A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

When I heard the news said President elect a new Health Minister, I said in my mind, ‘obviously.’ But when I heard the new Health Minister is an engineer, I almost chocked myself, ‘eh?’ ‘really?’ and then ‘wow!’

As a medical doctor who learning health management and administration, I have long let go of my tendencies about medical doctor must be the officer of many important health administrators. I realize that most of our medical doctors in Indonesia love their humanity’s work as a physician, a healer, and some as a researcher. Few of us fall in love with doing administrative works.

I know in Indonesia, there is a statute that mandates that the hospital director must be a medical staff, whether you are a medical doctor or a dentist. No other profession may enter this chair of honor. And never precedes that our Health Minister but a medical doctor.

But this is new, totally new.

Managing a nation’s health business is a big responsibility. Bigger than being a medical officer or hospital leader. We are talking about the wellbeing, the healthiness of hundreds millions of Indonesia citizens. In this time of crisis, I believe we need more than a doctor, but yes, I also believe we still need a heart that full of compassion to guide the skillful mind to maneuver in this uncharted stormy sea.

I wish year to come would be a bright, clean endeavor, no longer a messy desk without chart or compass.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar Sondang Saragih

    Memang “wow” ya Pak. Dan, apakah …? Sementara …?
    Tetapi, kita lihat bersama saja. Seperti yang dikatakan IDI, yang penting team worknya …
    Sorry, kalau salah menanggapi.

    1. Avatar Cahya

      Penanganan pandemi di lapangan saat ini kacau Mbak, kita sebagai pelaksana tidak bisa berbuat banyak. Misalnya kita tahu kalau kondisi A, maka sebaiknya kita melakukan B. Tapi ternyata kita tidak bisa melakukan B, karena kebijakan tidak ada, dan tidak punya payung hukum, pada akhirnya mengarah pada tidak tersedia sumber daya. Ini kondisi yang tidak bisa diselesaikan di hulu. Kita sedih dan tidak berdaya, tapi semoga tetap tidak putus asa.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca