A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Setelah kemarin mencoba iflix, saya tertarik untuk melihat bagaimana layanan tetangganya, yaitu Netflix. Saya melakukan pendaftaran Netflix melalui aplikasi Samsung Smart TV dengan jaringan Indosat Ooredo. Pendaftaran berlangsung lancar, dan memang mereka meminta memasukkan metode pembayaran yang masih berlaku untuk melakukan penagihan biaya berlangganan.

Netflix promonya adalah gratis menikmati layanan pada bulan pertama, dan tagihan baru akan dilakukan pada bulan berikutnya.

Capture

Dibandingkan iflix, Netflix jelas memiliki judul film dan serial televisi Barat yang lebih banyak. Saya bahkan bisa dibuat bingung karena banyaknya pilihan. Untuk film Asia, koleksi Netflix bisa dibilang tidaklah sedikit. Apalagi Netflix juga memiliki tayangan produksi mereka sendiri, seperti “Crouching Tiger Hidden Dragon: Sword of Destiny”.

Biaya berlangganan Netflix berbeda jauh dari iflix, mulai sekitar dua setengah kalinya hingga sekitar enam kalinya per bulan tergantung fitur yang diinginkan. Netflix juga memiliki lebih banyak aplikasi dibandingkan iflix, seperti aplikasi pada Microsoft Store yang jarang dimiliki pesaingnya.

Hanya untuk menikmati layanan Netflix, saya menemukan sebuah kendala yang bermakna. Saya tidak menjalankan aplikasi atau mengakses Netflix melalui jaringan IndiHome, dengan pemberitahuan bahwa proses sinkronisasi ke peladen (server) tidak dapat dijangkau, membuat layanan ini mati sama sekali.

Saya  baru bisa mengatasi masalah tersebut jika saya terhubung menggunakan VPN (kebetulan saya memiliki langganan Kaspersky Secure Connection). Dan VPN jelas bukan pilihan yang bijak dalam menikmati video streaming.

Pada akhir kata, dalam beberapa jam saya menggunakan layanan Netflix, dibandingkan dengan iflix, maka bisa dikatakan Netflix lebih kaya konten, biaya berlangganan lebih tinggi, platform yang didukung lebih banyak, mendukung UHD, namun sayangnya tidak ramah pada jaringan tertentu (ISP).

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca