Akhir 2022, Masih dengan openSUSE

Komputer merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan saya, bahkan mungkin tidak bisa digantikan dengan ponsel cerdas. Sejumlah pekerjaan hanya bisa dengan nyaman saya kerjakan di komputer.

Salah satu PC saya menggunakan, Beelink U59 dijalankan menggunakan sistem operasi distribusi Linux, openSUSE. Asalinya, miniPC ini hadir dengan Windows 10 yang kemudian dapat ditingkatkan menjadi Windows 11. Saya menghapus seluruh komponen Windows di dalamnya, dan menggantikannya dengan openSUSE seri Tumbleweed.

Mengapa saya memilih Linux? Sebenarnya saya bekerja dengan Windows dan Linux, jadi sebenarnya tidak masalah bagi saya menggunakan yang mana. Karena kegiatan sehari-hari saya kebanyakan hanya berputar pada menulis, membuat grafis sederhana (misalnya diagram alir), atau menyusun presentasi. Kesemuanya bisa berjalan dengan baik di masing-masing sistem operasi.

Hal yang menarik pada Linux, terutama seri rolling-release seperti openSUSE Tumbleweed ini ada banyak. Pertama, tidak ada pembaruan besar berkala, artinya tidak ada peningkatan besar-besaran seperti dari Windows 10 ke Windows 11, membuat pemeliharaan sistem lebih mudah, dan bisa diatur sesuai kebutuhan.

Isu keamanan lebih rendah, sehingga sumber daya tidak terbagi banyak untuk melindungi PC dari ancaman (mis. penggunaan produk antivirus). Ini membuat menjalankan aplikasi di Linux relatif terasa lebih responsif dibandingkan pada Windows.

Punya pasar aplikasi tersendiri yang langsung dibangun di atas flatpak. Aplikasi mudah ditemukan dan dipasang. Saya sendiri lebih memilih memasang aplikasi dari repositori, jika bisa dibangun melalui repo yang disediakan pengembang atau pemilik aplikasi, atau dari berkas RPM yang ada. YaST memudahkan semua ini pada openSUSE.

Dekstop yang saya pilih adalah gnome, karena inilah yang biasa saya gunakan sejak bangku kuliah dulu. Love or hate it, gnome memang memiliki keuntungan bagi saya yang menyukai segala sesuatunya lebih sederhana.

Dan berdampingan dengan aplikasi-aplikasi yang sering saya gunakan, membuat saya betah bekerja dengan desain antarmuka gnome.

Menggunakan Linux tidak serta merta membuat saya sepenuhnya memeluk open source. Saya masih menggunakan produk Microsoft dan lainnya yang bersifat proprietary.

Saya masih menggunakan Microsoft 365 (dulu namanya Office 365) secara daring, dokumen dan berkas penting tetap saya kelola melalui OneDrive – karena merupakan penyimpanan awan yang paling ekonomis yang saya temukan saat ini, dan saya menggunakan insync untuk melalukan sinkronisasi aktif pada Linux.

Dan tidak dipungkiri, karena saya bekerja di industri kesehatan yang masih kental pengelolaan berkasnya dengan Microsoft Office, maka saya menggunakan alternatif Softmaker Office di Linux. Saya sudah mencoba alternatif lain seperti WPS dan OnlyOffice, tapi hanya Softmaker yang memberikan saya apa yang saya perlukan. Tentu saja LibreOffice bagus, tapi terus terang saja, untuk interoperabilitasnya dengan produk Microsoft tidak baik sama sekali. Google Document melakukan fungsi ini dengan lebih baik, hanya saja tidak begitu sesuai dengan kebiasaan kerja saya.

Jika Anda lebih sering mengerjakan ketikan Word Processor secara luring, maka distribusi yang saya sarankan adalah Zorin OS. Bahkan untuk pemula, distribusi Linux ini sangat saya rekomendasikan.

Selain produk perkantoran, produk Wondershare juga saya gunakan untuk melengkapi, seperti EdrawMax dan EdrawMind (di Windows ada juga PDFElement). Harga lisensi mereka memang tidak murah, tapi bagi saya yang juga mengerjakan banyak hal terkait manajemen industri kesehatan, aplikasi seperti ini tidak bisa dihindari. Untungnya aplikasi statistik seperti Jamovi tersedia dalam lisensi sumber terbuka.

Perpesanan seperti Telegram tersedia dari komunitas, dengan juga WhatsApp. Keduanya populer di negara kita, dan keduanya juga berjalan dengan baik di Linux karena berbasis peramban/web.

Sejak pandemi, keperluan pertemuan daring meningkat, dan menjadi populer. Zoom menjadi kata ganti bagi pertemuan daring oleh kebanyakan orang. Dan aplikasi pertemuan daring juga beragam. Saya tetap memasang Zoom, Jitsi, Google Meet, dan Skype. Sayangnya, saya tidak bisa lagi menggunakan aplikasi 8×8 yang murah meriah itu, versi premium Jitsi tersebut menghapus versi Pro-nya pada Februari mendatang. Google Meet memudahkan pertemuan pengguna Android yang tidak terlalu paham cara pakai Zoom, terutama golongan boomers yang you know lah. Skype karena produk Microsoft, banyak yang meremehkan, padahal Skype memberikan keuntungan untuk pertemuan daring gratis lebih baik dari banyak pesaingnya.

Sedemikian hingga, hal-hal yang dikerjakan di sistem operasi Windows sebenarnya bisa dikerjakan di distribusi Linux dengan baik juga. Lalu apa yang menjadi kendala atau hal yang tidak mengenakan dari menggunakan Linux?

Satu kata – INTEL, ya raksasa industri mikroprosesor yang tersohor. Intel tidak mendukung komunitas open source, setidaknya begitu kabar yang beredar. Jika memilih komputer untuk distribusi Linux, sebaiknya memilih AMD saja.

Dan ini tidak keliru, sering kali komputer berbasis Intel tidak selalu tersedia kandar yang sesuai bagi distribusi Linux. Apalagi pada komputer keluaran terbaru. Kadang pengguna bisa menemukan bahwa adapter WiFi mereka tidak terdeteksi, atau Soundcard mereka tidak ditemukan. Hingga kernel atau kandar dari pengembang tersedia, maka seringkali tidak ada pemecahan untuk situasi atau masalah seperti ini.

PC yang saya gunakan misalnya, merupakan PC dengan prosesor Intel generasi ke-11 (saat ini di pasaran terbaru adalah generasi ke-12, dan generasi ke-13 akan segera dipasarkan). Sistem tidak mengenali perangkat keluaran untuk suara, sehingga suara tidak bisa dihasilkan baik melalui perangkat HDMI maupun AUX. Sehingga, jika saya ingin mendengarkan luaran suara, saya harus menggunakan perangkat berbasis USB, misalnya headset berbasis USB, bukan headset dengan konektor AUX.

Tentu saja ada cara mengatasi masalah ini melalui beberapa trik di baris perintah, tapi saya sering kali terlalu malas untuk memperbaikinya, terutama jika masalah tidak terlalu kritikal bagi saya. Hal ini tidak hanya terjadi pada disribusi openSUSE saja, tapi distribusi yang lain juga. Paling nanti saya tambahkan converter dari USB ke AUX untuk mencoba melihat apakah hal ini bisa diakali atau tidak.

Jadi, saya tidak memiliki masalah bermakna selama menggunakan openSUSE. Tapi ya, prosesor Intel Celeron tetap payah, tidak hanya untuk Linux, tapi Windows juga.

Iklan

Diterbitkan oleh Cahya

A writer, a tea & poet lover, a xanxia addict, an accidental photographer, - a medical doctor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: