A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Di sebuah klinik pagi yang ramai, seorang ibu datang membawa anaknya yang berusia empat tahun. Keluhan yang ia sampaikan terdengar biasa: si kecil tidak mau makan, berat badannya stagnan selama dua bulan, dan sesekali demam di malam hari. Dokter memeriksa dengan saksama, kemudian mengajukan satu pertanyaan yang ternyata mengubah segalanya: “Apakah ada anggota keluarga di rumah yang baru-baru ini sakit batuk lama dan sedang dalam pengobatan?”

Pertanyaan itu bukan sekadar formalitas. Ia adalah kunci untuk membuka pintu diagnosis yang sering kali tersembunyi — tuberkulosis pada anak.

Beban yang Tidak Proporsional

Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi salah satu ancaman kesehatan global yang paling persisten. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024 yang diterbitkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 10,8 juta orang jatuh sakit akibat TBC pada tahun 2023, dan sekitar 55% di antaranya adalah laki-laki dewasa, 33% perempuan dewasa, serta 12% adalah anak-anak dan remaja. Angka 12% ini mungkin terdengar kecil, tetapi jika kita terjemahkan ke angka absolut, dampaknya sungguh besar.

Menurut data WHO, terdapat sekitar 1,296 juta kasus baru dan 187.500 kematian pada anak di bawah 14 tahun secara global pada tahun 2023. Yang lebih mengkhawatirkan, pada tahun 2022 diperkirakan 214.000 anak dan remaja meninggal akibat TBC — artinya hampir 600 anak kehilangan nyawanya setiap hari akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.

Indonesia berada di posisi yang tidak membanggakan dalam peta ini. Indonesia menempati posisi kedua setelah India dengan perkiraan 1.060.000 kasus baru TBC dan 134.000 kematian setiap tahunnya, atau setara dengan 15 kematian setiap jam. Pada tahun 2022, 12% dari seluruh pasien TBC di Indonesia adalah anak-anak usia 0–14 tahun. Sebuah angka yang menuntut perhatian serius dari setiap orang tua, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan.

Mengapa Anak-Anak Lebih Rentan

Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TBC, menyebar melalui droplet di udara saat seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Anak-anak, terutama yang berusia di bawah 5 tahun, memiliki kerentanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa karena beberapa alasan.

Anak di bawah usia 5 tahun memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum matang, sehingga bakteri Mycobacterium tuberculosis yang telah masuk ke dalam tubuh lebih mudah berkembang aktif. Di samping itu, anak-anak sering kali hidup berdekatan dengan sumber penularan — biasanya anggota keluarga dewasa di dalam satu rumah — dan tidak dapat menghindari paparan dengan cara yang dapat dilakukan oleh orang dewasa.

Perjalanan infeksi TBC pada anak dapat dibagi menjadi tiga tahap penting yang perlu dipahami:

Tahap pertama: Terpapar. Anak berada dalam satu ruangan dengan penderita TBC aktif, tetapi belum terinfeksi. Pemeriksaan masih dalam batas normal.

Tahap kedua: Infeksi TBC laten. Bakteri sudah masuk ke dalam tubuh, namun sistem imun berhasil menahannya agar tidak aktif. Anak tidak menunjukkan gejala, tidak menularkan penyakit, namun hasil tes kulit tuberkulin (Tuberculin Skin Test/TST) atau tes darah Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) akan positif.

Tahap ketiga: Penyakit TBC aktif. Bakteri lolos dari kendali sistem imun dan mulai berkembang biak. Gejala klinis muncul, dan anak berpotensi menularkan infeksi kepada orang lain jika tidak segera ditangani.

Mengenali Wajah TBC pada Anak

Salah satu alasan TBC anak sering terlambat terdiagnosis adalah karena gejalanya seringkali tidak spesifik dan menyerupai penyakit-penyakit umum lainnya. Gejala utama yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu (namun perlu dicatat, batuk bukan selalu gejala utama pada anak yang lebih kecil)
  • Demam yang hilang timbul, terutama di sore dan malam hari
  • Berat badan turun atau tidak naik selama dua bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas
  • Lemas, lesu, dan penurunan aktivitas
  • Keringat malam yang berlebihan
  • Pembengkakan kelenjar getah bening, umumnya di leher

Gejala-gejala ini menjadi lebih mengkhawatirkan jika terdapat riwayat kontak erat dengan penderita TBC aktif — terutama anggota keluarga yang tinggal serumah. Kontak erat tersebut adalah sinyal merah yang tidak boleh diabaikan.

Pada bentuk TBC di luar paru (ekstrapulmoner), gejala akan bergantung pada organ yang terlibat: nyeri dan pembengkakan sendi pada TBC tulang, sakit kepala disertai muntah dan kejang pada TBC meningitis, atau perut kembung dengan nyeri pada TBC usus. Bentuk TBC ekstrapulmoner ini justru lebih sering ditemukan pada anak dibandingkan orang dewasa.

Bagaimana TBC Anak Didiagnosis?

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani TBC anak adalah menegakkan diagnosis. Berbeda dengan orang dewasa, anak jarang menghasilkan dahak yang cukup untuk diperiksa di bawah mikroskop. Selain itu, hasil TST atau IGRA tidak selalu memberikan jawaban yang pasti.

Di Indonesia, dokter menggunakan sistem skoring TBC anak yang dikembangkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bekerja sama dengan Kemenkes RI. Sistem ini menggabungkan berbagai parameter klinis seperti riwayat kontak, hasil TST, status gizi, foto rontgen dada, dan gejala-gejala klinis ke dalam skor numerik. Skor 6 atau lebih mengarah pada diagnosis TBC dan anak perlu mendapatkan pengobatan.

Di tingkat yang lebih canggih, pemeriksaan molekuler cepat menggunakan Xpert MTB/RIF kini semakin banyak tersedia di Indonesia. WHO pada April 2025 juga menerbitkan pedoman diagnostik terbaru yang kini menyatukan seluruh rekomendasi WHO tentang diagnosis infeksi TBC, penyakit TBC, dan resistansi obat dalam satu dokumen referensi tunggal, termasuk rekomendasi baru tentang pengujian bersamaan pada sampel respiratori dan non-respiratori pada anak. Inovasi diagnostik ini membuka peluang diagnosis yang lebih akurat, bahkan dari sampel yang lebih mudah dikumpulkan pada anak seperti aspirat lambung atau tinja.

Kabar Baik dari Laboratorium: Pengobatan yang Lebih Singkat

Selama bertahun-tahun, standar pengobatan TBC pada anak mengharuskan kombinasi obat antituberkulosis diminum selama enam bulan penuh. Kepatuhan menjadi tantangan besar — bagi anak maupun orang tuanya. Kini, ada kabar baik dari penelitian ilmiah.

Uji klinis SHINE (Shorter Treatment for Minimal Tuberculosis in Children) mengacak 1.204 anak dari Afrika dan India dengan TBC non-berat untuk menerima regimen pengobatan selama 4 bulan atau 6 bulan menggunakan kombinasi dosis tetap yang ramah anak. Hasilnya? Pengobatan 4 bulan terbukti tidak kalah efektif dibandingkan pengobatan 6 bulan pada anak dengan TBC peka obat, non-berat, dan sputum negatif.

Berdasarkan bukti kuat ini, WHO kini merekomendasikan bahwa anak dan remaja usia 3 bulan hingga 16 tahun dengan TBC non-berat dapat menjalani pengobatan selama 4 bulan saja. Temuan ini berlaku untuk sebagian besar anak dengan TBC, karena dua pertiga kasus TBC pada anak awalnya muncul sebagai penyakit non-berat dengan beban bakteri rendah. Pengobatan yang lebih singkat berarti lebih sedikit efek samping, lebih mudah dipatuhi, dan lebih ringan bagi keluarga.

Namun perlu dipahami, pengurangan durasi ini hanya berlaku untuk TBC non-berat. Untuk kasus TBC berat, TBC meningitis, atau TBC yang disebabkan kuman resistan obat (Multi-Drug Resistant/MDR-TBC), durasi dan jenis pengobatan berbeda dan harus ditentukan oleh dokter spesialis.

Mencegah TBC pada Anak: Lebih dari Sekadar Vaksin

Vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin) yang diberikan pada bayi baru lahir adalah tameng pertama dan utama. Vaksin ini terbukti efektif melindungi anak dari bentuk TBC yang paling berbahaya, seperti TBC milier dan TBC meningitis. Namun perlindungan BCG bukanlah perisai sempurna — ia tidak sepenuhnya mencegah infeksi TBC pulmoner pada anak yang lebih besar.

Strategi pencegahan yang semakin mendapat perhatian adalah Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Anak yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC aktif — terutama yang berusia di bawah 5 tahun atau memiliki kondisi imunokompromais — direkomendasikan untuk mendapatkan terapi pencegahan meski belum menunjukkan gejala penyakit aktif. Regimen yang saat ini direkomendasikan untuk infeksi TBC laten pada anak meliputi pemberian isoniazid dan rifapentine satu kali seminggu selama tiga bulan (regimen 3HP).

Langkah pencegahan lain yang tidak kalah penting:

  • Penemuan dan pengobatan sumber penularan — mendeteksi dan mengobati anggota keluarga dewasa yang menjadi sumber infeksi adalah cara paling langsung untuk melindungi anak
  • Ventilasi rumah yang baik — sirkulasi udara yang memadai mengurangi konsentrasi bakteri di udara dalam ruangan
  • Gizi yang cukup — status gizi yang baik memperkuat daya tahan tubuh anak terhadap infeksi

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Jika anak menunjukkan gejala-gejala yang telah disebutkan — terutama jika ada anggota keluarga yang sedang dalam pengobatan TBC atau baru saja didiagnosis TBC — segera bawa anak ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunggu sampai gejala memburuk.

Di fasilitas kesehatan, dokter akan melakukan penilaian menyeluruh menggunakan sistem skoring, pemeriksaan rontgen dada, uji tuberkulin, dan jika perlu, pemeriksaan molekuler seperti Xpert MTB/RIF. Diagnosis yang tepat adalah langkah pertama menuju pengobatan yang efektif.

Jika anak didiagnosis TBC dan harus menjalani pengobatan, konsistensi adalah segalanya. Minum obat secara rutin sesuai jadwal, jangan menghentikan pengobatan di tengah jalan meski anak sudah merasa sehat — karena penghentian prematur adalah pintu masuk menuju kegagalan pengobatan dan resistansi obat yang jauh lebih sulit ditangani.

TBC pada anak bukanlah vonis. Dengan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat, anak dapat pulih sepenuhnya dan tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya. Tantangannya ada pada kita semua — untuk cukup waspada agar tidak melewatkan tanda-tanda yang tersembunyi di balik keluhan yang tampak biasa.


Referensi

Handryastuti, S., & Abdullah, M. (2023). Perbandingan berbagai sistem skoring untuk diagnosis meningitis tuberkulosis. Sari Pediatri, 24(6). https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/1800/pdf_1

Jenkins, H. E. (2016). Global burden of childhood tuberculosis. Pneumonia, 8, 24. https://doi.org/10.1186/s41479-016-0018-6

Kementerian Kesehatan RI. (2024). Hari Anak Nasional 2024: Masyarakat harus pahami karakteristik TBC. https://kemkes.go.id/id/hari-anak-nasional-2024-masyarakat-harus-pahami-karakteristik-tbc

Saukkonen, J. J., Duarte, R., Munsiff, S. S., & Winston, C. A. (2025). Updates on the treatment of drug-susceptible and drug-resistant tuberculosis: An official ATS/CDC/ERS/IDSA clinical practice guideline. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, 211(1), e15–e33. https://doi.org/10.1164/rccm.202410-2096ST

TB Indonesia. (2024). Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2024: Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis (GIAT). https://www.tbindonesia.or.id

Turkova, A., Wills, G. H., Wobudeya, E., et al. (2022). Shorter treatment for nonsevere tuberculosis in African and Indian children. New England Journal of Medicine, 386(10), 911–922. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2104535

Verkuijl, S., Bastard, M., Brands, A., Viney, K., Masini, T., Mavhunga, F., Floyd, K., & Kasaeva, T. (2024). Global reporting on TB in children and adolescents: How far have we come and what remains to be done? IJTLD Open, 1(1). https://doi.org/10.5588/ijtldopen.23.0529

World Health Organization. (2022). WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 5: Management of tuberculosis in children and adolescents. https://www.who.int/publications/i/item/9789240046764

World Health Organization. (2024). Global tuberculosis report 2024. https://www.who.int/teams/global-programme-on-tuberculosis-and-lung-health/tb-reports/global-tuberculosis-report-2024

World Health Organization. (2025, April 17). WHO launches an update on the consolidated guidelines to diagnose tuberculosis. https://www.who.int/news/item/17-04-2025-who-launches-an-update-on-the-consolidated-guidelines-to-diagnose-tuberculosis


Artikel ini merupakan versi yang diperbarui dari tulisan sebelumnya yang terbit pada Juni 2023, dengan penambahan data epidemiologi terkini dari Global TB Report 2024, temuan uji klinis SHINE tentang pemendekan durasi pengobatan, serta panduan diagnostik WHO terbaru (2025). Semua informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan bukan pengganti konsultasi medis langsung.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar