A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Saya sudah satu setengah tahun lebih menggunakan sepeda motor listrik Yadea E8S Pro. Ada pro dan kontra selama satu setengah tahun pemakaian ini.

Pertama-tama, saya hanya menggunakan sepeda motor ini di dalam kota. Rerata jarak tempuh harian adalah 10km saat bekerja. Dan dalam satu setengah tahun, catatan menunjukkan saya menempuh jarak sedikit 3.000 km.

Yadea E8S Pro
Yadea E8S Pro, retouch dengan ChatGPT

Mari bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan terlebih dahulu.

Tentu saja ada pajak yang gratis setiap tahunnya. Ini sangat ringan di kantong. Selain itu untuk perjalanan harian 10km, kendaraan dapat di-charge setiap 3-4 hari dengan ongkos listrik kurang dari IDR 2.000 hingga penuh lagi (tarif listrik kelas R1). Sebulan hanya habis sekitar UDR 15.000. Ini lebih hemat dibandingkan menggunakan motor ICE yang biaya BBM Pertamax sekitar IDR 50.000 untuk periode waktu yang sama.

Berkendara nyaman di kemudinya. Walau kurang stabil di kecepatan rendah (di bawah 12 KPJ), namun stabil dan nyaris tanpa getaran di kecepatan standar lalu lintas. Bagi penderita carpal tunnel syndrome berulang seperti saya, ini membuat nyaman dan mencegah rasa nyeri dan kesemutan di pergelangan tangan berulang karena getaran stang di motor ICE.

Tergantung berat badan, kecepatan maksimal bisa mencapai 60 KPJ, dan saya rasa sangat cukup dipakai di dalam kota. Meliak-liuk tanpa kendala sangat mudah dilakukan. Area kaki luas, bisa untuk agak selonjor juga selain menaruh barang lebih banyak dari kendaraan sejenis.

Lalu, bagaimana dengan hal-hal yang tidak menyenangkan?

Tidak ramah untuk boncengan. Karena adanya tempat sandaran di belakang, dan posisi pijakan kaki penumpang terlalu maju.

Indikator baterai tidak terlalu berguna. Hanya berkurang ketika baterai benar-benar mau habis. Sehingga saya biasanya menggunakan kecepatan standar maksimal yang bisa dicapai. Jika kecepatan puncak yang bisa dicapai berkurang 2-3 KPJ, berarti sudah waktunya di-charge.

Walau dikatakan bisa menempuh jarak di atas 100km. Tapi jarak tempuh yang berani diambil paling hanya 50-60km. Sekali charge perlu waktu antara 3 jam jika seminggu dua kali, dan 7-8 jam jika seminggu atau lebih sekali. Jika terlupa, maka kendaraan tidak akan bisa digunakan.

Daya tahan baterai buruk. Dalam 1,5 tahun dan jarak tempuh total sedikit di atas 3.000 km, baterai asli sudah menggembung. Dan kendaraan praktis tidak dapat digunakan.

Baterai
Baterai Yadea Menggelembung

Dan terkait dengan isu tersebut, maka layanan purna jual sangat buruk. Ini mungkin terkait dengan kebijakan internal perusahaan di mana ketika Yadea pisah dengan Indomobil, maka dealer dan servis Yadea banyak yang tutup, dan tidak bisa diakses konsumen.

Motor ini sempat tidak bisa saya gunakan selama beberapa bulan. Karena untuk klaim garansi baterai, saya tidak mungkin membawa kendaraan ke provinsi lain yang mungkin menghabiskan biaya lebih mahal dari harga baterai, dan mungkin saja pengajuan klaim kemudian digugurkan. Ini risiko yang tidak ingin diambil konsumen.

Saya kemudian memanfaatkan layanan bengkel motor listrik terdekat, itu pun dari kabupaten yang berbeda. Penggantian dengan baterai after-market menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari. Dan akhirnya, kendaraan dapat digunakan kembali.

Di akhir kata, bagi saya, motor listrik itu menyenangkan untuk digunakan di dalam kota. Bahkan saya tidak berpikir untuk kembali ke sepeda motor ICE. Namun, saya harus menyiapkan diri untuk tidak adanya layanan purnajual yang memuaskan, serta mencari bengkel-bengkel mandiri yang bisa membantu saya mengatasi masalah jika muncul.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca