A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Diperbarui: April 2025


Di suatu klinik di Jawa Tengah, seorang pria 58 tahun dengan diabetes yang sudah berlangsung 12 tahun datang menunjukkan luka di telapak kaki yang “tidak terasa sakit sama sekali.” Tidak terasa sakit — itulah justru yang berbahaya. Ulkus itu sudah berdiameter empat sentimeter, dasarnya tertutup jaringan mati kekuningan, dan sudah ada bau khas yang mengkhawatirkan. Pasien baru menyadarinya tiga minggu sebelumnya, ketika istrinya melihat bekas darah di lantai.

Skenario seperti ini terjadi setiap hari di Indonesia. Prevalensi ulkus kaki diabetes di Indonesia diperkirakan sekitar 15% dari seluruh penderita diabetes, dengan angka amputasi mencapai 30% dan angka kematian 1 tahun pascaamputasi sebesar 14,8%. Lebih dari itu, sebanyak 40% kasus ulkus diabetikum sesungguhnya dapat dicegah dengan perawatan luka yang baik — dan 60% kasus berkaitan erat dengan neuropati perifer, sebuah kondisi yang membuat pasien tidak merasakan nyeri ketika luka terjadi.

Artikel ini secara khusus membahas bagaimana merawat luka ulkus kaki diabetes — berbeda dari artikel tentang proses terjadinya ulkus pedis yang sudah tersedia di blog ini. Fokusnya adalah pada penilaian luka, prinsip-prinsip perawatan berbasis bukti, dan kapan harus dirujuk — mengacu pada panduan terbaru International Working Group on the Diabetic Foot (IWGDF) 2023 serta tinjauan JAMA 2023 oleh Armstrong dan kolega.


Memahami Skala Masalah Secara Global dan Lokal

Sekitar 18,6 juta orang di seluruh dunia terkena ulkus kaki diabetes setiap tahun, dan ulkus ini mendahului 80% amputasi ekstremitas bawah pada penderita diabetes. Di Indonesia, ulkus diabetikum merupakan penyebab paling besar untuk perawatan di rumah sakit dengan angka kejadian sebesar 80% dari seluruh kasus kaki diabetik yang dirawat inap.

Beban ini tidak harus sebesar ini. Sebagian besar amputasi yang terjadi pada penderita diabetes adalah akibat ulkus yang tidak ditangani dengan tepat — bukan akibat kondisi yang tidak dapat disembuhkan.


Langkah Pertama: Menilai Luka dengan Sistematis

Sebelum merawat, kita perlu memahami apa yang dihadapi. Penilaian yang komprehensif menentukan strategi penanganan yang tepat.

Klasifikasi Wagner: Standar Praktis di Indonesia

Sistem klasifikasi Wagner tetap menjadi alat yang paling banyak digunakan di fasilitas kesehatan Indonesia karena kesederhanaannya:

DerajatDeskripsi
0Tidak ada luka terbuka; kulit intak, bisa ada deformitas atau selulitis
1Ulkus superfisial, tidak menembus tendon atau kapsul
2Ulkus dalam, menembus tendon atau kapsul; tidak ada abses atau osteomielitis
3Ulkus dalam dengan abses, osteomielitis, atau artritis septik
4Gangren lokal (jari atau bagian depan kaki)
5Gangren luas melibatkan seluruh kaki

Sistem Klasifikasi IWGDF dan WIfI

Panduan IWGDF 2023 menggunakan sistem klasifikasi yang lebih komprehensif. Sistem WIfI (Wound, Ischemia, and Foot Infection) menilai tiga komponen secara terpisah dengan gradasi 0 (tidak ada) hingga 3 (berat): derajat kerusakan jaringan (wound), derajat iskemia (ischemia), dan derajat infeksi (foot infection). Kombinasi skor ketiga komponen ini digunakan untuk memperkirakan risiko amputasi dalam 1 tahun dan menentukan kebutuhan tindakan revaskularisasi.

Apa yang Harus Dinilai pada Setiap Luka

Penilaian awal harus mencakup:

Karakteristik luka: lokasi, ukuran (panjang × lebar × kedalaman), bentuk tepi luka, kondisi dasar luka (jaringan granulasi, fibrin, nekrosis/eskar), eksudat (jumlah dan karakteristik), bau, dan kondisi kulit sekitarnya.

Tanda infeksi: kemerahan, hangat, bengkak, nyeri (meskipun nyeri bisa absen pada neuropati), eksudat purulen. Pada ulkus yang dalam, perlu dievaluasi kemungkinan osteomielitis — salah satu tesnya adalah probe-to-bone test, di mana masuknya sonde logam hingga terasa kontak dengan tulang keras sangat sugestif osteomielitis.

Status vaskular: perabaan denyut nadi dorsalis pedis dan tibialis posterior; jika meragukan, perlu pemeriksaan ankle-brachial index (ABI) atau rujukan ke spesialis vaskular. Nilai ABI < 0,9 mengindikasikan penyakit arteri perifer.

Status neurologis: pemeriksaan sensasi protektif menggunakan monofilamen Semmes-Weinstein 10 gram pada titik-titik standar di telapak kaki.


Lima Pilar Perawatan Ulkus Kaki Diabetes

Penanganan ulkus kaki diabetes yang sistematis dan berbasis bukti, yang mencakup perawatan luka lokal yang optimal, off-loading, penilaian vaskular perifer (dengan revaskularisasi jika diperlukan), serta kendali metabolik (terutama glikemik), terbukti meningkatkan luaran klinis. Jika aspek-aspek ini tidak ditangani secara memadai dan fokus hanya pada infeksi semata, kemungkinan kegagalan pengobatan sangat meningkat.

IWGDF 2023 mengidentifikasi lima pilar utama tata laksana ulkus kaki diabetes, yang idealnya dilaksanakan secara bersamaan dalam kerangka tim multidisiplin.


Pilar 1: Kendali Glikemik

Kendali gula darah yang optimal adalah fondasi dari seluruh upaya penyembuhan luka. Hiperglikemia mengganggu hampir setiap tahap proses penyembuhan luka: melemahkan fungsi sel imun, menghambat migrasi fibroblas, mengurangi sintesis kolagen, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan kuman patogen.

Target HbA1c yang direkomendasikan PERKENI 2024 untuk pasien diabetes secara umum adalah < 7%, meskipun pada pasien dengan ulkus aktif, target dapat disesuaikan secara individual dengan prioritas stabilisasi akut. Pada kasus yang dirawat inap, insulin intravena atau subkutan menjadi pilihan untuk kendali glikemik yang lebih cepat dan dapat diprediksi dibandingkan obat oral.


Pilar 2: Off-loading (Pengurangan Tekanan)

Ini adalah pilar yang paling penting namun paling sering diabaikan — terutama di Indonesia, di mana kepatuhan pasien terhadap penggunaan alat bantu sangat rendah.

Off-loading — pengurangan stres mekanis repetitif pada kaki — dinyatakan sebagai intervensi yang bisa dibilang paling penting di antara berbagai intervensi yang diperlukan untuk menyembuhkan ulkus kaki diabetes. Logikanya sederhana: luka di telapak kaki yang terus mendapat tekanan berulang saat berjalan tidak akan pernah sembuh, tidak peduli secanggih apa pun balutan yang digunakan.

Panduan IWGDF 2023 merekomendasikan:

Untuk ulkus neuropatik plantar (telapak kaki):

  • Alat off-loading setinggi lutut yang tidak dapat dilepas sendiri — yaitu total contact cast (TCC) atau removable walker yang dikunci menjadi tidak dapat dilepas oleh pasien — adalah pilihan utama off-loading.
  • Jika alat tersebut tidak dapat ditoleransi atau merupakan kontraindikasi, removable knee-high atau ankle-high walker dapat dipertimbangkan; pasien harus diedukasi tentang pentingnya kepatuhan penggunaan alat.

Mengapa alat yang tidak dapat dilepas lebih efektif? Karena pasien yang menggunakan removable cast walker rata-rata melepasnya selama > 70% waktu aktivitas mereka — menghilangkan efek off-loading yang diharapkan. Satu studi mencatat bahwa pasien yang seharusnya menggunakan removable walker rata-rata memakainya hanya 345 menit per hari, dibandingkan 874 menit per hari untuk alat yang dikunci permanen.

Di Indonesia, TCC memang jarang tersedia. Alternatif yang lebih praktis dan terjangkau meliputi:

  • Felted foam (busa berbahan felt) yang dikombinasikan dengan alas kaki yang sesuai — sebagai pilihan ketika tidak ada alat knee-high
  • Sandal atau alas kaki khusus diabetes (therapeutic footwear) dengan sol yang didistribusikan tekanannya merata
  • Kursi roda atau tongkat (kruk) untuk mengurangi weight-bearing pada kasus berat

Pilar 3: Debridemen dan Persiapan Dasar Luka

Debridemen adalah pengangkatan jaringan mati, fibrin, eskar, dan jaringan yang tidak sehat dari dasar luka. Ini menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan jaringan granulasi baru dan angiogenesis.

Debridemen bedah, pengurangan tekanan dari weight-bearing, penanganan iskemia tungkai bawah, dan penanganan infeksi kaki adalah terapi lini pertama untuk ulkus kaki diabetes.

Jenis-jenis debridemen yang tersedia:

Debridemen bedah (sharp debridement): Pengangkatan jaringan mati menggunakan pisau bedah, gunting, atau kuret. Ini adalah metode yang paling cepat dan efektif. Harus dilakukan secara berkala — tidak cukup sekali — karena jaringan nekrotik terus terbentuk. Debridemen yang lebih sering berhubungan dengan waktu penyembuhan yang lebih singkat.

Debridemen autolitik: Menggunakan balutan oklusif atau semioklusif yang menciptakan lingkungan lembap, memungkinkan enzim tubuh sendiri mencerna jaringan mati secara perlahan. Cocok untuk luka yang tidak dapat dilakukan debridemen bedah.

Debridemen enzimatik: Menggunakan agen topikal yang mengandung enzim proteolitik (seperti kolagenase) untuk melarutkan jaringan mati. Tersedia di beberapa rumah sakit Indonesia.

Debridemen larva (larva therapy / maggot therapy): Penggunaan larva Lucilia sericata yang steril untuk membersihkan jaringan nekrotik. Cukup efektif dan aman, namun ketersediaannya sangat terbatas di Indonesia.

Prinsip persiapan dasar luka dapat diringkas dengan akronim TIME:

  • T (Tissue): Angkat jaringan yang tidak viable
  • I (Infection/Inflammation): Kendalikan infeksi dan inflamasi
  • M (Moisture balance): Jaga keseimbangan kelembapan
  • E (Edge of wound): Evaluasi dan stimulasi tepi luka

Pilar 4: Manajemen Infeksi

Tidak semua ulkus kaki diabetes terinfeksi. Kolonisasi bakteri normal pada luka tidak berarti infeksi. Diagnosis infeksi bersifat klinis — berdasarkan tanda-tanda inflamasi, bukan hanya hasil kultur.

Klasifikasi Infeksi IWGDF/IDSA 2023

Klasifikasi derajat infeksi menggunakan sistem IWGDF/IDSA telah tervalidasi dan direkomendasikan untuk digunakan secara klinis.

DerajatKategoriKriteria Klinis
1Tidak terinfeksiTidak ada tanda inflamasi
2Ringan (mild)Infeksi jaringan lunak superfisial; kemerahan < 2 cm, hangat, bengkak, atau eksudat purulen
3Sedang (moderate)Kemerahan > 2 cm, atau infeksi lebih dalam (abses, fasciitis, selulitis berat); tanpa tanda sistemik
4Berat (severe)Infeksi dengan tanda sistemik (demam, takikardia, leukositosis, atau tanda sepsis)

Osteomielitis (infeksi tulang) paling sering terjadi sebagai komplikasi ulkus kaki diabetes yang dalam dan terinfeksi. Probe-to-bone test positif, ditambah leukositosis dan peningkatan CRP/LED, meningkatkan kecurigaan osteomielitis secara bermakna.

Prinsip Penggunaan Antibiotik

  • Infeksi derajat 1: tidak perlu antibiotik
  • Infeksi derajat 2 (ringan): antibiotik oral yang menarget Staphylococcus aureus dan Streptococcus (misalnya kloksasilin, amoksisilin-klavulanat)
  • Infeksi derajat 3 (sedang): antibiotik spektrum lebih luas, pertimbangkan oral atau intravena tergantung respons
  • Infeksi derajat 4 (berat): rawat inap, antibiotik intravena spektrum luas, kultur dan sensitivitas

Di Indonesia, pola kuman ulkus kaki diabetes perlu perhatian khusus. Penelitian di dua rumah sakit di Yogyakarta (2022–2023) menemukan bahwa hampir seluruh isolat bakteri dari ulkus kaki diabetes adalah pembentuk biofilm, dengan dominasi bakteri Gram negatif seperti P. aeruginosa dan E. coli, dan proporsi bakteri multidrug-resistant (MDR) yang signifikan — menekankan pentingnya pemeriksaan kultur dan uji kepekaan antibiotik sebelum memulai antibiotik pada infeksi derajat sedang hingga berat.

Jangan pernah hanya menarget infeksi tanpa menangani tiga aspek lainnya — off-loading, debridemen, dan kendali vaskular — karena antibiotik sendiri tidak akan menyembuhkan ulkus.


Pilar 5: Balutan Luka (Wound Dressing)

Prinsip utama dalam pemilihan balutan luka modern adalah menjaga lingkungan luka yang lembap namun tidak terlalu basah (moist wound healing). Luka yang dibiarkan kering akan membentuk krusta yang menghambat migrasi sel epitel dan pertumbuhan jaringan granulasi.

Balutan luka ideal untuk ulkus kaki diabetes:

  • Menjaga kelembapan optimal di dasar luka
  • Menyerap eksudat berlebih tanpa mengeringkan luka
  • Tidak melekat pada dasar luka sehingga tidak merusak jaringan granulasi saat penggantian
  • Memberikan perlindungan dari kontaminasi eksternal

Berikut jenis-jenis balutan yang umum digunakan:

Jenis BalutanKarakteristikCocok untuk
Kasa konvensional + NaCl 0,9%Murah, mudah didapat; kurang optimal untuk moist healingPembersihan awal, sumber daya terbatas
HydrogelMenambah kelembapan; cocok untuk luka kering/nekrotikLuka dengan nekrosis kering, eskar
Foam dressingMenyerap eksudat; menjaga kelembapanLuka dengan eksudat sedang-banyak
HydrocolloidAutolitik lembut; tidak perlu diganti seringLuka dengan eksudat minimal-sedang
AlginateSangat absorbtifLuka dengan eksudat berat
Silver-containing dressingAntimikroba lokalLuka terinfeksi atau berisiko infeksi tinggi

Satu catatan penting: tidak ada satu jenis balutan yang cocok untuk semua fase penyembuhan. Jenis balutan harus disesuaikan dengan kondisi luka saat itu dan diubah sesuai perkembangan.


Terapi Lanjutan: Ketika Perawatan Standar Tidak Cukup

Jika luka tidak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan bermakna dalam 4–6 minggu dengan perawatan standar, perlu dipertimbangkan intervensi lanjutan.

Negative Pressure Wound Therapy (NPWT)

Negative pressure wound therapy (NPWT), dikenal juga sebagai terapi VAC (Vacuum-Assisted Closure), menggunakan tekanan negatif (vakum) untuk membantu penyembuhan luka. Panduan IWGDF 2023 memberikan rekomendasi kondisional untuk penggunaan NPWT pada luka pascaoperasi ulkus kaki diabetes (misalnya setelah amputasi minor atau debridemen bedah ekstensif).

Di Indonesia, NPWT tersedia di beberapa rumah sakit tipe B/A dan rumah sakit pendidikan. Biayanya relatif tinggi, tetapi dapat ditanggung BPJS dalam kondisi tertentu.

Produk Berbasis Plasenta dan Autologous Platelet-Rich Plasma (PRP)

Panduan IWGDF 2023 memberikan rekomendasi kondisional untuk penggunaan produk berbasis plasenta (seperti amniotic membrane) dan tambalan autologous leukosit/trombosit/fibrin pada ulkus yang tidak membaik dengan perawatan standar. Terapi ini bekerja dengan menyediakan faktor pertumbuhan yang mempercepat pembentukan jaringan baru.

Terapi Oksigen Hiperbarik (TOHB)

Terapi oksigen hiperbarik melibatkan menghirup oksigen murni di dalam ruang bertekanan tinggi (biasanya 2–2,5 atmosfer). Mekanismenya meningkatkan kadar oksigen di jaringan yang iskemik, mendukung pembunuhan bakteri anaerob, dan merangsang angiogenesis. Panduan IWGDF 2023 memberikan rekomendasi kondisional untuk penggunaan terapi oksigen hiperbarik pada ulkus kaki diabetes yang tidak sembuh dengan perawatan standar, dengan catatan bahwa terapi ini hanya digunakan jika perawatan standar tidak berhasil dan sumber daya tersedia. Di Indonesia, TOHB tersedia di beberapa rumah sakit besar dan TNI/POLRI.

Sucrose Octasulfate Dressing

Balutan berbahan sucrose octasulfate adalah inovasi yang mendapat rekomendasi kondisional dari IWGDF 2023 untuk ulkus neuroiskhemik yang tidak sembuh. Mekanismenya melibatkan penghambatan metalloproteinase matriks yang berlebihan, yang menghambat proses penyembuhan normal.


Penilaian Vaskular dan Revaskularisasi

Komponen iskemia harus selalu dinilai pada setiap ulkus kaki diabetes. Ulkus yang memiliki komponen iskemia signifikan tidak akan sembuh dengan perawatan luka sebaik apapun tanpa perbaikan aliran darah.

Tanda-tanda klinis iskemia meliputi: kaki pucat atau kebiruan, hilangnya denyut nadi dorsalis pedis dan tibialis posterior, kulit kaki yang tipis mengkilap, atrofi jaringan subkutan, dan nyeri saat istirahat. ABI < 0,9 mengindikasikan penyakit arteri perifer; ABI < 0,4 atau tekanan sistolik pergelangan kaki < 50 mmHg mengindikasikan iskemia kritis.

Pada kasus dengan iskemia signifikan, pasien harus dirujuk ke spesialis bedah vaskular untuk pertimbangan revaskularisasi (angioplasti atau bypass vaskular). Revaskularisasi yang berhasil secara dramatis meningkatkan angka penyembuhan ulkus dan menurunkan risiko amputasi.


Pencegahan Rekurensi: Prioritas Setelah Luka Sembuh

Ulkus kaki diabetes memiliki angka rekurensi yang sangat tinggi. Setelah luka sembuh, risiko terjadinya ulkus baru dalam 1 tahun mencapai 40%, dan dalam 5 tahun mendekati 65%.

Komponen pencegahan rekurensi berdasarkan IWGDF 2023 meliputi:

Alas kaki terapeutik: Sepatu khusus diabetes (extra-depth shoes) atau alas kaki yang dibuat khusus (custom-made footwear) untuk mendistribusikan tekanan secara merata dan mengurangi titik-titik tekanan tinggi. IWGDF 2023 merekomendasikan custom-made footwear untuk pasien dengan risiko ulkus tinggi (IWGDF risiko 2–3).

Pemeriksaan kaki mandiri harian: Pasien diajarkan untuk memeriksa kaki setiap hari menggunakan cermin untuk melihat bagian bawah kaki, mencari luka kecil, memar, kemerahan, atau area berbeda warna — terutama karena mereka tidak dapat mengandalkan sensasi nyeri.

Perawatan kuku dan kulit: Memotong kuku lurus (bukan melengkung), tidak memotong kalus sendiri, menggunakan pelembap pada kulit kering, dan tidak merendam kaki terlalu lama.

Program latihan kaki: IWGDF 2023 menyarankan program latihan kaki-pergelangan kaki selama 8–12 minggu, sebaiknya di bawah supervisi tenaga kesehatan terlatih, untuk mengurangi faktor risiko ulserasi pada pasien diabetes dengan risiko ulkus ringan-sedang (IWGDF risiko 1–2).

Pemantauan suhu kaki: Penggunaan termometer inframerah untuk mendeteksi perbedaan suhu > 2°C antara titik yang sama di kedua kaki — yang merupakan tanda peringatan dini hot spot yang berpotensi menjadi ulkus.


Kapan Harus Dirujuk?

Tidak semua kasus ulkus kaki diabetes dapat ditangani di fasilitas kesehatan primer. Berikut indikasi rujukan segera:

  • Tanda-tanda infeksi berat: demam tinggi, tanda sepsis, selulitis yang cepat meluas
  • Kecurigaan osteomielitis
  • Gangren (jaringan mati kehitaman)
  • Iskemia tungkai berat (kaki pucat/kebiruan, nyeri saat istirahat, tidak ada denyut nadi)
  • Ulkus yang tidak menunjukkan perbaikan dalam 4–6 minggu dengan perawatan optimal
  • Kedalaman ulkus menembus hingga tendon atau tulang (Wagner ≥ 2)
  • Kebutuhan tindakan bedah (debridemen luas, amputasi minor/mayor, revaskularisasi)

Konteks Indonesia: Tantangan dan Solusi Praktis

Keterbatasan sumber daya di fasilitas kesehatan Indonesia menjadi tantangan nyata dalam implementasi panduan internasional. Beberapa penyesuaian praktis:

Balutan: Meskipun modern dressing lebih efektif, pada fasilitas dengan sumber daya terbatas, kasa lembap dengan NaCl 0,9% masih merupakan pilihan yang lebih baik daripada kasa kering — yang dapat melekat dan merusak jaringan granulasi saat penggantian.

BPJS Kesehatan: Pasien dengan ulkus kaki diabetes yang memerlukan perawatan lanjutan (debridemen bedah, NPWT, atau tindakan vaskular) dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut (rumah sakit) melalui sistem rujukan BPJS. Beberapa tindakan seperti debridemen dan amputasi minor sudah tercakup dalam manfaat JKN.

Tim multidisiplin: Di rumah sakit dengan kapasitas lebih lengkap, penanganan ulkus kaki diabetes idealnya melibatkan dokter spesialis penyakit dalam/endokrinologi, bedah vaskular, ortopedi, radiologi, mikrobiologi klinik, dan tenaga perawat luka terlatih. Di tingkat primer, koordinasi dengan rumah sakit rujukan yang memiliki tim kaki diabetes (diabetic foot team) adalah kunci.

Edukasi pasien dan keluarga: Penelitian konsisten menunjukkan bahwa edukasi perawatan kaki efektif meningkatkan pengetahuan, efikasi diri, dan perilaku perawatan kaki — sekaligus menurunkan angka kejadian ulkus dan amputasi. Edukasi harus meliputi teknik perawatan kaki harian, pemilihan alas kaki yang benar, tanda-tanda peringatan yang harus segera dikonsultasikan ke dokter, dan pentingnya kepatuhan off-loading.


Simpulan

Perawatan ulkus kaki diabetes jauh lebih dari sekadar membersihkan dan membalut luka. Pendekatan yang komprehensif dan berbasis bukti — mencakup kendali glikemik, off-loading yang konsisten, debridemen berkala, pengelolaan infeksi yang rasional, dan pemilihan balutan yang tepat — adalah satu-satunya jalan menuju penyembuhan dan pencegahan amputasi.

Di Indonesia, di mana beban ulkus kaki diabetes sangat besar, setiap klinisi — mulai dari dokter umum di puskesmas hingga spesialis di rumah sakit tersier — perlu memahami prinsip-prinsip ini dan mampu menerapkannya sesuai kapasitas fasilitas yang tersedia, serta mengetahui dengan tepat kapan harus merujuk.


Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi kesehatan dan tidak menggantikan penilaian klinis atau konsultasi medis langsung dari dokter yang merawat. Setiap pasien dengan ulkus kaki diabetes memerlukan evaluasi individual oleh tenaga medis yang berkompeten.


Referensi

Armstrong, D. G., Tan, T.-W., Boulton, A. J. M., & Bus, S. A. (2023). Diabetic foot ulcers: A review. JAMA, 330(1), 62–75. https://doi.org/10.1001/jama.2023.10578

Bus, S. A., Armstrong, D. G., Crews, R. T., Gooday, C., Jarl, G., Kirketerp-Møller, K., Viswanathan, V., & Lazzarini, P. A. (2024). Guidelines on offloading foot ulcers in persons with diabetes (IWGDF 2023 update). Diabetes/Metabolism Research and Reviews, 40(3), e3647. https://doi.org/10.1002/dmrr.3647

Bus, S. A., Sacco, I. C. N., Monteiro-Soares, M., Raspovic, A., Paton, J., Rasmussen, A., Lavery, L. A., & van Netten, J. J. (2024). Guidelines on the prevention of foot ulcers in persons with diabetes (IWGDF 2023 update). Diabetes/Metabolism Research and Reviews, 40(3), e3651. https://doi.org/10.1002/dmrr.3651

Chen, P., Campillo Vilorio, N., Dhatariya, K., Jeffcoate, W., Lobmann, R., McIntosh, C., Piaggesi, A., Steinberg, J., Vas, P., Viswanathan, V., Wu, S., & Game, F. (2024). Guidelines on interventions to enhance healing of foot ulcers in people with diabetes (IWGDF 2023 update). Diabetes/Metabolism Research and Reviews, 40(3), e3644. https://doi.org/10.1002/dmrr.3644

Gallagher, K. A., Mills, J. L., Armstrong, D. G., Conte, M. S., Kirsner, R. S., Minc, S. D., Plutzky, J., Southerland, K. W., & Tomic-Canic, M. (2024). Current status and principles for the treatment and prevention of diabetic foot ulcers in the cardiovascular patient population: A scientific statement from the American Heart Association. Circulation, 149(4), e232–e253. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001192

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). (2024). Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di Indonesia 2024. PB PERKENI.

Schaper, N. C., van Netten, J. J., Apelqvist, J., Bus, S. A., Fitridge, R., Game, F., Monteiro-Soares, M., & Senneville, E. (2024). Practical guidelines on the prevention and management of diabetes-related foot disease (IWGDF 2023 update). Diabetes/Metabolism Research and Reviews, 40(3), e3657. https://doi.org/10.1002/dmrr.3657

Senneville, É., Albalawi, Z., van Asten, S. A., Abbas, Z. G., Allison, G., Aragón-Sánchez, J., … & Lipsky, B. A. (2023). IWGDF/IDSA guidelines on the diagnosis and treatment of diabetes-related foot infections (IWGDF/IDSA 2023). Clinical Infectious Diseases, 79(1), e1–e31. https://doi.org/10.1093/cid/ciad527

Trisnawati, T., Nurvinanda, R., & Ardiansyah, A. (2023). Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ulkus diabetikum pada penderita diabetes melitus. Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences, 4(2), 85–94. https://doi.org/10.37287/ijnhs.v4i2.1563

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. Mengapa Luka di Kaki Diabetes Sulit Sembuh? Memahami Patofisiologi Ulkus Pedis Diabetes secara Mendalam – Bhyllabus l'énigme Avatar

    […] Untuk pembahasan tentang cara merawat ulkus kaki diabetes yang sudah terbentuk, silakan baca artikel terpisah: Perawatan Luka Ulkus Diabetes. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Mengapa Luka di Kaki Diabetes Sulit Sembuh? Memahami Patofisiologi Ulkus Pedis Diabetes secara Mendalam – Bhyllabus l'énigme Batalkan balasan