A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Pemandangan balita dengan mata terpaku pada layar gawai kini menjadi hal yang sangat lumrah di berbagai tempat—restoran, ruang tunggu, bahkan di rumah saat orang tua sedang sibuk dengan pekerjaan. Gawai (gadget) sering dianggap sebagai “pengasuh digital” yang praktis untuk menenangkan anak. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko serius yang mengintai perkembangan anak, terutama kemampuan bicara dan berbahasanya.

Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan bahwa 5-8% anak prasekolah di Indonesia mengalami keterlambatan bicara (speech delay), dengan angka yang lebih tinggi di kota-kota besar seperti Jakarta yang mencapai 21%. Angka ini cukup mengkhawatirkan, dan berbagai penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan erat antara paparan layar gawai yang berlebihan dengan gangguan perkembangan bahasa pada anak.

Artikel ini akan mengulas secara komprehensif bagaimana interaksi satu arah dengan gawai dapat berkontribusi terhadap keterlambatan bicara pada anak, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah dan mengatasinya.

Memahami Perkembangan Bicara Normal pada Anak

Sebelum membahas tentang keterlambatan bicara, penting bagi orang tua untuk memahami tonggak perkembangan (milestones) bicara dan bahasa yang normal pada anak. Perkembangan bahasa sebenarnya sudah dimulai sejak bayi lahir dan berkembang secara bertahap.

Usia 0-3 bulan: Bayi mulai bereaksi terhadap suara dan mengeluarkan suara cooing, yaitu bunyi vokal sederhana seperti “aaa” atau “ooo”.

Usia 4-6 bulan: Bayi mulai menoleh ke sumber suara dan memulai babbling (mengoceh) dengan menggabungkan konsonan dan vokal seperti “bababa” atau “mamama”.

Usia 6-9 bulan: Bayi mengenali namanya ketika dipanggil dan mulai memahami kata-kata sederhana seperti “tidak”.

Usia 9-12 bulan: Bayi mulai menggunakan gestur untuk berkomunikasi, seperti melambaikan tangan atau menunjuk objek yang diinginkan.

Usia 12-18 bulan: Anak mengucapkan kata pertama yang bermakna dan dapat mengikuti instruksi sederhana.

Usia 18-24 bulan: Perbendaharaan kata meningkat menjadi sekitar 50 kata dan anak mulai merangkai dua kata menjadi kalimat sederhana.

Usia 2-3 tahun: Anak dapat menyusun kalimat 2-3 kata dan perbendaharaan kata mencapai 200-300 kata.

Keterlambatan pada salah satu atau lebih tahapan ini dapat menjadi indikasi adanya speech delay yang perlu mendapat perhatian khusus.

Gawai dan Interaksi Satu Arah: Mengapa Ini Berbahaya?

Salah satu kunci utama perkembangan bahasa anak adalah interaksi dua arah dengan orang-orang di sekitarnya. Ketika orang tua berbicara kepada anak, anak mendengarkan, memproses, dan memberikan respons—baik verbal maupun nonverbal. Proses timbal balik ini sangat penting untuk pembentukan koneksi saraf di otak yang berkaitan dengan kemampuan bahasa.

Berbeda dengan interaksi manusia, gawai hanya memberikan komunikasi satu arah. Meskipun tayangan di layar mungkin penuh dengan kata-kata, warna, dan suara yang menarik, anak hanya menjadi penerima pasif tanpa kesempatan untuk merespons dan berlatih berkomunikasi. Penelitian yang dimuat dalam jurnal BMC Public Health tahun 2024 dengan sampel lebih dari 31.000 anak di Denmark menemukan bahwa penggunaan gawai selama satu jam atau lebih per hari secara signifikan terkait dengan gangguan pemahaman bahasa dan kemampuan berbahasa ekspresif pada balita.

Mekanisme Gangguan Perkembangan Bahasa

Tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam jurnal Cureus tahun 2023 mengidentifikasi beberapa mekanisme bagaimana paparan layar yang berlebihan dapat mengganggu perkembangan bahasa anak:

Pertama, berkurangnya interaksi orang tua-anak. Waktu yang dihabiskan anak di depan layar adalah waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk berbicara, bermain, dan berinteraksi dengan orang tua. Studi menunjukkan bahwa ketika layar menyala, jumlah dan kualitas percakapan antara orang tua dan anak menurun secara drastis.

Kedua, hilangnya kesempatan serve and return. Perkembangan otak anak sangat bergantung pada interaksi “saling merespons” (serve and return) dengan pengasuh. Ketika anak “menyajikan” komunikasi (baik berupa ocehan, gestur, atau kata), dan orang dewasa “mengembalikan” dengan respons yang sesuai, koneksi saraf untuk bahasa dan komunikasi diperkuat. Gawai tidak mampu memberikan respons yang adaptif seperti manusia.

Ketiga, overstimulasi sensorik. Tayangan digital dengan pergantian gambar yang cepat, warna mencolok, dan suara yang intens dapat menciptakan stimulasi berlebih (sensory overload) yang justru mengganggu kemampuan anak untuk fokus pada aspek-aspek bahasa yang lebih halus dalam komunikasi sehari-hari.

Keempat, gangguan pada tatap muka dan kontak mata. Anak belajar bahasa tidak hanya dari kata-kata, tetapi juga dari ekspresi wajah, gerak bibir, dan kontak mata. Layar gawai tidak dapat menggantikan kompleksitas komunikasi nonverbal yang diperoleh dari interaksi tatap muka langsung.

Bukti Ilmiah: Hubungan Gawai dan Keterlambatan Bicara

Berbagai penelitian terbaru semakin memperkuat hubungan antara penggunaan gawai yang berlebihan dengan risiko keterlambatan bicara pada anak.

Sebuah penelitian case-control yang diterbitkan dalam BMC Pediatrics tahun 2024 yang dilakukan di Ethiopia menemukan bahwa waktu layar lebih dari dua jam per hari merupakan faktor risiko signifikan terjadinya keterlambatan bicara dan bahasa pada anak, dengan risiko tiga kali lebih tinggi dibandingkan anak yang paparannya terbatas.

Studi lain di Dubai dan Uni Emirat Arab yang diterbitkan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa prevalensi keterlambatan bicara meningkat seiring bertambahnya durasi penggunaan gawai. Pada anak dengan waktu layar lebih dari empat jam per hari, 40% di antaranya mengalami keterlambatan bicara.

Penelitian yang sangat menjanjikan dari Pakistan yang dipublikasikan tahun 2025 menunjukkan hasil yang memberikan harapan. Dalam studi tersebut, anak-anak dengan keterlambatan bicara yang mengurangi waktu layar mereka dari rata-rata 8 jam per hari menjadi kurang dari 30 menit selama tiga bulan menunjukkan peningkatan perbendaharaan kata yang signifikan—dari hampir tidak ada kata menjadi rata-rata 76 kata. Sementara itu, kelompok kontrol yang tidak mengurangi waktu layar hanya menambah sekitar 3 kata dalam periode yang sama.

Tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Cureus tahun 2023 juga menyimpulkan bahwa pengenalan gawai pada usia yang sangat dini (sebelum 24 bulan) dikaitkan dengan keterlambatan bicara, sementara pengenalan pada usia yang lebih matang (24 bulan ke atas) justru dapat mendukung perkembangan bahasa jika dilakukan dengan tepat.

Tanda-tanda Peringatan Keterlambatan Bicara

Orang tua perlu mengenali tanda-tanda peringatan (red flags) keterlambatan bicara agar dapat melakukan deteksi dan intervensi sedini mungkin. Berdasarkan pedoman dari IDAI dan berbagai sumber medis, berikut adalah tanda-tanda yang perlu diwaspadai:

Usia 6 bulan:

  • Tidak bereaksi terhadap suara atau musik
  • Tidak mengeluarkan suara cooing atau babbling
  • Tidak merespons saat namanya dipanggil

Usia 12 bulan:

  • Tidak mengoceh atau mengeluarkan suara komunikatif
  • Tidak menggunakan gestur seperti menunjuk atau melambaikan tangan
  • Tidak mencari sumber suara dari samping atau belakang

Usia 15-18 bulan:

  • Tidak mengucapkan kata bermakna seperti “mama” atau “papa”
  • Tidak memahami atau mengikuti instruksi sederhana
  • Tidak menunjuk objek yang diminati

Usia 2 tahun:

  • Perbendaharaan kata kurang dari 25 kata
  • Tidak dapat merangkai dua kata menjadi frasa sederhana
  • Tidak menunjuk gambar atau bagian tubuh yang disebutkan
  • Ucapan sulit dipahami oleh orang yang tinggal serumah

Usia 3 tahun:

  • Perbendaharaan kata kurang dari 200 kata
  • Tidak dapat menyusun kalimat 3 kata
  • Ucapan tidak dapat dipahami oleh orang asing
  • Tidak dapat mengikuti perintah bertahap

Selain tanda-tanda berdasarkan usia, orang tua juga perlu waspada jika anak:

  • Mengalami kemunduran kemampuan berbicara yang sudah dikuasai sebelumnya
  • Tidak menunjukkan minat untuk berkomunikasi dengan orang lain
  • Lebih memilih bermain sendiri dan menghindari kontak mata
  • Mengulang kata atau frasa secara berlebihan tanpa konteks

Rekomendasi Waktu Layar untuk Anak

Berbagai organisasi kesehatan dunia telah mengeluarkan panduan mengenai batas waktu layar yang aman untuk anak. Berikut adalah rekomendasi dari tiga lembaga utama:

World Health Organization (WHO)

WHO melalui pedoman tahun 2019 memberikan rekomendasi yang cukup ketat:

  • Bayi di bawah 1 tahun: Tidak direkomendasikan sama sekali
  • Usia 1 tahun: Tidak direkomendasikan
  • Usia 2 tahun: Maksimal 1 jam per hari, semakin sedikit semakin baik
  • Usia 3-4 tahun: Maksimal 1 jam per hari, semakin sedikit semakin baik

American Academy of Pediatrics (AAP)

AAP memberikan panduan yang lebih fleksibel namun tetap membatasi:

  • Di bawah 18 bulan: Hindari penggunaan media layar, kecuali video call dengan keluarga
  • Usia 18-24 bulan: Jika diperkenalkan, pilih konten berkualitas tinggi dan tonton bersama orang tua
  • Usia 2-5 tahun: Maksimal 1 jam per hari dengan konten edukatif berkualitas dan pendampingan orang tua
  • Di atas 6 tahun: Pastikan waktu layar tidak mengganggu tidur, aktivitas fisik, dan kegiatan penting lainnya

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

IDAI memberikan panduan yang selaras dengan rekomendasi internasional:

  • Usia 0-2 tahun: Tidak dianjurkan sama sekali, kecuali video call dengan pendampingan untuk berinteraksi dengan keluarga yang berjauhan
  • Usia 2-3 tahun: Maksimal 30 menit hingga 1 jam per hari, semakin sedikit semakin baik
  • Usia 3-5 tahun: Maksimal 1 jam per hari dengan pendampingan
  • Usia 6-12 tahun: Maksimal 1-2 jam per hari dengan konten berkualitas dan edukatif

Penting untuk dicatat bahwa semua rekomendasi ini menekankan pentingnya pendampingan orang tua dan pemilihan konten yang berkualitas ketika anak menggunakan gawai.

Langkah-langkah Pencegahan dan Penanganan

Pencegahan

1. Prioritaskan Interaksi Dua Arah

Interaksi langsung dengan anak adalah fondasi utama perkembangan bahasa. Ajak anak berbicara dalam kegiatan sehari-hari, jelaskan apa yang sedang dilakukan, dan berikan respons yang hangat terhadap setiap upaya komunikasi anak.

2. Bacakan Buku Sejak Dini

Membacakan buku untuk anak adalah salah satu cara paling efektif untuk mengembangkan kemampuan bahasa. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membaca bersama dapat menjadi “penyangga” terhadap dampak negatif waktu layar terhadap pemahaman bahasa.

3. Ciptakan Zona dan Waktu Bebas Gawai

Tetapkan area-area di rumah yang bebas dari gawai, seperti meja makan dan kamar tidur anak. Tentukan juga waktu-waktu tertentu yang bebas gawai, misalnya saat makan bersama dan satu jam sebelum tidur.

4. Jadilah Teladan

Anak meniru perilaku orang tua. Jika orang tua terus-menerus memandangi layar ponsel, anak akan menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang normal. Batasi penggunaan gawai sendiri, terutama saat bersama anak.

5. Pilih Konten dengan Bijak

Jika anak memang harus menggunakan gawai, pilih konten edukatif yang interaktif dan sesuai usia. Program seperti Sesame Street atau tayangan PBS Kids telah dirancang dengan pemahaman tentang perkembangan anak dan dapat memberikan manfaat jika ditonton bersama orang tua.

6. Ganti dengan Aktivitas Interaktif

Alih-alih menggunakan gawai sebagai “penenang” saat anak rewel, sediakan alternatif yang lebih sehat seperti mainan balok, buku bergambar, permainan peek-a-boo, bernyanyi bersama, atau bermain di luar ruangan.

Penanganan bagi Anak yang Sudah Mengalami Keterlambatan

1. Kurangi Waktu Layar Secara Bertahap

Berdasarkan bukti ilmiah, pengurangan waktu layar secara signifikan dapat membantu anak mengejar keterlambatan bicaranya. Targetkan pengurangan hingga kurang dari 30 menit per hari atau bahkan menghentikan sama sekali untuk sementara waktu.

2. Tingkatkan Stimulasi Verbal

Ajak anak berbicara sesering mungkin. Gunakan bahasa yang jelas dengan artikulasi yang benar (hindari bahasa bayi). Jelaskan setiap kegiatan yang dilakukan dan beri kesempatan anak untuk merespons.

3. Konsultasikan ke Profesional

Jika terdapat tanda-tanda peringatan keterlambatan bicara, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak atau dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang. Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk menentukan penyebab dan rencana tata laksana yang sesuai.

4. Jalani Terapi Wicara

Jika direkomendasikan oleh dokter, terapi wicara dengan terapis yang berkualifikasi dapat membantu anak mengembangkan kemampuan bicara dan bahasanya. Terapi ini biasanya melibatkan berbagai teknik untuk melatih artikulasi, memperluas kosakata, dan meningkatkan kemampuan komunikasi.

5. Libatkan Seluruh Keluarga

Penanganan keterlambatan bicara membutuhkan konsistensi dari seluruh anggota keluarga. Pastikan semua pengasuh, termasuk kakek-nenek dan pengasuh anak, memahami pentingnya membatasi gawai dan meningkatkan interaksi verbal dengan anak.

Kapan Harus ke Dokter?

Orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak jika:

  1. Anak menunjukkan salah satu atau lebih tanda peringatan (red flags) keterlambatan bicara sesuai usianya
  2. Anak mengalami kemunduran kemampuan bicara yang sudah dikuasai sebelumnya
  3. Anak tidak menunjukkan respons terhadap suara atau musik keras
  4. Anak lebih suka bermain sendiri dan menghindari kontak mata
  5. Orang tua merasa khawatir dengan perkembangan bicara anak, meskipun tidak ada tanda yang jelas

Deteksi dan intervensi dini sangat penting karena semakin cepat masalah diidentifikasi, semakin besar peluang anak untuk mengejar keterlambatannya dan berkembang optimal.

Penutup

Gawai adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, dan tidak realistis untuk menghindarinya sepenuhnya. Namun, sebagai orang tua, kita memiliki tanggung jawab untuk melindungi anak dari dampak negatif penggunaan gawai yang berlebihan, terutama pada periode kritis perkembangan otak dan bahasa di tahun-tahun awal kehidupan.

Keterlambatan bicara akibat paparan gawai yang berlebihan bukanlah kondisi yang tidak dapat diperbaiki. Dengan mengurangi waktu layar, meningkatkan interaksi verbal yang berkualitas, dan mendapatkan penanganan profesional jika diperlukan, anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara dapat mengejar ketertinggalannya.

Kunci utamanya adalah keseimbangan. Gawai dapat menjadi alat yang bermanfaat jika digunakan dengan bijak—dalam durasi yang terbatas, dengan konten yang tepat, dan dengan pendampingan orang tua. Namun, tidak ada teknologi yang dapat menggantikan kehangatan suara orang tua, tatapan mata yang penuh kasih, dan percakapan sehari-hari yang menjadi fondasi perkembangan bahasa anak.

Mari kita kembalikan suara kita ke dalam kehidupan anak-anak kita, karena kata-kata yang kita ucapkan hari ini adalah bekal mereka untuk berkomunikasi seumur hidup.


Daftar Referensi

Alamri, M. M., Alrehaili, M. A., Albariqi, W., Alshehri, M. S., Alotaibi, K. B., & Algethami, A. M. (2023). Relationship between speech delay and smart media in children: A systematic review. Cureus, 15(9), e45396. https://doi.org/10.7759/cureus.45396

Alsaadi, F. A., Muzeera, F., Shabrina, F., Jafri, N. F., Jafri, R. F., AlOlama, F., & Farghaly, S. (2024). Relationship between screen usage and speech delay in children aged one to four years in Dubai and the Northern Emirates. Cureus, 16(11), e73488. https://doi.org/10.7759/cureus.73488

American Academy of Pediatrics. (2024). Screen time guidelines. https://www.aap.org/en/patient-care/media-and-children/

Chong, W. W., Abd Rahman, F. N., & Harun, N. A. (2022). Screen time of children with speech delay: A cross-sectional study in a tertiary center in Kuantan, Malaysia. Pediatrics International, 64(1), e15105. https://doi.org/10.1111/ped.15105

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2020). Rekomendasi IDAI tentang screen time pada anak. https://www.idai.or.id/

Kucker, S. C., Barr, R. F., & Perry, L. K. (2026). Videos and vocabulary: How digital media use impacts the types of words children know. Developmental Science, 29(1), e70091. https://doi.org/10.1111/desc.70091

Moges, F. Y., Mengistu, Z., & Tilahun, S. W. (2024). Determinants of speech and language delay among children aged 12 months to 12 years at Yekatit 12 Hospital, Addis Ababa, Ethiopia: A case-control study. BMC Pediatrics, 24(1), 393. https://doi.org/10.1186/s12887-024-04862-4

Muppalla, S. K., Vuppalapati, S., Reddy Pulliahgaru, A., & Sreenivasulu, H. (2023). Effects of excessive screen time on child development: An updated review and strategies for management. Cureus, 15(6), e40608. https://doi.org/10.7759/cureus.40608

Rashid, M., Jalil, J., Abbas Mehdi, S. A., & Mahboob, F. (2025). Effect of reducing screen time in children with speech delay: A pilot study. Journal of the Pakistan Medical Association, 75(5), 717-720. https://doi.org/10.47391/JPMA.11437

Rayce, S. B., Okholm, G. T., & Flensborg-Madsen, T. (2024). Mobile device screen time is associated with poorer language development among toddlers: Results from a large-scale survey. BMC Public Health, 24(1), 1050. https://doi.org/10.1186/s12889-024-18447-4

World Health Organization. (2019). Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age. https://www.who.int/publications/i/item/9789241550536

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar