A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayangkan seorang pasien diabetes yang setiap bulan harus menempuh perjalanan panjang ke rumah sakit hanya untuk mengambil obat rutin. Ia menghabiskan berjam-jam dalam perjalanan dan antrean, padahal kondisinya sudah stabil dan hanya memerlukan pemantauan berkala. Inilah realitas yang dialami jutaan penderita penyakit kronis di Indonesia—sebuah permasalahan yang coba dijawab BPJS Kesehatan melalui Program Rujuk Balik.

Program Rujuk Balik, atau yang dikenal dengan singkatan PRB, merupakan terobosan dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang memungkinkan pasien dengan penyakit kronis stabil melanjutkan pengobatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau klinik terdekat, tanpa harus terus-menerus kembali ke rumah sakit. Konsepnya sederhana namun revolusioner: membawa pelayanan kesehatan lebih dekat ke masyarakat, menghemat waktu dan biaya, sambil tetap menjaga kualitas pengobatan.

Memahami Esensi Program Rujuk Balik

Program Rujuk Balik lahir dari filosofi pelayanan kesehatan berjenjang, di mana fasilitas kesehatan tingkat pertama berperan sebagai garda terdepan. Ketika seorang pasien dengan penyakit kronis telah dinyatakan stabil oleh dokter spesialis di rumah sakit, ia akan mendapatkan surat rujuk balik yang mengizinkannya melanjutkan pengobatan di puskesmas atau klinik yang lebih dekat dengan rumahnya.

Saat ini, BPJS Kesehatan telah menetapkan sembilan jenis penyakit yang masuk dalam program ini: diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), epilepsi, stroke, skizofrenia, dan Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Pemilihan penyakit-penyakit ini bukan tanpa alasan—semuanya merupakan kondisi kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang dan pemantauan rutin, namun ketika sudah stabil, tidak selalu memerlukan penanganan dokter spesialis.

Manfaat yang Menjangkau Berbagai Pihak

Untuk Pasien: Kemudahan yang Berarti

Bagi pasien, PRB menawarkan kemudahan yang sangat berarti dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu lagi mengambil cuti kerja untuk pergi ke rumah sakit yang jauh, tidak perlu mengantre berjam-jam, dan tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi yang besar. Cukup datang ke puskesmas atau klinik terdekat, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter dan mengambil obat untuk kebutuhan sebulan penuh.

Lebih dari sekadar kemudahan fisik, PRB juga memberikan rasa tenang karena pasien tahu bahwa meskipun berobat di tingkat primer, mereka tetap dalam pengawasan sistem kesehatan yang terintegrasi. Setiap tiga bulan, mereka akan dievaluasi kembali, dan jika diperlukan, dapat segera dirujuk kembali ke dokter spesialis.

Untuk Puskesmas: Penguatan Kapasitas

Program ini juga menjadi kesempatan emas bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk meningkatkan kompetensi. Dokter umum di puskesmas mendapat bimbingan dan transfer pengetahuan dari dokter spesialis tentang penanganan penyakit kronis berdasarkan bukti ilmiah terkini. Ini bukan sekadar menjalankan resep, tetapi proses pembelajaran berkelanjutan yang memperkuat fungsi puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan.

Dari sisi operasional, PRB juga meningkatkan kontak puskesmas dengan masyarakat dan membuka peluang pendapatan tambahan melalui klaim pelayanan. Yang lebih penting, program ini mengurangi angka rujukan ke rumah sakit, menunjukkan bahwa puskesmas mampu menangani lebih banyak kasus dengan baik.

Untuk Sistem Kesehatan: Efisiensi dan Keberlanjutan

Dalam perspektif yang lebih luas, PRB berkontribusi pada keberlanjutan sistem kesehatan nasional. Program JKN menghadapi tantangan defisit sejak awal operasinya, salah satunya karena tingginya biaya pelayanan di rumah sakit. Dengan memindahkan pelayanan pasien kronis stabil ke tingkat primer, BPJS Kesehatan dapat mengendalikan biaya tanpa mengorbankan kualitas pelayanan.

Rumah sakit pun mendapat keuntungan karena dapat lebih fokus menangani kasus-kasus akut dan kompleks yang memang memerlukan fasilitas dan keahlian khusus. Waktu tunggu di poliklinik berkurang, dan sistem menjadi lebih efisien secara keseluruhan.

Bagaimana PRB Bekerja di Lapangan

Alur pelayanan PRB dirancang sistematis dan jelas. Ketika kondisi pasien dinyatakan stabil oleh dokter spesialis, rumah sakit akan mendaftarkan pasien ke dalam sistem PRB dan memberikan obat untuk tujuh hari pertama. Pada hari ketujuh, pasien datang ke puskesmas atau klinik yang terdaftar untuk pemeriksaan dan mendapatkan resep.

Dengan resep tersebut, pasien dapat mengambil obat untuk 23 hari berikutnya di apotek PRB yang ditunjuk atau di puskesmas itu sendiri. Proses ini berulang setiap bulan selama tiga bulan berturut-turut, sebelum pasien kembali ke dokter spesialis untuk evaluasi menyeluruh. Jika masih stabil, siklus berlanjut dengan surat rujuk balik yang baru.

Infrastruktur pendukung program ini terus berkembang. Hingga akhir 2023, lebih dari 4.300 apotek telah bergabung sebagai mitra PRB, dan lebih dari 23.000 fasilitas kesehatan tingkat pertama menggunakan sistem terintegrasi untuk melayani peserta. BPJS Kesehatan juga terus mengembangkan digitalisasi, termasuk sistem yang memungkinkan pasien mengambil obat untuk 30 hari sekaligus tanpa harus berkonsultasi setiap kali.

Tantangan di Balik Konsep yang Baik

Namun, seperti banyak program ambisius lainnya, implementasi PRB di lapangan menghadapi berbagai tantangan yang tidak sederhana.

Persoalan Ketersediaan Obat

Keluhan paling sering dari pasien PRB adalah kekosongan obat. Bayangkan frustrasi seorang pasien yang sudah repot datang ke puskesmas atau apotek, hanya untuk mendengar bahwa obat yang dibutuhkan sedang kosong. Masalah ini bukan sekadar soal stok, tetapi menyangkut rantai pengadaan yang kompleks.

Puskesmas, terutama yang berstatus BLUD (Badan Layanan Umum Daerah), menghadapi kendala dalam perencanaan pengadaan karena jumlah kebutuhan yang fluktuatif dan prosedur e-purchasing yang memerlukan keahlian khusus. Tidak semua puskesmas memiliki apoteker yang kompeten untuk mengelola ini. Sementara itu, apotek PRB sering menghadapi dilema antara melayani pasien dan mempertahankan margin keuntungan yang tipis, karena harga obat di e-catalogue kadang lebih tinggi dari harga pasar.

Distributor obat pun memiliki tantangan sendiri. Pesanan dari puskesmas atau apotek individual sering dianggap terlalu kecil untuk dilayani, sementara keterlambatan pembayaran klaim dari BPJS membuat mereka berhati-hati dalam memasok obat.

Komunikasi yang Terputus

Kesuksesan PRB sangat bergantung pada komunikasi yang baik antara rumah sakit dan puskesmas. Namun kenyataannya, surat rujuk balik yang diberikan dokter spesialis sering kali tidak lengkap atau tidak jelas. Informasi penting tentang kondisi pasien, riwayat pengobatan, atau instruksi khusus kadang hilang dalam perpindahan dari tingkat lanjut ke tingkat primer.

Tidak ada sistem komunikasi formal yang efektif antara kedua tingkat layanan ini. Puskesmas sering tidak tahu kapan akan ada pasien PRB baru yang datang, sementara rumah sakit tidak mendapat umpan balik tentang perkembangan pasien yang telah dirujuk balik. Format surat rujuk balik pun bervariasi antar rumah sakit, membuat puskesmas harus beradaptasi dengan berbagai bentuk dokumen.

Kepatuhan Pasien yang Rendah

Yang mengkhawatirkan, banyak pasien yang terdaftar sebagai peserta PRB ternyata tidak aktif mengikuti program. Penelitian di berbagai daerah menunjukkan angka yang memprihatinkan—di beberapa tempat, hanya 24-34% pasien yang patuh mengambil obat dan kontrol rutin. Separuh dari pasien terdaftar bahkan tidak aktif sama sekali.

Penyebabnya beragam dan saling terkait. Banyak pasien yang tidak benar-benar memahami apa itu PRB dan bagaimana program ini bermanfaat bagi mereka. Sosialisasi yang dilakukan masih belum menyeluruh dan efektif. Ada juga pasien yang lebih memilih tetap berobat ke rumah sakit karena merasa lebih percaya pada dokter spesialis, atau karena khawatir obat di puskesmas tidak tersedia.

Faktor geografis juga berperan—tidak semua wilayah memiliki apotek PRB yang mudah dijangkau. Terdapat 111 kabupaten/kota di 7 provinsi yang bahkan belum memiliki apotek PRB sama sekali. Bagi pasien di daerah terpencil atau kepulauan, mengakses apotek PRB bisa sama sulitnya dengan pergi ke rumah sakit.

Dilema Institusional

Di tingkat institusi, ada tantangan yang lebih struktural. Rumah sakit sebenarnya tidak memiliki insentif kuat untuk merujuk balik pasien. Setiap pasien yang dirujuk balik berarti berkurangnya kunjungan rawat jalan, yang berdampak pada pendapatan rumah sakit. Meskipun ini bertentangan dengan semangat sistem kesehatan berjenjang, realitas finansial membuat banyak rumah sakit enggan proaktif dalam program PRB.

Tidak ada target yang jelas atau evaluasi ketat tentang berapa banyak pasien yang seharusnya dirujuk balik. Beberapa dokter spesialis bahkan tidak familiar dengan prosedur PRB atau tidak yakin bahwa puskesmas mampu menangani pasien mereka dengan baik.

Upaya Perbaikan yang Terus Bergulir

Menyadari berbagai tantangan ini, pemerintah dan BPJS Kesehatan tidak tinggal diam. Regulasi terus diperbaharui—Permenkes terbaru di tahun 2024 memperkuat landasan hukum PRB dan memperjelas prosedur pelaksanaan. Standardisasi nilai klaim juga ditetapkan untuk memberikan kepastian bagi fasilitas kesehatan dan apotek.

Digitalisasi menjadi kunci dalam mengatasi banyak masalah operasional. Sistem terintegrasi antara rumah sakit, puskesmas, dan apotek melalui aplikasi V-Claim dan P-Care memungkinkan pemantauan real-time terhadap stok obat dan status pasien. Program digitalisasi iterasi peresepan memungkinkan pasien mengambil obat untuk 30 hari sekaligus dengan dua kali pengulangan otomatis tanpa harus konsultasi ulang, mengurangi beban administratif dan meningkatkan kenyamanan pasien.

Telekonsultasi juga mulai dikembangkan, memungkinkan pasien di daerah terpencil tetap dapat berkonsultasi dengan dokter tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan. Ini sangat membantu terutama bagi pasien dengan keterbatasan mobilitas atau yang tinggal jauh dari layanan kesehatan.

Peningkatan koordinasi antar pemangku kepentingan melalui pertemuan rutin dan penunjukan petugas khusus (PIC) PRB di setiap fasilitas kesehatan membantu memperbaiki komunikasi dan penyelesaian masalah lebih cepat. Sosialisasi kepada dokter spesialis, tenaga kesehatan di puskesmas, dan masyarakat terus digiatkan untuk meningkatkan pemahaman dan komitmen terhadap program.

Program Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) diintegrasikan dengan PRB, memberikan edukasi berkelanjutan kepada pasien melalui kelas-kelas khusus. Sistem pengingat melalui WhatsApp dan aplikasi Mobile JKN membantu pasien tidak lupa jadwal kontrol dan pengambilan obat. Melibatkan keluarga dalam pemantauan pengobatan juga terbukti meningkatkan kepatuhan pasien.

Melihat ke Depan

Program Rujuk Balik BPJS Kesehatan adalah contoh bagaimana inovasi kebijakan dapat menjawab tantangan nyata dalam sistem kesehatan. Konsepnya brilian—membawa pelayanan lebih dekat ke masyarakat, meningkatkan efisiensi biaya, dan memperkuat peran fasilitas kesehatan primer. Manfaatnya nyata, bukan hanya bagi pasien yang menghemat waktu dan biaya, tetapi juga bagi keberlanjutan program JKN secara keseluruhan.

Namun perjalanan dari konsep ke implementasi yang sukses tidaklah mudah. Tantangan yang dihadapi kompleks dan saling terkait—dari rantai pasokan obat, komunikasi antar fasilitas, kepatuhan pasien, hingga komitmen institusional. Tidak ada solusi tunggal yang dapat mengatasi semua masalah ini.

Yang diperlukan adalah pendekatan komprehensif dan berkelanjutan: perbaikan regulasi yang terus disesuaikan dengan kondisi lapangan, investasi dalam teknologi dan digitalisasi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, perbaikan sistem logistik obat, dan yang tidak kalah penting, perubahan mindset dari semua pihak yang terlibat.

Rumah sakit perlu melihat rujuk balik bukan sebagai kehilangan pasien, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab dalam sistem kesehatan yang terintegrasi. Dokter spesialis perlu memahami bahwa kolaborasi dengan dokter umum di puskesmas adalah investasi dalam peningkatan kapasitas sistem secara keseluruhan. Puskesmas perlu terus meningkatkan kompetensi dan kepercayaan masyarakat. Dan pasien perlu diberdayakan dengan pemahaman yang baik tentang kondisi mereka dan manfaat mengikuti program.

Dengan komitmen bersama dan perbaikan berkelanjutan, Program Rujuk Balik memiliki potensi besar untuk menjadi model pelayanan penyakit kronis yang efektif dan efisien. Ini bukan hanya tentang penghematan biaya, tetapi tentang membangun sistem kesehatan yang lebih adil dan dapat menjangkau jutaan penderita penyakit kronis di seluruh Indonesia. Di balik setiap angka statistik dan regulasi, ada manusia-manusia dengan harapan untuk hidup lebih baik dengan penyakit kronis mereka—dan itulah yang seharusnya menjadi fokus utama kita semua.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Dedi Dwitagama Avatar

    Catatan kecil di apotij, ada obat yg tak bisa diberikan krn puskes butuh data lab atau pemeriksaan tertentu, dan ada obat yg tak bisa diberikan PRB, vitamin kata org apotikny, tk

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Secara umum biasanya hanya memerlukan resep asli, SRB, dan buku kontrol (hasil lab jika ada, bisa jadi sudah ditulis di buku kontrol). Praktik di lapangan bisa berbeda. Ada fragmentasi penerapan regulasi. Karena saya sendiri pernah mendengar seperti yang Mas Dedi sampaikan itu.

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Dedi Dwitagama Batalkan balasan