Sebagai catatan awal, ini bukan sebuah ulasan (review) profesional mengenai skuter listrik; ini hanya sekadar catatan awal pengguna baru sepeda motor listrik Yadea E8S Pro atau seri E8S 200, sebagaimana tercantum dalam buku panduan pengguna.
Pertama mengapa ketika membeli sepeda motor, kami memilih Yadea? Antara sepeda motor konvensional berbahan bakar dengan sepeda motor elektrik, kami memilih elektrik karena harga yang lebih terjangkau (setelah subsidi dari pemerintah). Kami melakukan perhitungan kebutuhan dan pengeluaran, sepertinya sementara perhitungan kami, sepeda motor listrik lebih efisien dan hemat biaya.
Sebenarnya di kota kami saat ini, Sragen. Hanya terdapat dua deler sepeda motor elektrik, yaitu Yadea dan Uwinfly. Kami mengunjungi keduanya. Tapi produk Uwinfly walau lebih bagus dari sisi desain tidak bisa memberikan kami keyakinan akan ketahanan produk mereka. We want an e-bike not a big toy. Sehingga pilihan akhir tetap pada Yadea, yang tersisa di kota kami. Mereka memiliki area penjualan dan area servis.

Ada tiga tipe yang ditawarkan di galeri, yaitu T9, E8S Pro, dan G6. Kami memilih E8S Pro. Pilihan ini lebih pada pertimbangan selera dan ergonomi berkendara. Saya memiliki tinggi 170-an sentimeter, E8S Pro cukup sesuai untuk saya dibandingkan T9. Sementara G6 sudah jelas di luar anggaran.
Harga OTR di Sragen saat ini adalah delapan belas jutaan rupiah setelah subsidi. Tidak bisa ditawar, dan tidak ada diskon toko. Yang sebenarnya masih cukup wajar bagi saya.
Proses pembayaran dilakukan melalui transfer. Saat transfer pagi sekitar pukul sembilan, kendaraan diantar ke rumah pukul tiga sore. Kendaraan belum dilengkapi dengan surat jalan, perlu beberapa hari untuk surat jalan bisa jadi. Sehingga belum bisa dibawa ke mana-mana. Saya hanya sempat mengemudikan kurang lebih satu kilometer di area persawahan yang tidak ada lalu lintasnya.

Kesan awal tampilan Yadea E8S Pro adalah tidak begitu nempel di selera orang Indonesia. Atau mungkin di selera saya? Walau pun dia ngotak, tapi dia tetap ndak ngotak bagi saya. Tapi dari sisi fungsional, it has everyting that a scooter needs. Saya belum memiliki keluhan mayor untuk tampilan ini. Saya akan membahasnya sambil jalan. Finishing-nya menurut saya cukup baik, walau motor keluaran pabrikan asal Jepang masih lebih bersih menurut saya.
Posisi mengemudi atau berkendara agak sedikit canggung. Saya melihat hal ini disebabkan karena di bawah pijakan kaki adalah posisi baterai sepeda motor, sehingga agar posisi duduk pengemudi tidak menjijit saat menurunkan kaki, letak posisi kaki saat berkendara menjadi lebih tinggi. Tapi ketidaknyamanan ini bisa dikurangi dengan menyelonjorkan kaki ke depan. Kecuali bagian itu ditempati barang, ya sudah.
Jok cukup nyaman, bahkan beberapa sepeda motor dari pabrikan asal negeri Sakura tidak memiliki jok seempuk ini. Tapi apakah jok ini awet? Itu pertanyaan berbeda yang hanya bisa dijawab oleh waktu.
Motor listrik atau molis ini berat, bahkan kurir yang mengantar kewalahan saat menurunkan dari pick-up. Jangan sampai molis ini jatuh di jalan, mengangkatnya berpotensi mengorbankan pinggang Anda jika dilakukan sendiri. Tapi melakukan menegakkan standar tengah sangat ringan, bahkan lebih ringan daripada sepeda motor merk Yamaha. Terus terang saya lebih suka produk sepeda motor Yamaha dibandingkan Honda, salah satu alasannya adalah standar tengah yang relatif lebih ringan.

Motor ini mudah digunakan? Itu relatif. Dan saya setuju dengan tulisan di buku petunjuk mengapa motor ini tidak boleh digunakan/dipinjamkan kepada mereka yang belum pernah mengemudikan sepeda motor listrik sebelumnya.
Saya menggunakan sepeda motor dari era Yamaha Alfa IIR yang bermesin 2-tak, lalu berganti menjadi Yamaha Jupiter 1st gen, lalu X-Ride 1st gen, dan terakhir dengan Jupiter Z1, bahkan ketika saya berpindah ke kendaraan matik seperti Mio, Beat, hingga Vario. Saya tidak memiliki kesulitan, alias kurva belajar untuk kendaraan baru nyaris tidak ada. Tapi ketika saya mulai mencoba E8S Pro, saya tahu bahwa mungkin bukan motornya yang perlu break-in, tapi pengemudinya perlu inreyen terlebih dahulu.
Pertama kali menyalakan sepeda motor, panel indikator normal, dan sudah beralih dari mode parking ke mode ready yang berarti siap jalan. Tapi walau gas sudah dibuka, motor tidak jalan. Apa yang terjadi? Saya merujuk buku petunjuk, tidak ada yang keliru.
Saya menemukan bahwa muscle memory ketika berkendara menggunakan sepeda motor konvensional bisa menghalangi untuk bisa menjalankan molis dengan baik. Misalnya ketika menyalakan mesin dan membuka gas (throttle), pada sepeda motor konvesional apalagi yang matic, saya akan otomatis menarik kedua rem tangan, dan melepasnya perlahan saat daya dorong mulai terasa halus. Tapi hal ini tidak akan terjadi pada sepeda motor ini, jika rem ditarik, gas tidak akan bekerja. Kedua rem harus dilepas sebelum nge-gas!
Ini membuat saya berpikir, saya perlu melatih ulang muscle memory berkendara, dan ini walau tidak rumit, juga tidak mudah. Apalagi bagi saya yang sudah memiliki pola berkendara yang sama selama dua puluh tahun. Misalnya, bagaimana jika saya harus berhenti di tanjakan saat naik, bagaimana harus meneruskan berkendara dengan sepeda motor listrik ini?

Bagi yang pertama kali mencoba motor listrik, tarikan awalnya jauh lebih kuat dibandingkan motor berbahan bakar pada umumnya. Sehingga terasa nyentak. Tapi jika gas dibuka secara perlahan, makan sepeda motor meluncur dengan halus dan nyaris tanpa suara.
Setang kemudinya menurut saya sangat ringan. Tidak entah kenapa terasa kurang ergonomis, sehingga mudah terbanting ke kanan atau ke kiri. Bagi saya ini sebenarnya masuk safety issue, mungkin bisa ditingkatkan ke depannya.
Peredam kejut (shock breaker) agak keras, sayangnya tidak banyak informasi ketersediaan onderdil yang bisa jadi alternatif. Dan dari pihak deler tidak merekomendasikan penggantian ke onderdil non-resmi Yadea. Jika tidak melewati jalanan rusak, berbatu atau tanah, tentu tidak masalah. Tapi begitu semua itu dilibas, akan terasa tidak nyamannya.
Satu lagi yang membuat tidak nyaman adalah sandaran punggung penumpang. Entah kenapa ada ini di sepeda motor listrik pada umumnya. Saya kebiasaan naik motor bebek dengan gaya naik ala Kapten Tsubasa menendang bola, dari belakang ke depan. Bukan menyebarangkan kaki di sela di depan jok. Hasilnya, kaki saya beberapa kali malah “menendang” sandaran ini. Jika tidak digunakan untuk berboncengan, saya mengira fitur ini justru mengganggu sebagian pengguna. Sebagai masukan kepada tim pengembang Yadea, mungkin sandaran ini dibuat dapat dilepas pasang saat diperlukan.
Saya belum bisa mengomentari pelayanan purna jual, pembuatan surat-surat, dan sensai mengemudi jangka panjang serta lainnya. Karena saya baru memegang kendaraan belum sehari. Tapi saya bisa bilang Yadea perlu membenahi buku petunjuk/panduan pengguna. Beberapa bagian isinya membingungkan, dan kadang apa yang hendak saya cari tidak saya temukan di dalamnya. Misalnya panel informasi kendaraan sempat menunjukkan “E1” yang secara sederhana itu saya maknakan “error” tipe 1. Tapi ini tidak dimuat dalam buku panduan. Produk Yadea memiliki harga asli cukup premium, jika bisa kualitas buka panduan juga setidaknya ikut premium. Apalagi mengingat motor listrik adalah barang baru di Indonesia, buku panduan akan sangat membantu. Saya mungkin tidak berminat membaca buku pedoman ketika saya mengganti Jupiter generasi pertama ke Jupiter generasi baru, tapi saya akan berminat jika produk itu berbeda dalam banyak hal.

Tinggalkan Balasan ke Satu Setengah Tahun dengan Sepeda Motor Listrik – Bhyllabus l'énigme Batalkan balasan