A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Halo, teman-teman! Kali ini saya mau berbagi pengalaman saya menggunakan Gnome sebagai dekstop environment di Linux. Mungkin ada yang belum tahu, dekstop environment adalah tampilan antarmuka yang kita gunakan untuk berinteraksi dengan sistem operasi. Ada banyak pilihan dekstop environment di Linux, seperti KDE, XFCE, Cinnamon, dan lain-lain. Tapi, saya pribadi lebih suka Gnome. Kenapa?

Ada beberapa alasan mengapa saya memilih Gnome. Pertama, Gnome memiliki desain yang minimalis, elegan, dan modern. Saya suka tampilan ikon, font, dan warna yang digunakan oleh Gnome. Selain itu, Gnome juga mudah digunakan dan intuitif. Semua aplikasi dan pengaturan bisa diakses melalui menu Activities yang ada di pojok kiri atas layar. Gnome juga mendukung fitur multitasking dengan mudah, seperti workspace, split screen, dan overview.

Kedua, Gnome memiliki banyak ekstensi yang bisa menambah fungsionalitas dan kustomisasi dekstop. Ekstensi adalah program kecil yang bisa diinstal melalui situs web extensions.gnome.org. Dengan ekstensi, kita bisa mengubah tampilan panel, dock, app menu, dan lain-lain sesuai dengan selera kita. Beberapa ekstensi yang saya rekomendasikan adalah Dash to Panel, Arc Menu, User Themes, dan Sound Input & Output Device Chooser.

Ketiga, Gnome memiliki komunitas yang besar dan aktif. Ini berarti bahwa Gnome selalu mendapatkan pembaruan dan perbaikan secara berkala. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan bantuan dan dukungan dari pengguna Gnome lainnya melalui forum, grup, atau media sosial. Gnome juga didukung oleh banyak distro Linux populer, seperti Ubuntu, Fedora, Debian, dan Manjaro.

Itulah beberapa alasan mengapa saya memilih Gnome sebagai dekstop environment. Tentu saja, ini adalah pilihan pribadi saya dan tidak bermaksud menjelek-jelekkan dekstop environment lainnya. Setiap orang punya preferensi dan kebutuhan yang berbeda-beda. Yang penting adalah kita nyaman dan produktif menggunakan Linux. Semoga artikel ini bermanfaat dan terima kasih sudah membaca!

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar agung
    agung

    Halo mas Cahya,

    Ya dengan RAM 16GB pasti nyaman dengan Gnome 😀 — Gnome sekarang lebih banyak makan resource dibanding KDE plasma ya?

    Saya pasang Xfce dan icip-icip KDE Plasma Leap 15,5 di laptop lawas. BTW aplikasi yang bagus untuk swicth VGA hybrid di Nvidia dan Intel apa ya? sementara saya pakai prime

    1. Avatar Cahya

      Buka peramban berbasis chromium dengan beberapa halaman memerlukan RAM sekitar 6-7 GB. Saya pakai Celeron generasi ke-11, jadi ya kadang mentok di CPU usage. Seperti Xfce masih pakai X11 jadi mungkin tidak terlalu bermasalah mau menggunakan yang mana. Kalau Gnome sudah Wayland, baik intel maupun nvidia selalu ada isunya.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca