Siapa yang perlu pemeriksaan swab untuk COVID-19?

Penentuan diagnosis COVID-19 saat ini paling banyak menggunakan pemeriksaan antigen dan tes amplifikasi asam nukleat (NAAT), melalui pengambilan sampel di nasofaring dan/atau orofaring melalui usapan (swab). Tapi siapa yang sebenarnya memerlukan pemeriksaan ini?

Pertama-tama perlu diketahui, bahwa pemeriksaan dan penegakan diagnosis selama pandemi sangat penting untuk memetakan perkembangan pandemi. Bagi pemerintah di hulu, ini bermanfaat untuk menentukan arah kebijakan. Bagi tenaga kesehatan di hilir, ini bermanfaat untuk menerapkan rekomendasi pengendalian kasus dan pengobatan yang efektif sedini mungkin.

Bagi tenaga kesehatan yang bertugas utama pelacakan kasus (case tracing), maka penemuan tersangka (suspect) dan kontak erat (close contact) menjadi prioritas rekomendasi pemeriksaan.

Bagi mereka yang berada di garda keselamatan kerja, maka proses penapisan sebelum tindakan berisiko menjadi prioritas rekomendasi. Misalnya, pasien yang hendak operasi dan berisiko menularkan kepada staf ruang operasi direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan.

Tersangka atau suspek biasanya berasal dari temuan ketika pasien memeriksakan diri, baik karena merasa memiliki gejala COVID-19 atau merasa sakit lainnya.

Ada ketentuan yang jelas untuk ini, mengikuti Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/4641/2021 tentang Panduan Pelaksanaan Pemeriksaan, Pelacakan, Karantina, dan Isolasi dalam rangka Percepatan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.

Mereka yang merupakan suspek adalah memiliki temuan klinis berupa:

  1. Demam dan batuk
  2. Minimal 3 gejala berikut: demam, batuk, lemas, sakit kepala, nyeri otot, nyeri tenggorokan, pilek/hidung tersumbat, sesak napas, anoreksia/mual/muntah, diare, atau penurunan kesadaran; atau
  3. Pasien dengan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) berat dengan riwayat demam/demam (> 38℃) dan batuk yang terjadi dalam 10 hari terakhir, serta membutuhkan perawatan rumah sakit; atau
  4. Anosmia (kehilangan penciuman) akut tanpa penyebab lain yang teridentifikasi; atau
  5. Ageusia (kehilangan pengecapan) akut tanpa penyebab lain yang teridentifikasi.

Mereka yang punya riwayat kontak dengan kasus terkonfirmasi atau kemungkinan COVID-19 dan menunjukkan kriteria klinis di atas juga dianggap sebagai tersangka. Sehingga jangan heran, jika Anda batuk, pilek, merasa tidak enak badan di wilayah yang tinggi angka penularan COVID-19 akan dianjurkan melakukan pemeriksaan swab RDT-Antigen maupun NAAT untuk COVID-19.

Mohon tidak menolak saran tersebut, karena jika Anda memiliki COVID-19 yang tidak terdeteksi, Anda mungkin tanpa sadar akan menularkannya ke orang-orang di sekitar Anda.

Sementara itu, kontak erat adalah mereka yang memiliki riwayat kontak dengan penderita terkonfirmasi atau kemungkinan COVID-19 dengan kriteria:

  1. Kontak tatap muka/berdekatan dengan kasus konfirmasi dalam radius 1 meter selama 15 menit atau lebih;
  2. Sentuhan fisik langsung dengan pasien kasus konfirmasi (seperti bersalaman, berpegangan tangan, dll);
  3. Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus konfirmasi tanpa menggunakan APD yang sesuai standar; ATAU
  4. Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat.

Dengan penentuan periode kontak sebagai berikut:

  1. Periode kontak pada kasus probabel atau konfirmasi yang bergejala (simptomatik) dihitung sejak 2 hari sebelum gejala timbul sampai 14 hari setelah gejala timbul (atau hingga kasus melakukan isolasi).
  2. Periode kontak pada kasus konfirmasi yang tidak bergejala (asimtomatik) dihitung sejak 2 hari sebelum pengambilan swab dengan hasil positif sampai 14 hari setelahnya (atau hingga kasus melakukan isolasi).

Melalui Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI NOMOR: H.K.02.02/II/1918 /2021 tentang Percepatan Pemeriksaan dan Pelacakan dalam Masa PPKM, di poin ketiga ditegaskan bahwa pelacakan kontak ditingkatkan menjadi: seluruh orang yang tinggal serumah dan bekerja di ruangan yang sama dianggap kontak erat serta wajib dilakukan pemeriksaan (entri tes) dan karantina. Selanjutnya kontak erat juga perlu diidentifikasi dari orang seperjalanan, satu kegiatan keagamaan/sosial (seperti takziah, pengajian, kebaktian, pernikahan), riwayat makan bersama, kontak fisik.

Secara klinis dan dalam keperluan pelacakan, hanya kondisi di atas yang memerlukan pemeriksaan swab untuk COVID-19. Jika Anda termasuk yang merasa menjadi bagian dari target pelacakan, mohon dapat dengan sukarela mengikuti prosedur yang ada.

Sementara itu, pemeriksaan swab untuk COVID-19 juga diwajibkan pada kondisi lainnya. Misalnya mereka yang akan melakukan perjalanan jauh, maka hasil swab akan ditautkan pada kartu e-HAC secara digital.

Hal ini untuk mencegah kemungkinan perpindahan virus yang berpotensi menghabat upaya kita mengakhiri pandemi.

Ada juga yang menjadi dilema di lapangan, misalnya kewajiban pemeriksaan NAAT/RT-PCR bagi mereka yang hendak mulai bekerja lagi pasca menderita COVID-19 oleh perusahaan.

Kata Dokter setelah isoman tidak perlu lagi tes swab PCR, kok perusahaan masih minta?

Sayangnya, kebijakan medis tidak selalu menjadi dasar kebijakan korporat. Hal ini merupakan sesuatu yang umum. Perusahaan memiliki kepentingan dan pertimbangannya sendiri.

Dan sebagai tenaga medis, dokter juga tidak memiliki kuasa untuk mengarahkan atau mengubah kebijakan perusahaan. Oleh sebab itu, dilema seperti ini berpotensi tidak memiliki jalan keluar yang pasti.

Diterbitkan oleh Cahya

A writer, a tea & poet lover, a xanxia addict, an accidental photographer, - a medical doctor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: