A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pernah menggunakan lebih dari satu produk antivirus (AV) di komputer? Mungkin dua atau tiga sekaligus? Bagaimana rasanya?

Antivirus bukan tentang perang di mana semakin banyak senjata yang dibawa akan semakin yakin menang perang. Mungkin orang yang tidak tahu menganggap bahwa menanamkan banyak jenis AV di dalam komputer mereka akan dapat meningkatkan keamanan komputer mereka.

Tidak hanya masyarakat awam, namun “tukang servis komputer” juga ada yang seperti itu. Komputer dibawa ke tempat servis, dibilang rusak kena virus, selesai servis bonus dua produk antivirus. Celakanya, satu ndak bisa update, satunya lagi update harus manual.

Ilustrasi. Sumber: Kaspersky’s Blog

Singkat katanya, komputer Anda tidak perlu antivirus lebih dari satu. Tidak ada manfaatnya. Walau saya tidak memungkiri ada produk AV yang mengatakan mereka adalah antivirus lini/lapis kedua.

Tidak ada yang namanya antivirus lapis kedua. Kebanyakan antivirus adalah lapis pertama. Dan beberapa memang didesain bisa berjalan bersamaan dengan produk antivirus lainnya.

Setidaknya ada beberapa masalah yang justru muncul karena penggunaan beberapa produk antivirus secara bersamaan.

Pertama, mereka mungkin saling curiga, saling mengawasi, dan sampai saling “bunuh”. Karena mereka bertanggung jawab atas hal yang sama. Antivirus A bisa jadi menghalangi kinerja Antivirus B.

Kedua, oleh mereka mengawasi hal yang sama. Mereka bisa menemukan sebuah virus dalam waktu yang bersamaan. Pertanyaannya, siapa yang akan menangani virus itu? Apakah akan dikarantina atau dimusnahkan, jika ya siapa pelakunya, si A atau si B? Mereka bisa jadi akan berebut dalam siklus tiada akhir. Bagus sih kalau mereka berebutnya ndak ngajak-ngajak si pemilik komputer. Tapi pesan muncul (pop-up) bisa mengganggu pengguna komputer karena peringatan yang berulang-ulang.

Ketiga, mereka memakan lebih banyak sumber daya, seperti CPU/GPU/RAM. Sudah bertengkar, rebutan, ngabisin jatah pula.

Keuntungan mereka ada bersamaan tidak bertambah banyak, tapi kerugian mereka ada bareng jauh lebih besar. Istilahnya lebih besar pasak daripada tiang.

Rekomendasinya: Buang salah satu, entah si A atau si B, gunakan satu saja. Punya antivirus dua itu seperti punya pacar dua, katanya.

Artikel Baru Terbit

  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
  • Ketika Si Kecil Tiba-Tiba Sering Haus dan Berat Badannya Turun: Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1
    Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. […] produk yang disukai, sebagai catatan yang perlu diingat adalah jangan menggunakan lebih dari dua produk antivirus bersamaan. Jika memerlukan perlindungan lebih, pertimbangkan menggunakan security suite (baca: Avast Ultimate […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca