Ponsel lama saya, Realme XT sudah memasuki masa habis dukungan pada Oktober 2024. Menggunakan Android 11 yang mendapatkan pembaruan keamanan terakhir pada awal 2022. Menggunakan ponsel Android tanpa dukungan pembaruan keamanan agak meragukan bagi saya, apalagi ponsel ini dugunakan untuk kegiatan yang melibatkan transaksi keuangan digital. Jika hanya sekadar untuk menikmati multimedia dan perpesanan, saya rasa tidak masalah; apalagi mengingat ponsel keluaran tahun 2019 ini masih memiliki masa tahan baterai 18 jam dan tidak memiliki masalah dengan mayoritas aplikasi yang berjalan di Android.
Ketika melihat pasar, harga ponsel saat ini sering kali tidak masuk akal. Saya masih ingat bahwa ponsel kelas atas sepuluh atau sebelas tahun yang lalu memiliki harga tertinggi seperti harga ponsel kelas menengah saat ini. Tapi sekarang, harga mereka naik tiga hingga empat kali lipat. Untuk sesuatu yang hanya mendapatkan dukungan antara 3-7 tahun, harga mereka setara dengan kendaraan bermotor roda dua saat ini.
Saya melihat sejumlah ponsel, sampai akhirnya seperti judul ini, saya memilih Xiaomi 13T sekitar dua hari sebelum rilis ponsel seri penerusnya, Xiaomi 14 series. Mengapa saya memilih ini? Mari mulai dari alasan yang tidak begitu penting dulu.
Xiaomi 13T dipersenjatai dengan Dimensity 8200 Ultra, prosesor hasil kolaborasi antara MediaTek dan Xiaomi. Chipset ini menawarkan performa kencang yang dapat menangani berbagai aktivitas dengan mulus, termasuk gaming dan multitasking. Saya tidak pernah menggunakan ponsel dengan prosesor dari mediatek, tentu saja ini menarik minat saya.
Xiaomi 13T menghadirkan layar AMOLED yang jernih dan memanjakan mata. Teknologi AMOLED ini menawarkan warna yang kaya dan kontras yang tajam, sehingga ideal untuk menonton film, bermain game, atau browsing. Saya merindukan layar AMOLED, yang terakhir saya temukan pada Samsung Note 2, ponsel Android pertama saya. Ini juga menjadi ponsel Xiaomi kedua saya, setelah Redmi Note 4. Ini adalah alasan berlandaskan nostalgia.
Meskipun mungkin bukan yang terbaik di kelasnya, Xiaomi 13T tetap menawarkan kamera yang mumpuni untuk fotografi sehari-hari. Dan tentu saja, satu kata, yaitu “Leica.” Itu sudah menjadi alasan yang cukup, bagi para korban branding di dunia fotografi.
Xiaomi 13T dibekali dengan baterai besar yang tahan lama. Dengan baterai ini, Anda dapat menggunakan smartphone seharian penuh tanpa perlu khawatir kehabisan daya. Ditambah lagi, teknologi fast charging 67W membuat pengisian daya menjadi cepat dan efisien. Tak perlu menunggu lama untuk bisa kembali menggunakan smartphone. Saya biasanya mengikuti sekte semalam suntuk, mulai sebelum tidur, selesai saat bangun tidur. Tapi dengan Xiaomi 13T, saya jarang perlu mengisi baterai hingga 30 menit.

Kemudian adalah dua alasan yang paling kuat mungkin adalah masa dukungan yang hingga 4-5 tahun untuk pembaruan sistem operasi, yang berarti bisa dipakai hingga di atas 7 tahun jika tidak terjadi musibah. Yang kedua adalah “iklan,” seperti iklan berupa bloatware – aplikasi yang tidak jelas, atau iklan pada layar notifikasi. Realme XT yang dulu katanya memiliki kelas premium memiliki isu ini, sehingga saya tidak lagi memilih Realme walau mereka mengeluarkan ponsel baru yang harga berbanding perangkat kerasnya lebih masuk akal bagi saya.
Saya membeli ponsel ini dari toko resmi mereka di Tokopedia, yang entah kenapa memiliki harga yang jauh lebih murah dibandingkan reseller saat itu. Pengiriman mereka agak lama, hampir sepekan, walau paketnya berkode “next day.” Setidaknya Xoami kali ini cukup baik dengan memberikan screen protector bawaan.
Memindahkan data dari Realme XT ke Xiaomi 13T tidak berjalan dengan mulus. Untungnya sebagian besar data sudah dicadangkan melalui layanan Microsoft 365. Jadi tidak banyak kehilangan data. Saya selalu menggunakan Microsoft Launcher, sehingga ketika migrasi ke ponsel baru, setelan saya selalu sama dan tidak perlu bingung menggunakannya setelah dipulihkan dari cadangan. Tapi ada yang aneh, karena tampilannya tidak sama persis dengan ponsel-ponsel Android yang sebelumnya saya gunakan.
MiUI adalah hal yang tidak saya sukai dari produk Xiaomi, tapi mereka memperbaikinya melalui HyperOS, dan sepertinya tampak bagus menurut saya. Ini memerlukan penyesuaian sedikit untuk bisa menggunakan fungsi dasar dengan lancar.
Yang tidak saya sukai lainnya ada juga. Misalnya tidak adanya fitur penyimpanan eksternal, seperti microSD – yang membuat kapasitas ponsel langsung terisi sepertiganya. Jika saya tidak menggunakan backup otomatis melalui penyimpanan awan, mungkin ponsel saya akan segera penuh dengan foto kucing.

Lalu tidak ada audio jack port, yang membuat saya sedikit tidak terbiasa. Walau saya tidak sering menggunakannya, tapi apa yang harus saya lakukan dengan beberapa wired earphone yang saya miliki? 😂
Hal lain yang menurut saya juga menjadi kekurangan adalah Xioami 13T cepat panas dan cukup berat. Saya pernah dengan prosesor mediatek cepat panas, tapi ini saya rasa tidak nyaman. Saya tidak pernah mengalami ponsel Snapdragon menjadi hangat hanya untuk sekadar membaca webnovel. Bahkan ketika saya menggunakan untuk mengetik tulisan ini, ponsel menjadi cukup hangat, dan membuat tidak nyaman. Ditambah lagi dengan beratnya, saya tidak bisa stabil mengetik dengan satu tangan menggunakan ponsel ini. Dan menggunakannya untuk membaca agak lama membuat pergelangan tangan cepat lelah.
Dua kekurangan terakhir tidak saya pertimbangkan ketika memilih ponsel. Jika saya pertimbangkan, mungkin saya tidak akan memilih Xiaomi 13T. Tapi saya tidak bisa menjualnya kembali kan. Btw, ponsel ini terkesan ringkih saat dipegang, saya jadi khawatir jika menjatuhkannya tanpa sengaja.
Overall, penilaian saya ada di 6 out of 10. Ini ponsel yang bagus, tapi kekurangannya membuatnya jadi minus banget. Tapi mungkin banyak orang tidak berkeberatan dengan hanya sekadar hangat atau agak berat. 😏

Tinggalkan komentar