A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Vaksin MMR adalah vaksin kombinasi yang diberikan pada anak-anak untuk mencegah tiga penyakit menular sekaligus: campak (measles), gondongan (mumps), dan campak Jerman (rubella). Vaksin ini termasuk salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah kesehatan masyarakat modern — kegiatan imunisasi campak yang dipercepat oleh berbagai negara dan organisasi internasional diperkirakan telah mencegah sekitar 59 juta kematian antara tahun 2000 dan 2024. Namun, sebuah klaim yang sudah lama dibantah — bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme — masih terus beredar dan memengaruhi keputusan orang tua di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Artikel ini mengulas secara mendalam mengapa klaim tersebut tidak berdasar secara ilmiah, bagaimana kronologi munculnya mitos ini, apa kata bukti ilmiah terkini, dan mengapa isu ini kembali mengemuka pada tahun 2025 akibat dinamika politik di Amerika Serikat.

Asal Mula Mitos: Studi Wakefield yang Palsu

Klaim hubungan antara vaksin MMR dan autisme bermula dari sebuah makalah yang diterbitkan di jurnal The Lancet pada tahun 1998 oleh Andrew Wakefield, seorang ahli gastroenterologi asal Inggris, bersama 12 rekan penulisnya. Makalah tersebut melaporkan serangkaian kasus (case series) pada 12 anak yang diduga mengalami gangguan perkembangan setelah menerima vaksin MMR, dan berspekulasi bahwa vaksin tersebut mungkin terkait dengan peradangan usus dan autisme (Rao & Andrade, 2011).

Dari perspektif metodologi ilmiah, makalah ini memiliki kelemahan fatal: jumlah subjek sangat kecil (hanya 12 anak), tidak ada kelompok kontrol, kasus-kasusnya dipilih secara selektif (cherry-picked) dan bukan merupakan sampel konsekutif, serta kesimpulannya bersifat sangat spekulatif. Empat dari 12 subjek bahkan diketahui sudah memiliki gangguan perilaku sebelum menerima vaksin MMR — sebuah fakta yang justru membantah hipotesis Wakefield sendiri.

Investigasi jurnalistik mendalam oleh Brian Deer dari British Medical Journal (BMJ) kemudian mengungkap bahwa Wakefield melakukan manipulasi data secara sengaja, memalsukan riwayat medis subjek penelitian, dan memiliki konflik kepentingan finansial yang tidak diungkapkan — ia didanai oleh pengacara yang mewakili orang tua dalam gugatan hukum terhadap produsen vaksin. Pada tahun 2004, sepuluh dari 12 rekan penulis menarik interpretasi mereka terhadap data tersebut. Pada tahun 2010, The Lancet secara resmi mencabut makalah tersebut sepenuhnya. Tak lama kemudian, Dewan Kedokteran Umum Inggris (General Medical Council) mencabut izin praktik kedokteran Wakefield karena pelanggaran etika serius (Rao & Andrade, 2011).

Meskipun demikian, kerusakan yang ditimbulkan sudah terlanjur terjadi. Studi oleh Motta & Stecula (2021) menunjukkan bahwa publikasi Wakefield menyebabkan peningkatan langsung sekitar 70 laporan kejadian ikutan pascaimunisasi MMR per bulan di Amerika Serikat, dan liputan media negatif tentang MMR meningkat secara signifikan dalam minggu-minggu setelah publikasi tersebut. Mitos ini kemudian menyebar luas melalui media massa dan media sosial, didukung oleh berbagai tokoh publik termasuk figur politik, dan tetap bertahan hingga saat ini.

Bukti Ilmiah yang Sangat Kuat: Tidak Ada Hubungan antara MMR dan Autisme

Sejak publikasi Wakefield, puluhan penelitian berskala besar dari berbagai negara telah dilakukan untuk menguji klaim ini secara ketat. Hasilnya konsisten dan tegas: tidak ada hubungan kausal antara vaksin MMR dan autisme.

Salah satu studi paling komprehensif adalah penelitian kohort nasional Denmark oleh Hviid dkk. (2019), yang dipublikasikan di Annals of Internal Medicine. Studi ini melibatkan 657.461 anak yang lahir di Denmark antara tahun 1999 hingga 2010 dan diikuti selama lebih dari 5 juta tahun-orang (person-years). Hasilnya menunjukkan rasio bahaya (hazard ratio) yang telah disesuaikan untuk autisme pada anak yang divaksinasi MMR dibandingkan yang tidak divaksinasi adalah 0,93 (interval kepercayaan 95%: 0,85–1,02) — yang berarti tidak ada peningkatan risiko autisme. Penelitian ini juga secara khusus menguji hipotesis bahwa mungkin ada subkelompok anak yang rentan di mana MMR bisa memicu autisme, termasuk anak-anak yang memiliki saudara kandung dengan autisme, dan tidak menemukan peningkatan risiko pada subkelompok mana pun (Hviid dkk., 2019).

Tinjauan sistematis Cochrane oleh Di Pietrantonj dkk. (2020) — yang merupakan standar emas dalam evaluasi bukti klinis — menganalisis 138 studi yang melibatkan lebih dari 23 juta anak. Untuk keamanan vaksin MMR terhadap autisme, tinjauan ini menemukan rasio angka (rate ratio) 0,93 (interval kepercayaan 95%: 0,85–1,01) berdasarkan bukti berkualitas sedang, yang menunjukkan tidak ada hubungan antara vaksinasi MMR dan gangguan spektrum autisme (Di Pietrantonj dkk., 2020).

Meta-analisis oleh Taylor dkk. (2014) mengumpulkan data dari lima studi kohort yang melibatkan 1.256.407 anak dan lima studi kasus-kontrol yang melibatkan 9.920 anak. Analisis kohort menunjukkan tidak ada hubungan antara vaksinasi secara umum dan autisme (OR: 0,99; 95% CI: 0,92–1,06), tidak ada hubungan antara MMR dan autisme (OR: 0,84; 95% CI: 0,70–1,01), dan tidak ada hubungan antara timerosal/thimerosal atau merkuri dalam vaksin dan autisme (OR: 1,00; 95% CI: 0,93–1,07) (Taylor dkk., 2014).

Tinjauan sistematis terbaru oleh Gidengil dkk. (2021), yang memperbarui kajian sebelumnya dari Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ), mengevaluasi 338 studi yang dilaporkan dalam 518 publikasi. Untuk vaksin MMR, kekuatan bukti (strength of evidence) dinilai “tinggi” untuk tidak adanya peningkatan risiko autisme — tingkat kepastian tertinggi dalam hierarki bukti (Gidengil dkk., 2021).

Bukan Hanya MMR: Timerosal, Aluminium, dan Jumlah Vaksin

Ketika bukti semakin jelas bahwa MMR tidak terkait dengan autisme, klaim dari kelompok antivaksin bergeser ke komponen lain dalam vaksin. Pertama, timerosal (thimerosal) — pengawet yang mengandung etilmerkuri dan tidak pernah terkandung dalam vaksin MMR — dituduh sebagai penyebab autisme. Kemudian, aluminium yang digunakan sebagai ajuvan (pembantu peningkat respons imun) dalam beberapa vaksin non-hidup juga menjadi sasaran. Terakhir, jumlah total vaksin yang diberikan pada masa kanak-kanak dianggap terlalu banyak dan berpotensi membahayakan.

Semua klaim ini telah diuji secara ilmiah dan tidak terbukti. Meta-analisis Taylor dkk. (2014) menunjukkan secara spesifik tidak ada hubungan antara timerosal atau merkuri dalam vaksin dan autisme. Studi kohort nasional Denmark terbaru oleh Andersson dkk. (2025), yang dipublikasikan di Annals of Internal Medicine, meneliti 1.224.176 anak yang lahir di Denmark antara 1997 dan 2018 untuk mengevaluasi hubungan antara paparan kumulatif aluminium dari vaksin pada dua tahun pertama kehidupan dengan risiko 50 penyakit kronis, termasuk gangguan autisme dan ADHD. Hasilnya tegas: tidak ditemukan peningkatan risiko untuk gangguan neurodevelopmental apa pun. Rasio bahaya yang disesuaikan per peningkatan 1 mg aluminium adalah 0,93 (95% CI: 0,90–0,97) untuk gangguan neurodevelopmental secara keseluruhan — bahkan menunjukkan tren protektif, bukan merugikan (Andersson dkk., 2025).

Tinjauan komprehensif oleh Nirenberg dkk. (2026) di jurnal Pediatrics menegaskan bahwa garam aluminium telah digunakan sebagai ajuvan vaksin selama hampir satu abad dengan rekam jejak keamanan yang konsisten. Studi farmakokinetik menunjukkan bahwa aluminium dari vaksin yang disuntikkan intramuskular diserap secara perlahan dan dibersihkan secara efisien oleh ginjal, dengan kontribusi minimal terhadap kadar sistemik. Bukti klinis dan epidemiologis berskala besar secara konsisten menunjukkan tidak ada hubungan antara vaksin yang mengandung aluminium dan gangguan spektrum autisme, neurotoksisitas, penyakit alergi, atau penyakit autoimun (Nirenberg dkk., 2026).

Memahami Autisme: Apa yang Diketahui Sains tentang Penyebabnya

Gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder/ASD) adalah kondisi neurodevelopmental yang ditandai dengan kesulitan dalam komunikasi sosial, minat yang terbatas, dan perilaku berulang. Prevalensi diagnosis autisme memang meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir — namun peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh perluasan kriteria diagnostik, peningkatan kesadaran publik dan tenaga kesehatan, serta perbaikan metode skrining.

Penelitian terkini menunjukkan bahwa autisme adalah kondisi multifaktorial dengan komponen genetik yang sangat kuat. Proses neurodevelopmental yang mendasari autisme dimulai jauh sebelum usia satu tahun — yaitu sebelum vaksin MMR biasanya diberikan. Ini adalah salah satu alasan fundamental mengapa hubungan temporal antara vaksinasi MMR dan munculnya gejala autisme bersifat kebetulan (coincidental), bukan kausal: keduanya terjadi pada rentang usia yang sama secara independen (DeStefano & Shimabukuro, 2019).

Penelitian genetik dan epigenetik modern terus mengidentifikasi berbagai jalur biologis yang terlibat dalam patogenesis autisme, termasuk faktor genetik (baik monogenik maupun poligenik), faktor lingkungan prenatal seperti diabetes gestasional dan paparan zat kimia tertentu, serta interaksi gen-lingkungan yang kompleks. Wadhwani & Patel (2026) misalnya, menguraikan bagaimana hiperglikemia gestasional dapat memengaruhi perkembangan otak janin melalui jalur stres oksidatif, disfungsi mitokondria, dan modifikasi epigenetik. Quiñones-Medina dkk. (2026) mengeksplorasi interaksi antara kerentanan genetik dan paparan lingkungan terhadap Bisfenol-A (BPA) dalam patogenesis autisme. Semua jalur ini menunjuk pada proses biologis yang terjadi selama kehamilan dan perkembangan janin — bukan pada paparan pascakelahiran seperti vaksinasi.

Posisi WHO: Penegasan Kembali pada 2025

Pada 27 November 2025, Komite Penasihat Global WHO untuk Keamanan Vaksin (Global Advisory Committee on Vaccine Safety/GACVS) mengeluarkan pernyataan resmi berdasarkan dua tinjauan sistematis baru yang dilakukan dengan metodologi ketat. Tinjauan pertama mengevaluasi 31 studi primer yang diterbitkan antara Januari 2010 dan Agustus 2025, mencakup data dari 11 negara berbeda.

Dua puluh dari 31 studi primer tersebut — termasuk studi-studi yang paling ketat secara metodologis — serta seluruh lima meta-analisis yang dimasukkan, tidak menemukan bukti yang mendukung hubungan antara vaksin (terlepas dari kandungan timerosal) dan gangguan spektrum autisme. GACVS secara eksplisit mencatat bahwa 11 studi yang menyuarakan potensi hubungan memiliki kelemahan metodologis yang signifikan dan multipel, semuanya memiliki kekuatan bukti yang sangat rendah dengan risiko bias yang tinggi, dan sembilan dari 11 studi tersebut berasal dari satu kelompok penelitian yang sama di Amerika Serikat.

Berdasarkan tinjauan ini, GACVS menegaskan kembali kesimpulan dari kajian-kajian sebelumnya pada tahun 2002, 2004, dan 2012: bukti ilmiah berkualitas tinggi yang tersedia menunjukkan bahwa vaksin — termasuk yang mengandung timerosal, aluminium, atau keduanya — tidak menyebabkan autisme (WHO, 2025).

Kontroversi CDC 2025: Ketika Politik Menantang Sains

Pada November 2025, sebuah peristiwa yang menggemparkan komunitas ilmiah dan kesehatan masyarakat global terjadi di Amerika Serikat. Halaman situs web Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang selama ini secara tegas menyatakan bahwa vaksin tidak menyebabkan autisme, diubah atas perintah langsung dari Robert F. Kennedy Jr. (RFK Jr.) — seorang aktivis antivaksin yang menjabat sebagai Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (Secretary of Health and Human Services) Amerika Serikat.

Halaman CDC yang diperbarui kini menyatakan bahwa klaim “vaksin tidak menyebabkan autisme” bukanlah klaim berbasis bukti — sebuah pernyataan yang bertentangan langsung dengan konsensus ilmiah yang dibangun selama lebih dari dua dekade. Perubahan ini dilakukan tanpa melalui proses peninjauan ilmiah normal di CDC dan menentang keberatan dari staf karir ilmiah lembaga tersebut. Perubahan ini juga melanggar komitmen yang diberikan RFK Jr. kepada Senator Bill Cassidy — seorang dokter — selama proses konfirmasinya.

Reaksi dari komunitas ilmiah dan medis sangat keras. American Academy of Pediatrics (AAP), melalui presidennya Dr. Susan J. Kressly, menyatakan: sejak 1998, peneliti independen dari tujuh negara telah melakukan lebih dari 40 studi berkualitas tinggi yang melibatkan lebih dari 5,6 juta orang, dan kesimpulannya jelas serta tegas bahwa tidak ada hubungan antara vaksin dan autisme. Para pakar penyakit infeksi, vaksinolog, dan peneliti autisme dari institusi terkemuka seperti Johns Hopkins, University of Colorado, dan Boston University mengecam perubahan tersebut sebagai penyebaran informasi yang salah oleh lembaga pemerintah yang seharusnya menjadi sumber informasi ilmiah objektif.

Penting untuk dicatat bahwa respons WHO terhadap perkembangan ini sangat cepat dan tegas. Hanya tiga minggu setelah perubahan situs CDC, WHO mengeluarkan pernyataan GACVS yang telah disebutkan di atas, yang secara eksplisit menegaskan kembali bahwa tidak ada hubungan kausal antara vaksin dan autisme — sebuah langkah yang banyak dipandang sebagai respons langsung terhadap politisasi sains yang terjadi di Amerika Serikat.

Posisi Indonesia: IDAI dan Kemenkes Tetap Teguh

Di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara konsisten menyatakan bahwa vaksin MMR dan MR tidak menyebabkan autisme. Prof. Hartono Gunardi, Ketua Satgas Imunisasi IDAI, dalam seminar media IDAI tentang Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak pada Agustus 2025, menegaskan bahwa penelitian Wakefield hanya melibatkan 12 anak, tidak valid secara ilmiah, dan sudah ditarik dari jurnal — sementara dokternya telah dicabut izin praktiknya. Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K), Ketua IDAI Jawa Barat, dalam pengarahan media IDAI pada Februari 2026, bahkan secara blak-blakan menyatakan bahwa klaim MMR menyebabkan autisme “sudah jadul banget” dan telah dibantah oleh berbagai penelitian dengan jumlah sampel yang sangat besar.

IDAI merekomendasikan jadwal imunisasi campak dan MR/MMR yang komprehensif: dosis pertama vaksin MR pada usia 9 bulan, dosis kedua (MMR) pada usia 18 bulan, dan dosis ketiga pada usia 5–7 tahun. Dua dosis vaksin MR/MMR memberikan perlindungan sekitar 97% terhadap campak.

Konteks Indonesia saat ini membuat pesan ini semakin mendesak. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa Indonesia mengalami krisis campak pada tahun 2025 dengan 63.769 kasus suspek dan 11.094 kasus terkonfirmasi disertai 69 kematian, yang berlanjut hingga awal 2026 dengan ribuan kasus baru. Penyebab utamanya adalah penurunan cakupan imunisasi — dosis kedua vaksin MR (MR2) baru mencapai sekitar 82% pada tahun 2024, jauh di bawah target 95% yang diperlukan untuk kekebalan komunal (herd immunity). Pandemi COVID-19 menciptakan “kantong-kantong kerentanan” akibat terganggunya layanan imunisasi rutin, sehingga banyak anak yang lahir pada periode 2020–2023 melewatkan jadwal vaksinasi. Akumulasi populasi tanpa kekebalan ini mencapai titik kritis dan virus campak yang memiliki angka reproduksi dasar (R₀) 12–18 menyebar secara eksponensial ketika menemukan populasi rentan.

Dalam konteks ini, mitos bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme bukan sekadar kesalahpahaman yang tidak berbahaya — ia secara langsung berkontribusi pada keengganan vaksinasi yang menyebabkan wabah campak dan kematian anak yang seharusnya bisa dicegah.

Peran Misinformasi dan Media Sosial

Keraguan terhadap vaksin (vaccine hesitancy) telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh misinformasi, pergeseran wacana publik, dan menurunnya kepercayaan terhadap panduan medis tradisional (Orionzi, 2026). Survei terhadap tenaga kesehatan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penyumbang terbesar misinformasi vaksin di kalangan pasien adalah media sosial (91,0%), diikuti oleh selebritas/tokoh televisi (63,5%) dan media massa (61,1%). Kekhawatiran tentang hubungan vaksin dengan autisme atau infertilitas masih menjadi salah satu alasan utama keengganan dan penolakan vaksin (Eiden dkk., 2024).

Fenomena ini menunjukkan bahwa komunitas kesehatan menghadapi tantangan komunikasi yang kompleks. Mitos vaksin-autisme bertahan bukan karena kekuatan buktinya — yang memang tidak ada — melainkan karena ia menyentuh ketakutan orang tua yang sangat dalam tentang kesejahteraan anak-anak mereka, diperkuat oleh bias kognitif seperti korelasi temporal yang keliru dikira sebagai kausalitas, dan diamplifikasi oleh ekosistem informasi digital yang sering kali memprioritaskan sensasi di atas akurasi.

Kesimpulan

Bukti ilmiah dalam lebih dari dua dekade terakhir — dari puluhan studi kohort berskala besar, meta-analisis, dan tinjauan sistematis yang melibatkan jutaan anak di berbagai negara — secara konsisten dan tegas menunjukkan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme. Tidak ada hubungan kausal yang ditemukan, baik untuk vaksin MMR secara spesifik, timerosal, aluminium, maupun jumlah total vaksin yang diberikan pada masa kanak-kanak.

Autisme adalah kondisi neurodevelopmental kompleks dengan dasar genetik yang kuat, yang proses pembentukannya dimulai jauh sebelum anak menerima vaksin. Hubungan temporal antara usia pemberian vaksin dan munculnya gejala autisme adalah kebetulan, bukan hubungan sebab-akibat.

WHO, AAP, IDAI, dan seluruh organisasi kesehatan dan kedokteran profesional terkemuka di dunia sepakat: vaksin MMR aman dan efektif. Manfaat perlindungannya jauh melampaui risiko efek samping ringan yang mungkin terjadi. Di tengah krisis campak yang melanda Indonesia saat ini, mempercayai mitos yang tidak berdasar dan menolak vaksinasi bukan hanya merugikan anak sendiri, tetapi juga mengancam kesehatan anak-anak lain di komunitas.


Artikel pertama kali dipublikasikan pada 5 Maret 2019. Diperbarui pada 31 Maret 2026 dengan bukti ilmiah terkini, termasuk tinjauan sistematis WHO GACVS 2025, studi kohort nasional Denmark terbaru, dan konteks epidemiologi campak Indonesia 2025–2026.


Sanggahan: Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi dan informasi kesehatan. Informasi dalam artikel ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti konsultasi, diagnosis, atau tata laksana medis profesional. Selalu konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten untuk keputusan terkait kesehatan Anda dan keluarga.


Referensi

Andersson, N. W., Bech Svalgaard, I., Hoffmann, S. S., & Hviid, A. (2025). Aluminum-adsorbed vaccines and chronic diseases in childhood: A nationwide cohort study. Annals of Internal Medicine, 178(10), 1369–1377. https://doi.org/10.7326/ANNALS-25-00997

DeStefano, F., & Shimabukuro, T. T. (2019). The MMR vaccine and autism. Annual Review of Virology, 6(1), 585–600. https://doi.org/10.1146/annurev-virology-092818-015515

Di Pietrantonj, C., Rivetti, A., Marchione, P., Debalini, M. G., & Demicheli, V. (2020). Vaccines for measles, mumps, rubella, and varicella in children. Cochrane Database of Systematic Reviews, 4(4), CD004407. https://doi.org/10.1002/14651858.CD004407.pub4

Eiden, A. L., Drakeley, S., Modi, K., Mackie, D., Bhatti, A., & DiFranzo, A. (2024). Attitudes and beliefs of healthcare providers toward vaccination in the United States: A cross-sectional online survey. Vaccine, 42(26), 126437. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2024.126437

Gidengil, C., Goetz, M. B., Newberry, S., Maglione, M., Hall, O., Larkin, J., Motala, A., & Hempel, S. (2021). Safety of vaccines used for routine immunization in the United States: An updated systematic review and meta-analysis. Vaccine, 39(28), 3696–3716. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2021.03.079

Hviid, A., Hansen, J. V., Frisch, M., & Melbye, M. (2019). Measles, mumps, rubella vaccination and autism: A nationwide cohort study. Annals of Internal Medicine, 170(8), 513–520. https://doi.org/10.7326/M18-2101

Motta, M., & Stecula, D. (2021). Quantifying the effect of Wakefield et al. (1998) on skepticism about MMR vaccine safety in the U.S. PLoS ONE, 16(8), e0256395. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0256395

Nirenberg, E., Maldonado, Y. A., & Hoffman, S. A. (2026). The role and safety of aluminum adjuvants in childhood vaccines. Pediatrics, 157(3). https://doi.org/10.1542/peds.2025-074874

Orionzi, B. (2026). Vaccine hesitancy. Pediatric Annals, 55(2), e49–e51. https://doi.org/10.3928/19382359-20251219-03

Quiñones-Medina, E., Galleguillos, F., Parra, V., Arriagada, G., & Bustos, F. J. (2026). Gene-environment interactions in autism spectrum disorders: The role of bisphenol A in modulating genetic susceptibility. Autism Research, 19(3), e70186. https://doi.org/10.1002/aur.70186

Rao, T. S. S., & Andrade, C. (2011). The MMR vaccine and autism: Sensation, refutation, retraction, and fraud. Indian Journal of Psychiatry, 53(2), 95–96. https://doi.org/10.4103/0019-5545.82529

Taylor, L. E., Swerdfeger, A. L., & Eslick, G. D. (2014). Vaccines are not associated with autism: An evidence-based meta-analysis of case-control and cohort studies. Vaccine, 32(29), 3623–3629. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2014.04.085

Wadhwani, D., & Patel, S. S. (2026). Gestational hyperglycemia and autism spectrum disorder: Mechanistic pathways and emerging preventive strategies. Behavioural Brain Research, 504, 116099. https://doi.org/10.1016/j.bbr.2026.116099

World Health Organization. (2025, 11 Desember). Statement of the WHO Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) on vaccines and autism. https://www.who.int/news/item/11-12-2025-statement-gacvs-vaccines-autism


Tautan internal yang disarankan:

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar