Tips Keselamatan bagi Tenaga Kesehatan Garda Depan menghadapi COVID-19

Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang bekerja bersama-sama dalam menghadapi pandemi COVID-19 di garda depan paling rentang terpapar langsung dengan SARS-CoC-2 – virus penyebab COVID-19. Pelajaran yang dapat kita ambil selama ini adalah COVID-19 sangat menular, oleh karena itu perlindungan keselamatan bagi tenaga kesehatan di garda depan perlu mendapatkan perhatian lebih.

Setahun ini, perkembangan mengenai bagaimana melindungi tenaga kesehatan dari risiko paparan COVID-19 terus berkembang. Sedemikian hingga, pedoman-pedoman keselamatan dikembangkan untuk masing-masing fasilitas layanan kesehatan dapat diterapkan dengan baik.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Dasar dari pengembangan pedoman keselamatan adalah prinsip bahwa penularan COVID-19 berasal dari kontak langsung terhadap droplet atau aerosol dari orang yang sakit, atau bisa juga kontak tak langsung seperti permukaan yang tercemar.

Mari kita lihat satu per satu, apa yang dapat dipertimbangkan sebagai pedoman di tempat kerja masing-masing.

Pakaian Pra-kerja

Semua staf tenaga kesehatan yang berangkat dari rumah ke tempat kerja (rumah sakit, klinik, puskesmas) mengenakan pakaian yang bersih yang tidak diharapkan terpapar faktor infeksi/virus.

Oleh karena itu, idealnya pakaian ini harus baru saja dicuci/binatu menggunakan air panas di semua siklusnya (cuci dan bilas), menggunakan deterjen, pemutih, dan dikeringkan menggunakan pengering elektrik atau gas.

Perlu diperhatikan bahwa pencucian hanya dengan detergen saja tidak efektif untuk sepenuhnya menghilangkan atau menonaktifkan sandang yang tercemar partikel virus pada konsentrasi yang tinggi. Dan virus dapat berpindah dari pakaian yang tercemar ke pakaian yang tidak tercemar. Sedemikian hingga rekomendasi praktik binatu pada masa pandemi adalah menggunakan tambahan pemutih (sodium hipoklorit / hidrogen peroksida) dan penggunaan mesin pengering.

Mesin pengering elektrik atau gas selayaknya dioperasikan dengan setelan panas paling tinggi, mencapai 57°C untuk menonaktifkan SARS-CoV-2 yang biasanya terjadi pada suhu 56°C. Sementara itu penggunaan dry cleaning masih dalam perdebatan.

Hanya saja, di Indonesia kita jarang menemukan proses ini secara otomatis. Pertimbangkan mencuci dengan air panas (disiapkan secara manual), dan dijemur di bawah terik matahari sebagai alternatif.

Kebersihan diri

Kebersihan diri penting dalam mengurangi atau menghilangkan virus. Tenaga kesehatan dianjurkan untuk mandi dengan sabun dan air hangat dari ujung kepala sampai ujung kaki sebelum meninggalkan rumah atau ketika sampai di fasilitas layanan kesehatan (sebelum bertugas).

Jika fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) tidak menyediakan fasilitas mandi (shower) bagi tenaga kesehatan, dan memilih mandi di rumah, maka staf harus langsung berangkat dari rumah ke fasilitas layanan kesehatan (tidak pakai singgah).

Kombinasi air dan sabun efektif dalam menonaktifkan virus. Jika tenaga kesehatan memiliki masalah pada rambut, misal tidak dapat diberikan sampo, maka kepala/rambut selalu ditutup dengan penutup kepala (misal nurse cap) yang selalu dibersihkan atau diganti/dibuang jika sekali pakai. Jika memiliki masalah kulit kering, maka sabun dengan pelembab dapat membantu meringankan gejala.

APD dikenakan setelah mandi. APD standar yang ditentukan oleh fasyankes selayaknya disediakan di fasyankes dan dikenakan saat tenaga kesehatan tiba di fasyankes. Jika APD tidak tersedia, pakaian kerja berlengan panjang dan menutup sebagian besar anggota tubuh disarankan disediakan oleh fasyankes.

Aksesoris tak penting

Lepaskan semua perhiasan, arloji/jam tangan, dan semua aksesoris tak penting yang tidak tertutup oleh pakaian. Jam tangan – apa pun jenisnya – tidak dianjurkan. Apalagi saat ini semua fungsi jam tangan telah dapat digantikan oleh telepon pintar (smartphone).

Jika pasokan respirator terbatas atau dipakai ulang, misal penggunaan ulang N95 dilakukan. Maka disarankan nakes tidak menggunakan kosmetik untuk makeup wajah guna menghindari cemaran/noda pada masker. Jika ada masker yang ternoda, maka tidak disarankan untuk digunakan atau didaur ulang.

Identitas

Kartu identitas nakes ditempatkan pada wadah yang mudah dibersihkan, misalnya dilaminating. Pembersihan bisa menggunakan usap disinfeksi atau alkohol.

Gunakan desain identitas yang mudah dibersihkan, dan tempat penampungan identitas juga dibersihkan secara berkala.

Cuci tangan

Setiap nakes mencuci tangan dengan sabun dan air hangat mengalir atau pembersih tangan dengan antiseptik sesuai dengan protokol yang berlaku di fasilitas masing-masing.

Untuk menghindari kerusakan kulit, maka disarankan menggunakan sabun atau cairan antiseptik yang mengandung bahan pelembab. Jika tidak tersedia, maka sediakan dan gunakan pelembab terpisah setelah melakukan cuci tangan.

Telepon seluler

Ponsel (smartphone) selalu tersentuh oleh tangan tenaga kesehatan, oleh karenanya perlu pembersihan. Ponsel dan penutupnya perlu dibersihkan setidaknya sekali sehari, disarankan setelah selesai giliran jaga.

Pabrik ponsel biasanya memiliki panduan pembersihan ponsel produksi mereka masing-masing. Beberapa menyarankan menggunakan lap disinfeksi, sementara yang lain merekomendasikan tidak menggunakan lap disinfeksi. Periksa masing-masing pedoman yang diberikan oleh pabrik ponsel yang digunakan.

Alternatif yang bisa digunakan adalah membersihkan dengan kain serat mikro (microfiber). Kain serat mikro dapat dilembapkan dengan cairan pembersih yang direkomendasikan, dan digunakan untuk membersihkan ponsel. Kain kemudian dapat dipakai ulang setelah dicuci dengan air hangat dan detergen.

Pelindung mata

Pelindung mata seperti antifog goggle atau face shield baik yang didesain bagi mereka yang mengenakan atau tidak mengenakan kacamata disarankan untuk mengurangi kemungkinan infeksi.

Goggle dan face shield dipelihara agar selalu bersih dengan teknik yang sama seperti yang dilakukan pada ponsel. Perlindungan ini tetap disarankan walau bukti penularan SARS-CoV-2 melalui air mata tidak kuat.

Penggunaan kacamata saja tidak pernah diterima sebagai perlindungan mata jika kewaspadaan isolasi airborne dibutuhkan pada kasus SARS-CoV-2. Hindari menyentuh kacamata dengan sebelum cuci tangan, misalnya ketika hendak membetulkan posisi kacamata.

Walau saat ini tidak ada bukti peningkatan risiko infeksi SARS-CoV-2 melalui lensa kontak, tenaga kesehatan yang mengenakannya tetap disarankan waspada, termasuk proses pembersihan dan disinfeksinya. Lensa kontak harian sekali pakai disarankan. Jika memiliki gejala seperti flu, maka tidak disarankan menggunakan lensa kontak.

Perlindungan hidung dan mulut

Respirator N95 atau masker yang disertifikasi setara (KN95) direkomendasikan dipakai ketika pelayanan pasien positif COVID-19, baik dengan gejala ataupun tidak.

Ketika masker digunakan, maka sebaiknya tidak dilepas atau disentuh sepanjang pemakaian atau sepanjang shift jaga. Jika masker terpaksa dilepas, walau tidak dianjurkan, protokol pelepasan masker harus ditaati.

Pelapasan dan pemasangan kembali masker dilakukan dengan seksama, terutama agar tidak merusak integritas masker dan menghindari (bagian dalam) masker terkontaminasi. Ketika dikenakan kembali perhatikan bahwa tidak ada celah kebocoran antar masker dan permukaan kulit.

Apabila masker terpapar cairan tubuh. atau minyak, maka segera diganti, oleh karena carian dan minyak dapat mengurangi kebergunaan masker.

Jangan lupa, sebelum menggunakan respirator N95, pengguna harus melakukan tes kesesuaian (fit test) untuk menentukan dan menjamin model dan ukuran respirator.

Sebagai catatan, N95 sekali pakai tidak bisa dibersihkan dan didesinfeksi secara efektif. Ikuti pedoman PPI di fasilitas masing-masing jika terdapat kebijakan menggunakan kembali N95 sekali pakai. Dan masker dalam bentuk apa pun sangat tidak dianjurkan untuk dipakai secara berbagi dengan orang lain.

Respirator N95 bisa digunakan dalam kontak dekat dengan beberapa pasien secara bergilir tanpa perlu mengganti pada setiap kali perpindahan ke pasien berikutnya. Penggunaan respirator dapat diperpanjang pada kondisi menghadapi patogen yang sama di bangsal atau ruangan yang sama. Perpanjangan penggunaan ini direkomendasikan sebagai pilihan untuk menghemat respirator pada situasi wabah/pandemi.

Tenaga kesehatan selayaknya mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan dan pelepasan respirator N95, serta bagaimana memeriksa integritas segel antar masker dan permukaan kulit.

N95 yang kedaluwarsa hanya digunakan apabila tidak tersedia yang baru. Tenaga kesehatan selayaknya hanya menggunakan N95 tersertifikasi NIOSH dan diberitahukan apabila mereka sedang menggunakan respirator yang kedaluwarsa.

Penggunaan respirator atau masker berkepanjangan dapat menyebabkan iritasi pada area kulit yang mendapatkan tekanan langsung dari tepi respirator/masker. Area di dalam masker juga bisa tercemar oleh gabungan kelembapan, materi dari luaran nasal dan oral, yang berpotensi menimbulkan ruam, iritasi dan sisik- mengarah pada dermatitis perioral. Pertimbangkan hidrasi kulit yang baik dengan memanfaatkan pelembab.

Menggunakan N95 dalam jangka panjang memiliki efek buruk bagi tenaga kesehatan, termasuk hipoksia dan hiperkapnea hening, yang mungkin menurunkan efisiensi kerja dan kemampuan mengambil keputusan. Gejala tambahan seperti pusing, mengantuk, kulit kemerahan, napas pendek, perubahan kondisi kejiwaan, laju napas menjadi cepat, kedutan otot, hingga kejang. Menghembuskan dan menghirup kembali karbon dioksida secara berulang-ulang yang terperangkap di dalam masker dalam menyebabkan masalah kesehatan, keparahannya bergantung pada kondisi kesehatan penggunanya. Mengemudi sambil menggunakan N95 tidak disarankan oleh karena kondisi di atas bisa mengurangi kemampuan mengemudi dan meningkatkan risiko kecelakaan saat mengemudi.

Rambut wajah

Untuk menjamin respirator terpasang pada kondisi terbaik, memang sebaiknya rambut wajah seperti kumis dan janggut terpotong pendek. Walau pun N95 direkomendasikan untuk mengurangi penyebaran COVID-19, tapi tidak ada anjuran resmi untuk mencukur janggut.

Tidak ada bukti bahwa memelihara janggut meningkatkan penyebaran COVID-19, namun petugas kesehatan garda depan wajib memastikan ketika menggunakan respirator telah terpasang pas pada wajah dan rambut wajah tidak mengurangi atau melonggarkan respirator.

Sebagai alternatif, N95 dapat diganti menggunakan PAPR.

Sementara belum terdapat banyak bukti terkait kaitan rambut wajah dengan penularan COVID-19, tenaga kesehatan yang memelihara rambut wajah disarankan merawat dan membersihkannya dengan baik.

Sarung tangan sekali pakai

Sarung tangan (handscooon) digunakan pada masing-masing pasien saat diperlukan. Sarung tangan periksa non-steril sekali pakai yang biasanya digunakan sehari-hari di layanan kesehatan disarankan digunakan untuk merawat pasien terduga atau terkonfirmasi COVID-19.

Sarung tangan ini biasanya terbuat dari polimer (lateks atau nitrile) yang tahan terhadap virus. Sarung tangan harus digunakan saat kontak dengan darah, feses, dan cairan tubuh lain (saliva, sputum, ingus, air mata, muntahan, urine) pasien.

Gunakan juga sarung tangan saat menangani barang-barang yang tercemar.

Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan cuci tangan antiseptik sebelum mengenakan dan setelah melepas sarung tangan.

Ganti sarung tangan segera apabila terjadi kebocoran atau robekan pada sarung tangan. Buang sarung tangan pada tempat sampah infeksius yang telah ditentukan. Tidak direkomendasikan menggunakan sarung tangan ganda ketika merawat pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19. Demikian juga penggunaan sarung tangan yang diperpanjang tidak diperlukan ketika merawat.

Pelindung badan (coverall)

Belum ada penelitian rinci yang membandingkan antara jas, gaun, dan coverall; namun semua dapat digunakan oleh tenaga kesehatan selama perawatan pasien pada umumnya. Dengan adanya temuan hasil positif SARS-CoV-2 secara sporadis pada pergelangan pakaian, maka cukup wajar bagi tenaga kesehatan untuk menggunakan coverall sebagai alternatif jas putih atau gaun bedah pada perawatan, pengobatan, dan pemindahan pasien COVIOD-19.

Pertimbangkan pemilihan pakaian pelindung di fasyankes yang dapat melindungi dari mikroorganisme dalam darah dan cairan tubuh.

Pelatihan diperlukan oleh staf sehingga dapat tidak hanya mengenakan namun yang terpenting bagaimana melepas coverall sedemikian hingga mencegah swakontaminasi dari serat ke wajah.

Alas kaki

Bawa sepasang sepatu, bot, atau alas kaki layak lainnya untuk digunakan hanya di fasyankes. Setiap kali selesai shift jaga, bersihkan semua permukaan alas kaki (termasuk bagian dalam dan bawah) dengan semprotan disinfektan. Lalu tempatkan pada wadah plastik atau kertas/kardus tertutup dan tinggalkan di fasyankes.

Jika alas kaki bisa dikantongkan dengan baik, maka dapat ditinggalkan di fasyankes maupun dibawa pulang. Tidak rekomendasikan memilih alas kaki yang bertali, misalnya tali sepatu, karena material berpori dapat menyimpan partikel virus.

Sepatu yang dipakai dari rumah menuju fasyankes juga disimpan dalam wadah tertutup saat tiba di fasyankes dan digunakan kembali saat kembali ke rumah atau ke tempat lain.

SARS-CoV-2 juga dapat menempel pada alas sepatu. Oleh karena itu, sepatu yang digunakan saat pulang juga bisa terkontaminasi, dan tidak disarankan untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Tinggalkan di tempat lain yang cukup aman (dari jangkauan orang lain, terutama anak-anak), misalnya di garasi atau sediakan tempat sepatu sebelum masuk rumah.

Kebersihan pascajaga

Petugas kesehatan dapat langsung mandi setelah selesai jam tugasnya jika fasilitas menyediakan tempat pemandian (shower). Fasilitas yang menyediakan area mandi dapat mengatur waktu mandi dan selesai shift, sehingga tidak menumpuk.

Apabila tidak tersedia fasilitas mandi, tenaga kesehatan langsung menuju area pelepasan APD. Lepas APD menggunakan protokol yang disepakati (lihat contoh video di atas). Mengikuti prosedur akan menurunkan risiko penyebaran infeksi.

Setelah melepas APD, cuci tangan dan bagian tubuh lain yang terpapar dengan sabun dan air hangat mengalir.

Kenakan pakaian bersih sebelum kembali pulang ke rumah, dan sesampai di rumah disarankan untuk melepas/berganti pakaian di area khusus (tidak di dalam rumah), lalu pakaian tadi langsung dicuci atau jika tidak langsung dicuci disimpan dalam wadah plastik tertutup sampai pencucian nanti. Setelahnya langsung mandi dan keramas dengan sabun dan air mengalir.

Melepas APD

Seluruh APD harus ditempatkan pada wadah yang sesuai sebelum meninggalkan tempat kerja. Fasyankes menyediakan wadah-wadah terpisah ini untuk masing-masing masker, penutup alas kaki, sarung tangan, dan penutup rambut.

Goggle dan pakaian yang dapat digunakan ulang dibersihkan dan diletakkan pada tempatnya untuk digunakan kembali oleh staf kembali pada hari berikutnya. Apabila penutup rambut akan digunakan ulang, maka selayaknya diberikan label nama nakes dengan spidol hitam permanen.

Selalu cuci tangan setelah melepaskan setiap jenis APD.

Jangan lupa untuk mandi pasca melepaskan APD. Dan jika tidak tersedia fasilitas mandi, nakes dapat langsung pulang dan mandi di rumah.

Pakaian yang digunakan setelah melepas APD adalah pakaian bersih yang dibawa dari rumah, baik yang dikenakan saat datang ke fasyankes atau pakaian terpisah yang disiapkan sebelumnya. Setelah sampai di rumah, disarankan petugas mandi kembali.

Alat transportasi milik pribadi

Bersihkan kendaraan setiap hari. Uji pada jok kendaraan bisa ditemukan partikel COVID-19. Bersihkan terutama pada area permukaan yang sering disentuh, termasuk area pijakan. Media pembersih yang sesuai dan disinfektan disarankan.

Pembersihan ini penting terutama ketika akan mengantar bayi, pasien lansia, daya tahan terganggu, atau mereka dengan kondisi medis yang menyebabkan berisiko lebih tinggi. Hal ini juga menjadi langkah tambahan untuk mencegah SARS-CoV-2 terbatas oleh tenaga kesehatan.

Jika memungkinkan, parkirlah kendaraan di bawah terik matahari saat ditinggal bekerja. Sinar matahari diketahui berperan sebagai disinfektan dan dapat membantu menonaktifkan partikel virus.

Pemeriksaan SARS-C0V-2

Dokter, perawat, tenaga kesehatan dan staf lainnya (misal petugas kebersihan dan perawatan alat) yang bekerja di garda depan selayaknya diuji untuk antigen SARS-CoV-2 sebelum mulai bekerja pada unitnya dan dilanjutkan/diulang setiap 3 hari selama pandemi.

Meski sudah menerapkan kewaspadaan yang baik, tenaga kesehatan dan staf lainnya juga dapat terpapar COVID-19 di fasilitas tempat mereka bekerja, rumah, dan/atau di tempat lainnya di masyarakat (misalnya di pasar ketika berbelanja).

Penutup

Meski sejumlah tips ini tidak semua bisa diaplikasikan, namun menambah beberapa daftar yang bisa dilakukan dapat mengurangi potensi risiko keselamatan akibat paparan COVID-19 bagi tenaga kesehatan dan keluarganya.

Tentu saja selain bekerja, tenaga kesehatan juga bisa terpapar di kegiatan sehari-harinya saat tidak bekerja. Maka ketika tidak bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan, sebagai anggota masyarakat, tenaga kesehatan selayaknya juga mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Hal yang paling sulit mungkin adalah mengubah kebiasaan, karena tidak semua kebiasaan pencegahan infeksi bisa hadir dengan sendiri secara alami. Membiasakan diri patuh pada protokol adalah hal yang penting, dan menjaga mutu kepatuhan ini juga penting.

Selalu bersama-sama dengan sejawat lainnya untuk meningkatkan mutu keselamatan pelayanan di mana pun Anda bekerja.

Catatan: adaptasi didapatkan dari Sage Journal.

Diterbitkan oleh Cahya

A writer, a tea & poet lover, a xanxia addict, an accidental photographer, - a medical doctor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: