A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Halo, teman-teman! Kali ini saya mau berbagi pengalaman saya menggunakan Gnome sebagai dekstop environment di Linux. Mungkin ada yang belum tahu, dekstop environment adalah tampilan antarmuka yang kita gunakan untuk berinteraksi dengan sistem operasi. Ada banyak pilihan dekstop environment di Linux, seperti KDE, XFCE, Cinnamon, dan lain-lain. Tapi, saya pribadi lebih suka Gnome. Kenapa?

Ada beberapa alasan mengapa saya memilih Gnome. Pertama, Gnome memiliki desain yang minimalis, elegan, dan modern. Saya suka tampilan ikon, font, dan warna yang digunakan oleh Gnome. Selain itu, Gnome juga mudah digunakan dan intuitif. Semua aplikasi dan pengaturan bisa diakses melalui menu Activities yang ada di pojok kiri atas layar. Gnome juga mendukung fitur multitasking dengan mudah, seperti workspace, split screen, dan overview.

Kedua, Gnome memiliki banyak ekstensi yang bisa menambah fungsionalitas dan kustomisasi dekstop. Ekstensi adalah program kecil yang bisa diinstal melalui situs web extensions.gnome.org. Dengan ekstensi, kita bisa mengubah tampilan panel, dock, app menu, dan lain-lain sesuai dengan selera kita. Beberapa ekstensi yang saya rekomendasikan adalah Dash to Panel, Arc Menu, User Themes, dan Sound Input & Output Device Chooser.

Ketiga, Gnome memiliki komunitas yang besar dan aktif. Ini berarti bahwa Gnome selalu mendapatkan pembaruan dan perbaikan secara berkala. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan bantuan dan dukungan dari pengguna Gnome lainnya melalui forum, grup, atau media sosial. Gnome juga didukung oleh banyak distro Linux populer, seperti Ubuntu, Fedora, Debian, dan Manjaro.

Itulah beberapa alasan mengapa saya memilih Gnome sebagai dekstop environment. Tentu saja, ini adalah pilihan pribadi saya dan tidak bermaksud menjelek-jelekkan dekstop environment lainnya. Setiap orang punya preferensi dan kebutuhan yang berbeda-beda. Yang penting adalah kita nyaman dan produktif menggunakan Linux. Semoga artikel ini bermanfaat dan terima kasih sudah membaca!

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. agung Avatar
    agung

    Halo mas Cahya,

    Ya dengan RAM 16GB pasti nyaman dengan Gnome 😀 — Gnome sekarang lebih banyak makan resource dibanding KDE plasma ya?

    Saya pasang Xfce dan icip-icip KDE Plasma Leap 15,5 di laptop lawas. BTW aplikasi yang bagus untuk swicth VGA hybrid di Nvidia dan Intel apa ya? sementara saya pakai prime

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Buka peramban berbasis chromium dengan beberapa halaman memerlukan RAM sekitar 6-7 GB. Saya pakai Celeron generasi ke-11, jadi ya kadang mentok di CPU usage. Seperti Xfce masih pakai X11 jadi mungkin tidak terlalu bermasalah mau menggunakan yang mana. Kalau Gnome sudah Wayland, baik intel maupun nvidia selalu ada isunya.

      Suka

Tinggalkan komentar