Di sebuah Posyandu Lansia di Kabupaten Buleleng, Bali, seorang perempuan berusia 68 tahun datang membawa neneknya dalam sebuah foto lama. “Nenek saya dulu masih ke sawah sampai usia 80-an, Dok. Sehat, jarang sakit. Kok generasi sekarang, baru 60 tahun sudah kena diabetes, hipertensi, macam-macam?” Pertanyaan semacam ini hampir selalu muncul di ruang praktik dokter umum maupun klinik geriatri, dan biasanya diikuti kesimpulan: “berarti orang zaman dulu memang lebih sehat, ya, Dok?”
Klaim ini terdengar masuk akal, apalagi ditopang oleh kesan-kesan personal: kakek-nenek yang tampak bugar hingga usia lanjut, sementara generasi yang lebih muda justru mulai mengonsumsi obat rutin sejak usia 40-an. Namun, apakah kesan ini benar-benar mencerminkan realitas populasi, ataukah ini semata survivorship bias — bias yang muncul karena kita hanya melihat mereka yang berhasil “bertahan”? Artikel ini akan menelaah klaim tersebut menggunakan data demografi, epidemiologi, dan riset kesehatan terkini, baik dari sumber global maupun Indonesia.
Klaim yang Sering Kita Dengar
Narasi bahwa “orang dulu lebih sehat di usia tua” biasanya dibangun dari dua premis yang saling menguatkan: (1) harapan hidup dulu jauh lebih rendah, tetapi mereka yang mencapai usia lanjut tampak lebih bugar; dan (2) generasi setelah baby boomer justru mengalami penyakit kronis di usia yang lebih muda meski umur rata-rata penduduk meningkat. Kedua premis ini perlu dipisah, karena masing-masing menyentuh persoalan statistik yang berbeda.
Akar Kekeliruan Pertama: Bias Kelangsungan Hidup
Konsep survivorship bias (bias kelangsungan hidup) pertama kali dipopulerkan lewat kisah statistikawan Abraham Wald pada Perang Dunia II, ketika militer Sekutu hendak memperkuat bagian pesawat yang paling banyak terkena tembakan berdasarkan pesawat yang kembali dari pertempuran. Wald justru menyarankan sebaliknya: perkuat bagian yang tidak terkena tembakan pada pesawat yang selamat, sebab pesawat yang tertembak di titik itu tidak pernah kembali untuk dianalisis (Scroll.in, 2024). Logika yang sama berlaku pada narasi kesehatan lansia: kita hanya mendengar cerita nenek yang bugar hingga usia 80 tahun, dan tidak pernah mendengar cerita saudara atau tetangganya yang meninggal di usia 50-an akibat penyakit yang saat itu belum terdiagnosis dengan baik.
Peneliti penuaan asal Norwegia, Ole Petter Ottersen dan koleganya (melalui ScienceNorway, 2024) menegaskan bahwa jika seseorang menanyai kebiasaan hidup hanya kepada orang yang berhasil mencapai usia seratus tahun, secara statistik bisa saja ditemukan bahwa kebiasaan yang sebenarnya berisiko — seperti merokok berat atau pola makan tidak sehat — tampak “berkorelasi” dengan umur panjang. Padahal, yang terjadi adalah individu tersebut selamat meskipun menjalani kebiasaan itu, bukan karena kebiasaan tersebut.
Fakta Demografi: Harapan Hidup Rendah Bukan Berarti Tidak Ada Lansia
Kekeliruan kedua yang sering muncul adalah menyamakan angka harapan hidup saat lahir dengan usia rata-rata kematian orang dewasa. Ketika angka harapan hidup suatu populasi tercatat 35–40 tahun — seperti Eropa pada pertengahan abad ke-18 — hal ini terutama didorong oleh angka kematian bayi dan anak yang sangat tinggi, bukan karena orang dewasa banyak yang meninggal muda. Analisis data demografi historis Swedia dan Inggris menunjukkan bahwa begitu seseorang berhasil melewati usia lima tahun, peluangnya untuk mencapai usia 60–70 tahun sesungguhnya cukup besar (Dowd, 2024). Dengan kata lain, generasi “zaman dulu” yang berhasil bertahan hingga tua bukanlah representasi tipikal dari seluruh populasi seusianya — mereka adalah subset yang selamat dari gelombang kematian dini akibat infeksi, kekurangan gizi, dan minimnya layanan kesehatan ibu-anak.
Di Indonesia, tren keseluruhan justru menunjukkan arah yang berkebalikan dari klaim populer tersebut: harapan hidup terus meningkat dari tahun ke tahun. Badan Pusat Statistik mencatat Umur Harapan Hidup (UHH) saat lahir naik dari 73,93 tahun (2023) menjadi 74,15 tahun (2024), dan mencapai 74,47 tahun pada 2025 (Badan Pusat Statistik [BPS], 2025). Peningkatan ini terutama didorong oleh perbaikan kesehatan ibu-anak, akses air bersih, dan layanan kesehatan dasar — bukan indikasi bahwa generasi sebelumnya menjalani usia tua yang lebih baik.
Perdebatan Ilmiah Sesungguhnya: Compression vs Expansion of Morbidity
Di balik kesan personal tersebut, sebenarnya ada perdebatan ilmiah serius di bidang gerontologi yang relevan dengan pertanyaan ini — dan di sinilah letak kebenaran parsial dari kekhawatiran masyarakat. Pada 1980, James Fries mengajukan hipotesis compression of morbidity (kompresi morbiditas): jika onset penyakit kronis dapat ditunda melalui gaya hidup sehat dan kemajuan medis, maka periode sakit-sakitan menjelang akhir hayat akan makin memendek, sehingga orang hidup lebih lama dan lebih sehat (Fries, 1980). Hipotesis ini berlawanan dengan pandangan “failures of success” yang lebih pesimistis, yang menduga bahwa umur panjang justru berarti lebih banyak tahun sakit-sakitan.
Riset-riset terbaru justru cenderung mendukung skenario kedua. Analisis Global Burden of Disease 2023 yang dipublikasikan di The Lancet Public Health menemukan bahwa secara global, peningkatan usia harapan hidup jauh melampaui peningkatan usia harapan hidup sehat (health-adjusted life expectancy), sehingga kesenjangan antara umur panjang dan masa sehat justru melebar di hampir semua negara — sebagian besar populasi kini menghabiskan lebih dari satu dekade hidupnya dalam kondisi sakit (GBD 2023 Morbidity Gap Collaborators, 2026). Temuan serupa dilaporkan Garmany dan koleganya, yang menunjukkan kesenjangan healthspan–lifespan (rentang sehat dibanding rentang hidup) bervariasi antarwilayah, tetapi secara konsisten menunjukkan bahwa gaya hidup modern dan penyakit tidak menular (PTM) menjadi kontributor utama hilangnya tahun-tahun sehat (Garmany et al., 2025).
Namun demikian, para peneliti juga menegaskan bahwa fenomena ini bersifat domain-specific — tidak seragam untuk semua jenis penyakit maupun semua negara. Studi terhadap populasi lansia di Tiongkok, misalnya, menemukan bahwa untuk sejumlah kondisi tertentu justru terjadi kompresi morbiditas, sementara untuk penyakit kronis mayor seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular terjadi ekspansi (kondisi yang menjelaskan mengapa orang hidup lebih lama namun dengan beban penyakit yang lebih berat dan lebih panjang) (PMC, 2026). Artinya, jawaban atas pertanyaan “fakta atau mitos” bukan hitam-putih, melainkan bergantung pada penyakit mana dan populasi mana yang dibicarakan.
Bagaimana Data Menggambarkan Kondisi di Indonesia?
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 memberikan gambaran yang selaras dengan pola ekspansi morbiditas untuk sejumlah kondisi. Dibandingkan Riskesdas 2018, prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah memang menurun — namun prevalensi diabetes melitus justru meningkat, baik berdasarkan diagnosis dokter (dari 2,0% menjadi 2,2% pada penduduk usia ≥15 tahun) maupun berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah (dari 10,9% menjadi 11,7%) (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI [BKPK Kemenkes], 2023). Perilaku berisiko yang mendasarinya pun cenderung memburuk: konsumsi makanan manis naik dari 47,8% menjadi 56,2%, konsumsi minuman manis naik dari 30,2% menjadi 43,3%, dan konsumsi makanan asin/gorengan juga meningkat — kecuali konsumsi rokok dan alkohol yang sedikit menurun (BKPK Kemenkes, 2023).
Dampaknya terasa pada beban kecacatan: SKI 2023 mencatat bahwa 59,1% penyebab disabilitas (gangguan penglihatan, pendengaran, dan gerak) pada penduduk usia ≥15 tahun berasal dari penyakit yang didapat sepanjang hidup, dan 53,5% di antaranya adalah PTM seperti hipertensi dan diabetes (BKPK Kemenkes, 2023). Data ini menunjukkan bahwa meski umur harapan hidup penduduk Indonesia terus meningkat, sebagian dari tahun-tahun tambahan tersebut berpotensi dijalani dalam kondisi bergejala atau bergantung pada perawatan — pola yang justru selaras dengan temuan ekspansi morbiditas global, bukan kompresi.
Tabel 1. Perbandingan Sejumlah Indikator Kesehatan Riskesdas 2018 vs SKI 2023
| Indikator | Riskesdas 2018 | SKI 2023 | Arah Perubahan |
|---|---|---|---|
| Hipertensi (pengukuran tekanan darah) | 34,1% | 30,8% | Menurun |
| Diabetes melitus (diagnosis dokter, ≥15 tahun) | 2,0% | 2,2% | Meningkat |
| Diabetes melitus (pemeriksaan gula darah) | 10,9% | 11,7% | Meningkat |
| Konsumsi makanan manis | 47,8% | 56,2% | Meningkat |
| Konsumsi minuman manis | 30,2% | 43,3% | Meningkat |
| Konsumsi makanan asin | 43,0% | 52,2% | Meningkat |
| Merokok (1 bulan terakhir) | 28,9% | 27,2% | Sedikit menurun |
Sumber: diolah dari BKPK Kemenkes (2023) dan Riskesdas 2018.
Ilustrasi Konsep: Mengapa Umur Panjang Tidak Otomatis Berarti Sehat
Diagram berikut menggambarkan secara konseptual dua skenario yang dibahas para ahli gerontologi — bukan data pasti generasi tertentu, melainkan ilustrasi untuk memudahkan pemahaman mengapa bertambahnya usia harapan hidup tidak serta-merta berarti bertambahnya tahun yang sehat.
Jadi, Fakta atau Mitos?
Berdasarkan uraian di atas, klaim “generasi sebelum baby boomer lebih sehat dan aktif hingga usia lanjut dibandingkan generasi setelahnya” lebih tepat disebut mitos yang mengandung sebagian kebenaran yang disalahpahami:
- Bagian yang mitos: anggapan bahwa populasi lansia zaman dulu secara umum lebih bugar tidak didukung data. Yang benar-benar terjadi adalah kita hanya mengenang mereka yang berhasil bertahan (survivorship bias), sementara banyak orang seusia mereka meninggal lebih dini akibat infeksi, komplikasi kehamilan, atau penyakit yang saat itu tidak dapat dideteksi maupun diobati.
- Bagian yang mengandung kebenaran: kekhawatiran bahwa generasi masa kini terpapar penyakit tidak menular pada usia yang lebih muda memang didukung bukti epidemiologis, baik dari riset global (GBD 2023 Morbidity Gap Collaborators, 2026; Garmany et al., 2025) maupun data nasional (BKPK Kemenkes, 2023). Fenomena ini bukan karena “orang dulu lebih kuat”, melainkan karena perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan paparan faktor risiko metabolik pada populasi modern.
Dengan kata lain, umur harapan hidup Indonesia memang meningkat dari tahun ke tahun (BPS, 2025), tetapi peningkatan itu tidak otomatis diikuti oleh perpanjangan masa hidup yang sehat secara proporsional — inilah yang oleh para ahli disebut lifespan–healthspan gap (kesenjangan antara rentang hidup dan rentang sehat).
Implikasi Praktis
Bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat umum, kesimpulan ini membawa pesan yang lebih konstruktif dibandingkan sekadar romantisme masa lalu: fokus kebijakan dan perilaku individu perlu bergeser dari sekadar memperpanjang umur menuju memperpanjang masa sehat. Ini mencakup deteksi dini hipertensi dan diabetes melalui Posbindu PTM, perbaikan pola konsumsi gula-garam-lemak sejak usia produktif, serta program aktivitas fisik terstruktur bagi kelompok pra-lansia — bukan menunggu gejala muncul di usia 60-an ke atas.
Catatan Transparansi: Artikel ini disusun dengan bantuan kecerdasan buatan (Claude, Anthropic) untuk membantu riset literatur, penyusunan struktur, dan penulisan awal. Seluruh klaim ilmiah telah diverifikasi silang dengan sumber primer yang dicantumkan dalam daftar pustaka. Interpretasi terhadap data SKI 2023, Riskesdas 2018, dan literatur gerontologi global merupakan sintesis analitis penulis, bukan kutipan langsung dari lembaga terkait. Diagram yang disertakan bersifat ilustratif-konseptual, bukan rekonstruksi data survival curve aktual per generasi, dan tidak dimaksudkan untuk keperluan diagnostik atau kebijakan tanpa verifikasi lebih lanjut oleh ahli epidemiologi/gerontologi.
Ringkasan: Klaim bahwa generasi sebelum baby boomer lebih sehat dan aktif hingga lansia sebagian besar adalah mitos akibat survivorship bias — kita hanya mengenang yang bertahan. Namun, riset gerontologi terbaru dan data SKI 2023 menunjukkan kekhawatiran nyata: usia harapan hidup Indonesia meningkat, tetapi beban penyakit tidak menular turut melebar, sehingga tahun hidup tambahan tidak selalu berarti tahun yang sehat.
Daftar Pustaka (APA)
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. (2023). Potret Sehat Indonesia dari Kacamata SKI 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/potret-sehat-indonesia-dari-kacamata-ski-2023/
Badan Pusat Statistik. (2025). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2025. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/11/05/2480/indeks-pembangunan-manusia–ipm-.html
Dowd, J. (2024). There were still old people when life expectancy was 35: A demography myth that won’t die. https://jenndowd.substack.com/p/there-were-still-old-people-when
Fries, J. F. (1980). Aging, natural death, and the compression of morbidity. New England Journal of Medicine, 303(3), 130–135. https://doi.org/10.1056/NEJM198007173030304
Garmany, A., Yamada, S., & Terzic, A. (2025). Healthspan-lifespan gap differs in magnitude and disease contribution across world regions. Communications Medicine, 5, Article 111. https://doi.org/10.1038/s43856-025-01111-2
GBD 2023 Morbidity Gap Collaborators. (2026). Global, regional, and national trends in the morbidity gap and contributing diseases, injuries, and risk factors, 1990–2023: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2023. The Lancet Public Health. Advance online publication. https://www.thelancet.com/journals/lanpub/article/PIIS2468-2667(26)00098-8/fulltext
PMC. (2026). Domain-specific trends in healthy life expectancy among Chinese older adults: Compression, expansion, and dynamic equilibrium. PubMed Central. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC13445183/
ScienceNorway. (2024). Never take health and lifestyle advice from centenarians, researcher warns. https://www.sciencenorway.no/aging-lifestyle-statistics/researcher-never-take-health-and-lifestyle-advice-from-centenarians/2403967
Scroll.in. (2024). Survivorship bias: The mathematician who helped win WWII. https://scroll.in/article/1067778/scroll_in





Tinggalkan Balasan