Who said medical student just sit nicely behind the desk or chattering somewhere around the corner and corridor, or just have to dealt with patients all the days. We do go to the field, where there are maybe some “to do list” that has a minim connection with medical aspect itself.
Here are some photographs of the medical student activities, that you might not seen around hospital, or they has no connection at all with medical fields.
Above: the night activity when we collecting and analyzing the medical issue of some neighbourhood, and try to formulazing some solutions.
Above: sitting behind a soft chair on a room with AC? Well, you may try to walk around some hills and in the middle of woods to finding any public health issue.
Above: if walking all the days made you feel so tired, then why not have a seightseing around what we call nature itself. It just nice to wacth for a stream before continuing to walk around again. You shall not find any luxiory here, but you may find joy, that you will love your duty.
Above: trust me, we do prefer to make our collegeu as a “guinnea pig” than our beloved patients which we respect so much. Practice makes perfect, I don’t know if there were no one willingly become a medical student’s patient in care, so how we would develope a better doctor in future? Medical doctor isn’t like carpenter who need just wood to practice, medical student need a real patient, a real disease, a real problem, a real issue, a real experience which made it a real practice.
Above: we do need to present everything that we found on the field. A chalange to our self and our effort for a better understanding of medical field itself.
.
So, are interesting in entering medical field? Its not so boring at all.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Jangan dibayangkan Mas, untuk bisa melihat pantai (laut) setidaknya saya butuh 550 kilometer.
Ntar, kalau yang kecil sudah SMP kita akan puas-puaskan melihat laut. Semoga saya masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan para blogger lain dan mungkin pada saat itu saya sudah menyandang predikat Grand Father 😀
Pak Aldy,Berarti itu lebih dari 10 jam perjalanan ya. Mengingatkan saya kalau pulang ke Bali dengan menggunakan bus.Namun segala sesuatunya memiliki waktunya tersendiri nanti. Mungkin belum waktunya meninggalkan belantara Pak.Pak Aldy seperti ibu saya saja, sudah ngomongin pingin cucu terus :).
Apa tugas di pedalaman seperti itu tidak dapat waktu libur untuk bisa bersama keluarga ke pantai. Tapi saya membayangkan, betapa jauhnya perjalanan ke pantai…
Tinggalkan Balasan