A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seorang pasien berusia 68 tahun datang ke poliklinik sambil membawa daftar keluhan yang ia tulis sendiri di secarik kertas: lutut nyeri, susah tidur, dan—dengan sedikit malu-malu—ia bertanya apakah “usia segini” memang wajar kalau sudah tidak lagi bergairah dalam hubungan suami-istri. Di ruang praktik dokter umum, pertanyaan semacam ini muncul jauh lebih sering daripada yang mungkin dibayangkan. Dan hampir selalu, di baliknya tersembunyi satu keyakinan yang sama: bahwa menua berarti pasrah pada kemunduran total—tubuh, otak, dan kehidupan seksual sekaligus.

Keyakinan itu bukan tanpa dasar sama sekali, tetapi juga jauh dari seluruh kebenaran. Sejak Homo sapiens berpisah dari nenek moyang bersama dengan simpanse ratusan ribu generasi lalu, harapan hidup manusia telah berlipat ganda, bahkan berlipat ganda lagi hanya dalam 200 tahun terakhir. Menurut World Health Organization (WHO), antara tahun 2000 dan 2050, proporsi penduduk dunia berusia di atas 60 tahun akan meningkat dua kali lipat dari sekitar 11% menjadi 22%. Indonesia sendiri sudah memasuki fase ini: berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dari Badan Pusat Statistik, proporsi penduduk lansia telah mencapai 11,97% atau sekitar 34 juta jiwa, dan diproyeksikan naik menjadi lebih dari 20% pada 2045.

Dengan makin banyaknya orang yang menua—dan makin banyak pula generasi muda yang merawat orang tua mereka—meluruskan mitos-mitos seputar penuaan menjadi semakin mendesak. Berikut tujuh mitos yang paling sering ditemui, beserta apa kata bukti ilmiah terbaru.

Mitos 1: Kemunduran Fisik Tidak Terelakkan

Klaim ini tidak sepenuhnya salah—tubuh memang mengalami keausan akibat pemakaian selama puluhan tahun. Namun kemunduran fisik tidak harus terjadi secara total, dan pada banyak orang, prosesnya bisa diperlambat secara signifikan.

Riset berulang kali menunjukkan bahwa olahraga teratur dan pola makan sehat dapat membantu seseorang hidup lebih lama dengan melawan atau mencegah masalah fisik yang muncul seiring usia. Menariknya, sebagian riset bahkan menunjukkan bahwa sekadar mengharapkan kemunduran fisik dapat meningkatkan kemungkinan seseorang benar-benar mengalaminya. Sebuah tinjauan tahun 2024 yang menganalisis 12 studi dengan total 3.664 partisipan menemukan bahwa lansia dengan ekspektasi rendah terhadap penuaan cenderung kurang percaya bahwa penting untuk mencari layanan kesehatan bagi kondisi terkait usia seperti depresi, gangguan memori, atau inkontinensia urin.

Sementara itu, sebuah studi pada populasi lansia di Tiongkok menemukan bahwa persepsi diri yang lebih positif terhadap penuaan berkaitan dengan risiko kematian dari sebab apa pun (all-cause mortality) yang lebih rendah, dan hubungan ini sebagian dijelaskan oleh perilaku hidup sehat serta partisipasi sosial yang lebih aktif. Singkatnya, aktif bergerak, makan dengan benar, menjaga kehidupan sosial, dan mempertahankan pandangan positif terhadap penuaan dapat membantu memperlambat kemunduran fisik di usia lanjut.

Mitos 2: Lansia Sebaiknya Menghindari Olahraga

Sebagian orang berpikir bahwa begitu mencapai usia tertentu, olahraga sudah tidak ada gunanya. Ini keliru. Bukti yang terus bertambah justru menunjukkan bahwa tetap aktif secara fisik di usia lanjut membantu menjaga kebugaran kardiometabolik maupun kesehatan otak.

Dalam sebuah studi yang membagi 451 lansia ke dalam tiga kelompok—latihan resistensi berat selama satu tahun, latihan intensitas sedang, dan kelompok kontrol tanpa olahraga—kelompok yang menjalani latihan resistensi berat terbukti lebih mampu mempertahankan kekuatan otot dibandingkan kelompok lain, bahkan empat tahun setelah masa studi berakhir. Olahraga teratur juga terbukti menurunkan risiko penyakit Alzheimer dan bentuk demensia lainnya; dua analisis dari studi EXERT menemukan bahwa baik olahraga intensitas rendah maupun sedang-tinggi sama-sama berkaitan dengan berkurangnya penyusutan volume otak selama 12 bulan pada lansia dengan gangguan kognitif ringan.

Konsensus global International Conference on Frailty and Sarcopenia Research (ICFSR) yang dipublikasikan Januari 2025 menegaskan bahwa jalan cepat selama 75 menit per minggu saja sudah dapat memperpanjang harapan hidup hingga 1,8 tahun dibandingkan tanpa aktivitas fisik sama sekali. Tentu, orang dengan kondisi medis tertentu—misalnya risiko patah tulang tinggi akibat osteoporosis—perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai program olahraga baru.

Mitos 3: Lansia Butuh Tidur Lebih Sedikit (atau Lebih Banyak)

Mitos ini sulit diluruskan karena melibatkan banyak faktor. Yang benar, lansia memang cenderung lebih sulit tertidur dan tidurnya lebih terfragmentasi, sebagian karena perubahan ritme sirkadian seiring bertambahnya usia, yang pada gilirannya memengaruhi kadar hormon dan kualitas tidur.

Selain itu, kondisi yang lebih umum terjadi pada lansia—seperti osteoartritis dan osteoporosis—dapat menimbulkan rasa tidak nyaman yang mengganggu tidur, sementara penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau gagal jantung kongestif dapat menyebabkan sesak napas yang juga mengganggu. Obat-obatan tertentu yang umum dikonsumsi lansia—penyekat beta, bronkodilator, kortikosteroid, dekongestan, dan diuretik—turut berkontribusi pada gangguan tidur.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyatakan bahwa orang berusia 61–64 tahun membutuhkan 7–9 jam tidur, sementara usia 65 tahun ke atas membutuhkan 7–8 jam—hanya saja, mendapatkannya mungkin lebih sulit. Sebagai catatan positif, sejumlah riset menunjukkan lansia justru lebih mampu menghadapi kurang tidur dibandingkan orang dewasa muda dalam hal suasana hati, kebingungan, kemarahan, dan kelelahan.

Mitos 4: Osteoporosis Hanya Menyerang Perempuan

Osteoporosis—kondisi tulang yang perlahan melemah—memang jauh lebih umum pada perempuan, orang berkulit putih, dan lansia, tetapi bisa menyerang siapa saja tanpa memandang jenis kelamin atau usia. International Osteoporosis Foundation memperkirakan sekitar satu dari tiga perempuan di atas 50 tahun mengalami osteoporosis, sementara sekitar satu dari lima laki-laki akan mengalami patah tulang terkait osteoporosis sepanjang hidupnya.

Mitos terkait lainnya adalah bahwa osteoporosis pasti dialami semua perempuan seiring usia—padahal, jika sepertiga perempuan di atas 50 tahun mengalaminya, berarti dua pertiga lainnya tidak. National Institute on Aging menyarankan konsumsi makanan kaya kalsium dan vitamin D serta olahraga rutin untuk meminimalkan risiko.

Mitos 5: Otak Pasti Melambat Seiring Usia

Demensia tidak terelakkan. Menurut WHO, risiko demensia memang meningkat seiring usia, tetapi tidak menyerang semua lansia. Data WHO terbaru (2021) mencatat 57 juta orang di dunia hidup dengan demensia. Sebuah studi representatif nasional dari Universitas Columbia yang dipublikasikan tahun 2022 menemukan bahwa sekitar 10% orang dewasa AS berusia 65 tahun ke atas mengalami demensia—artinya sekitar 90% tidak mengalaminya.

Penurunan kognitif pasti berujung demensia. Ini juga keliru. Memang benar orang yang akhirnya mengalami demensia biasanya mengalami penurunan kognitif terlebih dahulu, tetapi tidak semua orang dengan penurunan kognitif akan berkembang menjadi demensia. Studi Columbia yang sama menemukan sekitar 22% lansia AS mengalami gangguan kognitif ringan (mild cognitive impairment) tanpa berkembang menjadi demensia.

Penurunan kognitif tidak terelakkan. Laporan Komisi Lancet tahun 2024 mengidentifikasi 14 faktor risiko demensia dan gangguan kognitif yang dapat dimodifikasi: tingkat pendidikan, cedera kepala, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, hipertensi, kolesterol, obesitas, diabetes, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, depresi, tingkat kontak sosial, dan paparan polusi udara. Mengatasi faktor-faktor ini dapat menurunkan risiko penurunan kognitif secara bermakna.

Mitos 6: Berhenti Merokok di Usia Tua Sudah Tidak Ada Gunanya

Baik ini mitos murni atau sekadar alasan, sejumlah lansia meyakini tidak ada gunanya berhenti merokok “di usia segini.” Ini tidak benar. Layanan kesehatan nasional Inggris (NHS) menegaskan bahwa begitu seseorang berhenti merokok, manfaat kesehatan mulai terasa hampir seketika, dan tidak pernah ada kata terlambat untuk berhenti.

Mitos 7: Hubungan Seksual Jarang atau Mustahil di Usia Tua

Sebagian orang percaya lansia kehilangan kemampuan menikmati hubungan seksual. Untungnya, ini juga mitos. Memang benar risiko disfungsi ereksi dan kekeringan vagina meningkat seiring usia, tetapi bagi kebanyakan orang, ini bukan masalah yang tidak dapat diatasi—baik melalui obat, pelumas, maupun krim hormon, tentunya dengan konsultasi dokter terlebih dahulu.

Data dari sebuah studi Inggris tahun 2016 yang melibatkan lebih dari 6.000 orang dewasa berusia 50 tahun ke atas menemukan bahwa 86% laki-laki dan 60% perempuan pada kelompok usia 60–69 tahun melaporkan masih aktif secara seksual. Angka ini menurun menjadi 59% laki-laki dan 34% perempuan pada usia 70–79 tahun, serta 31% laki-laki dan 14% perempuan pada usia 80 tahun ke atas—namun tetap menunjukkan bahwa kehidupan seksual yang sehat bisa berlanjut, meski mungkin perlu redefinisi caranya diekspresikan.

Konteks Indonesia: Menua di Negara yang Sedang Menua

Indonesia kini secara resmi berada dalam fase ageing population—populasi menua—sejak proporsi penduduk lansia melampaui 10% pada 2021. Yang menarik, tantangan kemandirian fungsional lansia Indonesia sebenarnya tidak seburuk yang sering dibayangkan: Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 95% lansia berusia 60 tahun ke atas masih mandiri, sementara hanya 2,9% yang mengalami ketergantungan sedang hingga total.

Namun demikian, hasil skrining kesehatan terhadap sekitar 6,8 juta lansia peserta program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan pola faktor risiko yang patut mendapat perhatian: 95% lansia kurang beraktivitas fisik, 58% memiliki tekanan darah di atas normal, dan 51% mengalami kelebihan berat badan, sementara 63,5% lansia peserta CKG menderita hipertensi. Data ini memperkuat pesan yang sama dengan mitos pertama di atas: sebagian besar beban penyakit pada lansia sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat yang dimulai sejak usia produktif.

Persoalan lain yang mulai mendapat perhatian di Indonesia adalah kesepian dan depresi pada lansia—dua hal yang sering luput karena keliru diasumsikan tidak mungkin terjadi pada lansia yang tinggal bersama keluarga. Data Kemendukbangga/BKKBN bersama UNFPA mencatat prevalensi kesepian pada lansia mencapai 10,3%, sementara hasil Skrining Lansia Sederhana (Skilas) Kemenkes 2024 mencatat angka depresi yang jauh lebih tinggi, yakni 64,4%. Kesepian bersifat subjektif—kesenjangan antara kedekatan yang dibutuhkan dan kedekatan yang benar-benar dirasakan—sehingga seorang lansia yang tinggal bersama anak-cucu pun tetap bisa merasa kesepian bila hanya ditemani secara fisik tanpa keterhubungan emosional yang bermakna.

Dari sisi layanan, Kementerian Kesehatan RI telah mentransformasi ribuan Puskesmas menjadi Puskesmas Ramah/Santun Lansia sebagai bagian dari Integrasi Layanan Primer (ILP), dilengkapi jaringan Posyandu Lansia dan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN/BPJS) yang kini mencapai lebih dari 80% populasi lansia. Wakil Menteri Kesehatan RI menegaskan bahwa tujuan kebijakan bukan sekadar memperpanjang usia harapan hidup, melainkan memastikan masyarakat hidup lebih panjang dalam keadaan sehat, bukan hidup lebih lama dalam kondisi sakit—sebuah pergeseran paradigma dari pendekatan karitatif (menyantuni) menuju pendekatan yang memberdayakan lansia sebagai bagian dari potensi bonus demografi kedua atau silver economy bangsa.

Penutup: Bukan Soal Menyangkal Usia, tapi Menolak Kepasrahan Dini

Benang merah dari seluruh mitos di atas adalah gagasan tentang ketidakterelakkan (inevitability)—keyakinan bahwa menua berarti pasrah menjadi renta, membosankan, tanpa gairah, dan penuh derita. Sebagian aspek kesehatan memang dapat menurun seiring usia, tetapi tidak satu pun dari hal tersebut bersifat mutlak bagi semua orang. Sebagaimana ditunjukkan berulang kali oleh riset, pandangan psikologis yang positif terhadap penuaan justru dapat memberi manfaat nyata bagi aspek fisik penuaan itu sendiri.

Bagi tenaga kesehatan primer di Indonesia—negara yang kini menua dengan cepat—tugas kita bukan hanya mengobati penyakit lansia, tetapi juga membantu meluruskan ekspektasi keliru yang, bila dibiarkan, justru dapat mempercepat kemunduran yang sesungguhnya dapat dicegah.


Daftar Pustaka (APA)

Newman, T., & Cohut, M. (2025). Medical myths: All about aging. Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/medical-myths-all-about-aging

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/

Kementerian Kesehatan RI. (2026). Menua dengan sehat dan bermartabat, Kemenkes perkuat layanan untuk lansia. https://kemkes.go.id/id/menua-dengan-sehat-dan-bermartabat-kemenkes-perkuat-layanan-untuk-lansia

Badan Pusat Statistik. (2026). Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Dikutip dalam Merdeka.com, https://www.merdeka.com/uang/survei-bps-1197-penduduk-indonesia-lansia-tanda-aging-population-570057-mvk.html

CNN Indonesia. (2026, Juni 24). Kesepian dan depresi lansia, tantangan RI saat populasi kian menua. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260624114831-284-1372647/kesepian-dan-depresi-lansia-tantangan-ri-saat-populasi-kian-menua


Catatan transparansi: Artikel ini merupakan adaptasi dan pengembangan dari seri Medical Myths Medical News Today (ditulis Tim Newman dan Maria Cohut, versi pembaruan terakhir Agustus 2025), yang merangkum berbagai studi primer tentang mitos-mitos penuaan. Bagian konteks Indonesia disusun dari data resmi Kemenkes RI, BPS/SUPAS 2025, SKI 2023, serta pemberitaan Antara News dan CNN Indonesia sepanjang 2026. Beberapa angka (misalnya hasil skrining CKG dan Skilas) berasal dari rilis pers pemerintah dan belum tentu merepresentasikan populasi nasional secara penuh; pembaca yang membutuhkan data epidemiologis presisi disarankan merujuk langsung pada publikasi resmi BKPK Kemenkes atau BPS.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca