A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Setelah meninggalkan Linux karena (keterpaksaan) tuntutan dunia kerja. Saya tiba pada Windows 10 yang baru saja beberapa hari ditingkatkan menjadi Windows 10 Creators Update. Memang sekarang Microsoft tidak lagi melakukan peningkatan seperti dulu, di mana dari Windows XP menjadi Vista, lalu 7 akhirnya dua seri 8 dan 8.1 sebelum menjadi Windows 10. Sistem peningkatan Windows 10 terasa seperti menggunakan Sebayon, Arch atau Tumbleweed (pengguna Linux akan paham).

Ada banyak fitur baru dalam Windows 10 Creators Update, namun tidak semua bermanfaat bagi saya, atau setidaknya, tidak semua bisa saya gunakan. Andalan Windows 10 Creators Update yang merupakan kemudahan akses desain dan ‘sosialitas’ 3D menjadi ‘sampah’ bagi saya yang tidak memerlukannya, bahkan saya menghapus sejumlah aplikasi bawaan terkait fitur ini. Tapi tidak semuanya buruk kok.

Fitur bermain video game yang dioptimalkan adalah hal yang menarik. Sebagai mantan orang yang sering khilaf bermain game saat rambut belum ubanan, ini seperti kabar gembira, walau tidak akan ikut serta menyiarkan game (malu, spesifikasi komputer tidak sanggup buat pamer), saya rasa akan mencoba mencicipi beberapa permainan setelah melakukan penambahan RAM dan membuka akun STREAM.

Yang kedua yang juga menarik adalah, saya menemukan Edge (peramban web) yang menjadi bawaan Windows 10 ternyata di edisi ini semakin menyenangkan. Saya bisa membaca buku elektronik ePub di Edge, sehingga saya tidak perlu menambah aplikasi lain. Sejumlah besar ebook saya benar-benar akan lengket dengan fitur ini. Lalu untuk meramban web, sampai saat ini saya masih menggunakan Opera (hei… fitur turbo dan free VPN masih terlalu menawan untuk ditinggalkan).

Fitur lain-lain saya tidak terlalu peduli. Dua tadi setidaknya yang saya lihat perubahannya secara sekilas pada Windows 10 Creators Update. Windows 10 akan menjadi sistem operasi pendamping saya untuk beberapa tahun ke depan. Dan saya akan merindukan menggunakan Linux dengan kesederhaannya antarmuka dan perintah barisnya.

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca