A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Signal – sebuah aplikasi perpesanan yang turut dibangun oleh pendiri WhatsApp kini sedang naik daun. Sebagaimana banyak yang telah kita baca, hal ini disebabkan oleh sejumlah pembagian data antara WhatsApp dan Facebook, yang menyebabkan pengguna yang tidak suka oleh praktik ini beralih ke aplikasi perpesanan alternatif, yaitu kebanyakan Telegram dan Signal. Celetohan Elon Musk di twitternya juga berperan dalam melonjakkan pengguna Signal hingga puluhan juta dalam hitungan hari.

Mereka yang menginginkan lebih banyak privasi akan lari ke Signal atau Telegram, dan ini terjadi!

Pelonjakan penggunaan Signal dalam beberapa hari ini mungkin tidak terlalu terdampak di Indonesia. Kita sangat nyaman dengan WhatsApp, sehingga apapun kata orang, kita tidak akan pindah ke Telegram beberapa tahun lalu, atau pun mungkin Signal tahun ini. Kita juga tidak terlalu peduli dengan privasi, dan itu sudah jadi bagian keseharian kita sebagai sebuah komunitas.

Tapi bagaimana dengan profesi, misalnya tenaga kesehatan?

Pendapat saya sendiri, untuk urusan tugas dan kegiatan berhubungan dengan data kesehatan di mana kerahasiaan sangat diperlukan, aplikasi khusus memang sangat diperlukan. Aplikasi seperti Siilo umumnya dianjurkan, tapi aplikasi ini bekerja seperti masker, jika hanya satu dua orang yang menggunakan, maka akan sia-sia, selayaknya aplikasi seperti ini diterapkan pada tataran organinasi. Apabila penggunaan aplikasi yang khusus tidak bisa dihadirkan, maka aplikasi publik yang menjaga privasi dengan sangat baik adalah alternatif lainnya, seperti Signal dan Telegram.

Untuk data yang bersifat rahasia, termasuk karena sangkut pautnya dengan rahasia medis atau rahasia jabatan. Semakin privat media komunikasinya, maka akan semakin baik mutu kerahasiaannya dapat terjamin.

Sementara itu, tenaga kesehatan juga orang pribadi. Jika tidak terkait komunikasi yang mengandung rahasia medis atau jabatan, maka media komunikasi publik apapun saya rasa tidak masalah.

Berminat dengan Signal? Anda dapat mencobanya memasangnya di ponsel Anda.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar q.thrynx

    Kebetulan saya pasang tele dan wa dari dulu. Kemarin-kemarin sih segmen user-nya berbeda. Di tele lebih paham netiket dan menggunakan tele sebagai alat komunikasi, sedang di wa gak karuan. Tapi beberapa hari ini terjadi perubahan perilaku di grup tele, yang kemarin strict ke aturan kemudian dengan masuknya anggota-anggota baru jadi banyak yang kelakuannya kayak di grup wa.

    1. Avatar Cahya

      Betul. Tapi ada juga group yang pakai aturan ketat, seperti otomatis dikeluarkan atau dihentikan kemampuannya postingannya jika melanggar ketentuan.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca