Pendidikan kesehatan seksual adalah salah satu aspek penting dalam pembentukan karakter dan kesejahteraan remaja. Namun, masih banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi oleh para pendidik, orang tua, dan remaja itu sendiri dalam mengakses dan menyampaikan informasi yang akurat, relevan, dan bermutu tentang kesehatan seksual. Oleh karena itu, perlu adanya upaya bersama untuk mengembangkan pendidikan kesehatan seksual yang sesuai dengan kebutuhan, konteks, dan budaya remaja di Indonesia.

Tujuan dari pendidikan kesehatan seksual adalah untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang positif kepada remaja tentang tubuh mereka, hubungan interpersonal, hak-hak mereka, tanggung jawab mereka, dan dampak dari perilaku seksual mereka terhadap kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual mereka. Pendidikan kesehatan seksual juga bertujuan untuk mencegah remaja dari berbagai risiko yang berkaitan dengan kesehatan seksual, seperti kehamilan tidak diinginkan, infeksi menular seksual (IMS), HIV/AIDS, kekerasan seksual, eksploitasi seksual, dan diskriminasi.
Untuk mengembangkan pendidikan kesehatan seksual yang efektif bagi remaja, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Melibatkan remaja sebagai subjek dan mitra dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan kesehatan seksual. Remaja harus diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi, kebutuhan, pengalaman, dan pandangan mereka tentang kesehatan seksual. Remaja juga harus diberdayakan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pendidikan kesehatan seksual yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka.
- Menggunakan metode dan media yang menarik, interaktif, dan berbasis bukti dalam menyampaikan materi pendidikan kesehatan seksual. Metode dan media yang digunakan harus dapat menstimulasi pemikiran kritis, diskusi terbuka, refleksi diri, dan pembelajaran seumur hidup. Beberapa contoh metode dan media yang dapat digunakan adalah cerita, permainan, role play, drama, film, poster, leaflet, buku komik, website, aplikasi mobile, dan media sosial.
- Menyesuaikan materi pendidikan kesehatan seksual dengan tingkat perkembangan fisik, psikologis, sosial, dan emosional remaja. Materi pendidikan kesehatan seksual harus disajikan secara bertahap dan berkelanjutan sejak usia dini hingga dewasa muda. Materi pendidikan kesehatan seksual juga harus memperhatikan perbedaan gender, latar belakang budaya, agama, etnisitas, orientasi seksual, identitas gender, status sosial ekonomi, dan kondisi khusus remaja.
- Melakukan kerjasama lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan dalam pengembangan dan implementasi pendidikan kesehatan seksual. Pendidikan kesehatan seksual tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau keluarga saja, tetapi juga melibatkan pemerintah, masyarakat sipil, organisasi profesi, media massa, sektor swasta, organisasi agama,
dan komunitas remaja. Kerjasama ini penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan memfasilitasi remaja untuk mengakses dan memanfaatkan informasi dan layanan kesehatan seksual yang berkualitas.
Pendidikan kesehatan seksual adalah investasi jangka panjang untuk masa depan remaja. Dengan pendidikan kesehatan seksual yang baik,
remaja dapat tumbuh menjadi individu yang sehat, berdaya, bertanggung jawab, bernilai, dan berkontribusi positif bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Tinggalkan Balasan ke Gilas Cyber Batalkan balasan