Kesan Pertama dengan M1 dan Big Sur

Sangat aneh jika mengatakan bahwa saya penyuka Linux yang bekerja kesehariannya menggunakan Windows 10 dari Microsoft. Satu-satunya mesin yang menemani saya adalah sebuah laptop Dell dengan prosesor Intel Generasi ke-6/7, saya tidak begitu ingat. Sebuah laptop yang sejak saya membelinya empat tahun lalu, sudah empat kali berganti baterai.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah biaya perawatannya akan menjadi tinggi, dan kemungkinan kerusakan laptop lebih awal daripada yang masa pakai yang ditargetkan karena sering dibongkar pasang.

Mau tidak mau, ini membuat saya mempertimbangkan sebuah alternatif, mesin kedua yang tidak semahal laptop saya, namun cukup mumpuni untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari saya. Tidak perlu juga berupa laptop, saya tidak ingin berurusan dengan baterai lagi, dan saya rasa sudah cukup dengan notebook Dell saya tersebut.

Sehingga saya melirik pada sebuah produk besutan salah satu produsen komputer dari Kalifornia. Sebuah mesin mini hemat daya, yang menggunakan prosesor berbasis ARM bernama M1, yang biasanya digunakan pada gawai cerdas. Saya mengambil varian yang paling murah, 8GB RAM dan 256GB SSD, yang sudah tertaman Big Sur di dalamnya.

Saya sama sekali tidak pernah menggunakan sistem operasi ini sebelumnya, kecuali mungkin hampir tiga puluh tahun yang lalu, ketika logo perusahaan ini masih bermotif pelangi. Hei, tapi apa yang mungkin jadi keliru, saya sudah menjalankan distribusi Linux termasuk Ubuntu, openSUSE, Fedora, Arch, dan lainnya selama bertahun-tahun, sesama turunan UNIX seharusnya tidak akan bermasalah – pikir saya.

Jika pengalaman pengguna Windows 10 seperti dari gunung ke pantai dengan jalur tol, sementara distribusi Linux kita bebas memilih jalan yang diinginkan, maka Big Sur seperti kita naik angkot ngetem yang mesti singgah di kota sebelah terlebih dahulu.

Android 10 jauh lebih mumpuni bagi pekerja harian seperti saya dibandingkan Big Sur.

Mari bicara yang bagus-bagusnya dulu. 8GB RAM dan 256GB SSD saya mendapatinya sudah lebih dari cukup. Bahkan berjalan dengan sangat cepat, tapi tidak selancar Dell saya, yang menggunakan 12GB RAM dan 128GB SSD. Intinya, tidak banyak berbeda, dan ini bagus.

Hampir semua aplikasi di Windows 10 tersedia di Big Sur, dan sisanya tiga atau empat dicarikan alternatif yang gratis atau murah. Saya akan bertebal muka memanfaatkan diskon kartu pelajar saya dalam hal ini. Ya, ini juga termasuk kabar yang bagus. Buruknya, tidak semua aplikasi ini bekerja dengan baik sebagaimana pada Windows 10.

Misalnya saja, saya hendak membagi tangkapan layar (screenshot) via perpesanan seperti WhatsApp dan Telegram, saat menempel (paste), aplikasinya akan macet, bahkan hal yang sama terjadi pada Microsoft Outlook. Ini artinya baik aplikasi bawaan asli (native) maupun yang dijalankan melalui Intel Rosetta, semuanya memiliki masalah yang sama. Ini kabar yang sangat buruk bagi produktivitas.

Bagian bagus yang lain, mesin ini sangat dingin. Saya bisa menjalankan banyak aplikasi sekaligus tanpa menambah panas di ruangan kerja saya yang kecil. Hal ini berbeda dengan Dell, yang mulai menebar semangat musim panas ketika diajak gotong royong.

Pengalaman scrolling halaman di Big Sur sangat menyakitkan mata, apa karena saya pakai mouse dan monitor murah meriah, second pula? Saya kira tidak, saya menghubungkan Dell ke monitor yang sama, dan hasilnya Windows 10 bisa meluncurkan halama secara vertikal dengan sangat elegan. Jadi saya rasa masalahnya memang ada di Big Sur. Demikian juga font-nya, menyiksa mata, mungkin keduanya saling berhubungan.

Di luar dugaan, setelah memasang seluruh aplikasi yang saya butuhkan, masih tersisa ruangan nyaris 4/5 dari keseluruhan 256GB SSD. Karena sebagian data saya selalu disimpan di cloud service, jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkan ruangan sisa.

Ini adalah mesin yang bagus, pas dengan keperluan sehari-hari saya. Tidak berlebihan, tidak juga kekurangan. Saya hanya perlu membiasakan diri, karena harus belajar kembali shortcut dari awal. Serta sedikit bersabar dengan beberapa aplikasi yang berjalan tidak sebaik ketika mereka digunakan di Windows 10.

Diterbitkan oleh Cahya

A writer, a tea & poet lover, a xanxia addict, an accidental photographer, - a medical doctor.

8 tanggapan untuk “Kesan Pertama dengan M1 dan Big Sur

  1. Ganti aja Dell dengan laptop sekelas di rentang 15-25juta…yang terlihat benar-benar tangguh untuk kerja keras itu sepertinya berukuran 14-17 inci, i7+NVidia, minimal RAM 8+8GB, wajib SSD, refresh rate dan kualitas warna monitor sesuai selera/kebutuhan. Ukuran laptop yang lebih kecil sepertinya butuh kompromi dengan pendinginan…cmiiw

    Apple ngga jelek, cuman emang khusus dibuat untuk yang sadar dan ikhlas terjun ke dalam ekosistemnya..

    Suka

    1. Saya malah mikir untuk ngambil miniPC mungkin seperti seri x300 dengan AMD model terbaru, SSD 1TB dan RAM 32GB bisa di bawah IDR 12.000K sudah sangat menggiurkan. Monitor standar saja, kan tidak main sunting multimedia. Bisa pilih pasang Windows 10 atau Linux, dah rasanya akan aman dalam sepuluh tahun ke depan. Lalu laptop tinggal menyesuaikan, ambil buat sekadar bisa presentasi di luar rumah, seperti thinkpad second-hand juga bagus mungkin.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: