukungan agresif, angka mortalitas untuk omfalitis neonatal dengan necrotizing fasciitis tetap tinggi.

C. Rujukan

Indikasi Rujukan dari Fasilitas Kesehatan Primer:

  1. Omfalitis dengan perluasan >1 cm atau keterlibatan dinding abdomen
  2. Adanya tanda sepsis sistemik
  3. Tidak respons terhadap terapi oral dalam 48 jam
  4. Curiga komplikasi (necrotizing fasciitis, abses, dll)
  5. Riwayat/curiga MRSA di lingkungan
  6. Bayi prematur atau berat lahir rendah dengan omfalitis
  7. Komorbiditas (imunodefisiensi, dll)

Tindakan Sebelum Rujukan:

  • Mulai antibiotik parenteral (jika tersedia fasilitas)
  • Resusitasi cairan jika ada tanda syok
  • Stabilisasi tanda vital
  • Jaga normotermia
  • Komunikasi dengan fasilitas rujukan
  • Dokumentasi lengkap termasuk foto lesi jika memungkinkan

Komplikasi

Sekuele omfalitis dapat dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas yang signifikan, terutama karena akses langsung tali pusat ke aliran darah.

Komplikasi Lokal

  • Abses dinding abdomen
  • Necrotizing fasciitis
  • Myonecrosis
  • Eviserasi spontan usus

Komplikasi Vaskuler

  • Tromboflebitis vena umbilikalis atau porta: Komplikasi jarang namun signifikan yang dapat menyebabkan transformasi kavernosa non-neoplastik vena porta, dengan perkembangan hipertensi portal ekstrahepatik dan obstruksi bilier
  • Arteritis
  • Trombosis arteri

Komplikasi Intra-Abdominal

  • Peritonitis
  • Abses intra-abdominal atau retroperitoneal
  • Abses hepar
  • Abses ligamentum falciforme
  • Iskemia atau obstruksi usus

Komplikasi Sistemik

  • Bakteremia merupakan komplikasi paling serius yang umum dari omfalitis. Dalam studi oleh Mason dkk, bakteremia adalah komplikasi pada 13% bayi dengan omfalitis. Pada bayi ini, syok, disseminated intravascular coagulation (DIC), dan gagal organ multipel dapat terjadi
  • Sepsis dan syok septik
  • Meningitis
  • Endokarditis
  • Embolisasi septik ke berbagai organ (paru, ginjal, pankreas, kulit)

Pencegahan

A. Pencegahan Primer

1. Praktik Persalinan yang Aman

  • Persalinan aseptik dengan petugas terlatih
  • Pemotongan tali pusat dengan instrumen steril
  • Menggunakan sarung tangan steril
  • Teknik aseptik dalam klemping dan pemotongan tali pusat

2. Perawatan Tali Pusat: Rekomendasi Berbasis Setting

WHO merekomendasikan dry cord care (menjaga tali pusat bersih dan kering dengan paparan udara atau pakaian ringan tanpa aplikasi antiseptik atau agen antimikroba) setelah persalinan institusional atau setelah persalinan di rumah di lokasi dimana angka mortalitas neonatal rendah. Rekomendasi ini didukung oleh berbagai studi termasuk trial cluster randomized yang menunjukkan dry cord care non-inferior dibanding penggunaan antiseptik dalam mencegah omfalitis di negara maju.

Untuk Setting dengan Sumber Daya Tinggi (Rumah Sakit di Negara Maju):

  • Dry Cord Care: Rekomendasi WHO dan AAP
  • Jaga tali pusat bersih dan kering
  • Paparan udara atau tutup dengan kain bersih
  • Hindari penggunaan antiseptik rutin
  • Lipat popok di bawah puntung tali pusat untuk menghindari kontaminasi urin/feses

Untuk Setting dengan Sumber Daya Terbatas atau Mortalitas Neonatal Tinggi: Guideline WHO merekomendasikan aplikasi harian 7,1% klorheksidin diglukonat (setara 4% klorheksidin) pada puntung untuk minggu pertama kehidupan untuk bayi yang lahir di luar fasilitas kesehatan di konteks tersebut, karena praktik ini terbukti mengurangi omfalitis dan mortalitas terkait. Bukti dari uji coba menunjukkan bahkan aplikasi tunggal 4% klorheksidin dalam 24 jam setelah lahir dapat mengurangi risiko omfalitis dan infeksi terkait hingga 40% di setting dengan sumber daya terbatas.

  • Aplikasi klorheksidin 4% sehari sekali selama 7 hari pertama
  • Terbukti menurunkan risiko omfalitis hingga 40%
  • Menurunkan mortalitas neonatal 6-23% di setting komunitas

Konteks Indonesia: Mengingat disparitas geografis dan sosioekonomi, pendekatan hybrid mungkin paling sesuai:

  • Dry cord care di rumah sakit dengan standar tinggi
  • Aplikasi klorheksidin untuk persalinan di rumah atau fasilitas dengan standar kebersihan suboptimal
  • Edukasi kader dan bidan tentang pentingnya teknik aseptik

3. Edukasi Orang Tua

Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai:

  • Kemerahan meluas di sekitar tali pusat
  • Bengkak
  • Keluar nanah atau cairan berbau
  • Bayi demam atau tidak mau menyusu
  • Bayi tampak lemah atau rewel berlebihan

Praktik Perawatan yang Benar:

  • Cuci tangan sebelum menyentuh area tali pusat
  • Jaga area kering
  • Hindari penggunaan substansi tradisional yang tidak steril
  • Lipat popok di bawah puntung tali pusat
  • Segera konsultasi jika ada tanda abnormal

4. Imunisasi Tetanus Toksoid

  • Imunisasi TT lengkap untuk ibu hamil
  • Penting untuk mencegah tetanus neonatorum

B. Pencegahan Sekunder

  • Deteksi dini melalui pemeriksaan rutin
  • Follow-up ketat pada bayi berisiko tinggi
  • Intervensi cepat pada tanda awal infeksi
  • Program quality assurance di fasilitas kesehatan

C. Pencegahan Tersier

  • Tata laksana komplikasi yang optimal
  • Rehabilitasi pada kasus dengan morbiditas jangka panjang
  • Konseling genetik untuk kasus dengan defek imun

Prognosis

Studi multisenter besar terkini menunjukkan bahwa sebagian besar omfalitis menunjukkan presentasi sebagai infeksi jaringan lunak lokal, dengan angka yang sangat rendah untuk infeksi bakteri serius konkuren atau outcome yang buruk.

Faktor yang Memengaruhi Prognosis:

Prognosis Baik:

  • Deteksi dan terapi dini
  • Infeksi terbatas lokal tanpa gejala sistemik
  • Respons baik terhadap antibiotik
  • Tidak ada komorbiditas
  • Akses ke layanan kesehatan yang memadai

Prognosis Buruk:

  • Keterlambatan diagnosis dan terapi
  • Perkembangan menjadi necrotizing fasciitis atau sepsis
  • Bayi prematur atau berat lahir sangat rendah
  • Defek imunologi yang mendasari
  • Komplikasi sistemik (bakteremia, meningitis)
  • Akses terbatas ke fasilitas kesehatan terlatih

Mortalitas: Mortalitas omfalitis diperkirakan 7-15%, dengan angka lebih tinggi di negara berkembang dan pada kasus dengan komplikasi berat.

Follow-up Jangka Panjang:

  • Evaluasi pertumbuhan dan perkembangan
  • Monitor komplikasi jangka panjang (hipertensi portal pada kasus trombosis vena porta)
  • Evaluasi imunodefisiensi jika ada riwayat infeksi berulang

Kesimpulan dan Rekomendasi untuk Praktik Klinis

Omfalitis tetap menjadi penyebab penting morbiditas dan mortalitas neonatal, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Pendekatan yang komprehensif mencakup:

  1. Pencegahan melalui praktik persalinan aseptik dan perawatan tali pusat yang sesuai dengan setting
  2. Deteksi dini melalui edukasi orang tua dan petugas kesehatan tentang tanda bahaya
  3. Tata laksana cepat dan tepat dengan stratifikasi berdasarkan keparahan
  4. Sistem rujukan yang efektif untuk kasus kompleks
  5. Monitoring outcome untuk quality improvement

Untuk Dokter Layanan Primer:

  • Kenali tanda awal omfalitis
  • Mulai terapi sesuai protokol
  • Rujuk tepat waktu untuk kasus berat
  • Edukasi keluarga tentang perawatan dan tanda bahaya

Untuk Kebijakan Kesehatan:

  • Perkuat program pelatihan bidan dan tenaga kesehatan
  • Tingkatkan akses persalinan di fasilitas kesehatan
  • Implementasi guideline berbasis bukti untuk perawatan tali pusat
  • Surveilans infeksi neonatal termasuk omfalitis
  • Penyediaan klorheksidin untuk setting dengan risiko tinggi

Dengan penerapan strategi berbasis bukti dan kolaborasi lintas sektor, beban omfalitis dapat dikurangi secara signifikan, berkontribusi pada penurunan mortalitas neonatal sesuai target Sustainable Development Goals.


Referensi Utama

  1. Stewart D, Benitz W, Committee on Fetus and Newborn. Umbilical Cord Care in the Newborn Infant. Pediatrics. 2016;138(3):e20162149.
  2. World Health Organization. Pregnancy, Childbirth, Postpartum and Newborn Care: A Guide for Essential Practice. 3rd ed. Geneva: WHO Press; 2015.
  3. Imdad A, Mullany LC, Baqui AH, et al. The effect of umbilical cord cleansing with chlorhexidine on omphalitis and neonatal mortality in community settings in developing countries: a meta-analysis. BMC Public Health. 2013;13(Suppl 3):S15.
  4. Kaplan RL, Cruz AT, Freedman SB, et al. Omphalitis and Concurrent Serious Bacterial Infection. Pediatrics. 2022;149(5):e2021054413.
  5. Cushing AH. Omphalitis: a review. Pediatr Infect Dis. 1985;4(3):282-285.
  6. Sawardekar KP. Changing spectrum of neonatal omphalitis. Pediatr Infect Dis J. 2004;23(1):22-26.
  7. Sengupta M, Banerjee S, Banerjee P, Guchhait P. Outstanding Prevalence of Methicillin Resistant Staphylococcus aureus in Neonatal Omphalitis. J Clin Diagn Res. 2016;10(9):DM01-DM03.
  8. Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta: Kemenkes RI; 2014.

Artikel ini disusun berdasarkan guideline WHO, American Academy of Pediatrics, dan literatur medis terkini hingga 2024-2025. Untuk pengelolaan kasus individual, konsultasikan dengan dokter spesialis anak atau neonatologi.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar