A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Perdarahan vaginal yang abnormal adalah perdarahan yang terjadi di luar siklus menstruasi normal atau yang berlebihan, berlangsung lama, atau tidak teratur. Perdarahan vaginal yang abnormal bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang bersifat fisiologis maupun patologis. Berikut adalah beberapa penyebab umum dari perdarahan vaginal yang abnormal:

Gangguan hormon. Hormon estrogen dan progesteron berperan dalam mengatur siklus menstruasi. Jika ada ketidakseimbangan hormon, misalnya karena stres, perubahan berat badan, penggunaan kontrasepsi hormonal, atau masalah tiroid, maka bisa menyebabkan perdarahan vaginal yang tidak normal. Gangguan hormon juga sering terjadi pada masa pubertas dan menopause, saat kadar hormon mengalami perubahan signifikan.

Kehamilan. Perdarahan vaginal pada awal kehamilan bisa terjadi karena implantasi embrio ke dinding rahim. Perdarahan ini biasanya ringan dan berlangsung singkat. Namun, perdarahan vaginal pada trimester kedua atau ketiga kehamilan bisa menandakan adanya komplikasi, seperti plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir), abrupsi plasenta (plasenta lepas dari dinding rahim), atau keguguran. Perdarahan vaginal pada saat hamil harus segera ditangani oleh dokter untuk mencegah risiko bagi ibu dan janin.

Infeksi. Infeksi pada vagina, serviks, rahim, atau saluran tuba bisa menyebabkan peradangan dan iritasi yang memicu perdarahan. Infeksi bisa disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau parasit. Beberapa infeksi menular seksual (IMS) yang bisa menyebabkan perdarahan vaginal adalah klamidia, gonore, herpes genital, dan sifilis. Infeksi juga bisa terjadi akibat penggunaan tampon atau alat kontrasepsi intrauterin (AKDR) yang tidak higienis.

Polip atau miom. Polip adalah pertumbuhan jaringan abnormal yang menonjol dari dinding rahim atau serviks. Miom adalah tumor jinak yang tumbuh di dalam atau di luar rahim. Polip dan miom bisa menyebabkan perdarahan vaginal yang berlebihan atau tidak teratur, terutama saat menstruasi atau setelah berhubungan seksual. Polip dan miom biasanya tidak berbahaya, namun bisa mengganggu kesuburan atau menyebabkan anemia jika tidak ditangani.

Kanker. Kanker pada vagina, serviks, rahim, ovarium, atau vulva bisa menyebabkan perdarahan vaginal yang abnormal. Perdarahan ini biasanya terjadi setelah berhubungan seksual, di antara siklus menstruasi, atau setelah menopause. Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling sering menyebabkan perdarahan vaginal yang abnormal. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan Pap smear secara rutin untuk mendeteksi adanya sel-sel abnormal di serviks sebelum berkembang menjadi kanker.

Perdarahan vaginal yang abnormal bisa menunjukkan adanya masalah kesehatan yang serius atau tidak. Jika Anda mengalami perdarahan vaginal yang abnormal, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan pengobatan yang tepat.

Artikel Baru Terbit

  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca