Pak Slamet, 68 tahun, dibawa keluarganya ke poli umum RSU karena tiga bulan terakhir sering lupa mematikan kompor dan dua kali tersesat saat pulang dari masjid dekat rumahnya sendiri. Anaknya semula mengira itu bagian wajar dari penuaan. Namun setelah ditelusuri, Pak Slamet memiliki hipertensi yang tak terkontrol selama bertahun-tahun, jarang bersosialisasi sejak pensiun, dan mengalami gangguan pendengaran yang tidak pernah diperiksakan. Skenario semacam ini sangat umum ditemui di ruang praktik dokter umum maupun Puskesmas di Indonesia — dan justru di situlah letak kabar baiknya: banyak dari faktor-faktor tersebut bisa dicegah atau dikelola jauh sebelum demensia muncul.
Pada 2026, World Health Organization (WHO) merilis edisi kedua pedoman Risk reduction of cognitive decline and dementia, memperbarui panduan pertama yang terbit pada 2019. Artikel ini mengulas apa yang berubah, apa yang tetap relevan, dan bagaimana rekomendasi tersebut dapat diadaptasi dalam konteks pelayanan kesehatan primer dan sekunder di Indonesia.

Mengapa Risiko Demensia Menjadi Prioritas Kesehatan Masyarakat
Demensia bukan bagian normal dari penuaan, melainkan sindrom klinis akibat penurunan fungsi kognitif yang mengganggu kemandirian seseorang. Karena hingga kini belum tersedia obat yang mampu memodifikasi perjalanan penyakit secara luas, pencegahan sepanjang siklus hidup tetap menjadi strategi paling efektif untuk menekan kejadian demensia di masa depan. Pedoman WHO ini didasarkan pada estimasi bahwa pada 2021 terdapat sekitar 57 juta orang di dunia yang hidup dengan demensia, dengan lebih dari 60% di antaranya tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Yang mungkin belum banyak disadari klinisi di Indonesia: hingga 45% risiko demensia diperkirakan berasal dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi, dan banyak di antaranya tumpang tindih dengan faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) yang sudah akrab dalam praktik sehari-hari — hipertensi, diabetes, obesitas, dan gaya hidup tidak aktif.
Situasi demografis Indonesia memperkuat urgensi ini. Sensus Penduduk 2023 mencatat hampir 12% atau 29 juta penduduk Indonesia sudah masuk kategori lanjut usia, dan Wakil Menteri Kesehatan memproyeksikan angka ini akan terus naik hingga sekitar 50 juta jiwa atau 20% populasi pada 2045. Sementara itu, World Alzheimer Report memperkirakan sekitar 1,8 juta orang Indonesia hidup dengan demensia, dengan proyeksi melonjak menjadi 7,5 juta pada 2050 seiring pergeseran struktur usia penduduk. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga mencatat hipertensi sebagai penyakit dengan prevalensi tertinggi pada lansia, mencapai 63,5%, sebuah temuan yang relevan mengingat tata laksana hipertensi kini masuk dalam rekomendasi risk reduction demensia.
Apa yang Baru di Edisi Kedua Pedoman Ini
Pembaruan 2026 berangkat dari tinjauan cakupan (scoping review) yang dilakukan Sekretariat WHO pada 2024 untuk menilai apakah bukti baru sejak 2019 cukup kuat mengubah rekomendasi lama. Hasilnya, Guideline Development Group (GDG):
- Memvalidasi ulang rekomendasi lama untuk lima faktor risiko yang buktinya dianggap belum berubah signifikan;
- Meminta sintesis bukti komprehensif untuk delapan faktor risiko yang sudah ada di edisi 2019 namun buktinya masih lemah saat itu;
- Menambahkan delapan faktor risiko baru yang belum dibahas di edisi pertama — termasuk HIV, stroke, dan cedera otak traumatik (traumatic brain injury/TBI) — sebagai bentuk pengakuan lebih luas terhadap kontributor penurunan kognitif.
Pedoman ini secara eksplisit mengadopsi perspektif siklus hidup (life-course): paparan faktor risiko terakumulasi dari waktu ke waktu, dan sebagian faktor punya dampak lebih besar pada tahap kehidupan tertentu. Penting juga dicatat: dokumen ini ditujukan bagi tenaga kesehatan di fasilitas layanan primer dan sekunder — sangat relevan bagi dokter umum di Puskesmas, klinik pratama, maupun IGD rumah sakit tipe C/D di Indonesia — serta pembuat kebijakan untuk intervensi tingkat populasi.
Rekomendasi Gaya Hidup: Fondasi yang Bisa Dimulai dari Layanan Primer
Aktivitas kognitif. Pembelajaran seumur hidup, akses pendidikan yang berkualitas, dan lingkungan kerja yang merangsang kognisi dianjurkan bagi semua orang untuk mengoptimalkan kesehatan otak. Secara spesifik, pelatihan kognitif (cognitive training — latihan terstruktur dan berulang pada domain kognitif tertentu) dapat ditawarkan pada lansia dengan kognisi normal atau gangguan kognitif ringan, meski kekuatan rekomendasi ini tergolong kondisional dengan sertainty bukti rendah hingga sangat rendah.
Aktivitas sosial. Partisipasi sosial berkaitan erat dengan kesehatan dan kesejahteraan sepanjang hidup. Intervensi aktivitas sosial dapat direkomendasikan bagi lansia dengan kognisi normal atau gangguan kognitif ringan — sebuah temuan yang selaras dengan realitas budaya gotong royong dan aktivitas komunitas seperti pengajian, arisan, dan kegiatan RT/RW yang masih hidup di banyak wilayah Indonesia.
Aktivitas fisik. Ini menjadi salah satu rekomendasi dengan kekuatan bukti tertinggi dalam seluruh pedoman: aktivitas fisik teratur — meliputi gerakan aerobik, penguatan otot, dan pengurangan perilaku sedentari — direkomendasikan secara kuat (strong) untuk menurunkan risiko penurunan kognitif pada lansia dengan kognisi normal, dengan sertainty bukti moderat.
Mengurangi konsumsi alkohol berbahaya. Tidak ada jumlah alkohol yang direkomendasikan untuk manfaat kesehatan. Intervensi mengurangi atau menghentikan konsumsi alkohol berisiko dapat ditawarkan pada lansia dengan kognisi normal maupun gangguan kognitif ringan.
Penghentian tembakau. Ini menjadi salah satu dari sedikit rekomendasi dengan kekuatan kuat: intervensi penghentian tembakau harus (should) ditawarkan pada semua pengguna tembakau untuk menurunkan risiko penurunan kognitif dan demensia — relevan mengingat tingginya prevalensi merokok pada laki-laki dewasa di Indonesia.
Pola makan sehat dan seimbang. Pola diet yang adekuat, seimbang, beragam, dan moderat dapat direkomendasikan. Yang menarik, pedoman ini secara tegas tidak merekomendasikan suplementasi vitamin B, vitamin E, asam lemak omega-3 (PUFA), atau multivitamin/mineral untuk tujuan spesifik menurunkan risiko demensia — sebuah rekomendasi kuat yang penting disampaikan mengingat maraknya promosi suplemen “penjaga daya ingat” di pasaran Indonesia, termasuk di platform e-commerce dan media sosial.
Mengelola Kondisi Kesehatan yang Berkaitan dengan Risiko Demensia
Bagian ini paling relevan bagi praktik klinis sehari-hari karena banyak beririsan dengan tata laksana PTM yang sudah rutin dilakukan.
Obesitas dan diabetes. Intervensi menurunkan berat badan berlebih atau obesitas pada usia paruh baya dapat ditawarkan, begitu pula pembatasan diet pada dewasa dengan berat badan berlebih atau obesitas. Manajemen diabetes dapat ditawarkan pada penyandang diabetes, meski sertainty buktinya masih sangat rendah untuk manfaat spesifik terhadap kognisi.
Hipertensi dan dislipidemia. Manajemen hipertensi dapat ditawarkan pada dewasa dengan hipertensi, dan manajemen dislipidemia pada usia paruh baya dapat ditawarkan — dua rekomendasi yang secara praktis sudah menjadi standar tata laksana PTM di FKTP dan mudah diintegrasikan ke dalam program Prolanis BPJS Kesehatan.
Gangguan pendengaran. Alat bantu dengar dapat ditawarkan pada dewasa dengan gangguan pendengaran untuk menurunkan risiko demensia — poin penting mengingat skrining pendengaran pada lansia masih jarang menjadi bagian rutin pemeriksaan di layanan primer Indonesia.
Terapi hormon menopause (MHT). Ini salah satu rekomendasi baru yang tegas: MHT tidak direkomendasikan khusus untuk menurunkan risiko penurunan kognitif atau demensia pada perempuan pascamenopause usia 65 tahun ke atas. Untuk perempuan di bawah 65 tahun — termasuk yang mengalami insufisiensi ovarium prematur atau menopause dini — bukti masih belum cukup untuk merekomendasikan atau menentang penggunaan MHT untuk tujuan ini.
Depresi, stroke, cedera otak traumatik, gangguan penglihatan, gangguan tidur, dan HIV. Untuk enam kondisi ini, GDG menyimpulkan bukti saat ini belum cukup untuk merekomendasikan intervensi spesifik guna menurunkan risiko demensia — bukan berarti kondisi ini tidak penting, melainkan tata laksananya tetap mengikuti pedoman klinis umum masing-masing (misalnya mhGAP untuk depresi, atau terapi antiretroviral untuk HIV) tanpa klaim tambahan manfaat kognitif yang terbukti kuat.
Faktor Lingkungan: Polusi Udara
Ini adalah salah satu dari sedikit area di luar kendali individu yang mendapat rekomendasi baru: mengurangi paparan polusi udara dalam ruangan (household air pollution) maupun polusi udara ambien (khususnya PM2.5) dapat menurunkan risiko atau insidensi penurunan kognitif dan/atau demensia. Bagi Indonesia — dengan tantangan kualitas udara di kota-kota besar serta paparan asap memasak biomassa di sejumlah wilayah pedesaan — rekomendasi ini memberi landasan tambahan bagi advokasi kebijakan kualitas udara, sejalan dengan agenda pengendalian PTM nasional.
Pendekatan Multidomain: Mengapa Intervensi Tunggal Sering Tidak Cukup
Karena faktor risiko demensia jarang berdiri sendiri dan cenderung terakumulasi sepanjang hidup, WHO merekomendasikan intervensi multidomain yang disesuaikan (tailored) — menyasar beberapa faktor risiko sekaligus, dengan intensitas dan format yang disesuaikan konteks budaya, sosioekonomi, dan keterbatasan sumber daya. Rekomendasi ini memiliki sertainty bukti moderat hingga tinggi, menjadikannya salah satu area dengan dasar bukti terkuat dalam keseluruhan pedoman.
Relevansi bagi Sistem Kesehatan Indonesia
Beberapa hal berikut layak menjadi perhatian pengelola layanan kesehatan dan klinisi di Indonesia:
Pertama, kerangka Integrated Care for Older People (ICOPE) yang menjadi rujukan pedoman ini sesungguhnya sudah diadaptasi di Indonesia melalui Skrining Kesehatan Lansia Sederhana (SKILAS), yang menilai enam domain kapasitas intrinsik meliputi kognisi, mobilitas, nutrisi, penglihatan, pendengaran, dan kesehatan jiwa. Instrumen ini mulai diterapkan di Posyandu Lansia dan fasilitas layanan primer, dan menjadi titik masuk alami untuk mengoperasionalkan rekomendasi WHO 2026 di tingkat komunitas.
Kedua, transformasi layanan primer melalui Integrasi Layanan Primer (ILP) menjadikan Posyandu melayani seluruh siklus hidup, termasuk lansia, dengan kegiatan skrining tekanan darah, gula darah, dan kapasitas fungsional — momentum yang tepat untuk menyisipkan komponen skrining kognitif sederhana dan edukasi faktor risiko demensia.
Ketiga, dari sisi pembiayaan, sebagian besar rekomendasi manajemen kondisi kesehatan (hipertensi, diabetes, dislipidemia, obesitas) sejalan dengan program Prolanis dan skema JKN yang sudah berjalan, sehingga secara prinsip tidak memerlukan pembiayaan tambahan yang besar — meski akses terhadap alat bantu dengar atau program stimulasi kognitif terstruktur masih terbatas ketersediaannya, terutama di luar kota besar.
Keempat, mengingat pedoman ini menegaskan tidak adanya manfaat suplemen vitamin/mineral untuk pencegahan demensia, ini menjadi materi edukasi publik yang penting bagi Puskesmas dan rumah sakit dalam melawan misinformasi seputar produk “penambah daya ingat” yang banyak beredar di masyarakat.
Catatan Transparansi
Artikel ini disusun berdasarkan Risk reduction of cognitive decline and dementia: WHO guidelines, second edition (WHO, 2026) sebagai sumber primer. Data epidemiologi dan konteks kebijakan Indonesia dilengkapi dari sumber sekunder — pemberitaan media (Kompas, MPR RI), publikasi organisasi advokasi (Alzheimer’s Indonesia), serta artikel akademik dan institusi terkait implementasi ICOPE/SKILAS di Indonesia — karena hingga saat ini belum tersedia data prevalensi demensia nasional yang representatif dan mutakhir setingkat Riskesdas/SKI dengan instrumen diagnostik terstandardisasi. Sebagian besar rekomendasi WHO dalam pedoman ini bersifat kondisional dengan sertainty bukti rendah hingga sangat rendah, mencerminkan keterbatasan basis bukti global — terutama karena mayoritas penelitian berasal dari negara berpenghasilan tinggi dengan periode pengamatan yang relatif singkat. Pembaca yang membutuhkan tata laksana klinis spesifik disarankan merujuk pada pedoman profesi terkait (mis. PERDOSSI, PERGEMI) dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Daftar Referensi
World Health Organization. (2026). Risk reduction of cognitive decline and dementia: WHO guidelines (2nd ed.). Geneva: World Health Organization.
Alzheimer’s Indonesia. (2020). Statistik tentang demensia. Diakses dari https://alzi.or.id/statistik-tentang-demensia/
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. (2024). Potret sehat Indonesia dari kacamata SKI 2023. Diakses dari https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/potret-sehat-indonesia-dari-kacamata-ski-2023/
Kementerian Kesehatan RI. (2024). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.
Kompas.id. (2026, Juni 1). Menghadapi 30 juta generasi “silver”, layanan kesehatan dinilai belum memadai. Diakses dari https://www.kompas.id/artikel/menghadapi-30-juta-generasi-silver-layanan-kesehatan-dinilai-belum-memadai
MPR RI. (2023). Diperlukan antisipasi dan kebijakan cegah ancaman demensia. Diakses dari https://www.mpr.go.id/berita/Diperlukan-Antisipasi-dan-Kebijakan-Cegah-Ancaman-Demensia
Geriatri.id. (2024). UI gelar pelatihan skrining kesehatan lansia berbasis ICOPE. Diakses dari https://www.geriatri.id/artikel/2686/ui-gelar-pelatihan-skrining-kesehatan-lansia-berbasis-icope

Tinggalkan Balasan