Pendahuluan
Pasien dalam kondisi kritis dapat mengalami perburukan kondisi klinis secara cepat yang mengancam jiwa apabila tidak segera dikenali dan ditangani. Studi menunjukkan bahwa hingga 60% pasien yang mengalami perburukan klinis di rumah sakit sebenarnya telah menunjukkan tanda-tanda vital abnormal hingga empat jam sebelum kejadian kritis berlangsung. Keterlambatan pengenalan kondisi kritis merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap morbiditas dan mortalitas pasien di fasilitas kesehatan.
Berbagai pendekatan sistematis telah dikembangkan untuk membantu tenaga medis dan kesehatan dalam mengenali serta menangani pasien dengan kondisi kritis. Pendekatan-pendekatan ini meliputi Basic Life Support (BLS), Advanced Trauma Life Support (ATLS), Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS), dan Fundamental Critical Care Support (FCCS). Selain itu, sistem skor peringatan dini (early warning score) seperti NEWS2, MEWS, dan qSOFA telah divalidasi sebagai alat bantu yang efektif untuk mendeteksi perburukan klinis secara dini.
Artikel ini bertujuan untuk memberikan panduan komprehensif bagi tenaga kesehatan dalam mengenali pasien dengan kondisi kritis melalui pendekatan sistematis yang berbasis bukti ilmiah.
Pendekatan ABCDE: Fondasi Penilaian Sistematis
Pendekatan ABCDE (Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure) merupakan metode penilaian prioritas yang dikembangkan sebagai fondasi dalam mengevaluasi pasien dengan kondisi kritis atau cedera. Pendekatan ini memastikan bahwa ancaman terbesar terhadap kehidupan pasien ditangani terlebih dahulu secara berurutan.
A – Jalan Napas (Airway)
Penilaian jalan napas merupakan prioritas utama karena obstruksi jalan napas dapat menyebabkan kematian dalam hitungan menit. Tenaga kesehatan harus mengevaluasi patensi jalan napas dengan meminta pasien menyebutkan nama; kemampuan pasien menjawab menunjukkan jalan napas yang paten. Tanda-tanda gangguan jalan napas meliputi stridor, suara serak, penggunaan otot bantu napas, dan agitasi akibat hipoksia.
Tanda-tanda obstruksi jalan napas yang perlu dikenali antara lain adanya benda asing, trauma wajah, jelaga atau luka bakar di sekitar hidung dan mulut yang mengindikasikan cedera inhalasi, serta penurunan kesadaran yang dapat menyebabkan hilangnya refleks protektif jalan napas.
B – Pernapasan (Breathing)
Setelah memastikan jalan napas paten, evaluasi pernapasan mencakup frekuensi napas, kedalaman, irama, dan efektivitas pernapasan. Frekuensi napas merupakan salah satu parameter terpenting dalam mendeteksi perburukan klinis. Takipnea atau bradipnea pada pasien sakit akut dapat menjadi tanda klinis awal dari kondisi yang mengancam jiwa.
Parameter yang dinilai meliputi frekuensi napas (normal 12-20 kali per menit pada dewasa), saturasi oksigen, penggunaan otot bantu napas, simetrisitas gerakan dinding dada, serta adanya suara napas abnormal seperti ronki, mengi, atau penurunan suara napas.
C – Sirkulasi (Circulation)
Penilaian sirkulasi bertujuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda syok dan perdarahan. Tanda awal gangguan sirkulasi meliputi takikardia, takipnea, tekanan nadi yang menyempit, perlambatan pengisian kapiler, dan ekstremitas dingin. Tanda lanjut berupa hipotensi, perubahan status mental, dan penurunan produksi urin.
Evaluasi sirkulasi mencakup denyut jantung, tekanan darah, pengisian kapiler, warna dan suhu kulit, serta tingkat kesadaran sebagai indikator perfusi serebral.
D – Disabilitas (Disability)
Penilaian neurologis cepat menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) atau metode AVPU (Alert, Verbal, Pain, Unresponsive). Perubahan tingkat kesadaran atau munculnya kebingungan baru merupakan indikator penting dari perburukan kondisi pasien.
Selain tingkat kesadaran, evaluasi pupil (ukuran, kesimetrisan, dan reaktivitas terhadap cahaya), kadar glukosa darah, dan tanda-tanda lateralisasi neurologis juga perlu dilakukan.
E – Paparan (Exposure)
Tahap akhir melibatkan pemeriksaan menyeluruh dengan melepaskan pakaian pasien untuk mengidentifikasi cedera atau tanda klinis yang mungkin terlewatkan, sambil menjaga suhu tubuh pasien untuk mencegah hipotermia.
Tinjauan sistematik yang dipublikasikan dalam Resuscitation Plus tahun 2024 menemukan bahwa kepatuhan terhadap pendekatan ABCDE bervariasi antara 18-84% dalam praktik klinis dan 29-97% dalam simulasi. Kehadiran pemimpin tim dan pelatihan simulasi terbukti meningkatkan kepatuhan terhadap pendekatan ini.
Sistem Skor Peringatan Dini (Early Warning Score)
National Early Warning Score 2 (NEWS2)
NEWS2 merupakan sistem skor peringatan dini standar yang digunakan secara luas di Inggris dan semakin banyak diadopsi secara internasional. Sistem ini menggabungkan tujuh parameter fisiologis untuk menghasilkan skor agregat yang menunjukkan tingkat keparahan penyakit dan risiko perburukan.
Tujuh parameter NEWS2 meliputi: frekuensi napas, saturasi oksigen, kebutuhan oksigen tambahan, denyut jantung, tekanan darah sistolik, tingkat kesadaran atau kebingungan baru, dan suhu tubuh. Setiap parameter diberi skor 0-3, dengan skor total berkisar dari 0-20.
Interpretasi skor NEWS2 adalah sebagai berikut: skor rendah (0-4) menunjukkan risiko rendah, skor sedang (5-6) atau skor 3 pada parameter tunggal menunjukkan peningkatan risiko yang memerlukan respons klinis mendesak, dan skor tinggi (≥7) menunjukkan risiko tinggi yang memerlukan respons darurat.
Studi menunjukkan bahwa NEWS2 memiliki kemampuan prediktif yang baik hingga sangat baik. Penelitian di Malaysia yang dipublikasikan tahun 2025 menemukan bahwa NEWS2 menunjukkan area under the receiver operating characteristic curve (AUROC) sebesar 0,71 untuk prediksi rawat inap, 0,75 untuk admisi ke unit perawatan kritis, dan 0,86 untuk mortalitas di rumah sakit.
Modified Early Warning Score (MEWS)
MEWS merupakan alat yang telah divalidasi untuk identifikasi dini pasien yang mengalami perburukan. Studi prospektif di Malawi yang dipublikasikan tahun 2025 menunjukkan bahwa MEWS efektif dalam mengidentifikasi pasien bedah berisiko tinggi, dengan skor MEWS sebagai satu-satunya prediktor signifikan mortalitas 30 hari pada analisis regresi logistik multivariabel.
Studi multisenter di Tehran yang membandingkan NEWS dan MEWS pada pasien respiratorik menemukan bahwa NEWS memiliki kemampuan prediktif yang sedikit lebih superior dibandingkan MEWS untuk admisi unit perawatan intensif, dengan AUROC NEWS sebesar 0,761 dibandingkan MEWS sebesar 0,729.
Quick Sequential Organ Failure Assessment (qSOFA)
qSOFA dikembangkan khusus untuk skrining sepsis di luar unit perawatan intensif. Kriteria qSOFA meliputi: frekuensi napas ≥22 kali per menit, perubahan status mental (GCS <15), dan tekanan darah sistolik ≤100 mmHg. Skor qSOFA ≥2 mengindikasikan peningkatan risiko mortalitas atau rawat inap berkepanjangan di unit perawatan intensif.
Meskipun qSOFA memiliki spesifisitas yang baik, beberapa studi menunjukkan bahwa sensitivitasnya lebih rendah dibandingkan NEWS2 dalam mendeteksi perburukan klinis dini pada pasien dengan dugaan sepsis.
Pengenalan Kondisi Kritis Spesifik
Henti Jantung dan Aritmia Mengancam Jiwa (ACLS)
Pedoman Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS) dari American Heart Association (AHA) tahun 2023 menekankan pentingnya pengenalan dini henti jantung dan respons cepat. Pengenalan henti jantung mencakup konfirmasi tidak adanya respons, tidak bernapas atau napas tidak normal (gasping), dan tidak ada nadi.
Empat irama letal yang harus dikenali meliputi asistol, fibrilasi ventrikel, takikardia ventrikel tanpa nadi, dan takikardia ventrikel polimorfik (torsades de pointes). Pedoman ACLS 2025 menekankan RJP berkualitas tinggi (kompresi dada dengan kedalaman 5-6 cm dan kecepatan 100-120 kali per menit), defibrilasi dini untuk irama yang dapat didefibrilasi, serta identifikasi dan koreksi penyebab reversibel.
Mnemonik H dan T membantu mengidentifikasi penyebab henti jantung yang dapat dikoreksi. H meliputi hipoksia, hipovolemia, ion hidrogen (asidosis), hipo/hiperkalemia, dan hipotermia. T meliputi toksin, tamponade jantung, tension pneumothorax, dan trombosis (koroner atau pulmoner).
Pasien Trauma (ATLS)
Advanced Trauma Life Support (ATLS) edisi ke-10 memberikan pendekatan terstruktur untuk penilaian dan penanganan pasien trauma. Konsep trimodal kematian akibat trauma menunjukkan bahwa gelombang kematian pertama terjadi segera akibat cedera otak, jantung, atau pembuluh darah besar. Gelombang kedua terjadi dalam menit hingga beberapa jam (golden period), dan gelombang ketiga terjadi dalam hari hingga minggu akibat sepsis dan kegagalan organ multipel. ATLS berfokus pada gelombang kedua yang merupakan periode di mana intervensi dapat menyelamatkan nyawa.
Primary survey dalam ATLS mengikuti pendekatan ABCDE dengan penekanan pada stabilisasi tulang belakang servikal bersamaan dengan pengelolaan jalan napas, identifikasi cedera dada yang mengancam jiwa, kontrol perdarahan, dan pencegahan hipotermia.
Secondary survey dilakukan setelah pasien stabil, mencakup riwayat lengkap menggunakan mnemonik AMPLE (Allergies, Medications, Past medical history, Last meal, Events) dan pemeriksaan fisik menyeluruh dari kepala hingga kaki.
Pasien Kritis Non-Trauma (FCCS)
Fundamental Critical Care Support (FCCS) dari Society of Critical Care Medicine (SCCM) dirancang untuk melatih tenaga kesehatan non-intensivis dalam mengelola pasien kritis selama 24 jam pertama atau hingga konsultasi perawatan intensif dapat dilakukan.
Kurikulum FCCS mencakup pengenalan dan penilaian pasien sakit serius, pengelolaan jalan napas, resusitasi kardiopulmoner serebral, diagnosis dan penanganan gagal napas akut, ventilasi mekanik, pemantauan keseimbangan oksigen dan status asam basa, diagnosis dan penanganan syok, dukungan neurologis, infeksi yang mengancam jiwa, serta gangguan elektrolit dan metabolik.
Sistem Respons Cepat (Rapid Response System)
Sistem respons cepat atau Medical Emergency Team (MET) merupakan komponen penting dalam mendeteksi dan merespons perburukan klinis pasien di bangsal. Sistem ini memungkinkan eskalasi perawatan kepada tim dengan kompetensi dalam penilaian dan penanganan pasien sakit akut.
Kriteria aktivasi sistem respons cepat umumnya mencakup skor peringatan dini di atas ambang tertentu (misalnya NEWS2 ≥5), perburukan parameter fisiologis tunggal yang signifikan, atau kekhawatiran klinis staf meskipun skor formal tidak memenuhi kriteria.
Studi menunjukkan bahwa implementasi sistem peringatan semi-otomatis yang terintegrasi dengan rekam medis elektronik dapat menurunkan hambatan aktivasi sistem respons cepat tanpa meningkatkan kerja yang tidak perlu. Penelitian di Queensland Children’s Hospital menemukan peningkatan dosis MET sebesar 20% dan penurunan angka mortalitas bangsal sebesar 52% setelah implementasi sistem semi-otomatis.
Penerapan di Indonesia
Dalam konteks pelayanan kesehatan di Indonesia, penerapan pendekatan sistematis untuk mengenali pasien kritis memerlukan adaptasi terhadap kondisi lokal. Beberapa pertimbangan penting meliputi ketersediaan sumber daya dan peralatan pemantauan, rasio tenaga kesehatan terhadap pasien, ketersediaan unit perawatan intensif, dan sistem rujukan.
Pelatihan terstandar seperti BLS, ACLS, ATLS, dan FCCS semakin banyak tersedia di Indonesia dan sangat direkomendasikan untuk tenaga kesehatan yang bekerja di unit gawat darurat, unit perawatan intensif, dan bangsal rawat inap akut. Implementasi sistem skor peringatan dini yang disesuaikan dengan kondisi lokal juga perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan deteksi dini perburukan klinis.
Kesimpulan
Pengenalan dini pasien dengan kondisi kritis merupakan keterampilan esensial bagi seluruh tenaga kesehatan. Pendekatan sistematis ABCDE memberikan kerangka kerja yang terstruktur untuk menilai dan menstabilkan pasien dengan kondisi mengancam jiwa. Sistem skor peringatan dini seperti NEWS2, MEWS, dan qSOFA telah divalidasi sebagai alat yang efektif untuk stratifikasi risiko dan deteksi perburukan klinis.
Integrasi antara penilaian sistematis, sistem skor peringatan dini, dan sistem respons cepat membentuk pendekatan komprehensif yang dapat meningkatkan keselamatan pasien dan menurunkan morbiditas serta mortalitas akibat kondisi kritis yang tidak terdeteksi atau terlambat ditangani. Pelatihan berkelanjutan dan implementasi sistem yang terstandar merupakan kunci keberhasilan dalam mengenali dan mengelola pasien dengan kondisi kritis di berbagai tingkat fasilitas kesehatan.
Daftar Referensi
American Heart Association. (2023). 2023 American Heart Association focused update on adult advanced cardiovascular life support: An update to the American Heart Association guidelines for cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care. Circulation, 149(5), e254-e273. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001194
Bruinink, L. J., Linders, M., de Boode, W. P., Fluit, C. R. M. G., & Hogeveen, M. (2024). The ABCDE approach in critically ill patients: A scoping review of assessment tools, adherence and reported outcomes. Resuscitation Plus, 20, 100763. https://doi.org/10.1016/j.resplu.2024.100763
Batieh, A., Altwer, N. A. A., Mehli, A., Amsha, M., Al Zoubi, B., Hadaki, Z., & Alsaid, B. (2025). Audit and re-audit regarding the current practice of ABCDE approach in the emergency department at selected university hospitals in Syria. International Emergency Nursing, 83, 101691. https://doi.org/10.1016/j.ienj.2025.101691
Daorattanachai, K., Maithong, S., Phungoen, P., Weschawalit, S., & Srivilaithon, W. (2025). Respiratory National Early Warning Score for 28-day mortality prediction in suspected sepsis patients in the emergency department. BMC Emergency Medicine, 26(1), 17. https://doi.org/10.1186/s12873-025-01443-1
Dean, J., & Matharu, P. S. (2022). Using NEWS2: An essential component of reliable clinical assessment. Clinical Medicine, 22(6), 509-513. https://doi.org/10.7861/clinmed.2022-0475
Golsheikhi, M. B., Rooddehghan, Z., Esmaeili, M., & Karimi, R. (2025). Comparing the predictive power of the National Early Warning Score (NEWS) and Modified Early Warning Score (MEWS) for ICU admission in respiratory patients during the COVID-19 pandemic: A multicenter cross-sectional study. International Journal of Emergency Medicine, 18(1), 250. https://doi.org/10.1186/s12245-025-01054-4
Nkhonjera, C., Luo, X., Issa-Boube, M., & Charles, A. (2025). Utility of Modified Early Warning Score in identifying critical illness in surgical patients in a resource-limited setting. The American Surgeon. https://doi.org/10.1177/00031348251399187
Shah, M., Fowler, C., Zahir, F., & Acworth, J. (2025). Effect of introduction of an integrated electronic medical record system with semi-automated multi-trigger MET alerts on utilisation of a paediatric RRS and patient outcome. Resuscitation Plus, 26, 101161. https://doi.org/10.1016/j.resplu.2025.101161
Society of Critical Care Medicine. (2024). Fundamental Critical Care Support (7th ed.). Society of Critical Care Medicine.
van Wijk, R. J., Belur Nagaraj, S., Ter Maaten, J. C., & Bouma, H. R. (2025). Early sepsis prediction in the emergency department using machine learning. American Journal of Emergency Medicine, 99, 143-150. https://doi.org/10.1016/j.ajem.2025.09.034

Tinggalkan komentar