A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Saya suka mendengarkan musik, mulai dari era radio dan WalkMan™ dari Sony di masa sekolah dulu. Walau mungkin selera musik saya agak berbeda dari teman-teman sebaya pada masa itu.

Entah kenapa, sebuah masa terlompati begitu saja. Dari era headset walkman menuju earphone pada era ponsel, dan hingga kini era smartphone.

Saya adalah orang yang termasuk tidak nyaman menggunakan earphone, bukan karena pengalaman masa kecil. Namun hanya sedikit produk earphone yang ramah pada telinga saya. Paling nyaman yang pernah saya miliki dulu adalah Jabra Helo Fusion, karena earbud tipe ini yang paling nyaman di telinga saya.

Lalu, barang itu hilang ketika saya menghadiri pertemuan di sebuah hotel. Saya kira terjatuh ketika saya melepas helm. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi membeli wireless headset, risiko jatuh saat berkendara dan rasa tidak nyaman ketika earbud masuk ke dalam liang telinga memang membuat saya enggan.

Sampai kemudian saya melihat penawaran beberapa produk wireless headphone dengan teknologi pengantaran suara melalui konduksi tulang (bone conduction). Harganya pun lebih fantastik, walau tidak sefantastik produk teranyar Sony yang digadang mampu menghasilkan total noice cancelation.

Saya tertarik dengan teknologi ini, karena beberapa bertimbangan; dan akhirnya mencoba mengambil produk yang paling terjangkau di pasaran – dengan harga yang relatif tidak berbeda dengan earphone berkabel sekalipun. Yaitu, Baseous Covo BC10 – Headset Wireless: Bone Conduction.

img_0168

Bahkan di salah satu toko daring (Tokopedia), saya mendapatkan penawaran yang nyaris separuh harga dari toko daring lainnya. Ya, saya ambil saja.

Setelah tiba, saya mencoba memasangkannya (via Bluetooth) dengan dua gawai saya, ponsel Redmi Note 4 dan iPad Mini generasi 5. Proses penyandingan tidak sulit, dan lalu bisa digunakan.

Saya mencoba mendengarkan lagu-lagu di Spotify, plus iklannya di versi gratis, dan saya nyaris tidak mendapatkan perbedaan ketika saya mendengarkan menggunakan earphone berkabel yang bersarang di liang telinga. Suaranya jernih, dan nikmat didengar.

Ini sebuah pengalaman yang baru. Bahkan pada suasana ruangan hening, saya merasa suara yang saya dengar lebih jernih dibandingkan dengan menggunakan earphone biasa (catatan: biasa di sini termasuk earphone yang harganya tidak sampai di atas IDR 300K).

Sayangnya, saya baru sadar melihat bahwa volume berada di garis tengah ketika saya mendengarkan suara jernih itu. Saya memerlukan dua kali setelan ketinggian volume suara untuk mendapat kejelasan suara.

Tapi enaknya, saya bisa tetap mengobrol, bekerja, tanpa mengganggu komunikasi sambil mendengarkan musik. Ibaratnya, saya seperti sedang mengobrol pada sebuah lounge yang dipenuhi musik sambil bercengkrama, hanya saja musik tersebut hanya saya yang menikmati.

Ini bukan gawai yang baik untuk mereka yang benar-benar ingin larut mendengarkan musik, namun sangat bermanfaat bagi yang ingin menikmati musik tanpa kehilangan kontak penginderaan suara dengan lingkungan.

Saya mencoba menggunakannya sambil mengendarai sepeda motor. Eh, ternyata jika volume tidak ditancap hingga maksimal, saya tidak bisa mendengar musik sedikit pun. Tapi ini tidak di luar dugaan saya, karena beberapa ulasan di Internet menyebut memang teknologi bone conduction belum nyaman digunakan sambil berkendara. Walau bisa saja membantu mereka yang hendak berkendara dengan memanfaat GPS dengan suara pemandu, saya belum mencobanya.

Baterainya cukup awet, saya mendengarkan musik selama 4 jam, penanda baterai belum turun hingga separuhnya. Sementara menurut situs resmi, baterainya dapat bertahan hingga 10 jam.

Setelah memakai selama empat jam, saya sangat senang dengan produk ini. Beberapa yang kurang nyaman memang ada beberapa hal. Pertama, walau sangat jarang, daun telinga bagian atas terasa sedikit kurang nyaman; Kedua, jika terkena rambut, ada getaran yang menghasilkan suara lucu; Harus berhati-hati saat digunakan bersama helm, bisa terjatuh ketika melepas helm (risiko ini ada pada banyak jenis wireless headset lainnya).

Artikel Baru Terbit

  • Cyclospora: Parasit Mikroskopis yang Mengintai di Balik Sayuran dan Buah Segar
    Wabah cyclosporiasis melanda ratusan warga Amerika Serikat pada musim panas 2026, disebabkan parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis yang mencemari sayur dan buah segar. Artikel ini mengulas biologi parasit, gejala diare “meledak-ledak”, tantangan diagnosis laboratorium, terapi TMP-SMX, hingga relevansinya bagi keamanan pangan dan kewaspadaan klinis di Indonesia.
  • Ngopi Pagi di Sragen, Otot Lebih Padat: Apa Kata Riset Terbaru soal Kopi dan Komposisi Tubuh?
    Studi kohort Finlandia menemukan bahwa peminum kopi rutin memiliki lemak viseral lebih rendah dan massa otot lebih tinggi meskipun indeks massa tubuh serupa dibanding peminum kopi jarang. Pada pria, konsumsi kopi juga terkait dengan profil testosteron dan SHBG yang lebih baik, namun studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
  • Faktor Kesuburan Pria: Sisi yang Sering Terlewat dalam Pencarian Momongan
    Faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus infertilitas pasangan, namun sering luput dari pemeriksaan awal. Artikel ini mengulas standar analisis sperma terbaru WHO edisi keenam serta bukti terkini mengenai pengaruh rokok, alkohol, berat badan, paparan panas, dan konsumsi gula terhadap kualitas dan integritas DNA sperma.
  • Ketika Muntah Datang Seperti Badai yang Terjadwal: Mengenal Cyclic Vomiting Syndrome
    Muntah hebat yang datang berulang lalu hilang seolah tak pernah terjadi—inilah wajah cyclic vomiting syndrome, gangguan interaksi otak-usus yang sering disalahpahami sebagai gastroenteritis biasa. Artikel ini mengulas patofisiologi, kriteria diagnosis Rome IV, pembaruan pedoman NASPGHAN 2025, serta tata laksana berbasis bukti terkini bagi klinisi di layanan primer maupun rujukan.
  • Demo Besar 27 Agustus 2026: Apa yang Perlu Dicermati Pelaku Bursa Saham dalam Jangka Pendek
    Besok, 27 Agustus 2026, Jakarta akan menggadakan unjuk rasa besar oleh berbagai aliansi. Tuntutan termasuk pengesahan RUU Perampasan Aset dan hukuman mati bagi koruptor. Polda Metro Jaya telah menyiapkan pengamanan. Aksi ini dapat mempengaruhi IHSG dan rupiah, dengan proyeksi pergerakan cenderung sideways dalam beberapa hari ke depan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. […] menggunakan Mi Fit plus Mi Band 4 untuk berjalan-jalan kecil, sambil mendengarkan Spotify melalui Covo. Saya bisa mendapatkan lajur yang cukup akurat. GPS mungkin memerlukan beberapa saat untuk […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca