A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mengapa AI Mengubah Cara Kita Belajar Kedokteran

Kecerdasan buatan (AI), khususnya large language models (LLM), kini mampu meniru penalaran klinis dengan kelancaran menyerupai manusia. Potensinya besar: mempercepat pembelajaran, memberi umpan balik instan, dan membantu mengingat informasi. Namun, ada risiko yang tak bisa diabaikan:

  • Deskilling: hilangnya keterampilan yang sudah dikuasai
  • Never-skilling: gagal mengembangkan keterampilan penting sejak awal
  • Mis-skilling: menguatkan perilaku salah akibat bias atau kesalahan AI

Di sinilah peran pendidik medis menjadi krusial — bukan hanya mengajarkan ilmu, tapi juga membentuk critical thinking agar AI menjadi alat bantu, bukan pengganti.

Tantangan Baru bagi Pendidik

Fakta menarik: banyak peserta didik justru lebih mahir menggunakan AI dibanding pendidiknya. Solusinya? Pembelajaran bersama (shared learning) dan membangun community of practice di mana semua pihak — termasuk pasien — bisa saling berbagi wawasan tentang AI.

Kerangka DEFT-AI: Panduan Mengawasi Interaksi AI

Framework ini membantu pendidik membimbing mahasiswa atau residen saat menggunakan AI dalam penalaran klinis:

LangkahTujuan
DiagnosisMenggali proses berpikir klinis dan cara AI digunakan
EvidenceMenguji pemahaman bukti medis dan literasi AI
FeedbackMendorong refleksi diri dan perbaikan
TeachingMemberikan penguatan dan pembelajaran berbasis kasus
AI RecommendationMenentukan tingkat aman keterlibatan AI

Cyborg vs Centaur: Dua Gaya Kolaborasi Manusia–AI

  • Cyborg: manusia dan AI bekerja bersama di setiap tahap tugas — cocok untuk tugas terdefinisi jelas dan risiko rendah.
  • Centaur: tugas dibagi sesuai kekuatan masing-masing — ideal untuk kasus kompleks atau berisiko tinggi.

Kunci suksesnya adalah fleksibilitas: tahu kapan harus menjadi cyborg, kapan menjadi centaur.

Literasi AI & Prompt Engineering

Menggunakan AI secara efektif butuh dua keterampilan inti:

  1. Literasi AI: mampu mengenali kapan AI digunakan, kapan harus berhenti, dan bagaimana memverifikasi hasilnya.
  2. Prompt yang tepat: spesifik, kontekstual, bebas bias, dan mendorong AI menjelaskan proses berpikirnya (chain-of-thought prompting).

Paradigma “Verify and Trust”

Sebelum mempercayai output AI, verifikasi adalah wajib. Pendidik perlu menanamkan kebiasaan ini agar peserta didik tidak terjebak pada automation bias. Kolaborasi antara pengembang AI, institusi pendidikan, dan sistem kesehatan diperlukan untuk membangun kurikulum yang menumbuhkan kompetensi AI.

Kesimpulan

AI adalah alat yang luar biasa, tapi bukan pengganti penalaran klinis manusia. Dengan strategi seperti DEFT-AI, pemahaman gaya interaksi cyborg–centaur, dan literasi AI yang kuat, kita bisa memastikan AI menjadi mitra yang memperkuat — bukan melemahkan — kompetensi klinis.

Bacaan: Abdulnour, R.-E. E., Gin, B., & Boscardin, C. K. (2025). Educational strategies for clinical supervision of artificial intelligence use. New England Journal of Medicine, 393(8), 786–797. https://doi.org/10.1056/NEJMra2503232.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar