A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Dalam tiga dekade terakhir, dunia menyaksikan peningkatan dramatis kasus rabun jauh atau miopia pada anak-anak dan remaja. Kondisi ini telah bergeser dari sekadar masalah penglihatan yang mudah dikoreksi dengan kacamata menjadi kekhawatiran kesehatan masyarakat global. Di Indonesia, data menunjukkan sekitar 3,6 juta anak mengalami kelainan refraksi, dengan prevalensi gangguan penglihatan pada anak usia sekolah mencapai 10 persen secara nasional. Yang lebih mengkhawatirkan, penelitian Vision Project SPGR Perdami menemukan prevalensi rabun jauh di Jakarta mencapai 40 persen, meningkat empat kali lipat dibandingkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018. Situasi ini menuntut perhatian serius dari para orang tua untuk memahami faktor risiko dan langkah pencegahan yang dapat dilakukan.

Epidemi Global yang Mengkhawatirkan

Data terbaru menunjukkan prevalensi miopia pada anak dan remaja di seluruh dunia meningkat dari 24,32 persen pada tahun 1990 menjadi 35,81 persen pada tahun 2023. Proyeksi memperkirakan angka ini akan mencapai 39,80 persen pada tahun 2050, setara dengan hampir 740 juta anak yang terdampak. Kawasan Asia Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia, menunjukkan angka tertinggi. Di Tiongkok, prevalensi miopia pada remaja usia 15-19 tahun mencapai 68,9 persen, dengan 9,9 persen mengalami miopia tinggi. Jepang bahkan mencatat prevalensi hingga 86 persen, diikuti Korea Selatan dengan 73,9 persen.

Pandemi COVID-19 menjadi katalis yang mempercepat tren ini. Penelitian di Guangzhou, Tiongkok, menemukan bahwa selama periode pandemi, prevalensi miopia pada siswa kelas 3 meningkat dari 13,3 persen menjadi 20,8 persen hanya dalam satu tahun. Pergeseran refraksi tahunan juga memburuk secara signifikan dibandingkan periode sebelum pandemi. Pembatasan aktivitas luar ruangan dan peningkatan pembelajaran daring menjadi faktor utama di balik percepatan ini.

Memahami Miopia: Lebih dari Sekadar Mata Minus

Miopia atau rabun jauh adalah kondisi ketika mata tidak mampu memfokuskan bayangan benda jauh tepat pada retina. Hal ini terjadi karena bola mata tumbuh terlalu panjang dari depan ke belakang, sehingga cahaya yang masuk jatuh di depan retina dan menyebabkan penglihatan jauh menjadi kabur. Kondisi ini bersifat progresif, artinya derajat minus cenderung terus bertambah, terutama selama masa pertumbuhan anak.

Yang perlu dipahami orang tua adalah bahwa miopia bukan sekadar ketidaknyamanan yang dapat diselesaikan dengan kacamata. Miopia tinggi (lebih dari minus 5 dioptri) meningkatkan risiko berbagai komplikasi serius di kemudian hari, seperti ablasi retina (lepasnya lapisan retina dari dinding mata), degenerasi makula miopik, glaukoma (peningkatan tekanan bola mata yang merusak saraf optik), dan katarak dini. Kondisi-kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen hingga kebutaan yang tidak dapat dikoreksi dengan kacamata atau lensa kontak.

Anak yang mengalami miopia sebelum usia sembilan tahun berisiko lebih tinggi berkembang menjadi miopia tinggi. Selain komplikasi fisik, miopia yang tidak terkoreksi juga berdampak pada prestasi akademik, kepercayaan diri, dan kualitas hidup anak secara keseluruhan.

Faktor Risiko: Mengapa Anak Masa Kini Lebih Rentan?

Peran Genetik

Faktor keturunan memang berperan dalam miopia. Anak dengan kedua orang tua penderita miopia memiliki risiko lebih tinggi. Namun, peningkatan prevalensi yang sangat cepat dalam beberapa dekade terakhir tidak dapat dijelaskan oleh faktor genetik semata. Perubahan genetik dalam populasi membutuhkan waktu generasi, sementara lonjakan kasus miopia terjadi dalam hitungan dekade.

Waktu Layar dan Aktivitas Jarak Dekat

Era digital membawa perubahan fundamental pada pola aktivitas visual anak. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang menggunakan layar digital lebih dari tiga jam sehari memiliki risiko hampir empat kali lipat mengalami miopia dibandingkan anak yang hanya menggunakan satu jam per hari. Dampak negatif ini paling kuat pada anak usia 6-7 tahun, di mana penggunaan layar intensif meningkatkan risiko miopia hingga lima kali lipat.

Bukan hanya layar digital, aktivitas jarak dekat yang berkepanjangan secara umum seperti membaca, menulis, dan mengerjakan tugas dalam jarak pandang pendek juga berkontribusi pada perkembangan miopia. Mata yang terus-menerus memfokuskan pada objek dekat tanpa istirahat cukup mengalami tekanan akomodasi berlebihan yang dapat mendorong pertumbuhan bola mata abnormal.

Gawai dan Anak
Source: BentaraCampus

Kurangnya Aktivitas Luar Ruangan

Berbagai penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan di luar ruangan merupakan faktor protektif paling kuat terhadap perkembangan miopia. Anak yang menghabiskan kurang dari 13 jam per minggu di luar ruangan (kurang dari 2 jam per hari) memiliki risiko miopia yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan anak yang aktif di luar ruangan lebih dari 22,5 jam per minggu.

Mekanisme protektif cahaya luar ruangan diduga terkait dengan intensitas cahaya yang jauh lebih tinggi dibandingkan pencahayaan dalam ruangan. Cahaya terang merangsang pelepasan dopamin di retina, yang berperan dalam mengatur pertumbuhan bola mata. Intensitas cahaya di luar ruangan, bahkan pada hari mendung, jauh melampaui intensitas pencahayaan dalam ruangan terbaik sekalipun.

Faktor Lain yang Berperan

Penelitian juga mengidentifikasi beberapa faktor lain yang berkaitan dengan risiko miopia pada anak, di antaranya adalah waktu belajar yang terlalu panjang, kurang tidur, postur membaca dan menulis yang tidak tepat, serta asupan gula berlebihan. Status sosial ekonomi keluarga juga mempengaruhi pola aktivitas anak, dengan anak dari keluarga berstatus ekonomi tinggi cenderung memiliki waktu layar lebih singkat dan aktivitas luar ruangan lebih banyak.

Pencegahan: Langkah-Langkah yang Dapat Dilakukan Orang Tua

Prioritaskan Aktivitas Luar Ruangan

Rekomendasi para ahli sangat jelas: anak membutuhkan minimal dua jam aktivitas luar ruangan setiap hari. Semakin banyak waktu di luar ruangan, semakin baik perlindungan terhadap miopia. Penelitian menunjukkan bahwa menambah 76 menit aktivitas luar ruangan per hari dapat mengurangi risiko miopia hingga 50 persen. Uji klinis di Tiongkok membuktikan bahwa penambahan 40 menit aktivitas luar ruangan di sekolah setiap hari dapat menurunkan insidensi miopia secara signifikan.

Kabar baiknya, jenis aktivitas yang dilakukan tidak terlalu berpengaruh. Entah anak bermain, berolahraga, atau sekadar duduk membaca di teras, manfaat cahaya luar ruangan tetap diperoleh. Yang terpenting adalah paparan terhadap intensitas cahaya alami yang tinggi. Bahkan saat anak mengenakan topi dan kacamata hitam untuk perlindungan dari sinar ultraviolet, intensitas cahaya yang mencapai mata tetap jauh lebih tinggi dari kondisi dalam ruangan manapun.

Terapkan Aturan Penggunaan Layar

Akademi Pediatri Amerika merekomendasikan pembatasan waktu layar untuk hiburan (di luar keperluan sekolah) maksimal dua jam per hari untuk anak usia sekolah. Untuk anak prasekolah, batasnya lebih ketat lagi. Orang tua perlu membedakan antara penggunaan layar untuk pembelajaran yang memang diperlukan dengan penggunaan untuk hiburan yang dapat dikurangi.

Selain durasi, jarak pandang juga penting. Ajari anak untuk tidak memegang perangkat terlalu dekat dengan mata. Gunakan prinsip “siku” dimana jarak minimal antara mata dan layar adalah sepanjang lengan bawah anak dari siku hingga ujung jari.

Terapkan Aturan 20-20-20

Untuk mengurangi kelelahan mata akibat aktivitas jarak dekat, terapkan aturan 20-20-20: setiap 20 menit melakukan aktivitas yang membutuhkan penglihatan dekat, istirahatkan mata selama 20 detik dengan memandang objek yang berjarak minimal 20 kaki (sekitar 6 meter). Aturan sederhana ini membantu mengendurkan otot akomodasi mata yang tegang akibat fokus pada jarak dekat dalam waktu lama.

Perhatikan Lingkungan Belajar

Pastikan pencahayaan ruangan belajar memadai, idealnya kombinasi cahaya alami dan lampu dengan intensitas yang cukup. Jarak antara mata dan buku atau layar saat belajar sebaiknya dijaga minimal 30-40 sentimeter. Postur duduk yang tegak dengan dada tidak menempel ke meja juga penting untuk menjaga jarak pandang yang sehat.

Pastikan Tidur Cukup

Penelitian menunjukkan bahwa tidur yang cukup berperan sebagai faktor protektif terhadap miopia. Anak usia sekolah membutuhkan 9-11 jam tidur setiap malam. Kurang tidur tidak hanya mempengaruhi kesehatan mata, tetapi juga kemampuan konsentrasi dan prestasi akademik secara keseluruhan.

Deteksi Dini dan Pemeriksaan Rutin

Orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda yang mungkin mengindikasikan gangguan penglihatan pada anak, seperti kebiasaan menyipitkan mata saat melihat objek jauh, mendekatkan buku atau perangkat ke wajah, sering mengeluh sakit kepala, atau penurunan prestasi akademik tanpa penyebab jelas. Anak yang sering duduk terlalu dekat dengan televisi atau memilih kursi paling depan di kelas juga patut dicurigai mengalami masalah penglihatan.

Pemeriksaan mata rutin sangat dianjurkan, idealnya setiap tahun untuk anak usia sekolah. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah meluncurkan program pekan deteksi dini gangguan penglihatan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Deteksi dini memungkinkan intervensi tepat waktu sebelum kondisi memburuk.

Penanganan Miopia pada Anak

Jika anak sudah terdiagnosis miopia, beberapa opsi penanganan tersedia untuk memperlambat progresinya. Koreksi dengan kacamata atau lensa kontak biasa tidak menghentikan progresivitas miopia, melainkan hanya mengoreksi penglihatan. Namun, beberapa intervensi telah terbukti efektif memperlambat pertambahan minus, di antaranya adalah tetes mata atropin dosis rendah yang diberikan setiap malam, lensa kontak khusus dengan desain kontrol miopia, lensa ortokeratologi (lensa kontak yang dipakai saat tidur untuk membentuk ulang kornea sementara), dan kacamata dengan lensa desain khusus untuk kontrol miopia.

Pemilihan metode penanganan harus dikonsultasikan dengan dokter spesialis mata yang akan mempertimbangkan usia anak, derajat dan kecepatan progresivitas miopia, serta faktor individual lainnya. Pendekatan kombinasi antara intervensi medis dan modifikasi gaya hidup memberikan hasil optimal.

Kesimpulan

Miopia pada anak adalah masalah kesehatan yang dapat dicegah. Di era digital ini, tantangan utama adalah menyeimbangkan kebutuhan pembelajaran berbasis teknologi dengan kebutuhan biologis mata anak untuk mendapat paparan cahaya luar ruangan yang cukup. Orang tua memiliki peran sentral dalam membentuk kebiasaan sehat anak, mulai dari mengatur waktu layar, memastikan aktivitas luar ruangan yang cukup, hingga memeriksakan mata anak secara rutin.

Mengingat dampak jangka panjang miopia yang serius, investasi waktu dan perhatian orang tua untuk menjaga kesehatan mata anak merupakan langkah yang sangat berharga. Dengan kesadaran dan tindakan pencegahan yang tepat, kita dapat melindungi generasi mendatang dari epidemi miopia yang mengancam kualitas hidup mereka di masa depan.


Daftar Referensi

Aslan, F., & Sahinoglu-Keskek, N. (2021). The effect of home education on myopia progression in children during the COVID-19 pandemic. Eye, 36(7), 1427–1432. https://doi.org/10.1038/s41433-021-01655-2

Dong, W., Fu, K., Zhang, Y., Li, Y., Liu, C., Wang, Z., Li, Y., Song, B., & Du, Z. (2025). Hyperopic reserve as a predictor of myopia incidence in schoolchildren aged 6–12 years: A 24-month prospective cohort study. Frontiers in Public Health, 13, 1660168. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1660168

Fan, Q., Wang, H., Kong, W., Zhang, W., Li, Z., & Wang, Y. (2021). Online learning-related visual function impairment during and after the COVID-19 pandemic. Frontiers in Public Health, 9, 645971. https://doi.org/10.3389/fpubh.2021.645971

Hu, Y., Zhao, F., Ding, X., Zhang, S., Li, Z., Guo, Y., Feng, Z., Tang, X., Li, Q., Guo, L., Lu, C., Yang, X., & He, M. (2021). Rates of myopia development in young Chinese schoolchildren during the outbreak of COVID-19. JAMA Ophthalmology, 139(10), 1115–1121. https://doi.org/10.1001/jamaophthalmol.2021.3563

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, Oktober 10). Sayangi mata anak sedari dini untuk investasi masa depan. https://kemkes.go.id/id/sayangi-mata-anak-sedari-dini-untuk-investasi-masa-depan

Li, Q., Guo, L., Zhang, J., Zhao, F., Hu, Y., Guo, Y., Du, X., Zhang, S., Yang, X., & Lu, C. (2021). Effect of school-based family health education via social media on children’s myopia and parents’ awareness: A randomized clinical trial. JAMA Ophthalmology, 139(11), 1165–1172. https://doi.org/10.1001/jamaophthalmol.2021.3695

Liang, J., Pu, Y., Chen, J., Liu, M., Ouyang, B., Jin, Z., Ge, W., Wu, Z., Yang, X., Qin, C., Wang, C., Huang, S., Jiang, N., Hu, L., Zhang, Y., Gui, Z., Pu, X., Huang, S., & Chen, Y. (2025). Global prevalence, trend and projection of myopia in children and adolescents from 1990 to 2050: A comprehensive systematic review and meta-analysis. British Journal of Ophthalmology, 109(3), 362–371. https://doi.org/10.1136/bjo-2024-325427

Mukazhanova, A., Aldasheva, N., Iskakbayeva, J., Bakhytbek, R., Ualiyeva, A., Baigonova, K., Ongarbaeva, D., & Vinnikov, D. (2022). Prevalence of refractive errors and risk factors for myopia among schoolchildren of Almaty, Kazakhstan: A cross-sectional study. PLoS ONE, 17(6), e0269474. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0269474

Tariq, F., Mobeen, R., Wang, X., Lin, X., Bao, Q., Liu, J., & Gao, H. (2023). Advances in myopia prevention strategies for school-aged children: A comprehensive review. Frontiers in Public Health, 11, 1226438. https://doi.org/10.3389/fpubh.2023.1226438

Wong, C. W., Tsai, A., Jonas, J. B., Ohno-Matsui, K., Chen, J., Ang, M., & Ting, D. S. W. (2020). Digital screen time during the COVID-19 pandemic: Risk for a further myopia boom? American Journal of Ophthalmology, 223, 333–337. https://doi.org/10.1016/j.ajo.2020.07.034

Xiang, Z. Y., & Zou, H. D. (2020). Recent epidemiology study data of myopia. Journal of Ophthalmology, 2020, 4395278. https://doi.org/10.1155/2020/4395278

Zong, B., Li, L., Cui, Y., & Shi, W. (2024). Effects of outdoor activity time, screen time, and family socioeconomic status on physical health of preschool children. Frontiers in Public Health, 12, 1434936. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1434936

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar