Pernahkah Anda memperhatikan tonjolan keras di sisi dalam pangkal jempol kaki Anda atau orang-orang terdekat? Tonjolan itu bukan sekadar “kapalan tebal” atau akibat sepatu sempit belaka. Dalam dunia kedokteran, kondisi tersebut dikenal sebagai bunion — atau secara klinis disebut hallux valgus — sebuah deformitas tulang kaki yang jauh lebih kompleks dari yang terlihat di permukaan.
Bunion bisa terasa tidak nyaman, membatasi aktivitas sehari-hari, dan mempersulit pemilihan alas kaki. Namun pemahaman masyarakat terhadap kondisi ini masih sering keliru: sebagian menganggapnya hanya masalah kosmetik, sebagian lagi percaya bahwa satu-satunya jalan keluar adalah operasi. Artikel ini akan menguraikan apa sebenarnya bunion, mengapa ia terbentuk, seberapa umum kondisi ini dijumpai, serta pilihan penanganan terkini berdasarkan literatur ilmiah mutakhir.
Apa Itu Bunion (Hallux Valgus)?
Hallux valgus adalah deformitas tiga dimensi pada kaki bagian depan (forefoot), ditandai oleh deviasi jempol kaki (hallux) ke arah luar (ke arah jari-jari lain), sekaligus deviasi tulang metatarsal pertama ke arah dalam (metatarsus primus varus). Tonjolan yang terlihat di sisi dalam pangkal jempol kaki — yang secara awam disebut bunion — sejatinya hanyalah satu komponen dari ketidakselarasan struktural yang lebih luas, mencakup pergeseran sendi, perubahan orientasi otot, dan perpindahan posisi tulang sesamoid di bawah kepala metatarsal pertama.
Berdasarkan artikel yang diindeks PubMed, kondisi ini merupakan salah satu deformitas forefoot yang paling sering dijumpai. Waizy & Claaßen (2025) menyebutkan bahwa prevalensi hallux valgus pada populasi usia 18 hingga 65 tahun mencapai 23%, dan meningkat menjadi 36% pada kelompok usia di atas 65 tahun. Deformitas ini umumnya mulai berkembang pada rentang usia 30 hingga 60 tahun.

Siapa yang Lebih Rentan?
Secara umum, perempuan lebih sering terkena bunion dibandingkan laki-laki. Rasio antara perempuan dan laki-laki dalam beberapa studi dilaporkan mencapai 15:1. Namun ini bukan berarti laki-laki bebas dari kondisi ini. Nery dkk. (2013) menemukan bahwa pada pasien laki-laki, hallux valgus cenderung bersifat herediter — sekitar 68% pasien laki-laki dalam studi mereka memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa, sebagian besar diturunkan dari sisi ibu. Laki-laki juga cenderung mengalami deformitas yang lebih berat dan dengan awitan (onset) yang lebih awal dibanding perempuan.
Faktor risiko yang secara ilmiah dikaitkan dengan hallux valgus meliputi:
Faktor genetik dan struktural. Predisposisi genetik memainkan peran penting, terutama dalam bentuk kelemahan ligamen (ligamentous laxity), keselarasan tulang yang tidak ideal, atau pewarisan pola struktur kaki tertentu. Perera dkk. (2011) dalam ulasan komprehensif mengenai patogenesis hallux valgus menjelaskan bahwa ruas kaki pertama (first ray) secara inheren kurang stabil dan sangat bergantung pada keseimbangan antara stabilisator statis (kapsul sendi, ligamen, fasia plantar) dan dinamis (otot peroneus longus dan otot-otot kecil kaki). Pada kaki dengan predisposisi genetik, keseimbangan ini mudah terganggu.
Alas kaki. Penggunaan sepatu sempit, ujung runcing (pointed toe), atau sepatu hak tinggi mempercepat proses pembentukan bunion dengan mendorong jempol kaki ke posisi yang tidak alami. Namun penting dicatat bahwa alas kaki bukanlah penyebab tunggal — ia lebih berperan sebagai akselerator pada individu yang sudah memiliki predisposisi.
Usia dan jenis kelamin. Jaringan ikat perempuan secara hormonal cenderung lebih lentur, yang berkontribusi pada ketidakstabilan sendi metatarsofalangeal pertama. Proses penuaan juga melemahkan stabilisator statis secara progresif.
Kondisi komorbid. Hallux valgus sering berkaitan dengan kondisi lain seperti pes planus (kaki datar), metatarsus adductus, kontraktur tendo Achilles, dan deformitas jari-jari kaki lainnya seperti hammertoe. Kakagia dkk. (2023) dalam tinjauan mereka tentang masalah kaki pada populasi lansia menyoroti bahwa degenerasi ligamen dan tendon yang menyertai proses penuaan meningkatkan risiko deformitas seperti bunion, tonjolan tulang (bony spurs), dan hallux valgus.
Mekanisme Terbentuknya Bunion: Lebih dari Sekadar Tonjolan
Memahami bunion sebagai sekadar “tulang yang menonjol” adalah penyederhanaan yang menyesatkan. Deformitas ini merupakan proses biomekanik yang berkembang secara bertahap. Berikut adalah rantai kejadian yang terjadi:
Saat tulang metatarsal pertama bergeser ke arah dalam (varus), kepala metatarsal pertama ikut berpindah. Jempol kaki kemudian berdeviaasi ke luar (valgus) karena tarikan tendon yang kini tidak lagi segaris. Posisi tulang sesamoid di bawah kepala metatarsal pun ikut bergeser. Dalam kondisi normal, sesamoid berfungsi sebagai titik tumpuan mekanis yang penting; ketika ia bergeser, distribusi beban tubuh pada kaki terganggu.
Raikov dkk. (2026) meneliti hubungan antara hallux valgus, rotasi metatarsal pertama, dan pergeseran sesamoid menggunakan weight-bearing computed tomography (WBCT). Studi ini menemukan korelasi kuat antara derajat kolaps lengkung kaki dengan sudut rotasi metatarsal pertama (r = 0,72) dan sudut hallux valgus (r = 0,67). Menariknya, rotasi metatarsal pertama tampak sebagai komponen independen yang mungkin merupakan manifestasi awal deformitas, terpisah dari sudut hallux valgus itu sendiri. Temuan ini menunjukkan bahwa evaluasi dan penanganan hallux valgus perlu mempertimbangkan komponen rotasi tulang, bukan hanya deviasi sudut yang terlihat pada rontgen konvensional.
Penonjolan di sisi dalam yang kita lihat merupakan kombinasi dari pergeseran kepala metatarsal dan pembentukan eksofit (exostosis) — pertumbuhan tulang baru akibat gesekan dan tekanan kronis dari alas kaki.
Gejala dan Dampak terhadap Kualitas Hidup
Bunion tidak selalu menimbulkan keluhan; tidak sedikit orang yang memiliki deformitas bermakna secara radiologis tetapi tidak merasakan nyeri signifikan. Namun pada banyak kasus, kondisi ini berdampak luas terhadap fungsi dan kualitas hidup.
Sinha dkk. (2026) melakukan tinjauan sistematis terhadap penelitian kualitatif yang mengkaji hal-hal yang paling penting bagi pasien yang menjalani operasi hallux valgus. Empat tema utama yang muncul adalah: (1) perbaikan nyeri pada area bunion, (2) kemampuan memakai alas kaki yang lebih beragam, (3) peningkatan kemampuan dalam aktivitas sehari-hari dan fungsi kaki, serta (4) penampilan estetika (cosmesis). Temuan ini menegaskan bahwa bunion bukan masalah estetika semata — nyeri dan keterbatasan fungsional merupakan dampak utama yang dirasakan pasien.
Gejala yang umumnya dilaporkan meliputi:
Nyeri pada tonjolan bunion, terutama saat menggunakan sepatu tertutup atau setelah berdiri/berjalan lama. Pembengkakan, kemerahan, dan rasa panas di sendi metatarsofalangeal pertama. Keterbatasan gerak jempol kaki, terutama saat mendorong ke atas (dorsofleksi). Penebalan kulit (kalus atau bursa) di atas tonjolan akibat gesekan kronis. Gangguan gaya berjalan yang dapat memicu nyeri pada kaki lain, lutut, pinggul, hingga punggung bawah akibat kompensasi mekanis.
Penegakan Diagnosis
Diagnosis hallux valgus pada dasarnya dapat ditegakkan secara klinis melalui pemeriksaan fisik yang cermat. Namun penilaian derajat keparahan deformitas dan perencanaan tatalaksana memerlukan pemeriksaan radiologis.
Rontgen kaki dalam posisi menumpu berat badan (weight-bearing X-ray) merupakan standar baku untuk mengukur sudut-sudut penting, terutama:
Hallux valgus angle (HVA): sudut antara sumbu panjang metatarsal pertama dan falang proksimal jempol kaki. Normal < 15°; deformitas ringan 15–25°, sedang 25–40°, berat > 40°.
Intermetatarsal angle (IMA): sudut antara metatarsal pertama dan kedua. Normal < 9°; deformitas ringan 9–11°, sedang 11–16°, berat > 16°.
Pemeriksaan mutakhir seperti weight-bearing CT (WBCT) kini semakin banyak digunakan untuk evaluasi tiga dimensi yang lebih komprehensif, terutama dalam perencanaan bedah. Waizy & Claaßen (2025) juga menekankan pentingnya menyingkirkan diagnosis banding, khususnya hallux rigidus — perubahan degeneratif sendi metatarsofalangeal pertama yang merupakan penyebab nyeri kedua tersering pada sendi tersebut dan dapat terjadi bersamaan dengan hallux valgus.
Penanganan: Dari Konservatif hingga Pembedahan
Pendekatan Konservatif
Pendekatan non-bedah menjadi lini pertama dalam penanganan bunion. Tujuannya bukan untuk mengoreksi deformitas secara anatomis — karena bukti ilmiah menunjukkan hal ini sulit dicapai tanpa pembedahan — melainkan untuk mengurangi nyeri, memperlambat progresi, dan meningkatkan fungsi.
Khan & Patil (2024) merangkum berbagai pendekatan terapeutik konservatif yang tersedia, meliputi:
Modifikasi alas kaki. Penggunaan sepatu dengan kotak jari (toe box) yang lebar, bantalan ekstra, dan hindaran terhadap hak tinggi merupakan langkah paling sederhana namun bermakna. Ini bukan sekadar saran gaya hidup, melainkan intervensi berbasis bukti yang secara langsung mengurangi tekanan mekanis pada bunion.
Ortosis dan bidai (orthosis dan splint). Ortosis kaki dapat membantu redistribusi tekanan plantar dan mendukung posisi kaki yang lebih baik. Bidai malam (night splint) digunakan untuk mempertahankan jempol kaki pada posisi yang lebih lurus saat istirahat. Küllünkoğlu dkk. (2021) melakukan uji klinis acak pada 60 perempuan dengan hallux valgus bilateral, membandingkan tiga modalitas: bidai malam, latihan, dan stimulasi galvanik tegangan tinggi. Ketiga kelompok menunjukkan perbaikan bermakna pada sudut HVA, IMA, dan kualitas hidup terkait kaki. Namun kelompok bidai malam menunjukkan penurunan IMA dan skor nyeri yang lebih baik dibandingkan dua kelompok lainnya.
Latihan fisik. Program latihan yang menargetkan otot-otot intrinsik kaki — terutama short foot exercise — terbukti meningkatkan kekuatan otot abduktor jempol kaki, memperbaiki postur kaki belakang, dan meningkatkan tinggi lengkung plantar. Moreno-Fresco dkk. (2026) dalam tinjauan scoping mereka menyimpulkan bahwa penguatan otot intrinsik plantar, baik melalui short foot exercise maupun kombinasi teknik, efektif dalam penanganan kaki datar pada orang dewasa — kondisi yang sering menyertai hallux valgus.
Terapi manual dan fisioterapi. Mobilisasi sendi bertujuan memperluas kapsul sendi dan jaringan lunak yang membatasi pergerakan. Latihan peregangan (stretching) membantu memulihkan range of motion yang berkurang akibat pemendekan jaringan lunak.
Kapan Perlu Operasi?
Pembedahan dipertimbangkan ketika penanganan konservatif selama periode yang adekuat gagal mengendalikan gejala, atau ketika deformitas sudah sedemikian berat sehingga mengganggu kualitas hidup secara signifikan. Penting untuk dipahami bahwa indikasi utama operasi bunion adalah nyeri dan gangguan fungsi yang tidak tertangani — bukan semata-mata penampilan estetika.
Saat ini terdapat lebih dari 130 teknik operasi yang telah dilaporkan untuk koreksi hallux valgus, mencerminkan kompleksitas kondisi ini dan beragamnya pertimbangan klinis yang harus disesuaikan untuk tiap pasien.
Secara umum, pendekatan bedah dapat dibagi dalam beberapa kategori:
Osteotomi distal. Prosedur seperti Chevron osteotomy memotong dan menggeser kepala metatarsal pertama untuk mengurangi sudut deformitas. Cocok untuk kasus ringan hingga sedang.
Osteotomi proksimal atau diafiseal. Untuk deformitas sedang hingga berat, koreksi dilakukan lebih ke proksimal agar koreksi sudut yang lebih besar dapat dicapai.
Artrodesis tarsometatarsal pertama (Lapidus procedure). Diindikasikan terutama pada kasus dengan ketidakstabilan sendi tarsometatarsal pertama, kaki datar signifikan, atau deformitas yang berulang. Prosedur ini menstabilkan pangkal metatarsal pertama dengan cara menyatukan (melebur) sendi tarsometatarsal. Waehner dkk. (2024) dalam meta-analisis mereka yang mencakup 1.176 pasien menunjukkan bahwa plating plantar pada artrodesis Lapidus menghasilkan angka nonunion (kegagalan penyambungan tulang) terendah (0,7%) dibanding teknik sekrup saja (5,3%), dan memungkinkan mobilisasi pasien lebih cepat.
Bedah minimal invasif (minimally invasive surgery/MIS). Pendekatan ini semakin populer dalam dekade terakhir. Dengan menggunakan bur (burr) khusus melalui insisi kecil, osteotomi dapat dilakukan dengan trauma jaringan lunak yang lebih minimal. Yoon dkk. (2023) melaporkan bahwa minimally invasive transverse distal metatarsal osteotomy (MITO) memberikan perbaikan signifikan pada parameter radiologis dan klinis untuk hallux valgus ringan hingga berat. Seki dkk. (2022) juga menunjukkan perbaikan bermakna pada semua subskala kualitas hidup kaki pada pasien yang menjalani distal linear metatarsal osteotomy (DLMO), meskipun angka komplikasi radiologis seperti hallux varus perlu diperhatikan.
Teknik MIS yang kini banyak mendapat perhatian adalah Minimally Invasive Chevron and Akin Osteotomy (MICA). Ramelli dkk. (2024) dalam tinjauan sistematis mereka menyimpulkan bahwa ahli bedah dapat mengharapkan learning curve antara 20 hingga 40 prosedur sebelum mencapai profisiensi teknis dengan MICA — suatu pertimbangan penting dalam pengembangan kompetensi bedah.
Bunion pada Anak dan Remaja
Hallux valgus pada anak dan remaja (juvenile hallux valgus) memiliki karakteristik anatomi yang berbeda dari dewasa, terutama adanya kemiringan lateral permukaan sendi (lateral tilt of the articular facet) dan metatarsus adductus kongenital yang sering menyertai. Knörr dkk. (2021) menekankan bahwa pendekatan terapi pada populasi anak perlu memperhitungkan faktor-faktor ini; menggunakan pendekatan yang sama persis seperti pada dewasa seringkali menghasilkan koreksi yang tidak memuaskan. Osteotomi ganda untuk mengoreksi DMAA (distal metatarsal articular angle) dan varus metatarsal pertama merupakan solusi yang baik pada sebagian besar kasus pediatrik. Pendekatan perkutan juga dinilai efisien pada populasi ini.
Bunion dan Kondisi Penyerta yang Perlu Diwaspadai
Beberapa kondisi dapat memperumit gambaran klinis bunion dan perlu dikenali oleh tenaga kesehatan maupun pasien:
Hallux rigidus adalah degenerasi sendi metatarsofalangeal pertama yang dapat terjadi bersamaan atau terpisah dari hallux valgus. Gejalanya mirip tetapi penanganannya berbeda. Kombinasi keduanya bukan hal yang jarang dijumpai.
Progressive collapsing foot deformity (PCFD), yang dahulu dikenal sebagai kaki datar dewasa (adult flatfoot), memiliki hubungan erat dengan hallux valgus. Raikov dkk. (2026) menunjukkan bahwa kolaps lengkung kaki berkorelasi kuat dengan sudut hallux valgus, sehingga penanganan perlu mempertimbangkan kedua kondisi ini secara bersamaan.
Pada kondisi langka seperti fibrodysplasia ossificans progressiva (FOP), hallux valgus bilateral simetris bahkan merupakan tanda klinis awal yang khas sebelum kalsifikasi heterotopik berkembang.
Apa yang Perlu Dilakukan Jika Anda Menduga Memiliki Bunion?
Beberapa langkah praktis berbasis bukti yang dapat dilakukan:
Pertama, perhatikan alas kaki Anda. Gunakan sepatu dengan ruang yang cukup untuk jari-jari kaki, hindari hak tinggi untuk pemakaian rutin, dan pilih bahan yang lentur.
Kedua, konsultasikan dengan dokter atau ahli ortopedi/podiatri jika tonjolan terasa nyeri, bertambah besar, atau mulai mengganggu aktivitas. Penilaian klinis dan rontgen diperlukan untuk menentukan derajat deformitas dan rencana penanganan yang tepat.
Ketiga, jangan tunda penanganan. Hallux valgus adalah kondisi progresif; semakin awal diintervensi, semakin besar peluang keberhasilan penanganan konservatif.
Keempat, pertimbangkan fisioterapi dan latihan. Program latihan kaki yang terstruktur, termasuk short foot exercise dan latihan penguatan otot intrinsik, terbukti secara ilmiah bermanfaat.
Kelima, jika disarankan operasi, diskusikan secara mendalam mengenai teknik yang paling sesuai, risiko, dan ekspektasi pemulihan. Pilihan teknik bergantung pada derajat deformitas, kondisi sendi, usia, tingkat aktivitas, dan faktor individual lainnya.
Penutup
Bunion adalah kondisi ortopedi yang umum, progresif, dan berdampak nyata terhadap kualitas hidup — jauh melampaui sekadar masalah estetika. Pemahaman yang tepat tentang patogenesisnya, faktor risiko, dan pilihan tatalaksana berbasis bukti sangat penting agar setiap individu yang terdampak dapat mengambil keputusan yang tepat dan terinformasi. Kemajuan teknik bedah minimal invasif dalam beberapa tahun terakhir membuka peluang koreksi yang lebih efektif dengan trauma yang lebih kecil — namun pendekatan konservatif tetap menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan. Kolaborasi antara pasien, dokter umum, dan spesialis ortopedi atau bedah kaki merupakan kunci keberhasilan penanganan jangka panjang.
Daftar Referensi
Kakagia, D. D., Karadimas, E. J., Stouras, I. A., & Papanas, N. (2023). The ageing foot. The International Journal of Lower Extremity Wounds, 25(1), 8–15. https://doi.org/10.1177/15347346231203279
Khan, A. Z., & Patil, D. S. (2024). The effect of therapeutic approaches on hallux valgus deformity. Cureus, 16(4), e58750. https://doi.org/10.7759/cureus.58750
Knörr, J., Soldado, F., Violas, P., Sánchez, M., Doménech, P., & de Gauzy, J. S. (2021). Treatment of hallux valgus in children and adolescents. Orthopaedics & Traumatology, Surgery & Research, 108(1S), 103168. https://doi.org/10.1016/j.otsr.2021.103168
Küllünkoğlu, B. A., Akkubak, Y., Çelik, D., & Alkan, A. (2021). A comparison of the effectiveness of splinting, exercise and electrotherapy in women patients with hallux valgus: A randomized clinical trial. Foot (Edinburgh, Scotland), 48, 101828. https://doi.org/10.1016/j.foot.2021.101828
Moreno-Fresco, M. M., Munuera-Martínez, P. V., Regife-Fernández, L., Cuevas-Sánchez, J. M., & Távara-Vidallón, P. (2026). Effects of strengthening the intrinsic muscles of the foot in adults with flatfoot: A scoping review. Journal of the American Podiatric Medical Association, 116(1). https://doi.org/10.3390/japma116010008
Nery, C., Coughlin, M. J., Baumfeld, D., Ballerini, F. J., & Kobata, S. (2013). Hallux valgus in males — part 1: Demographics, etiology, and comparative radiology. Foot & Ankle International, 34(5), 629–635. https://doi.org/10.1177/1071100713475350
Perera, A. M., Mason, L., & Stephens, M. M. (2011). The pathogenesis of hallux valgus. The Journal of Bone and Joint Surgery. American Volume, 93(17), 1650–1661. https://doi.org/10.2106/JBJS.H.01630
Raikov, B. D., Bobrov, D. S., Serova, N. S., & Lychagin, A. V. (2026). A comprehensive weightbearing computed tomography study: The pathogenesis of first metatarsal pronation in sesamoid bone displacement, due to hallux valgus deformity and progressive collapsing foot deformity (PCFD). International Orthopaedics. https://doi.org/10.1007/s00264-026-06760-z
Ramelli, L., Ha, J., Docter, S., Jeyaseelan, L., Halai, M., & Park, S. S. (2024). Evaluating the learning curve of minimally invasive chevron and akin osteotomy for correction of hallux valgus deformity: A systematic review. BMC Musculoskeletal Disorders, 25(1), 854. https://doi.org/10.1186/s12891-024-07940-x
Seki, H., Suda, Y., Takeshima, K., Nagashima, M., & Ishii, K. (2022). Patient-reported outcomes of minimally invasive distal linear metatarsal osteotomy for hallux valgus. Journal of the American Podiatric Medical Association, 112(4). https://doi.org/10.7547/21-186
Sinha, A., Partha Sarathi, C. I., Sedarous, R., & Fernandez, M. A. (2026). What outcomes matter to patients having surgical treatment for symptomatic hallux valgus? A systematic review of qualitative studies. The Bone & Joint Journal, 108-B(3), 282–288. https://doi.org/10.1302/0301-620X.108B3.BJJ-2025-0628.R1
Waehner, M., Klos, K., Polzer, H., Ray, R., Lorchan Lewis, T., & Waizy, H. (2024). Lapidus arthrodesis for correction of hallux valgus deformity: A systematic review and meta-analysis. Foot & Ankle Specialist, 19(1), 58–69. https://doi.org/10.1177/19386400241233832
Waizy, H., & Claaßen, L. (2025). Five myths around hallux valgus. Orthopadie (Heidelberg, Germany), 54(6), 491–502. https://doi.org/10.1007/s00132-025-04634-7
Yoon, Y. K., Tang, Z. H., Shim, D. W., Rhyu, H. J., Han, S. H., Lee, J. W., & Park, K. H. (2023). Minimally invasive transverse distal metatarsal osteotomy (MITO) for hallux valgus correction: Early outcomes of mild to moderate vs severe deformities. Foot & Ankle International, 44(10), 992–1002. https://doi.org/10.1177/10711007231185330
Artikel ini disusun berdasarkan tinjauan literatur ilmiah terbaru yang diindeks di PubMed. Informasi yang disajikan bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.

Tinggalkan komentar