A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Setahun COVID-19 dan pelbagai varian – dan bahkan varian dari varian – bermunculan, namun pertanyaan dari mana virus ini berasal belum terjawab. Bulan-bulan awal kemunculan COVID-19 kita sempat mendengar SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 mungkin saja berasal dari sebuah laboratorium penelitian virus di Wuhan, Tiongkok.

Pernyataan tersebut banyak beredar, dan masuk ke dalam kategori teori konspirasi karena tidak memiliki dasar klaim yang dapat diterima bersama.

Tapi pernyataan ini kembali berulang, mengingat belum banyak yang bisa dihasilkan oleh tim investigasi WHO sampai saat ini, dan sejumlah kritik di layangkan pada organisasi kesehatan dunia ini.

Photo by Edward Jenner on Pexels.com

Pada awal penyelidikan oleh tim investigasi, sempat muncul pernyataan bahwa kemungkinan “kebocoran dari laboratorium” sangat kecil, sehingga tidak dipertimbangkan.

Dalam laporan resmi yang diperbarui per 6 April 2021 ini, ada sejumlah poin yang menjadi kesimpulan:

  1. Menghubungkan antara data genom dan data epidemiologi diperlukan untuk analisis molekuler dalam mendukung penelitian pelacakan asal.
  2. Kontrol mutu sekuensi genom penting untuk menyediakan hasil yang dapat dipercaya.
  3. Virus dari beberapa kasus pasar Huanan identik, menyiratkan dugaan kejadian penyebaran.
  4. Analisa genom kasus-kasus awal juga menunjukkan kebinekaan, menyiratkan dugaan sumber-sumber lain (tambahan) dan peredaran yang tidak dikenal.
  5. Perkiraan dari waktu hingga ke hulu bersama (common ancestor) – baik dari literatur maupun analisa ulang menyiratkan bahwa penularan atau peredaran virus mungkin baru pada akhir 2019.
  6. Hingga saat ini, sekuensi genom yang berhubungan paling dekat telah ditemukan pada kelelawar.
  7. Laporan deteksi SARS-CoV-2 pada sampel kasus dan lingkungan sebelum Januari 2020 di pelbagai tempat di seluruh dunia memerlukan tindak lanjut.

Dalam laporan yang sama juga dikeluarkan sejumlah rekomendasi, yang pada intinya menyuratkan bahwa pelbagai penelitian yang lebih luas dan mendalam diperlukan.

Hanya saja, beberapa minggu sebelumnya, laporan WHO sempat dipertanyakan oleh sejumlah negara mengingat bagaimana laporan itu dibuat.

Perdebatan kemudian masih berlanjut, dan kemungkinan bahwa virus berasal dari laboratorium di Wuhan masih menjadi pertanyaan banyak pihak. Yang dulu menjadi sebuah konspirasi, kini menjadi sebuah teori.

Di manakah asal mula SARS-CoV-2? Pertanyaan ini masih belum terjawab.

Sebuah debat di kanal 60 Minutes Australia cukup bisa menjadi rujukan, bagaimana kulminasi perdebatan terbentuk dan hadir hingga saat ini. Termasuk bagaimana pertanyaan ini menjadi sebuah alat politik di sejumlah negara untuk menggiring opini pendukung politik.

Apa yang menjadi penting adalah bahwa pertanyaan dalam judul tulisan ini masih tetap sebuah pertanyaan, tanpa bukti kuat yang menyatakan “YA” atau sebaliknya.

Bagi saya sendiri, apa yang penting saat ini bukan menjawab pertanyaan tersebut dalam waktu dekat. Namun bagaimana mengendalikan agar pandemi di sekitar kita tidak menjadi tragedi, jangan seperti di Italia, Amerika, atau bahkan yang saat ini sedang berlangsung tsunami COVID-19 di India.

Jika suatu saat ini pertanyaan ini dapat terjawab, belum tentu tidak terdapat konflik dan debat setelahnya. Maka menurut saya, mari kita menyeruput kopi dan tetap berkomitmen pada pelaksanaan protokol kesehatan di era “new normal.”

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca