Pembaruan 8 Oktober 2026. Tulisan ini pertama kali terbit pada 8 Oktober 2019, ketika kabar penarikan ranitidin baru berusia beberapa hari. Tujuh tahun kemudian, bukti ilmiah dan aturan mainnya sudah banyak berubah, sehingga isinya saya tulis ulang.
Ringkasan: Tujuh tahun setelah ranitidin dipersoalkan karena cemaran NDMA, sebagian besar studi pada manusia tidak menemukan kenaikan risiko kanker yang bermakna, meski sinyal pada beberapa jenis kanker tertentu belum bisa dikesampingkan. Artikel ini merangkum sebab cemaran, batas aman BPOM, bukti epidemiologi terbaru, serta langkah praktis bagi pasien, apoteker, dan fasilitas kesehatan.
Bu Ning, 57 tahun, penjual pecel di sebuah pasar di Karanganyar, menyodorkan strip tablet putih kepada apoteker. “Ini obat maag saya sejak 2015. Katanya bikin kanker, ya? Apa saya sudah kena?” Apoteker itu terdiam sejenak. Pertanyaan Bu Ning bukan pertanyaan kecil, dan jawabannya bukan sekadar “aman” atau “berbahaya”.
Kasus di atas hanya ilustrasi rekaan, tetapi pertanyaan serupa memang sering diajukan pasien yang pernah memakai ranitidin untuk keluhan asam lambung.
Apa yang sebenarnya terjadi pada 2019?
Ranitidin adalah obat penghambat reseptor histamin-2 (H2 receptor antagonist, H2RA) yang lama dipakai untuk dispepsia, tukak lambung, dan penyakit refluks. Pada 13 September 2019, FDA (Amerika Serikat) dan EMA (Eropa) mengumumkan temuan N-nitrosodimethylamine (NDMA) pada sampel ranitidin. BPOM menerbitkan informasi awal bagi tenaga kesehatan pada 17 September, lalu pada 4 Oktober 2019 memerintahkan penghentian produksi dan distribusi serta penarikan lima produk yang hasil ujinya melampaui batas (Badan Pengawas Obat dan Makanan [BPOM], 2019a). Sebulan kemudian, BPOM mengumumkan bahwa produk yang lolos pengujian boleh diedarkan kembali (BPOM, 2019b). Ceritanya tidak berhenti di situ.
| Waktu | Peristiwa | Sumber |
|---|---|---|
| 2018 | NDMA dan NDEA terdeteksi sebagai cemaran pada obat golongan sartan, memicu telaah cemaran nitrosamin pada obat lain | BPOM (2025) |
| 13 Sep 2019 | FDA dan EMA mengumumkan temuan NDMA pada sampel ranitidin | BPOM (2019a) |
| 4 Okt 2019 | BPOM memerintahkan penghentian produksi dan distribusi serta penarikan (recall) lima produk ranitidin | BPOM (2019a) |
| 21 Nov 2019 | BPOM mengumumkan produk ranitidin yang lolos pengujian dapat diedarkan kembali | BPOM (2019b) |
| 1 Apr 2020 | FDA meminta seluruh produk ranitidin ditarik dari pasar AS karena NDMA meningkat seiring waktu dan suhu simpan | FDA (2020) |
| Sep 2020 | EMA menangguhkan seluruh obat ranitidin di Uni Eropa | Joung dkk. (2022) |
| Jul 2021 | Uji klinis acak FDA: ranitidin tidak menaikkan NDMA urin pada relawan sehat | Florian dkk. (2021) |
| 2021–2025 | Rangkaian studi kohort dan meta-analisis tentang risiko kanker | Lihat tabel studi |
| 23 Apr 2025 | BPOM menetapkan Peraturan BPOM No. 9 Tahun 2025 yang mencabut Peraturan BPOM No. 2 Tahun 2023 | BPOM (2025) |
| 10 Jul 2025 | Mahkamah Agung Delaware membatalkan putusan yang mengizinkan kesaksian ahli penggugat dalam perkara Zantac | Delaware Supreme Court (2025) |
Mengapa ranitidin bisa mengandung NDMA?
Cemaran NDMA pada sartan terutama dikaitkan dengan rute sintesis bahan baku tertentu. Ranitidin berbeda: pedoman BPOM menyebutnya sebagai contoh bahan obat yang dapat terdegradasi hingga membentuk nitrosamin (BPOM, 2025). Pengujian FDA kemudian menunjukkan bahwa NDMA pada sebagian produk meningkat seiring waktu, bahkan pada penyimpanan normal, dan meningkat tajam pada suhu di atas suhu ruang. Produk yang lebih tua pun cenderung mengandung NDMA lebih banyak (FDA, 2020).
Ada satu detail teknis yang menarik. BPOM (2025) mengingatkan bahwa pengujian nitrosamin pada ranitidin dengan kromatografi gas bersuhu tinggi dapat membentuk NDMA semu (artefak) di dalam alat. Itu sebabnya pemilihan metode uji, misalnya kromatografi cair-spektrometri massa, penting agar hasilnya bisa dipercaya. Alur berikut merangkum logikanya, dari molekul hingga bukti pada manusia.
NDMA: seberapa berbahaya, dan apa arti angka 96 nanogram?
NDMA tergolong nitrosamin. IARC mengelompokkannya sebagai Grup 2A, yakni kemungkinan besar karsinogenik bagi manusia (Agency for Toxic Substances and Disease Registry [ATSDR], 2023). Dasarnya terutama hewan percobaan: pada berbagai spesies, NDMA menimbulkan tumor, terutama di hati, ginjal, dan saluran napas (International Agency for Research on Cancer [IARC], 1978). NDMA juga bukan zat yang hanya hadir dalam obat; ia dapat berasal dari asap rokok dan makanan awetan nitrit seperti daging olahan (Joung dkk., 2022).
Lalu apa arti 96 nanogram per hari? Angka itu adalah batas asupan yang dapat diterima (acceptable intake, AI). BPOM (2025) mendefinisikan AI untuk NDMA sebagai paparan harian yang, bila berlangsung selama 70 tahun, dikaitkan dengan tambahan risiko kanker sekitar satu banding 100.000. Jadi AI bukan garis tegas antara “aman” dan “berbahaya”. Ia batas kehati-hatian untuk paparan seumur hidup, sehingga melewatinya sesekali tidak sama dengan pasti terkena kanker.
| Nitrosamin | Nama lengkap | Batas asupan harian sementara (ng/hari) |
|---|---|---|
| NDMA | N-nitrosodimetilamin | 96,0 |
| NMBA | Asam N-nitroso-N-metil-4-aminobutirat | 96,0 |
| NDEA | N-nitrosodietilamin | 26,5 |
| NMPA | N-nitrosometilfenilamin | 26,5 |
| NDIPA | N-nitrosodiisopropilamin | 26,5 |
| NIPEA | N-nitrosoisopropiletilamin | 26,5 |
Untuk menerjemahkannya ke dalam tablet, BPOM memakai rumus sederhana: batas kadar sama dengan AI dibagi dosis harian maksimum. Sebagai gambaran, pada dosis harian 0,3 gram, batas 96 ng setara sekitar 0,32 bagian per juta (bpj) NDMA dalam obat (BPOM, 2025; Joung dkk., 2022). Dalam keadaan ada lebih dari satu nitrosamin, total kadarnya dibandingkan dengan AI yang paling kecil.
Apakah ranitidin terbukti menyebabkan kanker?
Inilah pertanyaan Bu Ning. Jawaban jujurnya: sejauh ini belum ada bukti kuat bahwa ranitidin yang tercemar NDMA menaikkan risiko kanker pada manusia, tetapi masa pengamatan studi yang ada juga belum cukup panjang untuk menyatakan sepenuhnya bebas risiko. Berikut ringkasan studi yang saya telaah.
| Studi | Desain | Temuan utama |
|---|---|---|
| Florian dkk. (2021), JAMA | Uji klinis acak, tersamar ganda, silang; 18 relawan sehat; ranitidin 300 mg vs plasebo, dengan diet tanpa dan dengan daging olahan | Ekskresi NDMA urin 24 jam tidak berbeda bermakna; tidak mendukung dugaan bahwa ranitidin berubah menjadi NDMA di tubuh orang sehat |
| Yoon dkk. (2021), Korea Selatan | Kohort nasional berbasis klaim; 40.488 pengguna ranitidin vs 10.122 pengguna famotidin (setelah pencocokan) | Kejadian kanker keseluruhan tidak berbeda bermakna; 11 jenis kanker tunggal juga tidak berbeda |
| Joung dkk. (2022), Korea Selatan | Kohort pengguna baru dengan pembanding aktif (H2RA lain); 12.680 pasangan setelah pencocokan; median pengamatan sekitar 5,5 tahun | Hazard ratio (HR) kanker keseluruhan 0,98 (IK 95% 0,81–1,20); tidak ada jenis kanker yang bermakna; kanker ginjal HR tinggi tetapi IK sangat lebar (0,51–13,67) |
| You dkk. (2023), JAMA Network Open | Kohort multinasional, pengguna baru dengan pembanding aktif; analisis utama 4 basis data, lalu 11 basis data | HR 1,04 (0,97–1,12) pada 4 basis data dan 1,03 (0,99–1,08) pada 11 basis data; sebagian data Korea, Spanyol, dan Asia menunjukkan kenaikan di bawah 20% |
| Studi kohort Taiwan (2022) | Kohort populasi; 55.110 pengguna ranitidin (2000–2018) dibandingkan dengan kelompok lain | Kenaikan risiko beberapa kanker, misalnya hati (HR 1,22; IK 95% 1,09–1,36) dan paru (HR 1,17); berbeda dari kebanyakan studi lain |
| Meta-analisis HPB (2025) | Tinjauan sistematis 18 studi (13 kohort, 5 kasus-kontrol) | Odds ratio gabungan kanker keseluruhan pada studi kohort 1,06 (0,93–1,21); kanker hepatobilier 1,13 (0,71–1,81); pankreas 0,84 (0,62–1,14); semuanya tidak bermakna |
Polanya cukup konsisten. Studi besar dengan pembanding aktif cenderung tidak menemukan kenaikan risiko yang bermakna, dan meta-analisis terbaru pun begitu. Sinyal pada hati, ginjal, atau paru muncul di sebagian studi, tetapi tidak berulang di studi lain, sehingga lebih tepat dibaca sebagai bahan hipotesis daripada sebagai bukti sebab-akibat.
Mengapa kasusnya belum bisa ditutup?
- Masa pengamatan pendek. Median pengamatan sekitar 5,5 tahun, sementara kanker yang dipicu zat pemicu awal seperti NDMA dapat memerlukan waktu jauh lebih lama untuk muncul (Joung dkk., 2022).
- Paparan tidak terukur. Kadar NDMA berbeda antarproduk, sedangkan data klaim hanya mencatat resep, bukan jumlah NDMA yang benar-benar tertelan (Joung dkk., 2022).
- Faktor pengganggu. Rokok, alkohol, dan pola makan umumnya tidak tercatat, padahal ketiganya memengaruhi risiko kanker lambung dan organ lain.
- Kekuatan statistik terbatas untuk jenis kanker tertentu yang jarang, sehingga interval kepercayaan lebar.
Gugatan hukum bukan pembuktian ilmiah
Kabar tentang puluhan ribu gugatan di Amerika Serikat sering dikira sebagai bukti ilmiah. Padahal pengadilan menimbang hal yang berbeda. Pada 10 Juli 2025, Mahkamah Agung Delaware membatalkan putusan pengadilan di bawahnya yang mengizinkan kesaksian ahli penggugat, karena pengadilan tersebut dinilai tidak memastikan para ahli menerapkan metodologi ilmiah yang andal (Delaware Supreme Court, 2025). Sebelumnya, GSK dilaporkan menyelesaikan puluhan ribu gugatan di luar pengadilan pada Oktober 2024 tanpa mengakui tanggung jawab. Putusan pengadilan maupun penyelesaian damai sama-sama bukan pengganti penelitian epidemiologi.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia mengambil jalur yang sedikit berbeda dari Amerika Serikat. Setelah pengujian laboratorium dan kajian risiko, BPOM mengizinkan produk ranitidin yang hasil produksinya tidak mengandung NDMA melebihi ambang batas untuk beredar kembali sejak November 2019 (BPOM, 2019b). FDA, sebaliknya, pada April 2020 meminta seluruh produk ranitidin ditarik dari pasar Amerika Serikat (FDA, 2020).
Perbedaan ini bukan sekadar urusan birokrasi. Keputusan FDA bertumpu pada kenaikan NDMA selama penyimpanan dan pada suhu tinggi. Bagi negara tropis dengan rantai distribusi panjang, dari gudang pabrik hingga apotek di kabupaten, mutu penyimpanan dan pengangkutan layak ditanyakan serius. Ini pendapat saya sebagai penulis. Dalam penelusuran saya, belum ada data lokal yang mengukur NDMA pada ranitidin selama distribusi di Indonesia.
Kerangka aturannya pun berkembang. Peraturan BPOM Nomor 9 Tahun 2025, yang ditetapkan pada 23 April 2025, mencabut Peraturan BPOM Nomor 2 Tahun 2023 dan mewajibkan industri farmasi melakukan kajian risiko cemaran nitrosamin pada obat dan bahan obat, baik yang belum maupun yang sudah memiliki izin edar. Bila kajian menunjukkan potensi cemaran, industri melakukan uji konfirmasi dan melapor kepada BPOM paling lambat 40 hari sejak kajian tahap pertama. Hasil uji kemudian dipilah menjadi tiga skenario (BPOM, 2025).
| Skenario | Hasil uji konfirmasi | Tindak lanjut |
|---|---|---|
| A | Kadar nitrosamin melebihi AI | BPOM membentuk tim untuk menentukan tindakan regulatori |
| B | Kadar lebih dari 10% AI tetapi di bawah AI | Registrasi variasi untuk menetapkan batas cemaran; industri harus membuktikan kadar konsisten di bawah 30% AI |
| C | Tidak terdeteksi, atau 10% AI atau kurang | Cukup notifikasi kepada BPOM; tanpa aksi lanjutan |
Di Amerika Serikat, FDA pada Agustus 2023 menerbitkan panduan batas asupan untuk nitrosamin yang strukturnya mirip bahan aktif obat (nitrosamine drug substance-related impurities, NDSRI) sebagai kelanjutan dari kasus-kasus seperti ini (FDA, 2023). Status ketersediaan produk ranitidin tertentu di Indonesia saat ini tidak saya verifikasi; silakan periksa melalui Cek BPOM.
Apa yang bisa dilakukan?
Bagi pasien
- Tidak perlu panik. Penggunaan ranitidin di masa lalu tidak terbukti menaikkan risiko kanker secara bermakna pada sebagian besar studi besar.
- Periksa persediaan di rumah. Cek nomor izin edar dan tanggal kedaluwarsa melalui Cek BPOM, dan jangan menyimpan obat di tempat panas seperti dasbor mobil atau dekat kompor. Berdasarkan temuan FDA, suhu tinggi mempercepat kenaikan NDMA.
- Jangan berhenti atau mengganti obat sendiri. Bila ingin beralih, diskusikan dengan dokter atau apoteker. Dalam pengujiannya hingga April 2020, FDA tidak menemukan NDMA pada famotidin, simetidin, omeprazol, esomeprazol, dan lansoprazol (FDA, 2020).
- Keluhan lambung yang menetap perlu diperiksa. Bila disertai tanda bahaya seperti berat badan turun tanpa sebab, sulit menelan, muntah berulang, atau BAB hitam, temui dokter untuk evaluasi lanjutan, bukan sekadar mengganti obat maag.
Bagi apoteker, dokter, dan fasilitas pelayanan kesehatan
Usulan di bawah ini adalah pandangan praktis penulis berdasarkan pengalaman mengelola mutu layanan, bukan ketentuan baku.
| Langkah | Contoh penerapan |
|---|---|
| Siapkan prosedur penarikan obat | Telusuri stok per nomor bets di gudang, apotek, dan unit pelayanan; karantina bila ada pengumuman BPOM; catat tindak lanjutnya |
| Pantau suhu penyimpanan dan distribusi | Pemantauan suhu gudang farmasi, kendaraan pengangkut, dan ruang penyimpanan di unit; tindak lanjut bila suhu menyimpang |
| Pantau pengumuman regulator | Tetapkan penanggung jawab yang memeriksa situs BPOM secara berkala dan meneruskannya ke dokter, perawat, dan apoteker |
| Laporkan kejadian tak diinginkan | Dorong pelaporan efek samping obat melalui jalur resmi bila ada dugaan masalah mutu atau keamanan |
| Komunikasikan risiko dengan jelas | Siapkan jawaban singkat yang jujur untuk pasien: apa yang diketahui, apa yang belum, dan langkah yang disarankan |
Kembali ke Bu Ning. Jawaban yang paling jujur bagi beliau adalah: bukti terbaik hingga kini tidak menunjukkan bahwa tahun-tahun minum ranitidin telah menaikkan risikonya secara bermakna, tetapi pengamatan jangka panjang masih diperlukan. Yang lebih mendesak adalah memastikan keluhan lambungnya dievaluasi dengan benar dan, bila perlu, obatnya diganti dengan pilihan yang lebih terjamin mutunya.
Baca juga: Asam Lambung Naik dan Standar Mutu Obat Diperbarui: Membaca Suplemen IV Farmakope Indonesia Edisi VI.
Catatan Transparansi
- Studi yang dirangkum bersifat observasional (kecuali uji klinis Florian dkk.) sehingga menunjukkan asosiasi, bukan sebab-akibat.
- Informasi tentang penangguhan oleh EMA (September 2020) dikutip dari Joung dkk. (2022), bukan dari sumber primer EMA.
- Meta-analisis di HPB (2025) dibaca dari abstrak pada laman jurnal; naskah lengkapnya tidak ditelaah. Studi kohort Taiwan (2022) dibaca dari teks daring di jurnal.
- Penyelesaian perkara oleh GSK pada Oktober 2024 bersumber dari laporan hukum sekunder, bukan dokumen resmi perusahaan.
- Rincian tindakan BPOM pada Oktober dan November 2019 dirangkum dari pernyataan resmi BPOM dan pemberitaan; laman arsip BPOM dapat berpindah alamat.
- Daftar produk ranitidin yang ditarik pada 2019 (tertera pada versi awal tulisan ini) dihapus karena sudah usang; rujuk Cek BPOM untuk status terkini.
- Tulisan ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter atau apoteker.
Referensi
Agency for Toxic Substances and Disease Registry. (2023). Toxicological profile for N-nitrosodimethylamine (NDMA). U.S. Department of Health and Human Services. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK601169/
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2019a, 4 Oktober). Penjelasan BPOM RI tentang penarikan produk ranitidin yang terkontaminasi N-nitrosodimethylamine (NDMA). https://www.pom.go.id/new/view/more/klarifikasi/102/PENJELASAN-BPOM-RI-TENTANG-PENARIKAN-PRODUK-RANITIDIN–YANG-TERKONTAMINASI-N-NITROSODIMETHYLAMINE–NDMA-.html
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2019b, 21 November). Penjelasan Badan POM RI tentang produk ranitidin yang dapat diedarkan kembali. https://www.pom.go.id/penjelasan-publik/penjelasan-badan-pom-ri-tentang-produk-ranitidin-yang-dapat-diedarkan-kembali
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2025). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 9 Tahun 2025 tentang Pedoman Kajian Risiko Keamanan dan/atau Mutu Obat dan Bahan Obat. https://peraturan.go.id/files/peraturan-bpom-no-9-tahun-2025.pdf
Delaware Supreme Court. (2025, 10 Juli). In re Zantac (Ranitidine) Litigation [Putusan]. https://courts.delaware.gov/Opinions/Download.aspx?id=382080
Florian, J., Matta, M. K., DePalma, R., Gershuny, V., Patel, V., Hsiao, C.-H., Zusterzeel, R., Rouse, R., Prentice, K., Nalepinski, C. G., Kim, I., Yi, S., Zhao, L., Yoon, M., Selaya, S., Keire, D., Korvick, J., & Strauss, D. G. (2021). Effect of oral ranitidine on urinary excretion of N-nitrosodimethylamine (NDMA): A randomized clinical trial. JAMA, 326(3), 240–249. https://doi.org/10.1001/jama.2021.9199
International Agency for Research on Cancer. (1978). N-Nitrosodimethylamine. Dalam IARC monographs on the evaluation of carcinogenic risk of chemicals to man: Vol. 17. Some N-nitroso compounds (hlm. 125). https://inchem.org/documents/iarc/vol17/n-nitrosodimethylamine.html
Joung, K.-I., Hwang, J. E., Oh, I.-S., Cho, S.-i., & Shin, J.-Y. (2022). Association between ranitidine use with potential NDMA impurities and risk of cancer in Korea. Scientific Reports, 12, Article 22396. https://doi.org/10.1038/s41598-022-26691-0
Pharmacoepidemiological research on N-nitrosodimethylamine-contaminated ranitidine use and long-term cancer risk: A population-based longitudinal cohort study. (2022). International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(19), Article 12469. https://doi.org/10.3390/ijerph191912469
The association between ranitidine use and cancer risk: A systematic review and meta-analysis with a focus on hepatopancreatobiliary cancers. (2025). HPB. https://www.hpbonline.org/article/S1365-182X(25)00799-3/fulltext
U.S. Food and Drug Administration. (2020, 1 April). FDA requests removal of all ranitidine products (Zantac) from the market. https://www.fda.gov/news-events/press-announcements/fda-requests-removal-all-ranitidine-products-zantac-market
U.S. Food and Drug Administration. (2023). Recommended acceptable intake limits for nitrosamine drug substance-related impurities (NDSRIs): Guidance for industry. https://www.fda.gov/regulatory-information/search-fda-guidance-documents/recommended-acceptable-intake-limits-nitrosamine-drug-substance-related-impurities
Yoon, H. J., Kim, J.-H., Seo, G. H., & Park, H. (2021). Risk of cancer following the use of N-nitrosodimethylamine (NDMA) contaminated ranitidine products: A nationwide cohort study in South Korea. Journal of Clinical Medicine, 10(1), Article 153. https://doi.org/10.3390/jcm10010153
You, S. C., Seo, S. I., Falconer, T., Yanover, C., Duarte-Salles, T., Seager, S., Posada, J. D., Shah, N. H., Nguyen, P.-A., Kim, Y., Hsu, J. C., Van Zandt, M., Hsu, M.-H., Lee, H. L., Ko, H., Shin, W. G., Pratt, N., Park, R. W., Reich, C. G., … Prieto-Alhambra, D. (2023). Ranitidine use and incident cancer in a multinational cohort. JAMA Network Open, 6(9), Article e2333495. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2023.33495





Tinggalkan Balasan