Seorang perempuan berusia 27 tahun datang ke poliklinik kandungan dengan keluhan demam ringan, nyeri tenggorokan, dan badan pegal selama lebih dari seminggu di trimester pertama kehamilannya. Hasil pemeriksaan darah rutin normal, usap tenggorokan untuk strep throat negatif, dan dokter sempat menyimpulkannya sebagai flu-like illness biasa. Ia diberi paracetamol, disarankan istirahat, dan pulang dengan hati tenang. Tidak ada yang menduga bahwa di balik gejala yang tampak sepele itu, sebuah virus bernama cytomegalovirus (CMV) sedang menembus plasenta dan menginfeksi janin yang dikandungnya — sebuah proses yang, pada sebagian kecil kasus, bisa berujung pada gangguan pendengaran permanen atau keterlambatan perkembangan pada anak yang lahir kelak.
Kisah semacam ini bukan fiksi klinis. CMV adalah salah satu penyebab infeksi kongenital tersering di dunia, namun namanya nyaris tak dikenal masyarakat awam — bahkan kadang luput dari kewaspadaan tenaga kesehatan primer, karena gejalanya memang sering tidak spesifik atau bahkan tanpa gejala sama sekali.
Mengenal Cytomegalovirus
CMV, atau human cytomegalovirus (HCMV), adalah anggota famili Herpesviridae, subfamili Betaherpesvirinae, yang bersifat DNA untai ganda dan sangat prevalen pada populasi manusia, dengan seroprevalensi berkisar antara 45% hingga 100% tergantung wilayah geografis. Seperti virus herpes lainnya, CMV memiliki sifat laten — setelah infeksi primer, virus ini dapat bertahan seumur hidup dalam tubuh dan sewaktu-waktu mengalami reaktivasi untuk menimbulkan penyakit, terutama pada kondisi imunitas seluler yang tidak adekuat.
Pada individu dengan sistem imun sehat, infeksi CMV umumnya tidak menimbulkan gejala berarti — paling banter menyerupai flu ringan atau mononucleosis-like syndrome. Namun, CMV menjadi ancaman serius pada dua kelompok populasi: janin yang terinfeksi secara kongenital, dan pasien dengan imunosupresi berat seperti penerima transplantasi organ atau sumsum tulang.
Data epidemiologi Indonesia masih terbatas, tetapi beberapa studi lokal memberikan gambaran cukup jelas. Seroprevalensi CMV pada wanita usia subur berkisar 40–80% di negara maju dan 90–100% di negara berkembang — artinya mayoritas perempuan Indonesia sesungguhnya sudah pernah terpapar CMV sebelum hamil. Yang menjadi persoalan justru bukan seropositif itu sendiri, melainkan infeksi primer yang terjadi tepat saat hamil, atau reinfeksi/reaktivasi pada kondisi tertentu.
CMV Kongenital: Ancaman yang Tersembunyi
Secara global, CMV kongenital memengaruhi sekitar 0,48% bayi lahir hidup di negara berpenghasilan tinggi, dan mencapai 1,42% di negara berpenghasilan rendah-menengah, menjadikannya penyebab tersering gangguan pendengaran sensorineural non-genetik serta penyebab utama gangguan neurologis pada anak. Studi kohort kelahiran di sebuah rumah sakit rujukan besar di Jakarta bahkan mencatat prevalensi CMV kongenital sebesar 5,8% pada populasi yang diteliti, dengan bayi terinfeksi lebih berisiko mengalami ventrikulomegali dan trombositopenia, serta hampir empat kali lebih mungkin lahir dari ibu dengan plasenta previa atau solusio plasenta. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rerata global, meski perlu dicatat bahwa studi tersebut dilakukan pada populasi rumah sakit rujukan tertentu, bukan representasi nasional.
Sekitar 90% bayi dengan CMV kongenital lahir tanpa gejala klinis yang tampak (asimtomatik), namun ini tidak berarti aman. Berdasarkan tinjauan sistematis, meski 90% bayi terinfeksi tampak asimtomatik saat lahir, 10 hingga 25% dari mereka akan mengalami gangguan pendengaran saat lahir atau berkembang dalam tahun-tahun pertama kehidupan, dan sifatnya progresif. Sementara pada bayi yang simtomatik sejak lahir — sekitar 10% dari seluruh kasus — manifestasi klinis dapat berupa ikterus (62%), petekie (58%), hepatosplenomegali (50%), hingga 20% mengalami gangguan pendengaran sensorineural atau gejala sisa neurologis permanen lainnya yang menyebabkan kecacatan permanen.
Data serupa juga tercatat dari RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, di mana manifestasi klinis pada anak dengan CMV kongenital yang dirawat inap didominasi oleh atrofi serebri (40%), mikrosefali (25,81%), gangguan pendengaran sensorineural (23,81%), hepatomegali (22,86%), dan tetraparesis spastik (12,5%). Gambaran ini menegaskan bahwa CMV kongenital bukan sekadar infeksi ringan yang “terjadi lalu selesai,” melainkan kondisi dengan potensi sekuele jangka panjang yang membebani anak dan keluarga seumur hidup.
Risiko Bergantung pada Waktu Infeksi
Salah satu prinsip penting dalam CMV kongenital adalah bahwa risiko penularan ke janin dan beratnya dampak sangat bergantung pada kapan ibu terinfeksi selama kehamilan. Infeksi primer pada trimester pertama umumnya membawa risiko kerusakan janin yang lebih berat dibandingkan infeksi pada trimester lanjut, meski risiko penularan justru cenderung meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. Inilah salah satu alasan mengapa deteksi dini infeksi primer maternal menjadi fokus utama tata laksana CMV dalam kehamilan.
Diagnosis: Tantangan di Fasilitas Kesehatan Indonesia
Di Indonesia, keterbatasan akses pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) di banyak fasilitas kesehatan primer dan sekunder menjadi kendala nyata. Saat ini metode yang paling sering digunakan untuk mendiagnosis infeksi CMV adalah pemeriksaan serologi imunoglobulin M (IgM), meski uji PCR CMV menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi dibandingkan serologi IgM, sedangkan serologi IgG memiliki sensitivitas dan akurasi diagnostik yang tinggi, sehingga pemeriksaan serologis tetap menjadi pilihan untuk mendiagnosis CMV pada bayi kolestatis di negara berkembang yang belum memiliki fasilitas PCR.
Standar baku emas untuk konfirmasi CMV kongenital tetap PCR CMV dari urin atau saliva bayi yang diambil dalam 3 minggu pertama kehidupan — bukan dari darah tali pusat atau dried blood spot semata, karena keterlambatan pengambilan sampel dapat menyulitkan pembedaan antara infeksi kongenital dan infeksi yang didapat pascakelahiran (misalnya melalui ASI, yang juga merupakan jalur transmisi CMV yang sah namun umumnya tidak berbahaya pada bayi cukup bulan).
Skrining: Perdebatan yang Belum Usai
Pertanyaan besar dalam tata laksana CMV kehamilan adalah: haruskah semua ibu hamil diskrining? Hingga saat ini, jawabannya masih beragam di antara pedoman-pedoman internasional. Tinjauan kritis terhadap sepuluh pedoman praktik klinis global menemukan bahwa meskipun bukti terbaru menunjukkan potensi terapi baru dapat mengubah rekomendasi skrining, tata laksana dan diagnosis CMV pada kehamilan masih sangat bervariasi antar-fasilitas, dan praktik klinis optimal masih diperdebatkan. Bahkan pada 2026, sebuah studi pendekatan skrining bertarget yang dipandu hasil skrining pendengaran neonatal di Prancis masih menegaskan bahwa skrining rutin selama kehamilan atau saat lahir belum direkomendasikan secara universal.
Sebagai gantinya, banyak negara — termasuk yang memiliki sistem kesehatan maju — mengadopsi pendekatan targeted screening: skrining CMV hanya dilakukan pada bayi dengan faktor risiko tertentu, seperti bayi prematur, berat lahir rendah, atau yang gagal skrining pendengaran, alih-alih skrining universal pada seluruh populasi. Namun demikian, laporan implementasi program skrining aktif di sebuah sistem rumah sakit anak besar menunjukkan bahwa pendekatan hibrida — skrining universal pada bayi di unit perawatan intensif neonatal (NICU) dan skrining bertarget pada bayi di ruang bayi biasa berdasarkan tanda klinis atau hasil skrining pendengaran abnormal — dapat meningkatkan deteksi CMV kongenital secara signifikan dibandingkan skrining bertarget saja.
Di Indonesia, dengan keterbatasan sumber daya laboratorium dan variasi akses PCR antar-daerah, pendekatan skrining bertarget berbasis faktor risiko klinis — dikombinasikan dengan penguatan program skrining pendengaran neonatal yang sudah berjalan melalui Otoacoustic Emission (OAE) — tampaknya menjadi strategi paling realistis dalam jangka pendek, sembari menunggu perluasan akses diagnostik molekuler ke tingkat rumah sakit daerah.
Tata Laksana: Antara Harapan dan Keterbatasan
Perkembangan terapi CMV dalam kehamilan mengalami kemajuan penting satu dekade terakhir, meski belum ada solusi yang sepenuhnya definitif.
Valasiklovir dosis tinggi menjadi salah satu titik terang. Sebuah uji klinis acak tersamar ganda di Israel yang menjadi rujukan utama menunjukkan bahwa valasiklovir oral dosis tinggi dapat mencegah transmisi vertikal CMV setelah infeksi primer maternal pada kehamilan. Temuan ini kemudian diperkuat oleh sebuah meta-analisis data pasien individual yang menyimpulkan bahwa dosis 8 gram per hari valasiklovir oral menurunkan angka transmisi vertikal CMV secara bermakna pada perempuan dengan infeksi primer yang didapat perikonsepsi atau pada trimester pertama kehamilan, dengan insiden efek samping yang rendah. Studi observasional multisenter Italia turut mengonfirmasi manfaat serupa dalam praktik klinis nyata di luar konteks uji klinis terkontrol.
Untuk bayi yang telah lahir dengan CMV kongenital simtomatik, valgansiklovir tetap menjadi terapi antivirus standar berdasarkan bukti dari uji klinis acak yang telah menunjukkan manfaatnya dalam memperbaiki luaran pendengaran dan perkembangan saraf, meski durasi terapi optimal (6 minggu vs 6 bulan) dan indikasi pemberian pada kasus asimtomatik dengan gangguan pendengaran ringan masih menjadi area penelitian aktif — termasuk melalui uji klinis nonrandomized yang menilai valgansiklovir pada bayi dengan gangguan pendengaran namun infeksi CMV kongenital yang secara klinis tidak tampak.

Kegagalan Vaksin: Kabar Duka dari Dunia Riset
Salah satu perkembangan paling signifikan dalam dunia CMV justru datang dalam bentuk kekecewaan. Pada Oktober 2025, Moderna mengumumkan bahwa uji klinis Fase III kandidat vaksin mRNA-1647 gagal mencapai titik akhir efikasi utama dalam mencegah infeksi CMV pada perempuan usia subur seronegatif berusia 16–40 tahun, dengan efikasi hanya berkisar 6–23% — jauh dari harapan. Studi bertajuk CMVictory ini melibatkan 7.454 perempuan berusia 16–40 tahun dalam desain acak, tersamar-pengamat, dan terkontrol plasebo. Akibatnya, Moderna memutuskan menghentikan seluruh program pengembangan klinis vaksin CMV kongenital tersebut, meski pengembangan mRNA-1647 pada indikasi berbeda — pasien transplantasi sumsum tulang — masih berlanjut melalui studi Fase II yang terpisah.
Kegagalan ini menjadi pukulan besar bagi komunitas kesehatan anak dan kandungan dunia, mengingat hingga saat ini belum ada satu pun vaksin CMV yang disetujui secara resmi, padahal tercatat 102 uji klinis terapi CMV sedang berlangsung secara global, dengan 14 di antaranya telah memasuki Fase II/III dan Fase III. Bagi pembaca Indonesia, ini berarti pencegahan primer CMV kongenital untuk saat ini dan beberapa tahun ke depan masih akan bertumpu sepenuhnya pada edukasi perilaku higienis, bukan proteksi imunisasi.
Pencegahan: Kembali ke Langkah Sederhana
Karena penularan CMV terutama terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh — air liur, darah, air susu ibu, dan urin, dengan transmisi tidak langsung dapat pula terjadi melalui udara, transfusi darah, atau kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi — pencegahan utama tetap berupa higienitas dasar. Ibu hamil, terutama yang bekerja atau memiliki anak balita di rumah (sumber penularan CMV yang signifikan karena anak kecil sering mengekskresikan virus dalam air liur dan urin dalam jangka lama), disarankan untuk:
- Mencuci tangan secara rutin setelah kontak dengan air liur atau urin anak kecil, terutama saat mengganti popok atau menyuapi
- Menghindari berbagi peralatan makan, sikat gigi, atau mencium langsung area mulut anak kecil
- Membersihkan permukaan yang terkontaminasi cairan tubuh anak secara rutin
Bagi tenaga kesehatan primer di Indonesia, edukasi sederhana semacam ini justru menjadi intervensi paling cost-effective yang tersedia saat ini, mengingat keterbatasan akses skrining universal dan absennya vaksin yang efektif.
Refleksi Penutup
Kisah pasien di awal tulisan ini adalah pengingat bahwa gejala flu ringan pada kehamilan tidak selalu remeh. CMV adalah salah satu contoh nyata bagaimana virus yang “biasa-biasa saja” bagi orang dewasa sehat dapat menjelma menjadi ancaman serius bagi janin yang sedang berkembang. Kegagalan vaksin mRNA Moderna pada 2025 menegaskan bahwa jalan menuju pencegahan definitif CMV kongenital masih panjang — dan untuk saat ini, kewaspadaan klinis, edukasi perilaku, serta akses terhadap terapi seperti valasiklovir dan valgansiklovir tetap menjadi andalan utama kita dalam melindungi generasi mendatang dari dampak virus yang sering luput dari perhatian ini.
Daftar Pustaka
Chatzakis, C., Shahar-Nissan, K., Faure-Bardon, V., Picone, O., Hadar, E., Amir, J., Egloff, C., Vivanti, A., Sotiriadis, A., Leruez-Ville, M., & Ville, Y. (2024). The effect of valacyclovir on secondary prevention of congenital cytomegalovirus infection, following primary maternal infection acquired periconceptionally or in the first trimester of pregnancy: An individual patient data meta-analysis. American Journal of Obstetrics & Gynecology, 230(2), 109–117.e2. https://doi.org/10.1016/j.ajog.2023.07.022
Clinical Trials Arena. (2025, October 23). Moderna scraps mRNA vaccine in congenital CMV on Phase III failure. https://www.clinicaltrialsarena.com/news/moderna-scraps-mrna-vaccine-in-congenital-cmv-on-phase-iii-failure/
De Santis, M., Tartaglia, S., Cerra, C., Visconti, D., Valentini, P., Lanzone, A., Masini, L., & Santangelo, R. (2025). Immune modulation related to high-dose valacyclovir administration for primary cytomegalovirus infection in pregnancy: An insight into virus behavior and maternal serology. Viruses, 17(2), 157. https://doi.org/10.3390/v17020157
Esper, F., McBride, L., Burke, P., Jamis, C., Das, A., Aly, H., Anne, S., Schelzig, C. C., Jennings, S., Rhoads, D. D., & Wang, H. (2026). Implementation of an active congenital cytomegalovirus screening program in a large pediatric hospital system: Key findings and lessons learned. Open Forum Infectious Diseases. https://doi.org/10.1093/ofid/ofaf695.716
Gonzalez Torriente, A., Randis, T., & Espinosa, C. M. (2025). Targeting and universal congenital cytomegalovirus screening in a neonatal intensive care unit. Open Forum Infectious Diseases. https://doi.org/10.1093/ofid/ofae631.1369
Khalil, A., et al. (2025). Congenital cytomegalovirus infection: Update on screening, diagnosis and treatment. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology. https://doi.org/10.1111/1471-0528.17966
Moderna, Inc. (2025). Reflecting on Moderna’s Phase 3 CMV vaccine readout [Blog post]. https://www.modernatx.com/media-center/all-media/blogs/phase-3-cmv-vaccine-readout-reflections
Ndzomo, S. J., et al. (2025). Diagnosis and management of congenital cytomegalovirus: Critical appraisal of clinical practice guidelines. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology. https://doi.org/10.1016/j.ejogrb.2025.01.020
Permatasari, R. K., Triono, A., & Kadarsih, R. E. (2021). Profil klinis dan laboratoris infeksi sitomegalovirus kongenital di RSUP Dr. Sardjito. Sari Pediatri, 22(5), 297–303. https://doi.org/10.14238/sp22.5.2021.297-303
Rampengan, N. H. (n.d.). Diagnosis infeksi sitomegalovirus pada bayi dan anak. Jurnal Biomedik Universitas Sam Ratulangi. https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/download/9483/9058/18852
Ronoatmodjo, S., et al. (2019). Birth prevalence and characteristics of congenital cytomegalovirus infection in an urban birth cohort, Jakarta, Indonesia. International Journal of Infectious Diseases. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2019.06.005
Universitas Airlangga. (2022, December 20). Polymerase chain reaction virus cytomegalovirus dari hati dan urin. https://unair.ac.id/polymerase-chain-reaction-virus-cytomegalovirus-dari-hati-dan-urin/
Catatan transparansi: Artikel ini menggabungkan data dari jurnal peer-review internasional (BJOG, AJOG, EJOG&RB, Open Forum Infectious Diseases, Viruses) dengan studi lokal Indonesia dari jurnal nasional (Sari Pediatri, jurnal Unsrat) dan rilis institusi (Universitas Airlangga). Data prevalensi CMV kongenital di Jakarta (5,8%) berasal dari studi kohort di satu rumah sakit rujukan besar dan tidak mewakili angka nasional Indonesia secara keseluruhan, mengingat belum tersedianya data surveilans CMV kongenital berskala nasional (SKI 2023/Riskesdas belum mencakup CMV secara spesifik). Informasi mengenai kegagalan uji klinis vaksin Moderna bersumber dari rilis media dan situs resmi perusahaan per Oktober 2025, sehingga publikasi hasil lengkap dalam jurnal peer-review masih dapat menyusul di kemudian hari.





Tinggalkan Balasan